Andrew menutup pintu kamar mandi dengan kakinya. Malam itu mereka saling membagi kehangatan di tengah kucuran air. Menyabuni tubuh dengan gerakan sensual. Namun mereka tidak melakukan penyatuan.
Selepas keluar dari kamar mandi, Andrew segera mengenakan pakaian kasualnya yang sengaja ia simpan di lemari Jemima. Lelaki itu tengah tidur menyamping di kasur, menghadap Jemima yang tengah berkutat di depan cermin rias.
"Kau serius sekali menggunakan itu," cakap Andrew.
Jemima yang tengah mengenakan masker tidur menoleh sekilas. Tangannya masih menepuk-nepuk wajah. "Tentu saja," balasnya.
Setelah selesai, Jemima bergabung di balik selimut bersama Andrew. Calon suaminya itu kontan memeluk pinggang Jemima dengan gemas. Jemima begitu wangi. Andrew menaikkan Jemima ke atas tubuhnya. Kini mereka berdua tengah berhadapan dengan posisi berebah.
"Apa keinginanmu waktu kecil, Andrew?" tanya Jemima tiba-tiba. "Kau tidak pernah menceritakan masa kecilmu," lanjutnya.
Andrew menatap kosong ke arah Jemima. Ia sedikit terkejut. "Kenapa ingin tahu sekali?"
Jemima mencebikkan bibir merasa tidak senang dengan ucapan Andrew. "Aku selalu menceritakan masa kecilku, tapi kau tidak."
"Masa kecilku bukan sesuatu hal yang senang untuk diceritakan," jelas Andrew selembut mungkin.
"Tapi kau punya cita-cita, kan?" desak Jemima. Sudah lama perempuan itu ingin tahu tentang ambisi Andrew sejak kecil.
Jeda beberapa menit, barulah Andrew berujar, "Tentu saja. Setiap orang pasti punya keinginan," komentar Andrew. "Sejak kecil aku hanya ingin menjadi orang yang berguna dan kaya raya," aku Andrew.
Jemima merasa jenaka. "Anak kecil sudah memikirkan kekayaan?" tanyanya.
Andrew mengangguk pasti. "Waktu kecil aku berpikir, dengan uang, kita bisa melakukan apa pun dan membeli apa pun. Uang adalah salah satu alat untuk bahagia. Walaupun nomor sekian, tapi pada saat itu, uang adalah segalanya bagiku. Umurku kurang lebih tujuh tahun ketika memikirkan itu."
Jemima merasa takjub sekaligus heran. Bagaimana anak sedini itu memikirkan keinginan yang tidak Jemima sangka-sangka. "Biasanya anak kecil ingin jadi dokter, polisi, atau pekerjaan lainnya yang memakai seragam. Oh, apa kau sudah memikirkan untuk jadi pembisnis?" tanya Jemima.
Andrew terkekeh, mencium kening Jemima sebelum kembali buka suara. "Aku bahkan tidak tahu apa itu pembisnis. Ambisiku hanya ingin menjadi orang yang kaya raya, dan aku bisa mewujudkannya sekarang."
Dengan senyum hangatnya, Jemima memandang Andrew. Ia merasa bangga sekaligus haru. Setahunya, atas cerita Andrew, orang tua lelaki itu telah tiada sejak Andrew dilahirkan ke dunia. Kemudian, dia tinggal bersama ibu asuh yang perekonomiannya menengah. Terbayang betapa sulitnya Andrew mengejar cita. Belum lagi batinnya yang pasti terguncang.
Jemima mengelus rahang Andrew. "Aku selalu takjub denganmu," akunya.
Andrew tersenyum. Haru bercampur bahagia. Jemima selalu membuatnya sulit berkata-kata. "Aku sudah mengatakan keinginanku sejak kecil. Sekarang aku yang bertanya. Kau pernah bercerita, bahwa kau ingin menjadi super model sejak kecil. Bagaimana sekarang?" Andrew melipat tangannya di belakang kepala sementara Jemima memosisikan kepalanya, mencari tempat nyaman di d**a Andrew.
"Ya, tentu saja. Siapa yang tidak ingin menjadi model? Tapi, aku tak memaksakan diri. Kau bilang harus menerima pekerjaanku saat ini. Apa pun itu. Aku mencoba untuk menjadi Jemima, seorang akuntan," papar Jemima.
"Ya, Mrs. Nichol, kau benar. Dan, kita harus tidur sekarang kalau tidak ingin terlambar bekerja besok." Andrew mengelus rambut Jemima seraya memeluk pinggangnya. Mereka berdua tidur tanpa berganti posisi. Jemima tertidur di d**a Andrew, dan Andrew sepanjang malam merasai wangi rambut Jemima.
* * *
Keesokan paginya, seperti biasa, Andrew mengantarkan Jemima ke kantor. Seolah sudah menjadi rutinitas pagi, sebelum keluar mobil Jemima mencium bibir Andrew dahulu. Kemudian, Andrew melesat ke perusahaannya.
Pagi itu cerah, secerah hati Jemima yang berseri. Sepanjang jalan menuju bangsalnya ia terus saja mengulas senyum tanpa khawatir jika bibirnya kaku. Aku bahagia sekali! Teriak batinnya. Warna kuning kemejanya yang tampak hidup pun mendukung suasana hati Jemima. Ceria dan enerjik.
"Miss. Copper, kau cantik sekali pagi ini," sahut sebuah suara di belakang Jemima. Perempuan itu memutar badan, menemukan salah satu staf pria perusahaan—Jemima lupa namanya.
"Ah, terima kasih," balas Jemima "Aku duluan, ya," imbuhnya. Lelaki itu tersenyum, lalu mengangguk mempersilakan.
"Wow, wow, lihat siapa di sini," sambut Jovic di depan lift. Lelaki itu tersenyum jahil sebagaimana biasa. "Auramu ...." Jovic memegang pelipis kanan seolah menerawang. "Begitu terpancar jelas. Kau adalah keturunan dari dewi kecantikan." Kemudian Jovic melipat kedua lengannya di depan d**a. "Pantas saja para lelaki terus memperhatikanmu," cerocosnya.
Jemima menengok ke belakang tubuhnya di mana Jovic memandang. Semua lelaki yang tadi Jemima lewati masih memperhatikannya. Beberapa orang mengedar pandang saat Jemima balik menatap, tapi ada juga yang secara terang-terangan membalas tatapan Jemima.
"Oh, dan apa ini!" seru Jovic, heboh. Lelaki itu memutar tubuh Jemima dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "Kau memakai baju tanpa lengan dan rok pendek kurang dari lutut. Itu tidak boleh!"
Jemima jengah. "Aku tidak melanggar peraturan berpakaian, ya. Ini masih terbilang sopan!" protes Jemima.
"Begitukah?" ragu Jovic. Matanya menyipit sementara bibirnya mengerucut konyol. "Yasudah, aku tidak akan berkomentar lagi," pasrahnya.
"Kau belum membaca peraturan perusahaan?" gerutu Jemima.
Jovic mengangguk ragu. "Sudah, tapi aku tidak menemukan tata cara berpakaian. Mungkin kau bisa menunjukkannya padaku sekarang." Pria berkulit putih itu menyugar rambutnya. "Di ruanganku, tidak di sini," lanjutnya.
"Maaf sekali, Jovic, tapi aku ada kerjaan hari ini," tanggap Jemima.
Jovic mengangkat sebelah alisnya. Itu bukan alasan yang bagus, Jemima, batin Jovic. "Baiklah, J, semoga kerjaanmu lancar," cakap Jovic. "Oh, dan satu lagi. Jika kau merindukanku, aku ada di ruangan." Jovic mengedipkan sebelah matanya kemudian berlari ke lobi sebelum Jemima memukulnya dengan tas Dior.
"Dasar pria menyebalkan!" geram Jemima. Perempuan itu masuk ke lift, melanjutkan perjalanan menuju bangsalnya.
"Apa kau melihat mereka?" bisik Betty—tetangga bangsalnya—yang tengah menyembulkan kepala ke arah Jemima.
Jemima melipat dahi, merasa tidak paham dengan ucapan Betty. "Mereka? Siapa?" beonya.
Betty memandang sekeliling. "Singa lapar," desisnya. "Maksudku, para lelaki yang terus memandangimu. Demi Tuhan, kau begitu memesona, J."
Haruskah Jemima bersirobok dengan para singa yang Betty maksud? Ia menggeleng, memusatkan pandangan pada Betty seorang. "Apakah itu kedengaran bagus?" tanyanya, seolah Jemima adalah remaja akil balig yang belum memahami situasi macam begini.
"Mungkin ya, mungkin tidak," balas Betty, memainkan anak rambutnya, sedang tatapannya seolah memikirkan jawaban yang tepat untuk Jemima. Ia mengimbuh, "Bagusnya, kau dikenal semua orang di sini. Tidaknya, kau sudah bertunangan, jadi tidak bisa berkencan dengan salah satu dari mereka. Lagi pula, memangnya kau mau?"
Tanpa pikir panjang, Jemima menjawab, "Asalkan tidak ketahuan, berkencan dengan lelaki lain sesekali kedengarannya tidak buruk."
Betty mengangkat sudut bibirnya. Jemima ibaratkan buku terbuka yang budah dibaca. Perempuan itu mengatakan apa yang Betty terka di dalam kepala. "Kenapa kau terlihat tidak peduli dengan hubunganmu, J?" tanya Betty, penasaran.
Jemima menggelengkan kepalanya tidak setuju. Ia kira, seperti yang sudah-sudah, Betty bisa membaca pikirannya, tapi ternyata tidak. "Aku tidak begitu. Hanya saja, aku berpikir, ini sisa hidup bebasku sebelum bersama Andrew selamanya. Aku mencoba memanfaatkan waktu."
"Tapi kedengarannya tidak begitu," bantah Betty.
Jemima mengusir Betty dari jangkauannya. "Terserah kaulah. Cepat, bekerja! Kita sidah mengobrol lama."
Betty yang memang sudah gatal ingin memegang papan ketik pun sekadar menurut tanpa ada penolakan atau gerutuan. Sementara itu, Jemima yang baru saja membuka komputer kantor, bukannya menampilkan data pengolah angka kemarin, ia malah mengintip galeri.
"Astaga, kemarin aku tidak melihatnya," gemas Jemima. Matanya mengerjap berkali-kali bak orang cacingan di depan monitor yang memperlihatkan foto naked salah satu aktor pria kesukaannya. Rutinitas pagi: sebelum membuka lembar kerja, sempatkan dirimu memandang foto idolamu dahulu. Sebetulnya tidak ada niat macam-macam. Ini semua untuk meningkatkan mood-nya di pagi hari. Namun jika ada orang yang menggeledah komputer Jemima dan menemukan foto idolanya, orang-orang akan berpikir bahwa Jemima adalah perempuan c***l yang kekurangan seks. Itu tidak benar!
* * *
Ketika itu Jemima mesti menyetorkan laporan keuangan kepada bos di kantornya sehingga ia harus melewati makan siang beberapa menit.
”Terima kasih, Pak. Saya permisi,” pamit Jemima. Lelaki yang tidak terlalu tua dan tidak muda itu mempersilakan Jemima pergi.
Jemima menghela pelan. Ekspresi datar bosnya memuat Jemima tidak tenang. Bagaimana jika Pak Bos tidak senang dengan laporanku? Ah, tidak mungkin, batin Jemima. Jika ada kekurangan, beliau pasti akan mengembalikan laporan tersebut untuk Jemima perbaiki. Lantas, apa yang membuat Jemima tidak tenang? Ah! Jemima menutup bibir, hampir tersandung karpet jika saja tidak berpegangan pada tembok. Apa terjadi sesuatu pada Andrew? Tapi lelaki itu menelepon sebelum Jemima ke ruangan bosnya. Seharusnya tidak terjadi sesuatu yang buruk, bukan?
“Nona, perhatikan jalan Anda.” Seseorang memperingatkan. Jemima seketika terperangah, memaku kakinya pada tanah.
”Ma-maafkan saya, Pak.” Jemima tersenyum kikuk. Hampir saja ia terjatuh dari tangga jika saja tidak ada orang yang memperingatkannya. “Dan, terima kasih, Pak,” lanjutnya.
Kala hendak melanjutkan langkah, pemuda bersetelan jas rapi yang diikuti beberapa orang berjas hitam serupa itu menginterupsinya. “Mengapa kau melewati tangga jika ada lift yang mempermudahkanmu?”
Jemima memutar tubuhnya, melemparkan senyum simpul. “Sedang ingin saja,” jawabnya. Kemudian perempuan itu mengangguk sekilas dan melanjutkan perjalanan ke kafetaria.
Asal tahu saja, hati Jemima sebetulnya bergemuruh dan menghentak tak tahu diri. Pertama, karena dia hampir saja terjatuh dari tangga yang mampu membuat tulang-tulangnya patah. Kedua, orang yang memberitahunya adalah lelaki super tampan bak pangeran yang Jemima impikan di alam bawah sadar. Sembari jalan Jemima memikirkan, siapakah dia? Jemima baru melihatnya. Jika dia staf kantor biasa, tidak mungkin juga berkeliaran di lantai petinggi. Tidak semua orang bisa ke sana, terkecuali ada urusan yang harus diselesaikan. Seoperti Jemima barusan. Lantas, Jemima kembali memikirkan lelaki barusan, boleh jadi ia klien atau relasi kantornya. Terlihat dari gaya berpakaian dan dia yang diiringi oleh beberapa orang, itu terlihat masuk akal.
“Apa yang kau pikirkan, J? Membayangkan lelaki lain sedangkan kau sudah berkekasih?” Itu bukan suara Jemima, tetapi suara lain di dekat telinganya.