"Wah ... Undangannya udah dateng? Bagus banget." Samuel yang sedang menonton televisi di ruang tengah hanya sekilas melirik Meisya yang sedang memegang sambil membelai undangan resepsi pernikahan Laura, seolah membelai sebuah benda yang sangat berharga. "Kak, kok, diem aja. Komen, dong!" Meisya duduk tepat di sebelah Samuel, ia menaruh tas yang ia bawa di atas meja. "Harus komen apa, Sya?" jawab Samuel dingin. "Ya apa, kek," gumam Meisya sembari membuka undangan yang ia pegang. "Akhirnya, bisa juga liat nama mereka berdua tercetak di undangan gini, aku jadi inget perjuangan mereka sampe bisa bersatu." Samuel menatap Meisya yang tengah fokus dengan huruf demi huruf yang terpatri dengan tinta keemasan itu. Lelaki itu mulai tertarik dengan apa yang akan Meisya ceritakan, sedangkan

