BAB. 2. MALING (bagian 2)

1323 Words
    Kaila memandang wajah kusut Xheira. Cerita yang dibawa Xheira siang itu cukup mengejutkan dirinya. Tapi dia lebih aneh lagi mendapati Xheira menghadapinya dengan santai. Xheira?! Ratu gugup dikala genting dan segala cobaan itu menganggap ringan tuduhan Fitosek? Kenapa aneh? Bukankah selama ini Xheira memang sering berkelakuan aneh-aneh.            “Kaila… sepanjang kita tinggal di HYDROMATIK ini, pernahkan kau melihat aku berjalan dalam tidur?” suara Xheira lesu melihat kemungkinan itu.            “Tidak.”            “Bagus! Berarti tak akan ada apa-apa.” Kata Xheira menenangkan dirinya sendiri.            Kaila masih memandang Xheira. Kepalanya mulai berputar menduga-duga siapa pencuri itu.            “Kebun buah, resto, dapur… semua mengalami kehilangan?” gumam Kaila mencoba menggabungkan apa yang diceritakan Zyeko, Nato, O’shizak, dan Xheira.            “Kaila, bisa kau pikirkan bagaimana kita menyadap gambar kamera pengintai itu?” tanya Xheira seolah mendapat ide baru.            “Ya. Jadi kita akan memeriksanya, siapa tahu pencurinya balik lagi?”            “Ya! Dia pasti seorang penyusup, tanpa akses untuk makan. “ kata Kaila menyimpulkan, mengingat pencurian itu hanya meliputi sedikit makanan. Bukan sesuatu yang sangat berharga.            “YUP!” kata Kaila ringan.            “Yee!” mata Xheira berbinar. ***             “Xheira!” tiba-tiba Fitosek tepat berdiri di bawah Xheira penuh curiga. Panggilan itu membuat Xheira terkejut, terjatuh dari pohon mini yang sedang ia panjat.            “BRUK!” tak dapat ditahan lagi Xheira jatuh, tepat di atas Fitosek.            “HessShahh...” desis gerutuan khas Zirac  otomatis keluar. Ditingkahi dengan dengusan.            “Oh, eh, maaf pak. Maaf-maaf…” Xheira langsung berdiri. Wajahnya memerah karena malu. “Apha yang kau lakukan, Xheira?” Kata Fitosek sambil berdiri, dan menepuk pantatnya yang jatuh. “Oh… eh… aku sedang menghitung buah yang akan di panen. Siapa tahu pencuri itu mencurinya langsung dari pohon ini. Bukan dari gudang.” Kata Xheira yang secara spontan mendapatkan ide untuk alasanannya. “Begithu?” suara Fitosek terdengar kurang percaya. Apha yang kau sembunyikan Xheira? “Tentu saja.” Kata Xheira. Semoga matamu tak memergoki kamera pengintai tambahan itu… ya Tuhan alihkan matanya! Xheira menggigit bibirnya. Menahan gemas karena ternyata Fitosek mengarahkan pandangannya ke atas. “Kamu ithu hamil dan mengidam? Siapha yang mau mencuri buah mangga mentah?” Fitosek bersidekap menatap Xheira dengan tatapan menyelidik. Kamu mengarang cerita untuk apa, Xheira? “Oh? Thaphi besok, dengan siraman nutrisi temuan pak manager, buah ini akan besar-mengkal- dan bukankan departemen ini penyulap buah menjadi matang dengan instan?” Xheira mencoba mencari alasan yang tepat. “Haa? Thahu apha kamu thenthang senyawa ithu?” tanya Fitosek lagi. Hati-hati, si culun ini siapa tahu dia seorang jenius yang salah penanganan. “Oh, eh, saya tak tahu tentang senyawanya. Yang saya tahu penemunya seorang yang tampan, macho, keren…” kata Xheira mencoba mencari kata-kata pujian lain. “Huh?” tanya Fitosek agak melambung. Jadi di matamu –si kurus botak-ini tampan- macho-keren? “Ya doctor laaa, apakah ada orang lain?” kata Xheira terlihat puas melihat jurus gombalnya menghentikan tatapan doctor itu ke atas pohon. Oh, kau memang memerlukan cermin yang besar untuk meyakinkan. “Kau beranggaphan sepherthi ithu…?” tanya Fitosek tidak percaya. Jadi kau memperhatikanku? Ah…. Seandainya saja kau seorang Lady Zirac. Xheira hanya tersenyum dan mengangkat alis. Tentu saja tidak! Kau sangat jauh dari seleraku. Apaalgi bila dibanding dengan si kunyuk tampan nan gagah perkasa itu. O Tuhan! Apa yang aku pikirkan?Aku baru saja  Melakukan komparasi tak senonoh! Tanpa berkata lagi, Fitosek berbalik dan berjalan meninggalkan Xheira. Dirinya dengan berat menahan lompatan gembiranya. Akhirnya ada gadis yang memujaku! Aku thak pheduli siapha gadis ithu dan sepherthi apha atau sethaknormal gadis biasa. Xheira menarik nafas. Heuh… hampir saja. Dia menatap kamera itu yang terpasang di dekat buah-buah yang mulai masak. ***   Malam di HYDROMATIK tak ubahnya siang. Lampu-lampu sorot yang sengaja dimainkan dari HYDROMATIK membuat jelas pemandangan laut di luar sana. Pemandangan yang selalu dinamis. Ikan-ikan kecil berenang dengan bergerombol. Menari indah, mengikuti arus laut, harmonis menyatu dalam kegelapan malam. Terkadang mereka berpapasan dengan gerombolan ikan-ikan transgenik warna-warni aneh berenang membentuk formasi, bentuk atau logo sebuah produk. Ikan-ikan transgenik yang mengabarkan industri atau siapa yang mensposori terciptanya mahluk transgenik ini. Malam itu, seseorang berjalan dengan ragu. Baju jubah berkantung kepala., berwarna gelap menenggelamkan tubuhnya yang mulai mengurus. Sesekali dia menengok ke arah kiri-kanan. Lalu mendekati sektor pertanian. Melewati pintu berkunci kode sidik jari para kru, dengan mengecapkan tangannya yang bersarung tangan , seolah ia telah biasa melakukannya. Bayangan itu berjalan menuju keran air, menyalakannya, mengalirkan air ke dalam kantung. Lagi. Lagi. Dia mengisi 5 kantung air. Setelah itu dia langsung minum dari salah satu kantung. Meneguknya tanpa henti seolah ia baru berjalan melintas padang garam Arizona. Kemudian dia dengan bergegas menuju gudang. Tapi sayang, gudang terkunci. Tentu saja, setelah pencurian itu, keamanan pasti lebih ditingkatkan. Dia berjalan membelah kegelapan di pertanian. Mengamati pohon-pohon yang tumbuh dalam pengawasan yang ketat untuk tujuan produksi buah-buahan. Dia berhenti di depan pohon Pisang, mengamatinya dan memetiknya beberapa, memasukannya ke dalam saku jubahnya. Matanya menangkap rangkaian buah mangga yang belum matang. Ya! Aku sangat menginginkannya, apalagi saat ini aku sedang mengidam. Tangannya hampir menyentuh buah incarannya saat ia menangkap lampu kamera security menyala, berkedap kedip warna hijau. ***   “Oh… Tidak! Jangan sentuh…!” Xheira melambaikan tangannya. “Haaa, gagal-gagal-gagal.” Xheira menutup wajahnya dengan bantal mungil. “Pause!” Komando Kaila terdengar. “Kau sudah merekamnya?”Tanyanya lagi melihat temannya hanya diam. “ya!” kata Xheira, lalu mengulang lagi gambar yang baru saja mereka rekam. “Pause!” Komando Kaila terdengar lagi. Suasana hening tiba-tiba menyergap. Xheira dan Kaila diam tak dapat mengeluarkan satu kata-pun. Keduanya dicekam oleh rasa takut yang tiba-tiba menyergap. “Perbesar! focusnya!” pinta Xheira tak sabar. “Apa itu? Hantu?” tanya Xheira tak berani menatap monitor itu lama-lama. Wajahnya ia sembunyikan di balik bantal keci kesayangannya. “Mana ada hantu mencuri mangga muda.” Kaila menggigit bibirnya. “Kau pernah melihat dia?” tanya Xheira. Kaila hanya  menggelengkan kepalanya. “Ada apa dengan wajahnya?” bisik Xheira seolah takut ada yang mendengar pembicaraan mereka, padahal mereka hanya berdua di dalam kamar mereka yang pasti tertutup rapat. Wajah Xheira masih tersembunyi di balik bantal. Dia mengintip sedikit ke layar monitor itu. Jantungnya berdebar keras merasakan ketegangan. “Jerawat? Tidak! Bisul… borok…” Kaila menahan mualnya. Melihat wajah yang terpampang itu. “Uuhhh… Kaila … dia seperti penderita penyakit misterius  di daerah konflik itu?”tanya Xheira dengan ngeri membayangkannya. “Aku tak tahu.” Kata Kaila menelan ludah. “Bukankah sudah dilakukan eradikasi radikal?” Xheira mencoba menghapus kemungkinan itu. “Iya.” “Artinya –di sana- tak seorang pun tersisa…” bisik Xheira… tak mungkin seorang pun selamat! “Aku sudah bilang kan, pasukan DKD[1] itu melupakan gorong-gorong kota.” Kata Kaila. “Ya ampun! Jadi…mungkin...” bisik Xheira kali ini bergetar. “Kemungkinan itu sepertinya di depan mata kita.” Kata Kaila membuat Xheira tiba-tiba memeluknya. “Kaila, aku… aku sangat takut…” bisik Xheira. “Tenanglah Xheira, tak ada penyakit yang tak ada obatnya. Tuhan pasti telah memberikan penawarnya, hanya kita belum selesai mencarinya atau obat itu bagaimana kita tak tahu.” “Dia …” “Kalau betul dia berasal dari sana, gejala itu keluar setelah hari ke tujuh-sembilan. Jadi selama ini dia ada dalam perjalanan menuju HYDROMATIK ini.” “Dia…” “Perjuangannya sangat berat. Bayangkan Xheira, dia sedang sakit dan menanti ajal. “ “Kenapa harus menyusup di HYDROMATIK ini?” “Barangkali dia tidak sendirian. Barangkali dia melihat harapan di HYDROMATIK ini.” “Haa? Tidak sendiri?” “Kau pikir untuk apa dia menempuh perjalanan sejauh ini bila hanya untuk menjemput ajalnya?” Xheira menelan ludah. Kaila memeluk bahu Xheira, seolah ia seorang dewasa yang siap melindungi seorang anak kecil yang lemah. “Dia sangat mengerikan.” Getar suara Xheira. Dalam pelukan Kaila, Xheira baru berani mengenyahkan bantal munginya. “Dan dia berada di Hydromatik ini...” “Dia menderita Xheira, kasihan.” *** [1] DKD = Dewan Keamanan Dunia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD