bc

KUTIKUNG SUAMI TETANGGAKU

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
forbidden
love-triangle
family
heir/heiress
drama
city
cheating
affair
like
intro-logo
Blurb

Rachel tahu jalan yang ia tempuh adalah salah, tapi ia tak punya pilihan lain. Diam-diam dia sudah mengaturnya dengan sempurna, dan itu semua hanya demi mendapatkan apa yang dirinya inginkan. Tidak peduli pada stigma buruk dalam masyarakat, asal bisa melampiaskan semua rasa benci dan menuntaskan dendamnya, ia siap bermain api bahkan dengan suami orang.

chap-preview
Free preview
1
Kotak kardus bertuliskan PECAH BELAH nyaris terlepas dari pelukan Jihan ketika pintu utama rumah itu terbuka untuk pertama kalinya. "Hati-hati." Sebuah tangan kokoh segera menopang bagian bawah kardus tersebut. "Kamu bawa yang ringan saja." Jihan mendecak pelan sebelum menoleh ke arah suaminya. "Aku juga bisa angkat barang, tahu." Suaminya hanya tertawa renyah. "Percaya. Tapi istriku baru resmi jadi penghuni rumah ini satu jam yang lalu. Masa sudah mau masuk IGD gara-gara maksa angkat microwave?" Jihan memutar bola mata. "Lebay." Meski begitu, ia tetap menyerahkan kardus itu. Rumah dua lantai bergaya modern tersebut masih dipenuhi aroma cat baru. Cahaya matahari pagi menembus jendela-jendela besar di ruang keluarga, memantul di atas lantai marmer yang masih mengilap tanpa noda. Jihan melangkah perlahan ke tengah ruangan—kosong dan sunyi. Namun justru kesunyian itulah yang membuat dadanya terasa penuh. Rumah ini benar-benar milik mereka. Bukan lagi kontrakan sempit yang setiap tahun sewanya naik. Bukan pula apartemen mungil yang menuntut mereka bergantian membuka lemari pakaian. Ini adalah hunian pertama yang dibeli dari hasil kerja keras bertahun-tahun. Tanpa sadar, senyum tipis menghiasi wajah Jihan. "Akhirnya..." Suaminya berdiri di sampingnya. "Akhirnya." Tak ada lagi yang perlu diucapkan. Keduanya hanya saling menggenggam tangan sambil memandangi ruangan yang masih lowong. Di ruang keluarga nanti akan ada sofa besar. Di dekat jendela akan ada rak buku. Di dinding dekat tangga akan dipasang foto-foto perjalanan sejak masa pacaran. Dan suatu hari nanti, rumah ini akan dipenuhi langkah kaki kecil. Jihan tersenyum sendiri membayangkannya. "Kenapa senyum-senyum?" tanya sang suami sambil melirik istrinya penuh cinta. "Nggak apa-apa." "Pasti lagi mikirin sesuatu." Jihan menggeleng malu. "Aku cuma lagi ngebayangin... rumah ini nanti bakal ramai." Suaminya tersenyum. "Lima tahun lagi?" "Kenapa lima?" "Supaya kita bisa nikmati rumah ini berdua dulu." "Kalau aku pengennya cepat." "Oh?" Jihan tertawa pelan. "Aku pengen ada anak." Pria itu terdiam beberapa saat, kemudian meraih tangan istrinya dan mengecup punggung tangan itu lembut. "Akan ada." “Kamu maunya berapa anak, Mas?” Sejenak pria itu diam. Tapi, dia segera menjawab istrinya dengan lembut. “Kamu mampunya kasi berapa?” Jihan tersenyum malu. “Empat? Atau mungkin lima.” “Mau punya banyak anak, ya?” “Iya, biar kita jadi keluarga besar.” “Pasti bisa,” balas suami Jihan lembut. “Tapi, biayanya kamu bisa? Atau aku balik kerja aja juga biar kita bisa biayain sampai lima anak?” “Bisa, Sayang. Aku bisa biayain kamu dan lima anak kita nanti. Kamu di rumah aja, biar aku yang kerja.” Kalimat sederhana, namun cukup membuat mata Jihan berkaca-kaca. "Terima kasih sudah mau berjuang sama aku dari nol." Suaminya tersenyum kecil. "Bukan dari nol." "Hm?" "Dari minus." Jihan tertawa sambil memukul pelan lengannya. "Kamu ini." Tawa mereka bergema di dalam bangunan yang belum seutuhnya terisi, mengusir kesunyian yang sejak tadi memenuhi setiap sudut ruang. Hampir tiga jam kemudian, proses memindahkan seluruh barang akhirnya selesai. Truk logistik perlahan meninggalkan halaman. Jihan mengembuskan napas panjang sebelum menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa lipat yang sengaja dibawa lebih dulu. "Capek..." Suaminya datang membawa dua botol air mineral dingin. "Nih." Jihan menerimanya tanpa banyak bicara. Dalam hitungan detik, setengah isi botol sudah habis. "Ternyata pindahan lebih melelahkan daripada yang aku bayangin." "Makanya tadi aku bilang jangan angkat barang berat." "Iya... iya... Bapak paling benar." Suaminya tertawa. "Besok badan kamu pasti pegal semua." "Aku udah pegal dari sekarang." Mereka kembali tertawa. Di luar, matahari mulai condong ke barat. Sebagian besar kardus masih bertumpuk di ruang tamu, tetapi setidaknya kamar tidur, dapur, dan kamar mandi sudah bisa digunakan. Sore itu dihabiskan dengan membongkar kardus penting, memasang sprei, merapikan pakaian, mengisi kulkas, serta menata perlengkapan dapur. Tak terasa, langit berubah jingga. Malam pertama di rumah baru terasa begitu tenang. Setelah menyantap makan malam sederhana berupa mi instan dan telur ceplok, keduanya memilih duduk di balkon lantai dua. Dari sana, seluruh kompleks perumahan tampak damai. Lampu-lampu taman mulai menyala, ditemani semilir angin malam yang berembus pelan. "Mas." "Hm?" "Aku senang." "Aku juga." "Akhirnya kita punya rumah dan mulai hidup baru di sini." Jihan mengangguk pelan. Tatapannya sempat beralih ke rumah besar yang berada tepat di sebelah kediaman mereka. Gelap. Tidak ada lampu yang menyala; pagar hitamnya tetap tertutup rapat seperti bangunan yang sudah lama ditinggalkan. "Rumah sebelah kosong ya." "Kayaknya." "Bagus juga." "Kenapa?" "Masih sepi." Suaminya tersenyum kecil. "Nanti juga ada yang beli." "Mudah-mudahan tetangganya baik." "Amin." Tapi, belum sempat mereka bicara lebih lanjut, deru beberapa mobil memecah keheningan malam, memasuki kawasan kompleks perumahan, lalu berhenti tepat di depan pagar rumah yang baru saja mereka bicarakan. Pasangan itu saling tatap. Mereka diam sejenak, memerhatikan orang-orang yang datang dengan saksama di balik temaram lampu jalan. "Mas, siapa itu?" bisik Jihan penasaran.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
849.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
390.7K
bc

Not just, the Beta

read
364.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook