Bukan Pacar

1326 Words
Di tengah canda tawa vita dengan ibunya... “Maaf, aku lama.” Fabian tiba-tiba muncul, disambut dengan senyuman ibunya. Vita menoleh dan tertegun kagum melihat sosok dihadapannya yang begitu tampan. “Apa ini Fabian yang tadi memeluk kakak? Dengan baju kumel, dekil, dan acak-acakan itu?.” Vita sedikit tak percaya setelah melihat Fabian, karena adiknya begitu berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. “Ya iyalah, memang siapa lagi kakak?, kenapa? Apa aku seganteng itu sampai kakak saja kaget?.” Fabian terkekeh pelan. Memang Fabian yang dulu cupu dan tidak tau caranya bergaul, kini telah berubah menjadi remaja tampan yang tidak di perkirakan. Selain karena gen dari ayahnya yang merupakan warga asing, Itu semua juga karena Febiola, satu-satunya gadis yang mampu merubah ketakutan Fabian yang dulu tak pandai berkomunikasi baik dengan lingkungannya menjadi seseorang yang di ganderungi banyak wanita cantik diluar sana. Perubahan itu semata hanya untuk lebih dekat dengan Febiola, cinta pertamanya. Namun ia masih tetap mempertahankan penampilan cupu nya ketika disekolah, bukan tanpa alasan, ia melakukannya agar tidak menimbulkan huru hara dikalangan para gadis-gadis yang hanya mengincar visual dan popularitas semata. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian sebelum waktunya. Ia juga tak mau banyak disukai hanya karena penampilannya saja. Bahkan sampai saat ini belum ada yang tahu tentang penampilan Fabian tanpa kacamata bulatnya. “Dalam 3 tahun terakhir ini, Fabian yang kita kenal sudah berubah menjadi seorang pria yang tampan.” ucap ibunya bangga. “Ah, mama bisa aja.” Fabian duduk di dekat ibunya. “Ya ampun dek, kamu ini tipe yang disukai sama cewek-cewek. Oh iya, besok kakak kenalin kamu sama junior kakak ya, muda-muda, cantik-cantik lho?.” ucap Vita setengah berbisik. “Gimana ya kak, tapi.. emm.. aku..aku udah punya kak.” Ucap Fabian ragu namun seakan bisa terlihat dengan jelas oleh kakaknya bahwa ia tengah menyembunyikan sesuatu. Melihat hal itu Vita malah semakin memancing Fabian agar lebih terbuka didepan ibu mereka. “Hah? Kamu udah punya pacar?.” Vita bertanya dengan suara lantang sambil melirik ibunya yang juga tiba-tiba menoleh bingung ke arah Fabian. “Bukan-bukan! Bukan pacar, tapi cuma temen aja kok!.” Jawab Fabian sedikit gugup. Karena ini pertama kalinya ia terbuka tentang perasaannya pada orang lain. ‘Iya, hanya teman. Karna aku masih takut buat ngungkapin semuanya ke dia.’ Batin Fabian dalam hati. "Nak, kamu udah ada pacar? kok gak bilang mama soal itu?". mamanya akhirnya buka suara. "Enggak kok ma, mana ada cewek yang mau sama Fabian disekolah, walaupun mama sama kakak bilang Fabian udah berubah jadi ganteng, tapi sebenernya Ian masih gak ada apa apanya sama cowok-cowok di sekolah Fabian yang keren-keren, apalagi mereka bawa mobil sport ke sekolah, Fabian mah kalah jauh ma, cewek-cewek disekolah Ian juga kan sukanya sama yang ber uang, ga kaya Fabian yang kadang jalan kaki ke sekolah." Fabian benar-benar tidak tau lagi harus mengatakan apa jika ibunya yang sudah turun tangan. Maka dari itu ia asal membelak belokkan kata sehingga terciptalah sebuah rangkaian kalimat yang bisa dianggap cukup masuk akal. Ia tidak bermaksud berbohong pada ibunya, tapi akan jadi masalah kalau kesalahpahaman ini terus berlanjut. Apalagi kak Vita cukup kompor pada ibu mereka, jadi Fabian harus lebih pintar ngeles agar bisa selamat dari masalah per 'cewek' an ini. "Oh begitu, tapi kan kamu sendiri nak yang nggak mau pake mobil ke sekolah? dan lebih milih jalan sama temenmu itu terus naik bus." "Jangan-jangan temen yang Fabian maksud itu.." ucapan Vita terpotong "Ma, gimana kalau kita makan malemnya sekarang aja, kak Vita juga pasti udah laper banget, ia kan kak?." Fabian sedikit melotot ke arah kakaknya yang masih senyum-senyum sendiri melihat tingkah adik bungsunya ini. memang sangat asik mengerjai Fabian, karna ia tidak terlalu pandai berbohong apalagi didepan ibunya. Hari ini ia beruntung karna bisa lepas dari masalah ini. Tapi masih ada hari esok dan esoknya, dimana ia tidak tau kapan ibunya akan bertanya hal yang sama lagi padanya. Fabian terus teringat akan Febiola, tentang apa yang akan dia berikan padanya sebagai kado ulang tahunnya. Terselip dalam benaknya untuk bertanya pada kakaknya, barangkali kak Vita tau apa yang di sukai wanita. ‘Tunggu! Tapi kan masih ada mama? Mau ditaro mana muka ku kalau mama tau aku penasaran soal.. ‘cewek?’, haduh! Bisa mati malu aku.’ Gerutu Fabian dalam hatinya. *********** Pagi yang cerah pada hari minggu sungguh menenangkan hati Fabian yang masih tertidur pulas. Tiba-tiba sorotan cahaya mulai menembus manik matanya yang masih terpejam. Ia mulai terganggu akan cahaya itu, dengan mata yang masih terkatup ia tarik selimut sampai menutupi seluruh bagian tubuhnya. Vita yang saat itu telah membuka horden tertawa geli saat melihat posisi tidur Fabian yang terlihat seperti ulat yang kedinginan karena berselimut rapat. “Bangun Fabian, udah siang.” kak Vita menggoyangkan tubuh Fabian pelan. “Engg...” erangnya tanda tak mau. “Oke! Kalau nggak mau bangun. Kakak ambilin cicak ya, biar nemenin kamu tidur?.” “Aaaa...! jangan-jangan! Iya aku bangun. Kakak mau bikin aku jantungan ya! Udah tau aku phobia cicak!.” Gerutu Fabian kesal sambil memalingkan selimut dari tubuhnya. Kemudian ia duduk di tepi ranjang sambil masih mengerjapkan matanya mencoba menstabilkan pandangannya. Vita hanya tersenyum dibuatnya. “Ayo cepat turun, kita makan. Kakak udah masakin masakan kesukaan kamu.” “Iya, ntar aku nyusul. Aku cuci muka dulu.” Jawabnya malas. Selesainya membasuh muka, Fabian mengeringkan wajahnya dengan handuk di depan cermin. Sekilas ia memalingkan wajahnya dari cermin, namun ia kembali melihat cermin dengan tatapan narsis. “Wah, kata orang kalo kita bertanya apapun sama cermin saat kita lagi sendirian, cermin itu bakal jawab semua pertanyaan kita? Hmm, wajib dicoba nih!.” Kak Vita yang merasa menunggu lama akhirnya kembali naik ke kamar Fabian. “Ya ampun, apa dia dari tadi belum selesai dari kamar mandi? Kayak cewek aja!.” “Ehem.. ehem.. cermin cermin ajaib, katakanlah siapa cowok paling ganteng sedunia?.” “Fabian?.” “Hah? Ternyata bener di jawab!.” Fabian begitu kegirangan. “Oke, wahai cermin ajaib, siapakah cowok yang paling keren se Indonesia??.” “Fabian!.” “Hah? Masa sih? Ternyata cermin juga nggak bisa bohong. Cermin aja tau, siapa yang paling ganteng, tapi kok kata Febiola aku kayak kodok? Harusnya dia yang harus pake kacamata!.” Fabian mengelus rambutnya sok ganteng. “Cermin ajaib, terus kalau yang paling dekil, jelek, dan bau sedunia siapa??.” “Fabiaan! Kamu budeg ya!.” “Loh? Kok aku sih? Tadi katanya aku yang paling ganteng, tapi yang paling jelek kok aku juga?.” Karena masih penasaran ia pun bertanya lagi. “Emm cermin, lalu apa yang harus aku lakukan supaya nggak ada yang bisa mengalahkan kegantenganku ini?.” “Harus disiram pake air!.” kak Vita langsung menyiramkan air di ember pada tubuh Fabian. “Aaakk... dingin! Tolong-tolong! Banjir!.” “Makan tu banjir!.” Gerutu Vita kesal. “Ya ampun kakak! Kok aku di siram sih? dingin tau, kan jadi basah semua!.” “Lagian kamu ngapain kayak orang gila nanya-nanya cermin?.” “Oh! Jadi tadi itu suara kak Vita? Aku kira beneran cermin bisa jawab!.” “Lagian kamu ditungguin di bawah nggak dateng-dateng! Yaudah, mandi sekalian sana!.” Perintahnya lalu pergi meninggalkan Fabian. “Tunggu kak!.” “Apa lagi?.” “Emm, apa kakak pernah...” ucap Fabian menggantung kalimatnya. “Pernah apa?.” “Emm, enggak papa.” Jawab Fabian tersenyum. “Kamu ini! cepat mandi!, makanan keburu dingin.” Vita segera pergi meninggalkannya. Setelah selesai mandi, Fabian segera menuju ke ruang makan dan duduk di depan kakaknya. “Kok sepi banget sih kak? Mama kemana?.” Tanya Fabian celingukan. “Tadi pagi mama udah pergi, katanya mau jenguk om Hendra di rumah sakit bareng tante Sisil, jadi nggak bisa ikut makan bareng kita.” “Oh, kalau bi Surti kemana? Kok nggak ada juga.” Tanya Fabian lagi. “Bibi lagi pulang kampung, katanya saudaranya ada yang sakit, jadi kakak semua yang masak.” ‘Wah, bagus deh kalau gitu, ini kesempatanku buat tanya tentang kado sama kak Vita’ batinnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD