Start
Alarm berbunyi sangat kencang sehingga membangunkan sang-empunya.
.
.
.
.
.
.
Alana Deshanty Putri
.
.
.
.
.
.
.
seorang gadis SMA berusia 16tahun, Alana dikenal sebagai fangirl akut, semua orang yang mengenal Alana pasti mengetahui jika dia adalah seorang fangirl garis keras.
Selain dikenal sebagai seorang fangirl akut Alana juga dikenal sebagai anak yang pintar, humble, ceria, dewasa, dan sedikit jahil.
.
.
.
.
.
"hmm..." Alana meregangkan tubuhnya sambil mencari sumber suara bising yang mengganggu tidurnya.
.
.
.
.
.
"kenapa sih gue harus pasang alarm dihari sabtu?!" setelah mematikan alarm tersebut Alana berniat untuk memejamkan kembali matanya, namun ia mengingat sesuatu yang sangat penting (baginya) 'live stream mv terbaru dari grup idolanya'
.
.
.
.
"ya ampuuunnn hampir aja lupa! untung gue sengaja pasang alarm satu jam sebelum jam rilisnya" Alana bergegas merapikan kamarnya, lalu berlari menuju kamar mandi.
.
.
.
.
selesai mandi Alana langsung duduk di meja belajarnya dan membuka laptopnya dan menunggu countdown.
.
.
.
.
saat sedang heboh meneriakkan nama biasnya tiba-tiba ponsel Alana berdering, menandakan telfon masuk, tapi Alana tidak berniat untuk mengangkat bahkan ia tidak beranjak dari kursi untuk sekedar melihat ponselnya.
.
.
.
.
.
berkali-kali ponselnya berdering, tapi tidak membuat Alana bergeming dari tempatnya sampai pada akhirnya suara tangis ibunya dari luar kamar terdengar olehnya.
.
.
.
.
.
Alana tersentak ketika ia mendengar suara tangisan ibunya, ia pun langsung berlari meninggalkan aktifitasnya dan langsung mencari keberadaan ibunya.
.
.
.
.
.
"ya ampun ma, mama kenapa?" Alana mulai panik ketika melihat ibunya sudah terduduk dilantai dengan wajah terpukul dan penuh dengan air mata.
.
.
.
.
.
Alana berlari memeluk ibunya, mencoba menenangkan sang ibu.
"ma tenang dulu ya, ada apa ma?" kata Alana sambil mengelus punggung ibunya.
"papa...hiks...hiks" ibunya bahkan tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya, Alana merasa ada sesuatu yang terjadi dengan sang papa, tapi Alana mencoba untuk tetap tenang dan mencoba menenangkan ibunya agar ibunya bisa menceritakan apa yang terjadi.
setelah ibunya sedikit tenang, Alana pergi kedapur untuk mengambil segelas air yang lalu ia berikan kepada ibunya "mama minum dulu ya, biar mama bisa lebih tenang" kata Alana sambil memberikan segelas air kepada ibunya.
"Al, kita harus kerumah sakit sekarang! papa Al.. papa!" ibunya langsung berlari menuju kamarnya, Alana yang masih belum mengetahui apa yang terjadi dengan papanya pun segera berlari kekamarnya, ia mengambil ponsel lalu memasukkan kedalam tas dan berlari keluar kamar untuk menemui ibunya.
"Al aja yang bawa mobilnya ya ma, kondisi mama terlalu berbahaya kalo buat nyetir mobil" Alana langsung merebut kunci mobil ditangan ibunya dan langsung bergegas masuk kedalam mobil.
diperjalanan menuju rumah sakit ibunya hanya menangis, tidak mengatakan apa-apa, hanya suara isakan yang terdengar, Alana tidak tega jika harus mendesak ibunya untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"semoga papa baik-baik aja, ya Allah lindungi papa" batin Alana.
.
.
.
.
.
.
.
.
sesampainya dirumah sakit, Alana baru mengambil ponsel untuk memeriksa ada dikamar mana ayahnya berada, karna mungkin pihak rumah sakit yang menelfon nya tadi.
tapi ibunya langsung berlari kedalam rumah sakit, Alana pun ikut berlari mengejar ibunya sampai ia tidak menyadari bahwa ponsel miliknya terjatuh, ia benar-benar gelisah dan mulai merasa takut.
"sus saya istri dari korban yang jatuh dari atap gedung, suami saya ada dimana sus?? hiks...hiks" mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ibunya, seketika tubuh Alana melemas, matanya meremang dan ia pun pingsan.
.
.
.
.
.
.
.
suara tangis samar-samar terdengar, Alana mencoba menyesuaikan cahaya lampu ruang IGD, ia dilarikan keruang IGD karna pingsan dan mengeluarkan darah dari hidungnya, dokter bilang Alana hanya shock.
"ma.." Alana mencari keberadaan ibunya, saat akan turun dari ranjang IGD ia mendengar ibunya sedang berbicara dengan seseorang.
"iya bu, Reni nggak bohong hiks..hiks.. mas Yudhis udah nggak ada bu.. hiks..hiks... Reni masih dirumah sakit sekarang, Alana pingsan.. iya bu, Reni suruh Akbar untuk jemput Alana, Reni pulang naik ambulance sama mas Yudhis.." setelah menutup telfonnya, ibu Alana langsung pergi untuk memenuhi berkas-berkas yang dibutuhkan pihak rumah sakit.
.
.
.
.
Alana benar-benar merasa terpukul, ia menangis tanpa suara, ia mengurungkan niatnya untuk turun dari ranjang IGD dan kembali meringkuk dan hanyut dalam kesedihan.
beberapa menit kemudian seorang laki-laki berusia 22tahun memasuki ruangan IGD, membuka gordyn tempat dimana Alana berbaring.
.
.
.
.
.
.
.
"Ayo pulang"
Alana tertegun mendengar suara dari belakangnya, itu suara kakak laki-laki nya, Akbar.
tapi entah kenapa, suara yang biasanya selalu terdengar manis dan lembut seketika menjadi suara yang dingin dan menyeramkan.
melihat Alana yang tidak bergeming dan bahkan tidak menjawab ajakannya, Akbar pun menarik lengan Alana dengan kasar dan berteriak kepada Alana "CEPET! UDAH MENGABAIKAN PAPA MASIH NGGAK MAU JUGA NEMUIN JASAD PAPA YANG BENTAR LAGI BAKALAN DIMAKAMIN?!"
Alana kaget, apa yang Akbar maksud?
padahal kemarin mereka sekeluarga menghabiskan waktu menonton acara tv favorite mereka dengan penuh suka cita.
Alana tidak menjawab, ia terus menangis dan menuruti Akbar untuk pulang kerumah, Alana merasa takut, bingung, sedih, dan benar-benar hancur.
ia kehilangan orang yang paling ia cintai, diwaktu yang sama, kakak yang juga sangat ia cintai berubah menjadi orang yang benar-benar menakutkan.
.
.
.
.
.
diperjalanan menuju rumahnya Alana hanya diam dan menangis, dibenaknya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang membuat ia menjadi semakin sedih.
"mas Akbar.. kenapa mas kayak gitu? apa maksud mas Akbar? kapan aku pernah mengabaikan papa? kenapa papa bisa jatuh dari atap gedung?" banyak sekali pertanyaan dibenak Alana yang entah kapan ia bisa mendapatkan jawabannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
dari kejauhan Alana sudah melihat keramaian dirumahnya, ada bendera kuning yang bertuliskan nama ayahnya.
hati Alana semakin sesak karna kenyataannya ayahnya benar-benar sudah meninggalkan dia dan keluarganya.
turun dari mobil Akbar langsung masuk kedalam rumah tanpa berkata apapun, Alana memasuki halaman rumah dengan langkah yang sangat berat, air mata masih terus membasahi wajah cantiknya.
melihat Alana sudah pulang perempuan berusia akhir 60an itu langsung menghampiri Alana dan memeluk Alana erat.
"Al.. sayang.. ikhlasin papamu ya nak.. ini udah takdir papa, doain papa" Latifa nenek Alana, ibu dari ayah Alana mencoba menenangkan cucu kesayangannya tersebut.
Alana tidak menjawab bahkan ia tidak sanggup menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan neneknya, ia semakin menangis.
Alana tidak hanya duduk diam, ia benar-benar tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini dihidupnya, selama proses pemakaman ayahnya, ia benar-benar tidak mengatakan apapun hingga saat ini.
rumahnya masih ramai, seluruh keluarga besar masih disini untuk menenangkan Reni ibu Alana, sedangkan Akbar duduk diluar bersama teman-temannya.
Alana masuk kekamar untuk menenangkan dirinya, didalam kesedihannya ia masih mempunyai banyak pertanyaan dibenaknya sehingga membuatnya sedikit sesak didadanya.
Alana menangis dan terus menangis hingga ia tertidur pulas dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi dan kedua mata sembabnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
menjelang maghrib nenek Alana membangunkan Alana untuk mandi dan sholat maghrib, neneknya juga mengingatkan Alana bahwa malam ini sampai 6hari kedepan akan ada tahlilan dirumahnya.
setelah selesai sholat Alana berdoa agar Alm.ayahnya dapat diampuni dosa-dosanya dan ia juga berdoa agar semua pertanyaan yang ada didalam benaknya bisa terjawab.
Alana keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri sang ibu yang masih terduduk lemas dikelilingi beberapa adik dan kakak dari ayahnya.
Alana langsung memeluk sang ibu, mereka berdua kembali hanyut dalam kesedihan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya, hanya suara tangisan yang terdengar..
Sudah lima bulan setelah kejadian dimana ia kehilangan ayahnya.
hari ini adalah hari kelulusannya, ia menatap foto keluarga yang ada dimeja belajarnya "pa.. hari ini Al lulus.. harusnya papa ada disana ngeliat Alana dipanggil kedepan untuk kasih kata sambutan, harusnya papa kasih selamat ke Al karna Al lulus dengan nilai sempurna, harusnya.. hiks..hiks.. papa jangan pergi tinggalin Alana.. hiks..hiks..hiks.."
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-Flasback On-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
satu bulan setelah kepergian ayahnya, Alana mendapatkan kabar yang seharusnya menjadi kabar bahagia bagi seluruh anggota keluarganya, termasuk Alm.ayahnya.
"ma.. Al dapet beasiswa di London, menurut mama gimana kalo Al ambil?" Alana memberitahu ibunya tentang kabar gembira yang ia dapatkan.
"Al.. jangan tinggalin kita yaa, rumah ini udah sepi nak, gimana nanti kalo kamu jauh dari mama? kalo mama kangen sama kamu gimana? mama mohon, kuliah disini aja ya sayang" suara ibunya mulai serak menahan sesak.
"tapi ma.. impian papa kan ngeliat aku keterima di universitas ini ma" kata Alana mencoba memberikan pengertian kepada ibunya.
"mama nggak setuju Al, papa udah ninggalin kita, mama nggak mau kamu juga jauh dari mama, mama mohon ya nak.. hiks..hiks.." butir butir air mata mulai keluar dari sudut mata ibunya, ibunya tidak sanggup lagi menahan air matanya.
"Al.." belum sempat Alana menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara gebrakan meja dari arah ruang makan.
.
.
.
Brak!
.
.
.
"BIARIN AJA DIA PERGI MA, AKBAR UDAH MUAK NGELIAT DIA DAN SEMUA BARANG-BARANG MENJIJIKAN ITU DIRUMAH INI" suara akbar sangat keras hingga membuat ibunya semakin menangis.
Alana memeluk ibunya, menenangkan ibunya sebentar lalu menghampiri Akbar yang masih kalut dengan emosinya.
"mas, mas kenapa sih? aku salah apa sama mas Akbar? kenapa mas Akbar bisa berubah banget dalam waktu satu malam?" kata Alana dengan nada pelan dan hati-hati.
"SEANDAINYA LU ANGKAT TELFON DARI PAPA, ATAU MINIMAL BALES PESAN YANG PAPA KIRIM, MUNGKIN NGGAK AKAN ADA KEJADIAN KAYAK GINI!! INI SEMUA KARNA LU LEBIH MENTINGIN GRUP SIALAN ITU!!!" Akbar menuju kamarnya, mengambil ponsel ayahnya yang ditemukan pihak kepolisian diatap gedung kantor ayahnya.
Akbar melempar ponsel milik ayahnya ke Alana, lalu langsung kembali kekamar dan membanting pintu kamarnya.
.
.
.
.
.
.
.
Alana penasaran dengan apa yang Akbar maksud, hingga ia menyalakan ponsel ayahnya.
Alana menitikkan air mata saat ia melihat bahwa foto Alana ada di layar kunci dan wallpaper ponsel ayahnya "papa.. Al kangen.." batin Alana sambil menatap ponsel ayahnya.
Alana membuka aplikasi chatting untuk memeriksa apa saja yang ayahnya kirim, mengingat ponsel Alana terjatuh entah dimana, dan ia masih belum ingin meminta ponsel yang baru.
isi chat ayah Alana.
.
.
.
.
Papa : sayang, hari ini papa di PHK karna kasus penggelapan yang dilakukan bawahan papa, papa dianggap tidak becus dalam pekerjaan.
Papa : kamu masih tidur ya?
Papa : papa mau denger suara Al..
Papa : Al.. rumah dan mobil yang belum lunas sudah papa asuransikan, papa rasa papa nggak sanggup buat ngelunasin nya karna papa pengangguran sekarang.
semua akan dihitung lunas kalo papa meninggal.. Papa sayang banget sama Al
Papa : sebenernya papa masih pengen denger suara Al, papa masih pengen ngeliat Al ke london.. Jaga diri kamu baik-baik ya sayang..
Papa : sampein salam sayang papa buat mas Akbar dan juga mama.. papa nggak berani buat bilang sendiri ke mereka.. Al harus bikin mama bangga ya sayang..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Melihat isi pesan yang dikirimkan kepadanya Alana tidak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang semakin membasahi pipi nya, rasa sesak memenuhi dadanya.
malam itu Alana kembali menangis hingga ia tertidur.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-Flashback Off-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Alana keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih, ia mencari keberadaan ibu dan kakaknya.
ibunya telah siap menunggu Alana didepan pintu untuk segera berangkat ke sekolahnya.
"anak mama cantik banget! nanti kita makan di restoran biasa ya.. bulan depan kan kamu udah pindah ke London" kata ibunya sambil merapikan sedikit rambut Alana.
"iya mama sayang! oh iya, mas Akbar mana ma?" Alana mencari keberadaan sang kakak.
sejak Alana mengetahui alasan Akbar menjadi orang yang menyeramkan, Alana memutuskan untuk melupakan grup idola idamannya, ia menyimpan semua barang-barang yang bersangkutan dengan idol grup kesukaan nya, berharap kakaknya kembali seperti sediakala.
"mas Akbar gabisa dateng sayang.. dia ada urusan mendadak" ibunya mencoba menutupi.
sejak saat terakhir Akbar beradu mulut dengan Alana, ia pindah tinggal bersama di kost-an teman kerjanya.
"hmm.. gitu" Alana merasa sangat sedih, ia berfikir apakah Akbar masih marah dengannya padahal dia sudah melupakan grup idolanya.
"gapapa ya sayang, kan ada mama! jangan cemberut gitu dong, nanti cantiknya ilang loh" ibunya mencoba untuk menghibur Alana.
?????????????????