Masa Lalu

1218 Words
Angin musim dingin kembali menerpa tubuh Febiola yang terlihat cantik dengan rambut panjang yang terurai. Ia tengah menghirup aroma kopi mocca di sebuah kedai yang tadi berhasil mencuri perhatian nya. Kedai kecil disudut kota yang tak terlalu ramai. Dengan berbalutkan jaket tebal, ia mengeratkan genggaman tangannya pada sebuah cangkir kopi. “Kenapa udaranya begitu dingin?.” Gerutunya sambil menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Lalu entah rasa dari mana ia mulai termenung, teringat suatu peristiwa tujuh tahun silam yang amat menyakitkan baginya. Sambil menangkup cangkir kopinya, ia mulai tersenyum. “Jika kamu disini, pasti kamu akan menghabiskan tiga cangkir kopi mocca ini sendirian ya, pangeran kodok ku. Tidak tau kenapa, aku jadi sangat menyukai aroma kopi mocca ini, yang dulu bahkan baunya tercium sangat mengganggu di hidungku.. aneh bukan?.” Kini senyuman itu mulai pudar dan di gantikan oleh sebulir airmata yang berhasil terjun dari pelupuk matanya yang indah. “Aku rindu kamu.. maafkan aku, Fabian..” Ia memandang sebuah foto yang baru saja ia ambil dari saku jaketnya yang selalu ia bawa kemana-mana, sebuah foto berukuran sedang yang menampakan gambar seorang lelaki tampan berkacamata yang tengah merangkul seorang gadis cantik yang tak lain adalah dirinya. “Fabian, Febiola.. Selamanya..” ************** 7 tahun yang lalu............... Dua orang sahabat tengah berjalan menyusuri jalanan yang ditumbuhi pepohonan yang rimbun namun menjulang tinggi. Sambil berjalan beriringan, mereka menyantap dua buah eskrim yang berbeda rasa. “Pentas seni nanti kira-kira kelas kita mau nampilin apa ya, Fabian?.” Tanya gadis itu kepada sahabatnya. Tetapi orang yang ditanya justru tidak merespon apa-apa, malah masih asyik menjilati eskrim yang tengah mencair itu. Merasa tidak di tanggapi, gadis itu pun berteriak. “Fabian!.” “Hah ada apa? Ada maling? Mana orang nya, mana?.” Serunya terkaget dari lamunannya yang tengah memakan eskim, sehingga eskrim itu mengotori mulut serta pipinya. “Maling-maling!.” “Lah terus ada apa? Kok teriak-teriak sih!.” “Seharusnya aku yang marah karna nggak ditanggepin sama kamu!.” “Iya-iya maaf, aku lagi nggak fokus nih, emang kamu ngomong apa tadi?.” “Nggak jadi! kebiasaan, setiap aku ngomong pasti kamu nggak pernah dengerin, dongkol tau nggak!.” Gerutu gadis itu kesal sambil memanyunkan bibirnya yang tipis. “Iya deh iya, aku minta maaf, kamu tuh tambah jelek tau marah-marah gitu.” “Bodo!.” “loh, kok gitu? Beneran nih, nggak mau maafin?.” “Enggak!.” ia memandang wajah Fabian sinis. Namun ekspresinya seketika berubah, ketika ia melihat wajah sahabatnya yang belepotan dengan eskrim coklat. Dan kini tawanya mulai meledak-ledak. “Hahahaha... Fabian.. hahaha.” Ia tertawa sambil memegang perutnya. “Loh tadi marah, sekarang ketawa nggak jelas, kamu ini kerasukan jin dari mana sih La?.” Fabian bingung akan tingkah sahabatnya yang tiba-tiba berubah. “Enak aja jin, Itu.. mukamu..” Tawanya mereda, kemudian ia mengambil sebuah saputangan berwarna pink dari dalam tasnya. Lalu ia mendekat dan tangannya mulai mengelap eskrim yang mengotori wajah sahabatnya itu. DEG! Seketika jantung Fabian terasa melonjak-lonjak dari dalam tubuhnya. Ia semakin salah tingkah ketika melihat senyum manis yang tersungging di wajah Febiola. Itulah yang selalu dirasakan oleh Fabian ketika berada di dekat Febiola, gadis cantik yang tengah mengelap noda eskrim diwajahnya, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Rasa itu mulai muncul 5 tahun lalu, ketika pertama kali mereka bertemu saat masa orientasi sekolah menengah, hingga mereka menjadi sahabat baik hingga sekarang. Febiola selama ini memang tak pernah tau akan perasaan yang dipendam selama bertahun-tahun oleh Fabian. Perasaan itu tak pernah Fabian tunjukan karena ia takut akan menghancurkan persahabatan mereka. Ia juga masih ragu, apakah Febiola juga memiliki perasaan yang sama kepadanya atau tidak. Karena ia sadar bahwa ia dan Febiola bagaikan bumi dan langit. Febiola sangat cantik dan populer, sedangkan dirinya hanya pria cupu yang tak bisa berdandan. Ia akui ia memang sangat pintar, namun dalam hal penampilan ia kalah telak jika dibandingkan dengan para laki-laki yang ada disana yang terlihat begitu modis, tampan dan juga kaya. Mungkin Fabian harus menunggu dan menunggu lagi untuk bisa mengungkapkan perasaan itu kepada Febiola, sang cinta pertamanya. “Kamu ini masih kaya anak kecil, makan eskrim aja sampe belepotan begini.” Ledek Febiola setelah selesai mengelap noda eskrim dipipi Fabian. “Biarin kaya anak kecil, yang penting...” Fabian berhenti sebelum menyelesaikan ucapannya. “Yang penting apa?.” “Emm, nggak jadi deh, rahasia.” “Huh.. Dasar kodok!.” Dengus Febiola kesal sambil berjalan mendahului Fabian. ‘Yang penting, aku bisa selalu bersama kamu bodoh’ batin Fabian dalam hati. “Heh marmut! Bilang apa kamu tadi? Febiola, tunggu!.” serunya sambil mengejar Fabiola yang sudah lumayan jauh. *************** Di sekolah..... Setelah bel istirahat berbunyi, Febiola langsung tergesa-gesa keluar kelas, seperti ada sesuatu yang penting. Fabian pun heran, karena tak biasanya Febiola meninggalkannya seperti ini. Setidaknya Febiola akan mengajak dirinya kekantin atau perpustakaan tapi kali ini tidak, Febiola agak berbeda hari ini. Karna rasa penasaran Fabian segera mengikuti Febiola keluar kelas. “Mau kemana sih, dia?.” Gumamnya. Febiola terus melangkahkan kakinya. Kini langkahnya terhenti disebuah kerumunan para wanita yang tengah berteriak histeris. Matanya tertuju pada satu arah, yaitu seorang laki-laki tampan yang sedang mendrible bola basket di lapangan. Hatinya begitu senang ketika Fiko, laki-laki tampan yang tengah menjadi pusat perhatian itu berhasil memasukkan bola ke ring. Dari kejauhan Fabian yang melihat hal itu kini tengah berdiri mematung ketika melihat sahabat sekaligus cinta pertamanya itu tengah mengamati laki-laki lain dengan penuh cinta. Sedikit rasa kecewa dalam hatinya, tapi ia kembali tersadar bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun dan Febiola juga berhak untuk memilih siapa yang ia sukai. Fabian masih setia mengamati gadis cantik itu yang justru tengah melihat pria lain. “Kapan kamu bisa tau la, kalau aku sangat menyukai kamu, jauh lebih besar dari rasamu kepada lelaki itu.” ucapnya lemah. Setelah pertandingan selesai, Febiola masih setia menunggu di pinggir lapangan basket, terus menunggu, siapa tau Fiko akan melewati dirinya, atau sekedar menyapanya. Febiola yang tengah serius mengamati idolanya itu pun tersentak kaget ketika tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya dengan keras. “Doorrr!.” Suara itu membuyarkan lamunan Febiola. “Astaga Franda! Apa-apaan sih kamu? Ngagetin aja deh!.” Omel Febiola kepada seorang gadis yang dipanggil Franda itu. “Awas kesambet loh La? Serius banget sih cuman liatin kapten basket aja sampe segitunya.” Ledek Franda kepada Febiola yang tengah kesal atas perlakuannya tadi. “Apaan sih.. Emang nggak boleh ya, kalau aku ngeliatin pangeranku?.” “Ya boleh sih boleh, tapi jangan sampe lupa dong, semua orang udah pada bubar, tinggal kamu doang yang ada didalam lapangan sekarang!.” “Hah? Yang bener? Ya ampun, kenapa nggak bilang dari tadi sih?.” ucapnya setelah mendapati tak ada seorang pun disana. “Gimana aku mau bilang, orang kamu aja nggak denger panggilanku dari tadi, makanya aku kagetin aja, biar sadar!.” "Iya iya maaf, dari tadi aku nggak bisa fokus sama orang lain, kecuali...’’ ucapan nya terhenti sambil melirik Franda yang masih menunggu jawaban. “Kecuali apa?.” “Kecuali kapten basket, hahaha.” Febiola segera berlari meninggalkan Franda karna telah mencubit pipinya dulu sebelum pergi. "Aw, Ola! Awas kamu! Jangan lari!.” Franda menyusul Febiola yang sudah berlari jauh. “Ayo Franda jelek, kejar aku kalau bisa!.” Teriak Febiola yang tengah berlari. “Febiola awas!.” Teriak Franda dari kejauhan. Dan tiba-tiba... ‘Brukk!!’ tubuhnya terjatuh kelantai karena menabrak seseorang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD