Panik

1185 Words

Thea berdiri menunggu dengan wajah pucat pasi dan penuh dengan kepanikan ketika tim gawat darurat merawat Teddy. Melihat putranya susah payah bernapas membuat tubuhnya gemetar karena panik. Tetapi dia tahu tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali menunggu dan membiarkan petugas medis melakukan tugasnya. “Napas 55, nadi 140,” seru seorang perawat sembari memasangkan masker oksigen di wajah Teddy. Thea melangkah maju, merasa tidak sanggup berdiam diri lebih lama dan sang dokter melihat sekilas ke arahnya dengan wajah menyiratkan simpati mendalam. “Ini pasti sangat menyedihkan bagi Anda, Nyonya Thea. Kenapa Anda tidak menunggu saja di ruang tunggu keluarga?” sarannya pelan, tetapi Thea menggelengkan kepala, ngeri mendengar usulan tersebut. “Saya tidka bisa meninggalkannya begitu saja.”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD