Xheira mencoba santai dengan duduk menyandar di batang pohon kelapa mini. HYDROMATIK ini memang seperti taman impian. Beberapa hari ini, topik yang ada di kepala Xheira masih tetap sama .
1. Misteri pencuri buah.
2. Kencan dahsyatnya (jika berburu Hiu berdua dapat dikategorikan sebagai kencan) dengan Zhorak.
Zhorak. Bagaimana mungkin kita bersama lagi. Setelah kudengar rencana perjodohanmu dengan O’shizak, nona muda baik hati yang mengenalkan kebebasan kepadaku dan mengajari banyak hal. Apa ini sebuah kebetulan? Atau kau sengaja ‘mengejarku-mencariku’ ke sini?
Seperti ada yang aneh, menurut perhitungan Zhorak ‘dibuang ke Hydropolytan[1]’ karena O’Shizak menjalani pingitan di ‘permukaan’ sana.
dan aku ada di sini karena dokter Croll memberi kebabasan sekaligus pekerjaan.
Tapi kenapa semua kini berkumpul di sini? Apa ini sebuah pertanda?
Dan Zhorak.. kenapa matamu menatapku begitu? Apa itu tatapan....
Cinta
Setelah pemikiran Xheira berkembang dengan imbuhan fantasi di sana-sini, wajah Xheira yang semula datar, tawar, tanpa mimik, lalu mengerut bergaya memecahkan persoalan misteri, lalu menjadi cerah, memerah.
Tentu saja tak mungkin, Dia seorang pangeran Zirac yang tampan. Dan aku Cuma sekedar bekas b***k beliannya yang beruntung telah mendapatkan kebebasan. Dan menjadi warga biasa. Xheira mengenyahkan segala impian anehnya.
“Tulinut… tulinut…” minisupertelenya berbunyi. Xheira terlonjak girang. Dari diakah-dari diakah? Xheira tak ingin merusak kejutannya yang ia bayangkan sendiri. Dikepalanya bergerak mesin rolet: siapa yang paling mungkin menghubunginya siang hari ini.
Kaila-Zhorak-Fitosek-Zhorak-Kaila-Zhorak-Zyeko-Zhorak-dokter Croll- Zhorak -Kaila-Zhorak-Nato-Zhorak.
Nah!
Sekarang kita bisa tahu bagaimana hasil angka statistiknya.
Tapi agar kita semua tak penasaran akhirnya Xheira membuka minisupertelenya. Dia mendapati wajah itu. Wajah yang sangat ia hapal.
Wajah Fitosek. Wajahnya yang sangat tidak bersahabat membuat Xheira terlonjak kaget. Kita bisa membayangkan lonjakan kekagetannya Karena apa yang dibayangkan Xheira? Wajah tampan Zhorak. Tapi yang ia dapati di layar monitor itu adalah wajah Fitosek dengan tampilan cermin cembung. ini adalah salah satu sifat jahil Xheira, dia menyetel minisupertele yang bila menerima hubungan dari Fitosek, maka gambarnya akan diterjemahkan seperti itu.
Wajah itu sangat jelas sedang marah. MERAH-DARAH meradang.
“XHEIRA! CEPhATh! KE SINI!”
Suaranya terdengar keras dan memaksa.
Bayangkan tampilan gambarnya karena Fitosek hanya memunculkan gambar mulutnya sebagai penegasan PANGGILAN bertanda SERU! SERU!
“BIP.” Hubungan putus.
Xheira mengelus d**a. Menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdebar cepat. Pasti ini sangat gawat sampai dia mendapat kiriman gambar gigi semua!
“Saya datang pak manager.” Kata Xheira menghadap Fitosek yang sudah menantinya di samping rak-rak yang berjajar. Penampilan dan mimik wajah Fitosek membuat Xheira menciut. Xheira seolah dalam beberapa detik menggelembung karena tekanan darahnya naik, memompa volumenya seperti balon.
