Tempat Baru Namilea

536 Words

Kedua paruh baya itu terus menatap pada Namilea yang tengah menyantap bubur ayamnya. Ia begitu lahap, seolah-olah tidak menemukan makan selama berhari-hari. Sesekali dirinya mengelus perut ratanya. Namilea yang awalnya menolak janin yang tengah ia kandung. Namun, sisi hatinya, tidak ingin jika bayinya tiada. "Jangan, Bu." Tapi larangan pria paruh baya itu sama sekali tidak di indahkan oleh perempuan itu. Ia tetap menghampiri Namilea. "Nak," panggilnya lembut. Namilea mengangkat pandangannya. Seorang wanita paruh baya tampak tersenyum lembut padanya. "Iya, Ibu. Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Namilea lembut. Lalu tiba-tiba saja mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Ia meraih tangan mungil Namilea dan menggenggamnya erat. "Nak, Ibu lihat kamu sepertinya orang b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD