Tidak ada hujan yang turun dengan begitu lebatnya, tidak ada petir yang menyambar-nyambar, bahkan rembulan bersinar terang malam itu. Namun, kelamnya hati Kanaka Gandhi Ismoyono membuat malam itu lebih mencekam dibanding amukan sang alam. Murka yang ada dalam hati membuahkan diam seribu bahasa walau ribuan kata maaf terucap dari bibir sang istri yang bersimpuh di kakinya, kedua mata Naka terpejam merasakan jutaan pedang yang terasa mengiris setiap inci sanubari. "Mas, aku mohon maafin aku, Mas." Entah untuk ke berapa kalinya kata itu keluar dari bibir Asih yang memucat, dirinya terlihat kacau, tidak lagi wanita itu pedulikan tentang penampilannya, rambutnya yang sebatas bahu terlihat acak-acakan, kedua matanya sembab karena terlalu banyak air mata yang telah ia tumpahkan. "Mas, aku m

