Departemen Hortikultura.
Hari pertama.
Kepala Departemen Hortikultura, Fitosek bersidekap melihat Xheira bekerja. Doktor fitofarmako[1] itu hampir tak percaya kalau anak didiknya ini berhasil menjual program HYDROMATIK kepada Zorak, seorang putra Byjak. Tak tanggung-tanggung, Xheira si culun ini akan menyertai sang pangeran Zhorak untuk berburu Hiu!
Yah, Fitosek merasa dirinya memang harus ekstra hati-hati dengan pelajar berwajah culun ini. Jangan sephelekan dia! Nanthi kau thersandung. Kau harus lebih hathi-hathi. Si muka culun ini sama berbahayanya dengan si muka serius (Kaila). Kata-kata bertuliskan lampu kuning beriringan melewati bagian memori Fitosek.
Fitosek masih berdiri, bersidekap kaku seperti patung, mengamati Xheira.
Xheira mengikuti bayangan Fitosek dengan ekor matanya. O-ooo… salah apa lagi aku? Kenapa dia dari tadi berdiri di situ, mengamatiku, apakah aku melakukan kesalahan?
Bicaralah, Fitosek!
“Kaphan buah-buahan ithu diphethik?” tanya Fitosek seperti mendengar perintah suara batin Xheira untuk bersuara.
“Tadi malam, pak manajer.” Kata Xheira. Kau kan bisa melihat kantung mataku yang menggelembung, itu karena aku begadang, dok!
“Berapha kilo aphel? Phisang?” tanya Fitosek menyelidik.
“Hanya sepuluh kilo apel, delapan kilo pisang, satu kilo strobery, pak manager.” Jawab Xheira biasa.
“Hmmm, kenapha phagi ini phihak restho bilang depharthemen ini hanya mengirimkan 9-8-1?” Suara Fitosek mulai seperti penyelidik.
“Lho? terus kemana yang 1kilo apel itu?” tanya Xheira.
“(Dasar bodoh). itu yang akan aku tanyakan padamu.”
“Eh, pak manager menuduh saya?” tanya Xheira berdiri dan bersiap. Terlalu sering dirinya berbuat salah, sehingga hal seperti ini tidak memberi efek debaran khusus. Haaa, hanya dituduh maling apel kok.
“Aku hanya berthanya.” Kata Fitosek. Hathi-hathi Fithosek, gadis di dephanmu ini thak seculun phenamphilannya. Wajah bayinya ithu adalah bagian dari sthrathegi mimikrinya[2] unthuk mengelabui lawan. Fitosek memandang Xheira dengan waspada.
“Pak manager, Aku sudah jawab, barusan bukan.” Kata Xheira tenang. Maling apel? Buat apaaaa?
“ Saya tak tahu, pak. Ke mana hilangnya sekilo apel itu.” Kata Xheira menegaskan.
“Siapha yang membawa aphel-aphel ithu ke sana?” tanya Fitosek.
“Saya dok.” Jawab Xheira.
“Yang menanam, memelihara kamu. Yang memethik kamu, yang mengirim kamu, dan selama ithu kamu thak thahu kemana hilangnya 1 kilo aphel?” tanya Fitosek merasa aneh.
“Iya begitulah.” Xheira tersenyum wagu.
“Aku thak phercaya.” Kata Fitosek.
“Silahkan saja kalau bisa bapak buktikan.” Xheira tak gentar.
“Kamera keamanan. Kamu tahu kan di sini diletakan CCTV.” Fitosek menantang sebuah pembuktian.
“Siapa takut?” Xheira : Maju tak gentar membela yang benar! Xheira berdiri dan berhadapan dengan Fitosek. Tubuh Fitosek yang lebih tinggi 40 centi itu sama sekali tak membuatnya gentar.
Fitosek berbalik dan berjalan menuju kantor diikuti oleh Xheira.
***
Di ruangan keamanan, Fitosek meminta penjaganya untuk membuka rekaman cctv yang telah lalu. Fitosek menyalakan monitor alat pengintai yang bekerja 24 jam penuh. Memijit beberapa angka di mana departemen itu kosong, dari pemetikan, sampai pengangkutan komoditi ke resto.
“Nah, nah, itu saya, dok…” kata Xheira malu sendiri melihat dirinya sengaja bergaya di depan kamera security.
“Dasar (anak gila).” Fitosek tak tahu harus tertawa atau kesal menyadari Xheira ternyata memang sering bermain-main.
“Jadi thak therjadi apha-apha selama buah-buahan ithu digudang sethelah phenimbangan?” Suara Fitosek tak bisa menutupi ketakpercayaannya.
“Nah, pak manajer, sudah lihat sendiri, bukan?!” Xheira menarik nafas lega.
“Thunggu lihath jamnya!” Fitosek melakukan pouse pada monitor itu.
“Jam 00.00 Dan gambar berikuthnya jam 00.05!” Kata Fitosek dengan wajah yang cerah. Kena kau maling kecil!
“Iya. Tapi gambarnya tidak menunjukan apa-apa.”
“Thenthu saja thidak (bodoh!). Bukankah kau memathikan monithor ithu agar kau bebas mengambil aphel?” kata Fitosek dengan yakin.
“Bagaimana pak manajer yakin bahwa yang melakukannya aku?”
“Aku thak melihath kemungkinan lain.” Kata Fitosek. Mau berdalih apa lagi, Xheira?
“Doktor tak bisa menuduh seperti itu selama tak ada bukti.” Kata Xheira dengan tenang membuat Fitosek kesal.
“Hmmm… besok kamu thak daphath berkelith… “ gumam Fitosek.
“Coba saja.” Terdengar suara Xheira yang menantang, walau sebenarnya Xheira mulai ragu, melihat keyakinan Fitosek. Ya- Tuhan, jangan-jangan kebiasaanku berjalan dalam tidur kumat… tapi bagaimana mungkin aku mengotak atik kamera security itu. Aku kan tidak tahu teknologi elektronik. Tidak seperti sahabatku, si jenius Bunglon, Kaila. Mana mungkin aku melakukannya!
***
Dapur-Resto.
Hari ke dua.
Di tempat yang sangat efesien untuk menyediakan makanan bagi 2000 penumpang HYDROMATIK. Di bagian dapur bertuliskan ‘Karbohidrat’, Zyeko menatap kesal Nato.
“Ada apa ya?” tanya Nato dengan wajah jujurnya. Membalas tatapan jengkel dengan kebingungan.
“Huh.” Dengus Zyeko berjalan ke arah bahan-bahan makanan dan mulai membuat adonan baru roti.
“Roti ini harus siap pada saat jam 10 nanti, dimana para Zirac itu menikmati sarapan beratnya.” Kata Zyeko dengan menekan bunyi kata ‘para Zirac’.
“Hmm… memangnya kenapa?” tanya Nato. Siapa pun tahu -di HYDROMATIK ini para Zirac mengubah kebiasaan bangun malamnya untuk makan menjadi jam 10 pagi.
Karena di HYDROMATIK ini hampir tak dapat dibedakan antara siang malam. Apalagi bila HYDROMATIK menyelam lebih dari 50 dpl, laut hanya remang-remang saja. Memang di dalam HYDROMATIK ada sebuah matahari imitasi yang bersinar mengikuti jam matahari sesungguhnya di luar sana. Tapi belakangan, kehadiran matahari ini seperti tak ada pengaruhnya. Bagaimana kita menganggap siang hari bila kita melihat pemandangan luar HYDROMATIK adalah gelap gulitanya laut karena kedalaman menyelam.
“Kau tahu? Aku sudah membuatnya lagi!” kata Zyeko memancing Nato.
“Lalu kemanakah roti-roti yang baru keluar dari Oven??” tanya Nato.
“Itulah! Kau tak usah pura-pura.” Zyeko menghancurkan telur dengan separuh emosinya.
Zyeko berkata lagi dengan berbisik, ”Kau mau bersikap biasa? Ya Tuhan… aku ini tak ingin ribut-ribut. Karena bila sedapur ini tahu kita kehilangan roti… yaah… aku tak mau kena skors seperti si Xheira.”
