"Kita akan segera menikah. Jangan lagi tutupi hubungan ini, dan perihal apa pun, beritahukan aku tentang segala sesuatu tentangmu." Jemima terpana. Bungkam. Ada apa dengan Andrew?
"Jemima?" panggil Andrew, lembut. Jemima yang tengah menekuri piring kosong di depannya, menatap Andrew dengan seulas senyum. "Bukankah kita harus saling terbuka?" tanya Andrew.
"Ya, tentu saja," balas Jemima.
Senyum Andrew kian melebar. Tangannya terangkat mengelus surai Jemima. "Aku mencintaimu, J," bisik Andrew.
Seketika Jemima hendak terisak. Untuk alasan yang abstrak, ia ingin meraung di depan Andrew. Mengatakan kalau Andrew adalah lelaki paling baik yang pernah Jemima jumpai. Pria paling tulus yang selalu menemani hari. Jemima memeluk Andrew. Sekarang ia benar-benar terisak. Dan, lelaki baik hati ini ialah calon suaminya.
"Jemima, kenapa kau menangis?" Andrew menarik bahu perempuannya. Menghapus setiap bulir air mata yang mengalir deras melalui pipi tirus Jemima. Melihat pancaran hangat dan tatapan khawatir Andrew, bukannya mereda, tangis Jemima kian menderas. Ia betul-betul terharu. Hanya saja, air netra itu turun dibarengi seulas senyum. Senyum bahagia yang menggetarkan hati Andrew. Senyum menawan yang berarti segalanya. Tentang kebahagiaan, tentang harapan, dan tentang cinta.
Ditepuknya dua kali bahu Jemima. "Aku sedih jika melihatmu bersedih," ungkap Andrew.
"Tidak akan," sahut Jemima.
"Sudah hampir larut. Lebih baik kita pulang," ajal Andrew. Jemima mengangguk setuju.
Andrew menawarkan lengannya yang disambut riang oleh Jemima. Sepanjang perjalanan ke mobil, Jemima merangkul tangan Andrew. Siapa pun yang melihat mereka akan tahu bahwa keduanya tengah menabur cinta.
"Silakan, Mrs. Nichol." Andrew membuka pintu penumpang samping kemudi dengan sedikit membungkukan badan.
Jemima menerima uluran tangan Andrew, masuk ke dalam mobil. "Terima kasih, Mr. Nochol." Bibirnya menyungging senyum lebar. Andrew yang tak tahan, mencuri ciuman di bibir penuh Jemima yang tampak menggoda. Setelahnya ia memutar, masuk ke dalam mobil depan kemudi.
"Kau akan pulang?" tanya Andrew setelah mobil mulai bergabung ke jalan raya. Kanan-kiri lampu jalan berkedipan, mengisi kekosong malam yang senyap tanpa bintang.
"Memangnya mau ke mana lagi? Kau ada urusan dulu?" Jemima balik bertanya.
"Menginap saja di rumahku," pinta Andrew. Ini sudah malam," alibinya.
Sebetulnya Jemima tahu alasan Andrew bertanya. Hanya saja ia coba berkilah. "Biasanya juga aku pulang malam."
"Kau akan menginap di rumahku. Titik. Aku tak akan mengantarkanmu ke apartemen." Andrew mempertahankan keinginan.
"Aku ingin tidur di apartemenku," dalih Jemima.
Andrew tidak langsung menjawab ketika otaknya berdenting seolah mendapat pencerahan. "Apakah ini undangan?"
Jemima mengernyit. "Apa maksudmu?"
Sekali decak, Andrew berkata, "Aku ingin terus bersamamu dan menyuruhmu menginap di rumahku, tapi kau bilang ingin pulang ke apartemen. Jadi, aku menganggap ini sebuah permintaan agar aku menginap di apartemenmu."
Jemima terperangah, merasa tidak habis pikir dengan Andrew. "Percaya diri sekali," komentarnya, tapi ia tidak menolak penawaran Andrew, karena Jemima pun ingin menghabiskan malam bersama calon suaminya.
Mobil yang andrew kendarai masuk ke salah satu jalan apartemen mewah di New York. Andrew yang membayar biaya apartemen. Semuanya ia lakukan semata-mata untuk kenyamanan Jemima.
Andrew membukakan pintu mobil untuk Jemima. Dikecupnya pungguh tangan perempuan itu dengan lembut. Jemima bisa merasakan bagaimana debaran hatinya yang menghentak keras dan wajahnya yang memanas. Merasa gemas, Andrew menjawil dagu Jemima, lalu mencium kedua belah pipi perempuannya yang merona merah.
Mereka berdua memasuki apartemen. Jemima menyalakan lampu. Andrew membuntutinya masuk ke kamar.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku mau mengganti baju dulu," geram Jemima. Perempuan itu tidak menyadari kehadiran Andrew di dalam kamarnya.
"Ganti saja bajumu," sahut Andrew, santai. Ia bahkan telah mendudukkan diri di bibir kasur, memandang Jemima yang memunggunginya di dekat lemari.
Jemima yang memang tengah kesulitan melucuti kalungnya, tidak mengindahkan tanggapan Andrew. Dalam pada itu, karena tidak kunjung dimintai bantuan, Andrew yang mengklaim dirinya sebagai lelaki paling peka seplanet Bumi, berinisiatif membantu Jemima.
"Minta bantuan apa susahnya?" gerutu Andrew. Tangannya menggantikan aksi Jemima. Ternyata kalur tersebut menyangkut di kemeja yang Jemima pakai.
Jemima menyengir. "Terima kas—ssh ... Andrew," desisnya.
Andrew yang sedari tadi memandang tengkuk dan punggung Jemima yang mulus, mengelusnya dari balik kemeja. Gerakannya pelan dan sensual. Mampu membuat Jemima merinding sementara lututnya lemas. Jika saja Andrew tidak sigap, badan Jemima pasti akan tersungkur di lantai.
"Kau ingin mengganti baju, bukan?" bisik Andrew. Lelaki itu menempelkan punggung Jemima pada lemari. Dengan gerakan pelan dan penuh perhitungan, jemari kekar Andrew satu persatu membuka kancin kemeja Jemima. Tatapan memabukkannya terus saja menusuk mata teduh Jemima.
Tak bisa dipungkiri, Jemima seolah berada di atas awan. Berdua bersama Andrew. Perempuan itu tidak menghentikan aksi Andrew, karena ia pun menginginkan hal serupa. Setiap jemari Andrew yang telah meloloskan kancing kemeja membuat debaran dalam dadanya kian tak karuan. Bukan pertama kali bagi Jemima, tapi sentuhan Andrew membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain selain kenikmatan.
Andrew hanya melirik sekilas ke arah bra hitam yang menutupi aset Jemima. Pandangannya mulai berkabut. Perlahan, ia berjalan mundur menuju kasur membawa serta Jemima. Bibirnya menyungging senyum ketika Jemima tampak gugup. Andrew duduk di tepi kasur. Jemima berada di pangkuannya.
"Apa kau gugup?" Pertanyaan Andrew membuat Jemima membuang pandangan darinya. Andrew terlalu lugas, dan Jemima merasa tambah gugup karena itu.
"Kalau begitu tatap aku," pinta Andrew. Jemima kembali memandang Andrew yang kini tengah mengulas senyum. Ia begitu menawan dan seksi, batin Jemima, dan senyumnya pun ikut mengembang pada bibirnya.
"Kenapa kau cantik sekali?" Andrew bertanya retoris sembari menyelipkan rambut Jemima ke belakang telinga. Lelaki itu mengelus-elus pipi tirus Jemima dengan perlahan. Penuh kehati-hatian. Seolah takut kecantikan Jemina akan berkurang jika ia mengelusnya kasar.
"Kenapa kau tampan sekali?" Pertanyaan yang sama dilontarkan Jemima. Tangan wanita itu bertengger di d**a padat Andrew yang masih berbalut kemeja kerja.
Andrew tertawa. "Kau tahu apa yang paling aku takutkan dalam hidupku?" tanya Andrew.
"Tidak bisa bekerja lagi," balas Jemima. Agaknya tepat sasaran, namun melihat Andrew mendesis, Jemima sedikit meringis.
"Bukan, bukan itu," kilah Andrew. Jemima memandangnya, menunggu jawaban. "Yang paling aku takutkan adalah kehilanganmu," aku Andrew.
Jemima memang merona, namun tak urung dia bersua, "Klasik sekali ucapanmu. Setiap orang yang tengah memadu kasih pasti akan berbicara sepertimu."
"Tapi akan berbeda jika aku yang mengucapkannya," bangga Andrew. "Aku bisa merasakan detak jantungmu yang meliar, Sayang." Andrew menyelami bola mata Jemima yang jernih dan teduh.
Jemima sesekali melirik dadanya yang bergitu rapat dengan d**a Andrew. Ia jadi malu sendiri. Apalagi atas ucapan Andrew. Jemima sangat bisa merasakan bagaimana tubuhnya bergetar dan dadanya yang terus menghentak. Sementara itu, Andrew terus saja mengelus punggung Jemima yang polos. Terasa halus di kulit tangan Andrew.
Setelah cukup lama menikmati posisi itu, Andrew berujar rendah, "Bolehkah aku mencium bibirmu?"
Bukan pertama kali, tapi Jemima bergetar hati. Ia tidak menjawab, sebab ketika perempuan itu memajukan wajahnya, Andrew mendapatkan apa yang ia mau. Andrew tersenyum senang. Matanya fokus kepada bibir penuh Jemima yang seolah melambai minta dilumat. Napas keduanya saling berembus menerpa wajah. Semakin dekat. Andrew melihat kesungguhan Jemima. Dan pada saat itulah, bibir mereka menyatu untuk yang kesekian kalinya. Untuk beberapa detik tidak ada pergerakan, hingga dengan jahil, Andrew menjilati bibir Jemima dengan lidahnya. Jemima menghentikan aksi Andrew ketika ia membuka bibirnya, karena lidah Andrew berakhir di mulut Jemima. Andrew tertawa samar, kemudian keduanya saling memagut, menjilat, dan menghisap satu sama lain.
Tubuh yang bergolak membuat Jemima tak bisa diam di atas pangkuan Andrew. Hal itu membuat Andrew mengerang karena inti keduanya sesekali bergesekkan. Jemima menggigir pelan bibir bawah Andrew. Ia kehabisan napas. Andrew memutus ciumannya, tetapi ia beralih ke bahu Jemima. Kembali mencium dan menghisapnya. Tangan kanan Andrew mengelus-elus punggung Jemima yang menggeliat sementara tangan kirinya bertengger di b****g Jemima. Dihirupnya aroma tubuh Jemima di leher perempuan itu. Remasan Jemima pada rambutnya membuat Andrew kian b*******h. Andrew membenamkan wajahnya di belahan d**a Jemima yang menggoda. Pria itu menghirup sesekali menjilat. Hingga tangan nakalnya hendak membuka kaitan bra Jemima, perempuan itu menghentikan aksinya.
"Kapan aku mandi kalau kau tidak juga menghentikan ini?" ujar Jemima sedikit parau.
Andrew menggoyang-goyangkan hidungnya tepat di d**a Jemima. Wanita itu mendesah, sedikit membusungkan tubuhnya ke arah Andrew.
"Bagaimana kalau mandi bersama?" tawar Andrew. Lelaki itu kembali mencium Jemima. Karena tidak ingin ada penolakan, Andrew segera menggendong Jemima ke kamar mandi tanpa menghentikan aksi ciuman mereka.