“Jem, kumohon makanlah,” lirih Jovic. Jemima hanya meringkuk diatas kasurnya, tidak ada makanan atau minuman masuk semenjak dua hari ini. Jemima hanya meratapi nasibnya, dia sangat merindukan Andrew. “Jov, uruslah dirimu sendiri. Jika aku bisa mati saat ini, maka aku bersedia untuk segera mati. Aku merindukan Andrew. Ku harap kau mengerti maksudku.” Jovic menghela napas pasrah, Jemima sepertinya putus asa dan tidak tau lagi tujuan hidupnya. “Kau butuh psikiater? Tanya Jovic.” PLAK. Pertanyaan Jovic menyinggung perasaan Jemima. Dia menampar Jovic. “KAU PIKIR AKU GILA HAH?” teriak Jemima “Pikirkan perasaanku Jov, dua tahun lebih kau membangun hubungan dengan orang yang kau cintai, tapi harus melihatnya meninggal dengan tragis, di saat hari pernikahan pula! Kau tidak pantas ku sebut sah

