Jemima membuka buku harian, sinar matahari mendukung dirinya untuk membuka buku yang telah lama belum dia buka setelah kehilangan sosok orang yang sangat dia sayang, Adrew. Jemima mengusap satu sapu tangan yang Adrew berikan padanya. "Takdir seperti mempermainkan diriku," ujar Jemima. Dia menatap ke arah jendela kamarnya, merasakan sejuk angin yang menerpa wajahnya. "Aku rasanya belum bisa ikhlas dengan kepergianmu, Adrew." Jemima mengambil tasnya dan bergegas pergi meninggalkan ruangannya. Dia ingin berjalan-jalan sebentar, dia ingin men-freshkan pikirannya. Rasanya dia kesepian walau Jovic masih ada, namun Jemima akan tetap kesepian jika tak ada Adrew di sisinya. Jemima mulai bergulat dengan setir mobil, mobilnya melaju membelah jalanan di kota besar ini. Sambil mendengarkan lagu kes

