64. Cinta Yang Kokoh

1609 Words

Di tempat ini aku belajar, Bahwa kuat bukan berarti tak menangis, Melainkan tetap berdiri, Meski lutut ingin runtuh, Dan aku menyadari, Bahwa dunia yang kujalani, Takkan pernah sama lagi. *** Perut Restha bergejolak hebat, pandangannya berkunang. Langkahnya begitu goyah hingga dia harus berpegangan pada dinding di sampingnya. Dia tidak menangis kencang, namun air matanya menggenang, lalu jatuh satu persatu. Sunyi ... seperti dirinya yang mulai runtuh. Itu bukan Ankala yang dia kenal. Bukan pria cerdas yang duduk tenang di pesawat sambil berbicara tentang masa depan. Bukan pria yang berdiri percaya diri di atas panggung wisuda. Bukan sosok yang malam sebelumnya masih memasangkan cincin di jari manisnya yang akan berdiri di sisinya memimpin hidup bersama selamanya. Pria di ranja

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD