"Tante Sya jangan tinggalin aku," rengek Qinara seraya memeluk perut Meisya saat wanita itu berpamitan sebelum terbang ke Lombok. "Tante enggak lama, Sayang, paling lusa juga udah pulang," ujar Meisya seraya membelai kepala Qinara. "Udah, dong, Sayang. Lepaskan Tante Sya, nanti mereka terlambat." Naka turut merayu putrinya agar mau melepaskan Meisya. "Ih, Tante dedek bayi nendang aku." Qinara yang merasakan pergerakan dalam perut Meisya heboh dibuatnya. "Bukan nendang, Sayang, tapi dedek bayinya ngucapin sampai jumpa sama Kakak Qinara," jawab Meisya. Qinara tertawa kecil, lalu kembali menaruh wajahnya di perut Meisya, Samuel yang tidak turut turun dan hanya menunggu Meisya di dalam taksi menatap mereka yang berdiri di teras. "Ayah, sini pegang, dedek bayi gerak-gerak terus." uc

