Bab 14

1323 Words
Jemima ingin menjadi wanita yang bebas, dan menurutnya, jika hubungan yang ia jalani dengan Andrew diketahui teman-teman di kantor, itensitas lelaki yang mengejarnya akan berkurang. Padahal itu adalah hal yang paling menyenangkan menurut Jemima. “Bagaimana?” Andrew menyadarkan Jemima pada fantasinya. Seketika buyar tampang ganteng di benak perempuan itu. Jemima memandang lengan Andrew yang meremas pelan jemarinya. Lebih-lebih jika dipikir, mereka---teman kantor bahkan seluruh dunia---sebentar lagi akan mengetahui hubungan Andrew dengan Jemima setelah surat undangan pernikahan tersebar. “Aku ....” Jemima meragu. Desahan panjang lolos dari bibirnya yang ranum. “Baiklah, aku tidak keberatan.” Andrew tersenyum lebar. Ingin bertanya guna memastikan, namun ia khawatir jika jawaban Jemima berbeda dari sebelumnya. Segera ia peluk tubuh Jemima. Teramat senang yang dirasa hingga tidak menyadari bahwa Jemima tidak membalas rangkulannya. “Aku ada permintaan,” kata Andrew lamat-lamat menyelami bola mata bening Jemima. “Aku keberatan dan sangat tidak suka kalau kau berhubungan dengan Jovic sekalipun kalian berteman. Bisakah kau melakukannya untukku?” * * * “Kau habis nonton drama Korea?” Suara Betty mengagetkan Jemima yang tengah mengolah angka di komputernya. “Habis dari mana saja kau? Kok jam segini baru datang?” Jemima memandang aneh ke arah Betty setelah melirik jam tangannya. Pukul sembilan pagi. Betty terkekeh. Disibaknya rabut ikal bergelombang laksana diva rok di atas panggung dunia. “Aku sudah datang lebih dulu darimu, tapi tadi ada urusan dengan tim pemasaran.” Jemima hanya bergumam ria tanpa berniat membalas perkataan Betty. Wanita itu masih berdiri, kemudian bertanya, “Kau belum menjawab. Matamu seperti habis dipukul. Bengkaknya mengerikan. Kau menangisi drama Korea atau hal lain?” Menubrukkan punggung pada sandaran kursi kerja, Jemima memandang Betty. “Kurasa dua-duanya. Entahlah, perasaanku sedang kacau dari kemarin.” “Omong-omong, aku rindu pada Airin,” celetuk Betty. Jemima mengangguk. “Aku juga. Lama sekali dia mengambil cuti.” Setelahnya Betty tidak bertanya lebih lanjut. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar bisa mengambil cuti dua hari ke depan untuk menemani ibunya di rumah sakit. Jemima bersimpati. Betty bilang, kondisi ibunya sudah membaik. Hanya perlu perawatan lanjutan. Ketika memasuki waktu istirahat, Betty menghampiri meja kerja Jemima dengan wajah cerita seperti biasa. Hari ini ia ingin makan masakan berat, tapi sayang pada tubuhnya. Keduanya tertawa. Badan gendut adalah sesuatu yang dihindari Betty setelah suaminya. “Astaga, Jemima! Kau menyembunyikan berlian!” Teriakan heboh nan melengking membuat Jemima dan Betty mengernyit. Mereka urung melanjutkan langkah. Seketika bangsal Jemima dikerubungi rekan-rekan perempuan kantornya. “Tadi pagi kau datang dengan siapa?” tanya temannya yang lain. Si wanita bersuara melengking cepat menyela, “Semoga saja itu saudaramu. Jadi kau bisa memperkenalkan lelaki seksi itu kepadaku.” Pemaparannya membuat beberapa mulut berdecak tak suka. “Ih, itu tunangan Jemima, asal kau tahu!” Betty meanggapi. Si perempuan cempreng itu lantas meneliti keseluruhan Jemima dari atas hingga