48. Kaca Yang Pecah Tanpa Suara

1734 Words

Bila malam telah datang, Aku merindukan kemungkinan yang takkan terjadi. Betapa sakitnya mencintai seseorang, Yang hanya bisa kupeluk dalam pikiran. Kita dekat ... Tetapi jarak di antara kita setinggi jurang. *** Siang itu cahaya matahari begitu terik, menembus kaca mobil yang dikemudikan Gio. Seharusnya mereka langsung pulang setelah urusan pembuatan paspor selesai, namun pria itu tiba-tiba menepi di sebuah bangunan berarsitektur kaca dan kayu yang terletak di pinggiran kota. Sebuah cafe bernuansa alam yang tampak seperti disembunyikan semesta dari hiruk pikuk dunia luar yang begitu menyesakkan. “Kita singgah sebentar ya, kamu pasti butuh minuman dingin setelah proses pembuatan itu,” ucap Gio sambil tersenyum kecil. Zevana menyetujuinya, ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD