Setelah melewati pertemuan dengan petinggi dari Indonesia, Andrew merasa lega. Penawarannya diterima dengan baik. Semua berjalan lancar—terkecuali pemikirannya yang selalu mengarah pada Jemima. Tapi untungnya bisa diatasi dan Andrew mengucap syukur tiada henti.
"Tumben kau tidak bermalam di kantor," sindir Jo ketika pria itu melihat Andrew yang terburu-buru memasukkan peralatan kerja di ruangannya.
"Aku akan melanjutkannya besok. Malam ini adalah malam yang bebas dari pekerjaan. Seperti katamu, aku akan bersantai." Andrew memutar tubuh, memandang Jo yang sekarang tengah memakan apelnya yang tersedia di atas meja.
"Bersantai dengan Jemima? Aku tahu arahnya," komentar Jo. "Kau akan mengajak Jemima ke rumahmu, eh, atau makan dulu di restoran Italia."
Andrew mengedik. "Sok tahu sekali kau. Tapi, memang rencanaku seperti itu," akunya dengan terpaksa.
Kembali menghadap meja kerja, Andrew berujar, "Omong-omong, kau kapan menyusulku?"
"Sepertimu apa? Menjadi pria sok keren yang gila kerja?" Jo mendecih. "Tidak berminat, terima kasih."
Andrew menopang tubuhnya pada meja, kembali menghadap Jo. "Terus saja berkelit. Kau pasti tahu maksudku. Segeralah mencari pasangan, Jo. Mereka tidak akan berdatangan sendiri. Kau harus merasakan bagaimana perjuangan mencari cinta."
"Itu pasti akan menyenangkan sekali, tapi aku sedang tidak ingin. Lagi pula, jodoh itu di tangan Tuhan. Aku percaya itu." Jo berujar spektis.
"Kau terdengar agamis. Aku jadi malas berkomentar," balas Andrew. Lantas saja lelaki itu menenteng tas kerja. "Kau tidak pulang?" tanyanya ketika Jo masih memaku diri pada sofa.
"Aku juga akan pulang." Jo menyambar tas kerjanya yang ia simpan di sofa, lalu melenggang keluar ruangan mengikuti Andrew.
* * *
"Kau pulang dengan siapa?"
Jemima terjengit berlebihan ketika membereskan peralatan kerjanya. Membuang napas pendek, tubuhnya memutar menghadap Jovic. Sedang beberapa orang yang masih tinggal di ruangan mencuri pandang penasaran. Pasalnya, menejer mereka yang baru saja dikenalkan beberapa jam yang lalu, mendatangi bangsal Jemima.
"Aku ...." Entah mengapa bibir Jemima mendadak kelu. Karena enggan membuka suara lebih lanjut, perempuan itu memilih melengos seraya berujar, "Aku duluan, ya."
Jovic menganga tak percaya. Lekas ia berbalik, menyusul Jemima yang beberapa langkah di depannya. "Itu bukan jawaban," desisnya.
"Lantas aku harus apa?" jengkel Jemima.
Mereka berdua memasuki lift yang sama menuju lantai dasar, kemudian melewati lobi, dan sampailah di pintu utama. Banyak pegawai yang menyetop taksi di jalan depan atau menunggu jemputan.
Jemima tengah mengecek ponselnya ketika Jovic kembali bertanya, "Kau menunggu seseorang? Siapa? Apa kekasihmu?" Pandangannya menelisik, mencari jawab pada air muka Jemima yang sulit diartikan. Detik berikutnya tertawa kecil meremehkan. "Tidak mungkin kau punya kekasih, kan? Memang ada yang tahan dengan sikap manjamu?" Jovic tertawa, masa bodoh dengan Jemima yang mencebik karenanya. "Kecuali aku," imbuh Jovic yang dihadiahi putaran bola mata dari Jemima.
Merasa tidak terima, Jemima menanggapi, "Enak saja kalau berbicara! Tidakkah kau berkaca, huh? Kekasih pun tak ada, mengejek orang bisanya," gerutu Jemima.
Jovic yang mendengarnya kontan tertawa. Jemima begitu lucu dan Jovic tak tahan ingin menciumnya sekarang juga. Khawatir Jemima akan bingung dan lebih parah membencinya jika Jovic bersikap agresif, alhasil yang bisa lelaki itu lakukan sekadar mengacak sirai Jemima dengan gemas. Sang empu rambut masih cemberut, tapi tidak menepis tangan Jovic sedikit pun. Karena Jemima mengakui, usapan Jovic begitu menenangkan. Lembutnya sampai ke sudut hati Jemima.
"Sebaiknya lepaskan tanganmu, Bung!"
Jemima yang sempat memejamkan mata seketika menegang di tempatnya. Suara rendah itu ... "Andrew?" Matanya terbuka kala merasakan pinggangnya dipeluk oleh Andrew. Sementara Jovic sedari tadi telah menurunkan tangannya, dan kini hanya memandang Andrew dan Jemima, sarat akan keingintahuan.
"Siapa ini, J?" Jovic memandang pria asing itu, menilai. Sekali tangkap ia menyimpulkan: pria berduit dan—Jovic benci mengakui ini—sedikit keren. Sedikit. Karena yang kerennya banyak tetaplah aku seorang, batinnya.
"Aku Andrew, tunangan Jemima." Andrew senang mendapati lipatan dahi Jovic semakin banyak serta tatapannya kian menusuk. "Katakan padanya, Sayang," pinta Andrew, mengusap pinggang Jemima, sementara matanya masih betah mengintimidasi Jovic.
Dengan seulas senyum canggung, Jemima berkata, "Iya, Jovic, ini tunanganku. Namanya Andrew. Kenalkan, And, ini Jovic, temanku dari kecil."
"Teman? Kenapa kau tak pernah menceritakannya padaku?" rongrong Andrew.
"Aku baru kembali ke Indonesia dan mendapati Jemima telah bertunangan," sahut Jovic, membungkam Jemima. Ia meneruskan, "Selamat kalu begitu." Senyuman yang terpatri di bibirnya amat lebar, meruntuhkan seketika kegelisahan hati Jemima.
"Kami duluan," pamit Andrew. Entah kenapa lelaki itu enggan membalas senyuman apalagi berjabat tangan dengan Jovic. Mereka tidak saling mengenal, dan Andrew tidak mau mengakrabkan diri dengan Jovic.
Jovic, lelaki yang masih terpaku di tempatnya berdiri setelah mengetahui fakta mengejutkan itu, sekadar mengangguk sebagai jawaban, serta membiarkan Andrew dan Jemima berjalan melewatinya hingga mereka semakin menjauh dan hilang ke balik mobil. Kemudian Jovic kembali dengan sejuta kekecewaan.
Sementara itu, Andrew dan Jemima telah masuk ke dalam mobil. Jemima tengah merapikan riasannya ketika Andrew bertanya, "Mengapa kau gugup saat aku mengatakan tentang hubungan kita pada lelaki itu?"
Seolah memiliki jawaban yang pas, Jemima tampak santai. Agaknya ia sudah menerka pertanyaan Andrew di kepalanya. "Namanya Jovic." Jemima memberitahu. Tanpa mengindahkan dengusan Andrew yang kelewat kencang, Jemima menjelaskan, "Jovic tahunya kalau aku belum mempunyai kekasih, apalagi mempersiapkan pernikahan. Biasanya dia sangat heboh bila mengetahui sesuatu apa pun yang terjadi padaku. Makanya aku mewanti-wanti dahulu." Jemima terkekeh. "Dia sangat memalukan bila berlebihan. Aku terkadang malu sendiri. Tapi tadi benar-benar di luar dugaanku. Jovic hanya diam dan mencerna."
Usai jeda beberapa lama barulah Andrew menanggapi, "Bagaimana jika aku berkata bahwa Jovic menyukaimu?"
Jemima menarik sebelah alis, menyampingkan tubuh memandang Andrew. "Kau cemburu?" Perempuan bersurai emas kecokelatan itu tertawa kering.
Andrew menghela. "Jemima!" peringatnya. Dia ingin jawaban, dan tawa hambar Jemima membuatnya geram.
"Tidak mungkin Jovic menyukai sahabatnya sendiri. Ayolah, An, aku dan Jovic sekadar teman." Jemima melemparkan senyuman hangannya pada Andrew.
Andrew berjanji akan membuat malam ini menjadi istimewa agar Jemima tidak akan pernah berpaling darinya. Lelaki itu percaya kepada Jemima. Terlebih kepada cinta di antara mereka. Namun, apa pun bisa terjadi. Jemima tidak ada dalam pengawasannya. Walaupun calon istri, Jemima masih selayaknya wanita bebas yang tak terikat.
Mencoba menghalau pikiran negatif, Andrew menawarkan, "Mau makan atau mau pulang?"
Jemima yang sedari tadi melirik keluar jendela, meratapi kesalahan dan kebungkaman Andrew, seketika tersenyum cerah. "Aku lapar. Kita makan dulu saja."
Andrew mengangguk, membalas senyuman Jemima seraya mendangkap jemari kiri Jemima dengan tangan kanannya. "Mau makan apa?" tanyanya.
"Terserah, tapi jangan makan hidangan laut."
Andrew terkekeh, merasa konyol dengan ucapan Jemima. "Kau bilang terserah, tetapi ada syaratnya. Kenapa wanita selalu begitu?"
"Entahlah. Aku seorang wanita, namun di beberapa kejadian, aku tidak tahu alasannya," terang Jemima. "Mungkin kami mengucapkannya secara impulsif."
"Enak sekali jadi wanita," aku Andrew.
Jemima terkekeh dahulu. "Kau tidak tahu saja sulitnya jadi wanita. Dan, kadang kala wanita memiliki rasa iri kepada laki-laki."
"Wanita pun tidak tahu sulitnya menjadi lelaki. Jadi, lebib baik kita menerima dan mensyukuri apa pun yang kita miliki, bukan?" papar Andrew, retoris. Jemima mengangguk senang. Mengeratkan genggaman tangannya pada jari-jemari Andrew yang hangat dan nyaman.
Mobil mewah yang mereka tumpangi berhenti di restoran Italia. Persis seperti apa yang Jo terka, pikir Andrew. Jemima dan ia memiliki selera makanan yang sama. Sebetulnya Jemima perempuan pemakan segala. Tidak ada batasan apa pun jika berhubungan dengan makanan. Ia tidak ada program diet atau apa pun yang memengaruhi tubuhnya. Karena pada dasarnya, Jemima memiliki bentuk tubuh ideal yang jika makan sebanyak apa pun tidak akan membuatnya gendut.
Rupanya Andrew sudah memesan meja. Saat mereka memasuki restoran, dua orang pelayan menghampiri dan mengarahkan mereka ke kursi masing-masing. Katanya tempat duduk terbaik, dan Andrew pasti mengeluarkan kocek dalam untuk itu. Manalagi satu grup musik indie yang khusus untuk menghibur sepasang kekasih itu.
Andrew menarik kursi untuk Jemima sementara lengan kanannya bertautan dengan jemari sang pujaan hati. Setelah membubuh kecup yang amat pelan dan terasa hangat, barulah Andrew duduk di seberang Jemima. Tak berselang lama beberapa pelayan menghidangkan beraneka ragam masakan Italia. Jemima sudah terbiasa dengan perilaku Andrew.
"Karena kau gemar makan, aku memesan banyak makanan untukmu." Begitulah Andrew berujar.
Jemima tidak protes. Menurutnya Andrew sangat romantis. Begitulah tabiat kedua insan yang saling mencinta.
Keduanya makan dengan khidmat. Sesekali melontarkan lelucon yang menggelitik sekaligus menghangatkan. Andrew terus saja memegang tangan Jemima yang bebas. Jemima menyukai perlakuan Andrew yang lembut dan mendebarkan. Di sela kunyahan, Andrew tiba-tiba berujar, "Kita akan segera menikah. Jangan lagi tutupi hubungan ini, dan perihal apa pun, beritahukan aku tentang segala sesuatu tentangmu." Jemima terpana. Bungkam. Ada apa dengan Andrew?