bawah. Ia mengakui Jemima cantik, tapi payudaranya kecil. Jelan si cempreng merasa lebih unggul karena pakaian ketatnya terlihat menggoda dan buah d**a yang seolah akan melompat keluar. “Aku meragukan itu,” gumamnya. Tak Jemima hiraukan. Ia tidak butuh pendapat si cempreng. “Jangan dengarkan dia! Kalian imut sekali.” Seseorang berseru. Wajahnya memerah hanya membayangkan adegan di mana Andrew dengan lembutnya menggenggam tangan Jemima di lobi, lalu mencium singkat bibir gadisnya sebelum berpamitan pergi. “Kau menjadi terkenal sepagi tadi,” lanjutnya. “Sudah, sudah!” halau Betty, terlihat gemas sendiri. “Aku dan Jemima akan pergi ke kantin untuk makan siang. Jadi lebih baik kalian jangan berkerumun di sini!” Ditariknya tangan Jemima oleh Betty. Kerubung langsung bubar tanpa mempersalahkan apa pun lagi. Jemima menghela napas lega, begitu pun Betty ketika mereka telah sampai di meja kantin. Keduanya memesan pizza dan minuman dingin. Setelah bersantap, Betty bersuara. “Memang pesona  calon suamimu tidak diragukan lagi. Seharusnya tadi pagi kau melarang dia menggunakan kemeja dengan tangannya yang digulung hingga siku. Belum lagi kancing kemejanya atasnya yang terbuka. Kau tahu? Para wanita seperti melihat santapan lezat.” “Termasuk kau?” “Bisa jadi, tapi sayangnya aku sudah tahu kalau itu pacarmu.” Jemima terkekeh. “Aku sih, terserah apa pun yang dia pakai.” Memang setelah obrolah yang cukup menegangkan tadi pagi, baik Andrew ataupun Jemima harus berangkat bekerja walaupun tubuh keduanya begitu letih. Karena perjanian mereka pula Andrew mengantarkan Jemima sampai ke lobi dan menjadi tontonan orang-orang kantor yang memang sudah ramai datang. Melihat Andrew senang, Jemima tidak keberatan. Ia malah senang-senang saja. Andrew sudah kembali menadi Andrew yang ia kenal. “Eh, ponselmu berkedip-kedip dari tadi.” Betty menunjuk layar ponsel Jemima. Melihat nama yang tertera, Jemima menahan napas. Jovic.   “Biarkan saja.” Betty mengernyit, kemudian ia teringat sesuatu. “Aku lupa. Tadi padi Pak Jovic menanyakan kabarmu saat kami berpapasan di lobi. Memangnya da apa sih?” Pasti karena kejadian kemarin, batin Jemima. Ia berdeham. Ia ingin membagi masalahnya pada Betty, namun menurutnya problema yang terjadi antara ia dan Andrew adalah sesuatu yang tidak usah dibagi. Ia mencoba mencari alasan, bahwa kemarin Jemima kurang enak badan ketika diminta Jovic untuk mengirimkan berkas lewat E-mail, namun pekerjaannya belum tuntas. Betty cepat percaya tanpa berkata apa-apa. Kembali ke meja kerja, Jemima meminta izin ke toilet sementara Betty berjalan duluan. Cermin kamar kecil memantulkan dirinya yang terlihat mendingan. Mata bengkak tadi pagi sudah hilang. Kemeja cokelat muda serta rok span hitam membalut tubuhnya. Masih menatap pantulan dirinya, Jemima merenung. Kilas balik kejadian tadi pagi berputar di otaknya. Setelah Andrew mengutarakan keinginannya agar Jemima menjauhi Jovic---yang disampaikan secara tersirat, perempuan itu tidak langsung menanggapi. Banyak hal yang perlu ia pertimbanya. Jemima melihat sudut pandang dari Andrew. Jika ia melihat Andrew terlalu dekat bersama wanita lain, sekalipun mereka bersahabat, barangkali dengan alasan cemburu karena cintalah Jemima akan melarang mereka berdekatan. Jemima mengembuskan napasnya gusar. Menjauhi Jovic  tidak akan pernah mudah. Ia menatap sekali lagi pantulan diri, kemudian melangkah keluar. Hari berikutnya dan berikutnya, Jemima semakin gencar menjauhi Jovic. Segala macam pesan dan panggilan yang menurutnya tidak penting Jemima abaikan. Jika di kantor, Jemima beralaskan sibuk bekerja. Bila di rumah, telepon tidak aktif adalah alibi andalan Jemima. “Jangan bilang kau ada banyak kerjaan, karena hari ini kurasa pekerjaanmu lebih sedikit daripada sebelumnya,” kata Jovic suatu hari ketika pria itu menanyakan kenapa teleponnya lagi-lagi diabaikan, sengaja mendatangi Jemima ke kubikelnya. Jika tidak nekat begini, di mana pun Jovic tidak akan pernah menemukan Jemima, karena Jemima sudah jarang ke kantin atau ke dapur kantor. Andrew pun menjemput lebih awal. Maka ketika pegawai dipulangkan, tidak ada waktu bagi Jovic untuk menemui Jemima. Jemima mengerjap lambat mencari alasan. “Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun, Jovic.” Lalu perempuan itu kembali mengetik sesutu di komputernya, mengabaikan Jovic yang berdiri dengan tatapan menyelidik. Seminggu berlalu. Kebetulan sekali pada saat itu adalah penyerahan laporan bulanan dari tim akuntansi. Jovic sengaja menyuruh Jemima yang datang ke ruangannya. Selain karena penjelasan dari Jemima yang paling singkat namun mudah dimengerti, ada suatu hal yang perlu Jovic bicarakan terkait analisanya beberapa hari ini. Pintu diketuk dua kali dari luar. Setelah mempersilakan, Jemima masuk ke dalam ruangan dengan gerakan kaku yang membuat Jovic mengernyitkan dahi. Biasanya Jemima selalu luwes jika bersama Jovic. Ini hal yang tak biasa. “Silakan duduk!” perintah Jovic. Tanpa membuang waktu, Jemima segera memaparkan isi laporan yang ia bawa. Sesekali Jovic menyela untuk mempertanyakan beberpa poin yang tidak ia mngerti. Jemima menjawabnya seprofesional mungkin. “Kalau sudah selesai, saya pamit, Pak,” izin Jemima. Jovic kian dibuat bingung. Seratus persen analisisnya benar. Jemima memanggilnya pak? Kenapa formal sekali? “Tunggu, Jemima.” Suara Jovic menahan lengan Jemima yang hendak membuka pintu ruangan. “Kenapa kau memanggilku pak?” Jemima memutar badan. “Aku bawahanmu, dan ini di kantor. Memang seharusnya begitu, bukan?” Jovic mengangguk-anggukkan kepalanya. Cukup masuk akal walaupun tidak Jovic terima. “Beberapa hari ini kau berbeda, J.” Kedua kalinya suara Jovic menghentikan Jemima. Perempuan itu menghela napasnya. Ia tidak ingin berlama-lama bersama Jovic. “Berbeda bagaimana? Perasaanmu saja, barangkali.” “Aku merasa kau menghindariku.” Jovic menunggu reaksi Jemima, namun perempuan itu diam membatu seolah sudah menyiapkan mental untuk kejadian ini. Karena tidak mendapatkan respons, Jovic melanjutkan ucapannya. “Bagaimana kabarmu?” “Aku baik.” “Setelah kejadian itu?” “Aku baik, Jovic. Berhentilah bersikap seperti ini.” Jovic sedikit tersentak karena perkataan Jemima. Seperti ini bagaimana? Hendak mendebat, namun Suara Jemima lebih dulu membungkamnya. “Kau tidak perlu menghawatirkanku, Jovic.” Jemima menunduk sejenak, kemudian mengangguk meminta izin Jovic untuk keluar dari ruangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD