Bab 3

1291 Words
Pertemuan makan siang Tim dengan Jemima mengundang banyak spekulasi dan tatapan iri. Sebagai ciptaan yang memiliki paras berlebihan, keduanya memilih acuh. Hal yang biasa. "Aku dan adikku sangat suka memakan kue jahe. Ibu selalu membuatkannya untuk kami. Tapi secara diam-diam aku mengambil bagian adikku, dan ibu kewalahan jika adikku merengek ingin diganti yang baru. Belum lagi kami bertengkar. Pokoknya aku sangat merindukan momen-momen bersama ibu dan menjahili adikku." Cerita Tim tak ada habisnya. Seolah ada dongeng yang selalu berputar di kepala dan secara impulsif ia ekspresikan. Tim piawai mencairkan suasana. Jemima bertaruh, Tim berpotensi menjadi pembawa acara talk show yang sukses dan dapat menggeser posisi Sule—salah satu pelawak sekaligus pembawa acara di Indonesia. Seolah tak ada hari esok, Tim kembali bercerita, "Aku pemain rugby saat sekolah menengah atas dulu, tapi tidak pernah diturunkan ke lapangan jika bertanding," jedanya sejenak untuk terkekeh, "kau tahu? Karena mataku bermasalah dan selalu menyeruduk siapa saja." Jemima tertawa tanpa aba. Kepalanya menggeleng kecil. Matanya melirik takjub. "Lantas, kenapa kau tetap bergabung dengan tim rugby?" tanyanya heran. "Em ... entahlah. Kurasa karena pada saat itu, menjadi pemain rugby adalah hal yang luar biasa. Ceritanya aku menumpang eksis." Tim tertawa tanpa rasa canggung atau malu dengan pengakuannya sendiri. Oh, sudah Jemima duga. Memang saat sekolah menengah, dirinya pun sangat mengagumi pemain rugby yang berotot dan bertubuh tinggi tegap. Fantasi liarnya mudah hinggap sejak dulu. Membayangnya mereka naked atau bercinta dengannya adalah hal yang paling sering Jemima lakukan. Dan beberapa kali Jemima mengintip kamar ganti pria di celah fentilasi udara yang dicapainya menggunakan tangga. Jemima beraksi seorang diri. Terlalu rakus sampai-sampai selalu membual jika temannya bertanya, "mau apa kau ke belakang sekolah dengan membawa tangga?". Namun jika yang bertanya adalah Jemima, sudah pasti perempuan itu akan mengintili dan mengintip. Lain hal dengan kawan Jemima yang sekadar bertanya tanpa mencari tahu. Reputasi Jemima sebagai duta sekolah aman waktu itu. "Masuk akal juga," komentar Jemima, mendorong piring kosong ke tengah meja. Hal yang sama dilakulan Tim. Keduanya bersulang sebelum meminum minuman dingin. Maklum, ada larangan alkohol di kantor. Jadi kafetaria tidak menyediakan apa yang diperingatkan. Bayangkan saja jika banyak orang mabuk yang bekerja, pasti akan menyenangkan. Eh, maksud Jemima, menyebalkan. Tampak tidak profesional sekali. Karena itulah pihak perusahaan mewanti-wanti hal yang kemungkinan terjadi. "Kalau kau, bagaimana denganmu?" Rupanya Tim mulai penasaran dengan Jemima, karena sedari tadi hanya ia yang bercerita. Jika diibaratkan, Jemima adalah penari latar dan Tim penati utama yang terlalu sempurna. Tanpa pikir panjang, Jemima menjawab, "Tidak semenarik ceritamu." "Kurasa tipe sepertimu menyukai barang mewah sedari kecil," seloroh Tim. Terdengar mencela memang, namun bagi Jemima itu hal yang biasa. "Ya, tapi—" "Hai, saudara-saudara." Suara riang sekaligus jenaka menginterupsi. Tatapan Jemima bersirobok dengan pria bertubuh tinggi, berkulit putih, dan berjas hitam. Seketika Jemima memekik tertahan. "Jovic Rieu!" Secara impulsif perempuan itu berdiri, memeluk Jovic dengan erat. Diperlakukan demikian, Jovic melebarkan senyumannya dan melirik pongah ke arah Tim. "Hey, kawan, sepertinya secara tidak langsung kau telah diusir dari sini," cakap Jovic setelah meloloskan diri dari jeratan lengan indah Jemima. Tim mengernyit tak setuju. "Tapi aku lebih dulu di sini bersama Jemima," protesnya. Alis Tim yang lebat semakin menukik tatkala dengan tidak sopannya Jovic menaruh tangan kanan di pinggang Jemima. Sekarang tak ada jarak di antara keduanya. Sedang Jemima yang cukup merasa tak nyaman hanya bisa memutar bola matanya ketika Jovic melebarkan senyuman. "Tim, kenalkan, ini Jovic. Dan Jovic, ini Tim." Jovic dan Tim hanya saling memandang tanpa berniat berjabat tangan. Bola mata keduanya memancarkan permusuhan. Tim tahu Jovic akan menjadi halangan terbesarnya untuk mendapatkan Jemima. Sedangkan Jovic tidak mengenal siapa Tim dan apa saja yang ia lakukan dengan Jemima. "Aku ingin bercengkerama berdua saja dengan Jemima," jelas Jovic, menekankan kata "berdua" agar Tim yang menurutnya memiliki gangguan pendengaran lekas meninggalkan kafetaria. "Tapi aku—" "Tim, maafkan aku, tapi sepertinya, aku dan Jovic memang harus mengobrol," pangkas Jemima. "Berdua," imbuhnya. Tim merasa mendapat penolakan. Walaupun disampaikan secara halus tanpa banyak gaya layaknya drama India, pengusiran tetaplah pengusiran. Eksistensinya sebagai pria tampan dan selalu sukses dalam pendekatan ternodai. Dua lawan satu. Tak ada gunanya bagi Tim untuk memprotes lebih lanjut sedangkan Jemima sendiri ikut mengusirnya. Menghela kasar, Tim berujar, "Baiklah, aku akan menghubungimu nanti." "Jangan menghubungi Jemima lagi!" geram Jovic sementara Tim melengos pergi mengacuhkannya. "Dasar pria sok itu!" "Jovic, cepat duduk!" perintah Jemima. Orang-orang di sekitar hanya melirik sesekali. Selebihnya tidak peduli. Jovic menyengir lebar, memperlihatkan gigi-geliginya yang putih rapi. "Siap, Mrs. Rieu!" selorohnya. Jemima berdecak. "Aku tak suka panggilan itu!" Jovic menaikkan kedua alisnya. "Memangnya kau tak mau menikah denganku?" Telunjuk kanannya menjawil dagu Jemima dengan jenaka. Jemima menghempaskan tangan Jovic sedikit kasar. Setelah itu tatapannya berubah menjadi ceria. "Sekarang katakan. Kenapa kau bisa ada di sini?" Jovic menjawab, "Memangnya kenapa, tak boleh? Aku bisa ke mana pun yang kumau," pongahnya. "Ini bukan tempat yang bagus untuk menongkrong," gerutu Jemima. "Ke mana saja kau selama ini?" tanya Jovic, mengalihkan pembicaraan. "Seharusnya aku yang bertanya. Ke mana saja kau? Hilang tertelan bumi?" sarkasnya. "Hey, apa kau merindukanku?" goda Jovic. "Tentu saja aku merindukanmu!" timpal Jemima sedikit manja. Jovic tertawa bahagia. Jemima memang tidak pernah terduga. "Setelah kuliah aku mengurus perusahaan ayah di London. Kau tahu, bukan, kalau hidup bersama ayah sama dengan dipenjara?" Jovic kembali terkekeh seolah-seolah ucapannya adalah lelucon paling menggelikan. "Ayahmu memang menakutkan, tapi beliau sangat sayang padamu." Jemima memandang Jovic yang tengah mengangguk setuju. Jovic dan Jemima sudah bersahabat sejak kecil. Mereka bertetangga. Orang-orang banyak yang mengira keduanya adik-kakak. Namun semenjak lulus kuliah, Jovic pindah keluar negeri dan melanjutkan S2-nya di London. Mereka tidak ada berkontak satu sama lain kendatipun peradaban telah maju dan alat komunikasi sedia di saku. Jovic bukan tipe orang yang mementingkan dunia maya. Bahkan Jemima ragu kalau Jovic mempunyai akun sosial media. Makin sulitlah bagi Jemima untuk menghubungi Jovic. Kemudian, setelah beberapa tahun lamanya, Jovic kembali. Mengganggu acara mengobrolnya bersama Tim. Dan, pria itu ada di depannya sekarang. "Kau masih mengingatku?" Tentu saja Jemima merasa sangsi. "Penampilanku berubah banyak." Jovic memindai penampilan Jemima tanpa peduli yang dipandangnya merasa malu. Telunjuknya terangkat ke udara. "Kau memang berubah banyak, J. Tambah menawan, matang, dan ... seksi," ujarnya, jahil. Sengaja memelankan kata di akhir ucapan sembari mengedipkan sebelah mata. "Menyebalkan!" geram Jemima. Detik berikutnya tersipu malu. Jovic Rieu terpukau dengan rona pipi Jemima. Dengan penampilannya. Dengan senyumannya. Sungguh demi apa pun rindunya merebak tak henti. Terus mengalir dan haus akan pertemuan. "Aku merindukanmu. Sangat." Penuturan Jovic menghentikan dunia Jemima. Sebetulnya hal yang lumrah diucapkan siapa saja. Tapi gestur Jovic dan tatapannya berbicara lain. Apalagi ketika lelaki itu mendangkap jari-jemari Jemima seraya meremasnya pelan. "Aku rindu saat kita bersama. Membeli es krim. Menonton film. Semuanya aku rindu," tuturnya. Tatapan Jovic lembut dan membekukan. Jemima dibuat terpana begitu lama. "Jo-Jovic ...," panggil Jemima ketika Jovic masih terpaku kepadanya. Perempuan itu segera melepaskan genggaman dan berdeham samar sebelum memperlihatkan wajah garang. "Waktu istirahat sudah habis! Cepat pulang, aku mau kembali bekerja!" "Kau mengusirku? Aku tak akan ke mana-mana. Akan terus bersamamu dan menemanimu di perusaan ini," terang Jovic, abstrak. "Mengada-ada saja!" "Mulai hari ini aku bekerja di sini sebagai menejer. Bagaimana menurutmu?" Jovic menyugar rambutnya dengan perlahan. "Kau bercanda?" Jemima menyipit ak percaya. "Apakah aku kelihatan sedang bercanda?" dengus Jovic. "Mungkin ya, mungkin tidak. Kau kan sudah memegang salah satu perusahaan ayahmu. Kenapa susah-susah bekerja untuk orang lain dan menjadi bawahan?" Jemima masih tak percaya. Bagaimanapun menurutnya, Jovic telah menyia-nyiakan kemudahan yang ada. "Aku ingin mulai dari nol tanpa bantuan ayah. Dia pun setuju saat aku memutuskan ke Indonesia dan tidak bekerja padanya," jelas Jovic. "Karena pada akhirnya, aku pewarin tunggal yang mau tidak mau harus mengurus perusahaan ayahku." "Kau hebat." Jemima tersenyum takjub. Jovic mengedik. "Ayo kembali bekerja," ajaknya. "Kau duluan saja. Aku ada urusan sebentar." Jemima merujar sedikit ragu. Senyumnya mengembang ketika Jovic mengangguk tanpa mempermasalahkan alasan. Tak berselang lama ketika punggung Jovic sudah tak terlihat lagi di matanya, Jemima segera kembali ke bangsal. Sepanjang jalan tatapannya menerawang. Mempertanyakan perlakuan dan pernyataan Jovic. Lantas, bagaimana cara Jemima memberitahukan pada Jovic bahwa ia sudah bertunangan bahkan sebentar lagi melangsungkan pernikahan?      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD