Dua

1060 Words
Zuhra duduk dengan gelisah di sebelah bundanya, kedua jarinya terpaut di atas pangkuannya, sesekali gadis itu akan meremas jari tangannya karena terlalu risau. Di hadapannya duduk seseorang pria yang tengah berbincang hangat dengan ayahnya, lebih tepatnya ayah Zuhra yang mencoba akrab dengan pria itu, karena sedari tadi Zuhra perhatikan pria itu hanya sedikit berbicara, menjawab apa yang ayahnya tanyakan tanpa bertanya kembali. Tipikal pria irit bicara sekali. Zuhra kembali meneliti penampilan pria itu, tidak ada yang spesial, cara berpakaiannya sama dengan eksekutif muda lainnya, karena yang Zuhra tahu pria ini memang seorang pengusaha. "Jadi, kapan keluarga Nak Dirgam bisa datang ke rumah?" tanya pak Albar to the point. Mendengar nama pria itu saja sudah membuat Zuhra merinding, apalagi membayangkan dirinya harus hidup serumah dengan pemilik nama tersebut selamanya, catat, selamanya! Zuhra pasti akan mati ketakutan. Beberapa menit lalu bahkan Zuhra hampir pingsan saat pria itu menjabat tangannya sembari menyebutkan nama. Entahlah, Zuhra merasakan aura kelam yang menyelimuti pria itu. Wajahnya yang selalu menampilkan raut datar membuat Zuhra bertanya-tanya, apa yang ada dipikiran pria itu? "Zuhra, Nak Dirgam-nya mau pulang, anterin gih kedepan," bisik bundanya membuyarkan lamunan Zuhra. Ternyata sedari tadi dia melamun hingga tak sadar bahwa ayahnya dan Dirgam sudah selesai berbicara. Zuhra mengangguk lalu berdiri mengantar calon suaminya itu hingga serambi rumah. "Hati-hati di jalan, Nak, jangan ngebut," ujar ayah Zuhra mengingatkan. Jangan berharap banyak pria itu akan menjawab panjang lebar, karena nyatanya pria itu hanya mengangguk sebagai balasan. Melihat sikap pria itu membuat Zuhra mencibir tanpa sadar, tetapi saat tak sengaja matanya menangkap tatapan menghujam pria itu ke arahnya, Zuhra refleks mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pandangan pria itu benar-benar menakutkan. ✏✏✏ "Jadi, lo udah ketemu sama cowok itu?" tanya Nadia antusias. "Cowok mana?" "Calon suami lo," sahut Nadia gemas. "Dia pria bukan cowok." "Ish, apa bedanya sih?" tanya Nadia sewot. "Ya bedalah." "Oke lah, terserah. Jadi, lo udah ketemu sama p.r.i.a itu belum?" tanya Nadia penuh penekanan pada kata pria. "Udah tadi pagi, mungkin sebelum dia berangkat ke kantor," jawab Zuhra acuh. "Terus gimana?" Nadia terlihat semangat sekali bertanya. Tadi saat Zuhra memberitahu bahwa orang tuanya berencana menikahkan gadis itu dengan seorang pria anak kenalan ayahnya, Nadia langsung cepat-cepat menyelesaikan urusannya dan bergegas menemui sahabatnya itu, baginya itu kabar yang cukup menggembirakan, walaupun agak aneh karena seorang pria mau bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Atau jangan-jangan pria itu tidak tahu kondisi Zuhra sebenarmya? Tapi tidak mungkin, ayah zuhra bukanlah orang sepicik itu. "Gimana apanya?" "Please deh, Ra, jangan negeselin bisa?" sungut Nadia mulai kesal. Zuhra terkekeh kecil. "Ya, gitu. Nggak ada yang spesial kok." "Ganteng nggak?" "Lumayan sih, tapi serem." Zuhra bergidik layaknya orang ketakutan. "Serem lo kira hantu!" "Bukan hantu, tapi iblis," sahut Zuhra mendramatisir. "Lebay lo,” cibir Nadia. "Ntar juga lo tau send--" Brakk …. Suara pintu yang dibanting keras menginterupsi ucapaan Zuhra. "Abang kenapa?" tanya Zuhra saat melihat Randy bernapas ngos-ngosan setelah membanting pintu kamarnya. "Kata Bunda lo dijodohin?" selidik Randy. Selalu begitu, Randy hanya ber-aku kamu diwaktu tertentu saja, saat di hadapan orang tua mereka misalnya. "Bunda bilang apa aja?" tanya Zuhra balik. "Jawab dulu pertanyaan gue," tuntut Randy. Zuhra menghela napas. "Memangnya bisa disebut perjodohan kalau kondisi Zuhra begini?" Randy menarik napasnya berat. "Gimana keadaan kandungan lo?" tanya Randy sembari duduk di sebelah Zuhra. Zuhra mengusap lembut tepat di perutnya. "Babby sehat, Om," jawabnya menirukan suara anak kecil. Randy mmenatap sendu adik kesayangannya. "Lo baik-baik aja, kan?" Zuhra mengangguk kecil sambil tersenyumtipis. "Zuhra nggak apa-apa, Bang. Jangan khawatir." Bohong! Tetapi Zuhra bisa apa? Dia hanya tidak ingin orang-orang yang disayanginya semakin khawatir. Nyatanya gadis itu tidak baik-baik saja, menangis tengah malan pun kini menjadi rutinitasnya. Setiap pagi dia harus cepat-cepat mengompres matanya agar tidak terlihat membengkak. "Lo nggak ada ngidam apa gitu?" tanya Nadia di tengah kebisuan mereka. Zuhra menggeleng sambil mengingat-ingat. "Mungkin dia tau keadaan bundanya," jawab Zuhra sambil tersenyum getir. Nadia meringis merutuki kebodohannya, ternyata pertanyaannya membuat Zuhra kembali bersedih. Mereka bilang seorang wanita itu dilihat dari masa lalunya, sedangkan pria dilihat dari masa depannya. Lantas bagaimana jika masa lalu kita terlanjur buruk? Jawabannya hanya satu, perbaiki mulai hari ini, bukankah hari ini juga akan jadi masa lalu? ✏✏✏ Zuhra duduk bersandar di atas kasur kesayangannya, tapi pandangannya menerawang jauh seakan mampu menembus dinding kamar miliknya. Berkali-kali dirinya menarik napas dan menghembus kasar, banyak pertanyaan yang terlintas di benaknya, akan tetapi tak ada satu pun yang mampu ia jawab walaupun sudah berjam-jam memikirkannya. "Lagi mikirin apa, Anak Bunda?" Suara lembut bu Ratna --Bunda Zuhra-- menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Zuhra mengulas senyum lembut. "Nggak ada kok, Bun." "Mau bantu bunda?" tanya Bu Ratna sembari mengusap halus kepala putrinya. "Bantu apa, Bun?" Bu Ratna berpikir sejenak. "Ehm ... Bunda mau masak arsik sama rendang, dan beberapa cemilan untuk selingan." "Loh, memangnya ada acara apa, Bun? Bunda ada pengajian?" tanya Zuhra bingung. "Bukan, rencananya calon suami kamu bersama keluarganya akan bertamu malam ini," ucap Bu Ratna seraya mengulas senyum. Senyum yang sedari tadi Zuhra sunggingkan perlahan menghilang. "Bun ...." "Sayang, Dirgam itu pria baik. Dia itu anak temannya ayah, dan selama yang Bunda tau dia nggak pernah neko-neko," tutur bundanya lembut. "Tapi, Bun, Zuhra nggak kenal laki-laki itu, sifatnya gimana, dia sukanya apa, malah jangan-jangan dia udah punya istri lagi." "Hush, nggak boleh ngomong gitu, toh nanti juga kamu akan kenal kok, apalagi setelah menikah kalian punya banyak waktu berdua untuk saling mengenal," ucap sang bunda memberi pengertian. "Tapi, Bun ...." "Pikirin bayi kamu! Kamu mau bayi yang nggak bersalah ini jadi korban keegoisan orang tuanya?" Zuhra bungkam, merasa ucapan bundanya barusan tepat menusuk hatinya. "Kamu harus kuat, Bunda tau sulit untuk membuat Dirgam menjadi sosok yang kamu mau, tapi percayalah, Nak, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Jangan jadikan kekurangan Dirgam itu sebagai alasan kamu menolak, Bunda yakin apapun alasan Dirgam melakukan ini, pastilah sudah menjadi rencana indah yang sudah ditetapkan Allah untuk kamu." Zuhra memeluk bundanya erat. "Maafin Zuhra ya, Bun. Zuhra udah egois, Zuhra nggak tahu terimakasih, Ayah dan Bunda udah mengusahakan yang terbaik, harusnya Zuhra bersyukur ada yang mau menikahi Zuhra dalam keadaan begini," ucap Zuhra lirih. Bu Ratna membelai lembut rambut Zuhra, "kamu harus selalu ingat, Allah tidak akan memberi ujian di luar batas kesanggupan hambanya,” nasihat sang bunda. “Jadi, bisa bantu Bunda?" Zuhra melepaskan pelukannya. "Siap laksanakan, Bunda." jawabnya dalam posisi hormat layaknya seorang prajurit sembari tersenyum manis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD