“Aduh!.” Febiola meringis kesakitan memegangi lengannya.
“Kamu nggak papa? Maaf ya, aku nggak liat kamu lagi lari.” seseorang itu mengulurkan tangannya pada Febiola. Saat Febiola menoleh ia terkejut.
‘Fiko?’ ucapnya dalam hati. Tangannya ragu-ragu ketika menyambut uluran tangan Fiko yang hendak membantunya berdiri.
“Makasih..” Hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulut Febiola.
“Iya sama-sama.. sekali lagi maaf ya, tadi aku gak liat kamu lari, lagi buru-buru ya?.” Fiko menampilkan senyum andalannya.
“Iya nggak papa kok. Enggak, aku nggak lagi buru-buru.” Febiola benar-benar dibuat salah tingkah hanya dengan senyuman itu.
“Oh iya kamu Fabiola kan? Kapten cheerleders yang baru? Kenalin aku Fiko Pranata.” Fiko mengulurkan tangannya.
“Iya, aku kapten baru di cheerleders, Febiola.” jawabnya sambil menjabat tangan Fiko.
“Kayaknya kita belum pernah ketemu ya?.” Tanya fiko lagi.
“Emm.. ya, kita memang belum pernah ketemu, mungkin ini yang pertama.”
“Yaudah, kalo gitu kapan-kapan kita ketemu lagi ya, soalnya sekarang aku ada latihan sama anak-anak buat lomba nanti, bye..” Fiko kembali tersenyum manis.
“Oh, iya, bye.” Balas Febiola tersipu. Lalu mereka berjalan berlawanan.
Febiola yang tengah berjalan dengan hati berbunga-bunga langsung tersentak kaget ketika ada yang merangkul pundaknya tiba-tiba.
“Ehem, kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih?.” Ledek Franda diiringi senyuman jahil pada sahabatnya.
“Enggak ah, biasa aja.” Febiola mengelak, tapi tak bisa dipungkiri, dia tengah berbunga-bunga.
“Cie-cie, mukanya merah?.” Ledek Franda lagi.
Lalu mereka tertawa bersama menuju kelas, Febiola lebih dulu masuk ke kelasnya sedangkan Franda masih berbincang dengan siswi lain di depan kelas mereka. Di kelas Febiola melihat Fabian yang tengah duduk sendirian dipojok sambil membaca buku, lalu ia segera menghampirinya.
“Fabian.” Sapanya yang sudah duduk di depan sahabatnya.
“Hmm..” Gumam Fabian yang masih fokus dengan buku yang menutupi wajahnya.
“Kamu kemana aja kok dari tadi nggak kelihatan?.” Tanya Febiola polos.
“Bukanya kamu yang dari tadi ngilang?.” Ucap Fabian datar masih menutupi wajahnya dengan buku.
“Hehehe, oh iya, lupa.”
“Darimana kamu? Dateng-dateng seneng banget?.” ucap Fabian lagi.
“Emm, nonton basket tadi.”
“Nonton basketnya apa orangnya” Fabian makin memojokkan.
“Maksut kamu? Yaa, liat basketnya lah?.” Jawab Febiola tak yakin.
“Oh? Kirain abis liat kapten basketnya.” Fabian mengalihkan buku itu dari wajahnya.
“Hehe, iya juga sih, emang tadi sempet ketemu, eh.. tabrakan, didepan ruang osis sama.. kapten basket, Fiko.” Ucapnya tersenyum sendiri.
“Kamu seneng ya bisa deket sama dia?.”
“Seneng bangetlah, secara dia ganteng, cool, karismatik, baik, kapten basket lagi. Siapa coba yang nggak seneng?.” Jawab Febiola bersemangat dengan membayangkan kejadian tadi.
“Hhh, gantengan juga aku.” Lirih Fabian mengejek.
“Apa? iya gantengan kamu, tapi diantara bangsa kodok! Hahaha.” tawanya meledak seketika.
“Dasar!.” Ucapnya tersenyum tipis.
‘Kalau kamu lebih nyaman ada di dekat Fiko, aku rela Ola, aku akan bahagia bila kamu bahagia, walaupun bukan sama aku’, batin Fabian sambil melihat Febiola yang masih menetertawakan dirinya. Walau ada rasa sakit dalam hatinya, namun ia tetap mencoba menyembunyikan itu dari sahabatnya.
“Ya udah syukur deh kalo gitu.” Ucap Fabian lemah, dan tetap menyunggingkan senyumnya walau terpaksa. Tiba-tiba Franda muncul dengan nafas tersenggal-senggal karena berlari.
“Huh..huh..huh.. Ola, Ian, cepet keluar, pengumuman pentas seni sudah di tempel di mading!.” Ucapnya terengah-engah.
“Pengumuman pentas seni? Fabian ayo lihat!.” Ajak Febiola antusias, dan disambut dengan anggukkan singkat Fabian.
“Hei, minggir-minggir! Gantian, kasih jalan dong!.” Franda berusaha mencari celah dari kerumunan siswa yang sedang melihat pengumuman mading, diikuti Fabian dan Febiola.
“Setiap kelas wajib menampilkan satu penampilan yang dianggapnya terbaik, tidak boleh berlebihan dalam mengenakan busana, siswa bebas memilih tampilan apa yang akan di pentaskan. Hari dan tanggal pelaksanaan, sabtu, 21 maret 2012. 21 maret? Itu kan...”
‘Ulang tahun Febiola?’ lanjut Fabian dalam hati sambil melirik Febiola yang tengah mendiskusikan sesuatu dengan Franda. Beberapa saat kemudian ia tersenyam penuh arti. Sesampainya dirumah, Fabian langsung menghempaskan tubuhnya diranjang kamarnya. Sambil melamun dan berangan-angan ia mulai bergumam.
“Hmm.. sebaiknya kado apa yang harus aku berikan ke dia? bunga? ah, itu terlalu simpel. Emm, boneka? Tapi kayaknya dia nggak suka deh. Atau cokelat? Kenapa aku bodoh sih? Kan valentine sudah lewat! Terus apa yang harus aku kasih buat Febiola? Padahal kan tinggal 1 bulan lagi. Aku harus kasih sesuatu yang nggak akan pernah dia lupakan!.”
Fabian sangat bingung tentang hal ini, ia terus menerus menatap langit-langit kamarnya masih gelisah dalam fikiran. Dan pada akhirnya matanya mulai tak fokus pada pandangannya, dan perlahan-lahan terpejam, ia pun tertidur pulas. Pada malam harinya sekitar pukul 19.00, Fabian masih pulas dan mungkin masih bergelut dengan mimpinya.
‘tok tok tok’
Suara ketukan pintu kamar Fabian terdengar.
‘tok tok tok’
Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar, yang artinya si pemilik kamar masih belum bangun.
‘cklek’
“Ya ampun Fabian, Masih tidur? Fabian sayang, bangun nak, itu kakakmu pulang, kamu nggak mau menyambut kak Vita?.”
“Emm, apa sih ma? Fabian baru tidur, masih capek.” Jawabnya malas.
“Eh? Kakakmu baru pulang dari Paris, emang kamu nggak mau ketemu? Ayo bangun dong Fabian!.” Ucap ibunya memaksa.
“Hah? Kakak udah pulang dari Paris ma?.” Fabian terkaget.
“Iya, dia nunggu kamu dibawah!.”
Fabian langsung beranjak dari tempat tidurnya, dan segera menuruni tangga tanpa memperdulikan penampilannya yang acak-acakan.
Dilihatnya seorang wanita berambut pendek yang tengah duduk memunggunginya di ruang tengah. Pelan-pelan tapi pasti, Fabian melangkahkan kakinya, namun baru beberapa langkah ia berhenti.
“Ah? Masa itu kakak sih? rambutnya beda, kok jadi pendek banget! Jangan-jangan mama bohong lagi kayak waktu itu? Katanya kakak, eh malah bencong!.” Gerutunya pelan. Dengan ragu ia memanggil.
“Kak Vita?.” wanita itupun menoleh dan tersenyum manis.
“Fabian?.” Dengan segera Fabian berlari dan memeluknya.
“Kakak! Aku kangen banget kak.. kakak pulang kok nggak bilang-bilang sih? Kan aku bisa jemput di bandara.” Fabian pura-pura marah. Lalu ia melepaskan pelukannya dan menampakan wajah imut yang dibuat-buat.
“Iya, maaf ya sayang kakak nggak bilang ke kamu, kakak kan takut kamu sibuk, jadi kakak pulang sendiri.” Jawab kak Vita dengan mencubit kedua pipi adiknya tersebut karena gemas melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.
“Sibuk? Enggaklah kak, walaupun sesibuk apapun pasti aku tetep bisa jemput kakak!.”
“Iya deh, iya, dulu yang nggak berani keluar rumah sekarang udah gede ya, hehehe.” Ledek kak Vita pada Fabian yang masih pura-pura marah itu.
“Iya dong, kan kak Vita yang bilang, kalau kita nggak selamanya jadi anak-anak yang berlindung di ketiak mama, tapi harus belajar dewasa untuk bisa melindungi mama dan keluarga.”
“Ya ampun, kakak nggak percaya kalo adek kak Vita yang dulu masih ingusan udah sedewasa ini.”
“Hehe, iya dong kak.” Fabian tersenyum manis.
“Tapi tunggu deh! Kamu emang baru pulang sekolah, apa habis tawuran sih? Kok acak adul begitu baju sama rambutnya?, bau lagi?.” Seketika kak Vita menjauh sambil menutup hidungnya.
“Enggak kak, enggak, aku nggak pernah yang namanya tawuran, tapi... aku emang belum mandi dari tadi siang, hehe.” Jawab Fabian sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Yaa ampun! Pantesan, tadi kakak pikir bau apa. Yaudah sana kamu mandi dulu, biar nggak bau!.”
“Oke! Kakak tunggu disini sama mama ya, aku cepet kok mandinya, dan masih banyak yang pengen aku ceritain ke kakak!!.” Seru Fabian sambil berlari menuju kamar mandi.
“Iyaa! Dasar Fabian!.”
“Begitulah adikmu, yang selalu bisa buat mama tertawa setiap hari dengan tingkah lucunya.”
“Iya ma, selama di paris aku juga sangat rindu dengan tingkah Fabian, aku kira sekarang sudah berubah, tapi ternyata masih seperti anak-anak.” Ia tersenyum mengingat Fabian dulu.
“Tapi semenjak kamu pergi ke Paris 3 tahun lalu, sikap Fabian memang sedikit berubah. Dia lebih perhatian sama mama, dan bisa menjaga mama dengan baik.”
“Kita sangat beruntung ma, punya malaikat kecil seperti Fabian.” Vita memeluk ibunya. Mereka berdua masih berlanjut menceritakan hal lain, baik itu keseharian keluarga di indonesia, maupun Vita yang pada saat itu berada di Paris. Di tengah canda tawa vita dengan ibunya...