“Hhhhrrfrrggghhhh… HesssShahh!” desis jengkel Fitosek menguap. Fitosek berjalan cepat dan menujukan deretan botol-botol kultur.
Xheira memandang tak mengerti.
Tidak sabar dengan pandangan tak mengerti itu, Fitosek mengambil salah satu botol.
“Lihath!” kata Fitosek.
Melihat botol itu kosong tanpa sisa, Xheira baru kaget. Dia menelan ludah. Ya, Tuhan apa lagi ini?
“KENAPhA? KENAPhA KAU LAKUKAN INI PhADAKU BODOH!” Teriak Fitosek tanpa sabar.
“Tidak tahu.” Kata Xheira sejujurnya.
“Thidak thahu? Jadi kau thak thahu thelah merusak maha karyaku. Kau kan thahu pherjuangan biji-thanaman-bunga- yang kukulthur ini?”
Xheira hanya diam.
“Buat apha kau lakukan, Xheira?” intonasi Fitosek sedikit lembut.
“Bukan saya, pak.” Kata Xheira.
“Aku thak phercaya. Kamu juga bilang begithu wakthu buah-buahan hilang.” Kata Fitosek dengan nada kesal. Ia mencoba menurunkan intonasinya dengan berkata. “Sebenarnya kalau buah-buahan aku daphath mengerthi, hamphir daphath memafkan, thaphi INIIIIII!” diujung kalimat, nada itu meninggi, Fitosek seperti sedang latihan vokal untuk sebuah audisi opera.
“Buat apa saya mencurinya?” tanya Xheira.
“Justhru ithu yang aku thanyakan, BODOH.”
“Kira-kira kalau aku mencurinya buath apha?” Aduuuuh, tak mengertikah kau pertanyaaanku, pak? Xheira juga terbawa kesal.
“Buat apha? Anak seaneh kamu masih berthanya buath apha? Ya buath apha saja karena kau adalah phrimatha omnivara theraneh yang aku kenal.” Kata Fitosek karena tak menemukan alasan yang tepat.
“Primata Omnivora? Bukankah kita sama?” tanya Xheira masih tak mau mengalah. Untuk hal yang ia tidak lakukan kenapa harus ia yang bertanggung jawab?
“Aku akan memeriksa Urine.” Kata Fitosek mengacungkan botol kecil pada Xheira. Membuat Xheira sangat-sangat melongo. Dasar !
“Urinemu akan menunjukan aphakah kamu mengkomsumsinya athau thidak.” Kata Fitosek dengan suara kemenangan.
“Siapa takut.” Xheira mengambil botol itu dengan kasar.
Melihat Xheira yang kukuh dengan pernyataan tak bersalahnya, Fitosek jadi ragu. Oooof, Fithosek, anak buahmu yang sathu ini memang selalu membuat gemas siapha saja!
“Thaphi bila uji urine ithu negathif, bukan berarthi kau lolos dari thuduhan. Bisa saja kau menjualnya ke thempat lain.”
“Ya ampuuuun, buat apa?” Xheira lama-lama kesal. Dia mulai siap berhadapan dengan kenyataan fitnah yang sering terjadi dalam kehidupan social di dunia atas sana[2].
“Thanyakan phada dirimu sendiri.” Kata Fitosek menjadi sedingin es.
Dengan kesal dan setengan menggerutu tak jelas, Xheira keluar dari zone kultur itu menuju kamar kecil.
***
Rapat.
Zhorak diam. Rahangnya yang kotak berhias warna hijau karena sisa cukuran janggut itu, mengeras. Terkatup rapat. Dia hanya menatap dingin Ayahandanya, Byjak. Berbeda dengan golakan buih didih darahnya yang meletup karena marah.
“Jadi pherdagangan kitha di daerah sana sudah selesai. Hmmm… kau phunya ide unthuk membuka bisnis baru, nak?” tanya Byjak menengok menatap sang putra mahkota yang sama-sama sedang menatapnya. Byjak berusaha tenang mendapati tatapan Zhorak yang penuh dengan api.
“Kalian ada ide?” tanya Byjak menahan rasa, mendapati putranya tiba-tiba tak bersahabat. Ini adalah rapat bisnis yang pertama diikuti oleh Zhorak. Baru pertama kali ia diikutkan dalam rapat ini, Zhorak mendapati dirinya seolah telah tenggelam dalam lumpur dosa yang menghisapnya dengan kekuatan dahsyat.
“Yang akan saya thanyakan, mungkinkah kitha membuka bisnis yang sama di daerah konflik lain?” tanya salah seorang begundal Byjak.
“Kenapha thidak mungkin?” tanya Byjak membuat cerah semua yang hadir di sana kecuali Zhorak.
“Haaaa ya! Apha yang thak mungkin bagi Zirac ?” kata salah seorang menyebutkan semboyan yang rajin membuat tatanan hidup ini menjadi serba tidak stabil.
“Huehehehehe…” yang lain tertawa renyah.
Hanya Zhorak yang tak tertawa.
“Apa yang kau phikirkan Zhorak?” tanya Byjak membuyarkan lamunan itu.
“ O’shizak.” Jawab Zhorak asal saja.
“Huahahahaha… di raphat bisnis ini dia memikirkan memphelainya? Oh phuthraku sudah thak sabar rupanya… huahahahaha…” kata Byjak ditimpahi dengan suara tawa para begundalnya.
Zhorak hanya tersenyum tanpa malu. Dasar! Apha hanya phikiran kothor yang ada di benak kalian?
“Oke, Bos. jadi thelah diphuthuskan sekarang bisnis yang akan kitha thangani di athas sana?” tanya seorang begundal meluruskan kembali topik.
“Kitha ke bisnis lama. Thenaga kerja.” Kata Byjak dengan mantap sambil memberi kode tanda kutip pada kata tenaga kerja.
“Hmmm, sayang bisnis senjatha biologis ini berakhir, phadahal sangath mengunthungkan organisasi. Bayangkan, hanya dengan sethethes kuman, kitha banyak sekali keunthungannya…. “ desah seseorang dari ujung meja.
“Yaaaa… thaphi jika inthensithas kejadiannya thinggi, dunia akan curiga.” Kata Byjak mengingatkan.
“Bukankah dunia ini milik kitha?” sanggah seseorang dari ujung meja.
“Yeah… thaphi kitha ini ada karena mereka bukan? Kitha diathas ini karena ada yang dibawah sana. Ingath ithu! Jadi phenthing bagi kitha unthuk menjaga sthabilithas athas-bawah ini.” Kata Byjak penuh wibawa. Membuat semua diam, dan menelan wejangan itu tanpa debat.
“Oke, bagaimana dengan survey phasar?”
“Haaa… daerah konflik masih meruphakan daerah berdaya seraph thinggi.”
“Hmmm, unthungnya yang dithugas di daerah itu hanya phara mansis.”
“Ya.”
“…” Zhorak diam. Nenek! Beri aku jalan unthuk hilang dari meja phanjang ini! Dari thema bagaimana cara menjual dan mereguk unthung dari menjual bahan baker bagi api neraka.
Suara riuh rendah, bermacam kata berintonasi nyaris serupa.
Zhorak mulai merasa pening mendengar para Mafioso Zirac itu membicarakan bisnisnya.
Gerutuan jengkel Byjak menimpali suara bas-bariton para tumpang tindih dengan geram-tawa-dalam rapat itu. Tapi Zhorak hanya menangkapnya seperti desau angin, derum mesin, aum harimau, semua di telinganya sepertinya suara tanpa makna.
[1] Hydroplytan = istilah untuk ‘kota’ dibawah laut.
[2] Daratan di atas permukaan laut.