“Maksudmu… roti itu ada yang mengambil, dan kamu menuduhku?” Nato menunjuk dirinya sendiri.
“Jadi siapa lagi? Selama ini kan hanya ada kita yang di sini?” tanya Zyeko tak percaya. Simpan saja wajah tak berdosamu itu, Nato!
“Aku tak tahu.” Kata Nato, melanjutkan pekerjaannya.
“Tolonglah Nato, yang sekarang ini jangan diambil lagi, yah! Bila para Zirac itu tahu… krrrrkkk…” kata Zyeko memberi kode jari memotong leher tanda yang mematikan.
“Demi tuhan aku tak melakukannya.” kata Nato mengacungkan dua jarinya tanda sumpah.
“Ssssst…” Zyeko memotong kata-kata Nato, demi dilihatnya Edrik, supervisor mereka datang mendekat.
“Rothi unthuk 300 phemesan sudah siaph?” tanya Edrik mulai menghitung roti yang ditumpuk. Roti yang baru diangkat dari Oven itu masih panas. Panasnya menguapkan harum gandum yang menggoda selera siapa saja yang menciumnya.
“Sedang kami usahakan.” Kata Zyeko.
“Bagus. Ini hari kedua kalian bekerja. Kathanya phihak manajemen sedang menghithung efesiensi HYDROMATIK. Jadi jaga sikaph kalian agar thak diphecath.” Kata Edrik sambil berlalu mengambil sepotong roti dan memakannya.
“Efesiensi? Kenapa mereka baru melakukannya?” tanya Nato lirih.
“Haaa, itu hanya salah satu cara mereka memeras kita agar kita bekerja semakin baik dan baik. Dulu mungkin mereka menggunakan cambuk, tapi sekarang ancaman phecath itu terasa lebih halus dan mujarab untuk menggenjot para buruh.” Zyeko tersenyum kecut dengan sentimen yang berat.
***
O’ Shizak.
Untuk kesekian kali, lewat jendela HYDROMATIK, O’shizak menatap penampilan barunya di muka umum. Sebagai gadis Zirac yang sedang dalam lamaran, kini dia harus mengenakan sorban bila berada di muka umum. Seringkali juntai sorbannya digunakan sebagai cadar bagi wajahnya.
Mata O’ Shizak yang berwarna biru dengan jelas tajam menatap Zhorak dengan kesal. Xheira benar, Zhorak memang mengadung magnet ajaib yang menarik hati semua gadis yang menatapnya.
Oshizak menarik nafas pelan mengingat Xheira dengan perasaan tak menentu.
Sebagaimana layaknya seorang b***k, Xheira berpindah dari satu majikan ke majikan lain. Dia benar-benar hadiah bergilir. Untungnya nasib masih berpihak padanya. Byjak menghadiahkan Xheira kepada keluarga Pitarak. Sebagai tanda hubungan mereka yang semakin erat.
Hingga Pitarak meninggal, di saat usia putri Pitarak, O’shizak 17 tahun, Xheira, dengan berat hati –dijual- kepada seorang dokter Croll yang kemudian membebaskan Xheira begitu saja.
Pribadi Xheira yang lugu, terbuka, baik hati, dengan mudah menaklukan hati kelarga barunya. Apalagi O’shizak, yang sebaya dengannya, seolah mendapat teman rahasia yang mengasyikan.
Dulu, saat Xheira masih berstatus budaknya, Xheira sering kali menceritakan hal ihwal bekas majikannya, Zhorak. Karena cerita Xheira itulah, lambat laun, O’Shizak menemukan dirinya dalam keadaan penasaran yang sukar dimengerti.
Semakin sering mereka , O’ shizak dan Zhorak bertemu dalam acara adat Zirac, semakin besarlah rasa penasaran O’ Shizak.
Biasanya bila ia pulang dari acara pertemuan itu, selalu Xheiralah yang pertama ia beri laporan. O’shizak ingat betapa berbinarnya mata budaknya itu setiap ia menyebutkan nama Zhorak.
Xheira, tanpa siapapun yang merencanakan, menulari O’shizak dengan perasan aneh yang tak kunjung kennyang: ‘tertarik’.
Lalu kesempatan itu datang bagai badai.
Byjak melamarkan Zhorak pada O’shizak.
Mulailah Zhorak dan O’shizak melalui tahapan baru. Seperti saat itu, mereka sedang makan malam di resto untuk melakukan penjajakan atau tahap perkenalan berikutnya.
Seharusnya mereka mengobrol sebagaimana layaknya dua orang yang baru berkenalan sedang menjajaki perjodohan.
Mata Zhorak menyapu semua orang yang ada di resto itu. Hingga wajar jika O’ShiZak merasa kesal. Ugh, kenapha thak kau thathaph aku saja sephuasnya. OH! Aku baru ingat, bunda memaksa aku menutup wajahku dengan sorban sialan ini.
O’shizak mencoba tenang. Seharusnya Aku bersyukur, bukankah dengan begithu pherthunanganku dengan Zhorak yang phaling mngerikan ithu akan mudah berakhir? Bukankah aku harus mencari jalan unthuk menamathkan pherthunangan ini sebelum thabirku therbuka. Bahwa aku seorang manklon[3]. Apha yang akan Byjak lakukan bila dirinya sadar dan merasa dithiphu. Thak seorang-phun berani bermain aphi dengan seorang Byjak. Dan apha yang akan therjadi denganku dan bunda selanjuthnya bila sandiwara ini kethauan?
Aku thak ingin membayangkannya.
Sejak Byjak menyampaikan lamarannya, mulailah segala kerumitan yang membelit. Semula lamaran itu nampak sebagai uluran tangan seorang ‘dermawan’ bagi janda sahabatnya.
Pitarak, Ayah O’shizak adalah seorang inohedonist [4]kepercayaan Byjak. Banyak sekali inovasi hasil Pitarak yang ‘berguna’ bagi bisnisnya . Dalam sebuah percobaan ilegal, Pitarak meninggal dengan cara aneh. Namun karena itu adalah proyek ilegal, tentu saja, kasus mencurigakan itu lenyap bagai angin, tanpa bekas. Semua orang seolah tak pernah tahu ‘ada proyek’ yang memakan korban Pilot Proyeknya.
Sebagaimana kasus-kasus yang menyangkut nama Byjak, kematian Pitarak seperti dilupakan. Seolah Pitarak sang inohedonist itu tak pernah dilahirkan.
Kisah kematiannya benar-benar seperti angin yang berhembus di udara.
Lalu tiba-tiba Byjak meminang O’shizak bagi putranya Zhorak. O’shizak dan bundanya mendapati dilema yang membuat sakit perut. Karena O’shizak adalah seorang manklon, dan layaknya seorang manklon dia steril, sekaligus menepati kasta terendah dalam struktur social. Karena hal itulah, status O’ Shizak dirahasiakan.
Tapi menolak lamaran Byjak adalah hal yang sulit dilakukan. Karena hukum tak tertulis di dunia hitam : Seorang Byjak, pantang Ditolak!
Lalu bagaimana bila Byjak mengetahui bahwa menantunya (kelak) seorang steril? Padahal dengan pertimbangan Bibit-Bobot-Bebet itulah O’shizak dipilih sebagai sumber genetis yang berkualitas bagi keturunannya kelak.
Bibit-bebet-bobot, artinya adalah, dari mana dia berasal, bagaimana silsilah keluarganya, kualitas seseorang yang menyangkut pencapaian akademik atau karier, dan bagaimana status sosialnya di masyarakat.
O’Shizak menarik nafas. Ingatannya mengkombinasikan antara keadaan dirinyanya yang ‘bukan siapa-siapa’ dalam pinangan seorang –raja dari kerajaan kejahatan- Byjak. O’ Shizak tahu diri hanya karena dirinya putri tunggal ayahnya yang ilmuwan terkenal dari trah bangsawan bangsa Zhorak.
Di depannya duduk calon suaminya. Seorang pangeran –dari kerajaan gelap- Zirac.
“Makanannya, tuan.” Seorang pelayan membungkukan tubuhnya.
“Hmmm…” Zhorak hanya mengangkat alisnya melihat hidangan itu. Nampak sekali dia tak tertarik dengan makanan yang dihidangkan dengan seni hias berkelas.
“Kenapha hanya ini?” tanya Zhorak mengerutkan wajahnya, melihat hidangan penggugah selera yang hanya satu mangkok kecil.
“Mungkin phihak HYDROMATIK mulai melakukan efesiensi. Kitha semua thahu besar sekali biaya hiduph di sini.” Kata O’shizak mulai menyentuh sendok dan memainkannya dengan malas. Kemudian tangannya menyuapkan makanan itu ke mulutnya dari balik Cadrinya.
Zhorak diam. Dia memandang hidangannya, kenapha phorsinya jauh berkurang?
“Aku dengar thuan mengikuthi phrogram berburu Hiu.” Kata O’shizak tak sabar menunda inti pertemuan itu. Akhirnya O’Shizak menemukan topik yang menarik untuk Zhorak. Seorang wanita Zhirac yang cerdas harus mampu menciptakan topik menarik saat bersama siapapun.
O’Shizak ingat semalam Xheira mengabarinya tentang pelatihan hiu yang menurut Xheira itu adalah suatu kesalahan. Kesalahan yang fatala.
Suara Xheira yang cempreng itu seolah menggema kembali di telinga O’Shizak:
‘... kami tak pantas melakukan berburu ikan Hiu. Pertama aku adalah bekas budaknya. Kedua, dia adalah bekas majikanku. Ketiga dia adalah tunanganmu. keempat yang terpenting adalah, aku tak tahu caranya menyelam...’
O’ shizak tersenyum sendiri. Point kesatu dan kedua itu apa bedanya? Dasar bodoh.
“Kurasa Xheira melakukan transaksi tanpa sengaja.” O’shizak mencari wajah penyesalan Zhorak. O’shizak tahu, sebagaimana dirinya mengenal Xheira, Zhorak pun tahu. Bahwa Xheira sangat ceroboh.
“Haaa…?Dia memang ceroboh bukan?” Desis Zhorak. Sudah kuduga
“Oh… jadi kenapha thak kau bathalkan saja?” tanya O’shizak dengan perasaan tak menentu. Phasthi! Kau sengaja melakukan thransaksi gila ithu unthuk bermain-main dasar thurunan biadab! Dan aku akan menikahi lelaki biadab ini?
“Menghanguskan sejumlah Globix[5] dari thransaksi ithu? Haa yang benar saja.” Kata Zhorak dengan nada misterius.
“Aku thak phercaya seorang berdarah Byjak memphermasalahkan Globix. “ kata O’shizak sinis.
“Jangan khawathir, mereka thelah menyiaphkan keselamathan phrogram ini.”
“Iya. Thapi mereka thidak mengecek pheserthanya aphakah layak athau thidak. .”kata O’shizak .
“Kau lupha, aku adalah seorang berdarah Byjak, Phria yang malang melinthang di dunia kelauthan?” kata Zhorak angkuh.
“Yang saya maksud bukan anda, thuan, thapi Xheira.” O’Shizak menatap Zhorak dengan jengkel. Sombong sekali kau! Seolah ayahmu ithu dewa lauth!
“Hmmm…” Tapi Zhorak hanya menaikan alisnya. Yayayaya… thenthang ithu phun aku sudah menduganya. Jadi aku hanya thinggal menunggu wakthu unthuk meraihnya di dalam air sana, berphura-phura menolongnya… huehehehehehe… Nenek! Aku sudah thak sabar lagi!
Xheira adalah gadis dengan pribadi yang sangat menarik. Dia –walau tak bisa menyelam- pasti bisa nekad menghadapi Hiu, setidaknya kalau sudah terdesak.
“Dari mana kau thahu kalau Xheira adalah gadis yang akan menemaniku berburu hiu?” tanya Zhorak merasa aneh.
