Aku hancur tanpa suara, Dengan kenangan yang dia ceritakan, Yang bahkan tak pernah dikatakan padaku. Dan aku menyadari, Bahwa tempat di sampingnya pantas dia miliki. Bukan aku. Maka biarkan aku menyimpan cinta ini, Di dalam sudut imajinasi di otakku dan biarkan dia berjelaga di dalam sana, Tanpa tahu bahwa sang pemilik bayangan telah memilih senyap. *** Pagi hari itu, rumah keluarga Alvarendra dipenuhi aroma roti panggang, cream soup, juga kopi hitam yang baru diseduh. Sinar matahari menembus tirai linen tipis, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh di meja makan panjang yang sudah tertata rapi. Diana duduk di ujung meja, sangat rapi dengan gaun satin biru tuanya. Wajahnya tampak menunggu sesuatu atau mungkin seseorang. Prabu menyesap kopinya dengan tenang. Ankala memainka