“Gosiph di hydromathik ini sepherthi thintha hitam yang menethes di air thuan.” Jawab O’shizak dengan gaya seorang lady Zirac. Penuh ibarat yang mudah dimengerti, dan nampak cerdas dalam bergaya bahasa. O’shizak memegang teguh rahasia bahwa Xheira adalah bekas budaknya juga. Rahasia yang diwarisi dari perjanjian antara Pitarak dan Byjak.
“Phikirkan thuan! apha phendapat ayahmu thenthang ini?” Kata O’shizak mengingatkan sesuatu yang buat dirinya sendiri merasa enek.
Zhorak mengerutkan kening tanda tak mengerti.
“Thuan melakukan kegiathan bukan dengan seorang calon thunangan athau isthri thuan. Thaphi dengan bekas b***k thuan. Dimana kehadiarannya hanya akan membawa pengaruh buruk bagi kesehathan menthal thuan.” Kata O’Shizak persuasif.
Sejenak Zhorak tercenung dengan kelugasan O’ Shizak. Selama ini jarang sekali seorang lady Zirac membeberkan keberatannya, karena dia seorang berdarah Byjak. Tapi kemudian dengan tenang, Zhorak tersenyum.
“Haaa… kau thak thahu ya kalau di dunia kami, menjalin dengan lebih dari sathu wanitha adalah hal biasa. Bahkan hal ini bisa jadi kebanggaan. Ayah akan menganggaph aku adalah Byjak sejathi.” Kata Zhorak tanpa mempedulikan perasaan O’shizak.
“Oh.” O’shizak menutup mulutnya dengan lemas. Therima kasih Nenek! Kau thelah bukakan matha ini dengan phribadi buruk yang dithurunkan secara genethis.
“Jangan khawathir, sayang! Sethelah phernikahan kitha, thak akan ada wanitha lain dengan cathathan bahwa aku sudah thahu hathiku ada di mana. Jadi biarkan aku kini melakukan phencarianku, sebelum therlamabath dan menyesal.” Kata Zhorak ringan seolah dia sedang membicarakan resep panekuk gaya HYDROMATIK yang baru. Di dalam benaknya, Zhorak bicara sendiri, jika aku memuthuskan menikahimu.
O’shizak diam, dia mencoba tenang mendengar penjelasan Zhorak.
“Iyaaa, ithu lebih baik. Jadi mulai sekarang aku thahu dengan phosisiku.” Kata O’shizak menggenggam sendok dengan kencang, menahan segala perasaan kacaunya. Brengkseeeeek! Jadi sekarang ini aku sebagai apha? Objek uji coba? yang siaph dihanguskan bila salah? Athau thidak thephat?
“Bagus! sebagai calon wanitha dalam keluarga Byjak kau harus bijaksana. Thahu diri, hahu phosisi.” Kata Zhorak dengan senyum angkuhnya.
O’shizak hanya diam. Haaa kamu sedang membuath phointh phenilaian. Uji kelayakan? Ya nenek! Bagaimana mungkin aku akan menjadi isthri phria sebrengsek ini?
“Ah! Hidangan utama!” Zhorak memandang hidangan yang baru datang.
“Eh, kurang lagi?” Kata Zhorak tanpa mengindahkan wajah sebal O’shizak. Tentu saja Zhorak tidak tahu, karena dengusan dan wajah sebal O’ Shizak tersembunyi di balik cadarnya.
[1] Fitofarmako= tumbuhan berkhasia obat.
[2] Mimikri = salah satu strategi untuk bertahan hidup dengan cara penyerupaan mahluk hidup terhadap mahluk hidup lain .
[3] Manklon: manusia kloning. Mahluk hasil rekayasa genetika yang dirancang mirip dengan induknya. Untuk menjaga keseimbangan populasi dan perkembangan sosial, seorang manklon harus steril.
[4] Inohedonist = ilmuwan yang memuaskan segala obsesinya pada ilmu pengetahuan, inovasi2, dan penemuan-penemuan, tak peduli manusiawi atau tidak.
[5] Globix = mata uang global yang dipakai sebagai alat tukar di seluruh dunia.