Reuni

1138 Words
Lia mengetuk pintu kamar Febiola yang masih bersiap untuk berangkat bekerja. Hari ini Febiola harus pergi ke butik untuk mengecek segala keperluan yang akan digunakan untuk pergelaran busananya beberapa minggu lagi. Terlihat elegan dengan mengenakan setelan mantel merah yang senada dengan rok pendek yang ia pakai, blush hitam dengan kerah bertali membuatnya sangat anggun dengan rambut tergerai. Ia segera membukakan pintu kamarnya dan beralih ke meja rias untuk menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. "Kamu udah mau berangkat kerja?." Tanya Lia membuka pembicaraan, dilihatnya Febiola tengah memasukkan beberapa barang kedalam tas nya. "Menurutmu aku akan kemana dengan pakaian seperti ini?." Febiola begitu dingin dan tetap lebih memilih memperhatikan keperluan yang akan dibawanya dibanding menoleh kepada sepupunya. "Kamu masih marah?." Febiola berhenti dan menatapnya dengan tajam, ia sedikit beringsut mundur dan tak berani lagi bicara. "Kalau aku masih marah, kamu sudah nggak disini." Ucap Febiola sedikit kesal. "Iya aku minta maaf, aku kan cuma tanya. Ini, ada undangan buat kamu." Ia menyerahkan sebuah amplop biru muda dengan pita merah yang segera dibukanya. "Hah.. buat apasih ada acara begini?." Febiola melemparkan kertas undangan itu keranjang. "Memang apa isinya?." ucap Lia penasaran. "Reuni." "SMA?." "Tentu saja, masa SD!." Lia terkekeh melihat tingkah sepupunya yang masih terlihat kesal setelah membaca undangan itu. "Terus kenapa kamu kesel? bagus dong kalian semua reuni? kan mempererat tali silaturahmi." "Aku ngga mau datang, buat apa? Mereka semua cuma ingin pamer dan bergosip yang tidak penting, aku muak dengan orang-orang yang bermuka dua." Febiola menyambar tasnya dan segera keluar, ia memilih berangkat bekerja daripada menanggapi undangan reuni omong kosong yang hanya menyita banyak waktunya. "Hati-hati sayang!." Febiola mendengar Lia berteriak dari dalam rumah sebelum kemudian masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi. Sesampainya di butik pribadi miliknya ia segera disambut oleh beberapa pegawainya dengan ramah. Ia menuju ruang kerjanya dan langsung duduk mengecek beberapa map yang berisi draft desain dari para pegawai magang yang baru bekerja beberapa minggu disana. Ia membolak balikan berkas itu hingga kertas terakhir. "Lumayan juga.." gumamnya lalu menutup map itu dan menaruhnya diatas meja. Tiba-tiba pintu ruangan nya terbuka dan salah satu pegawainya masuk mengantarkan kopi mocca kesukaan nya. "Bu Febi, ini kopi pesanannya." Pegawai magang itu menaruh kopinya didepan Febiola yang masih bingung, ia baru sampai dan belum memesan apa-apa. "Terimakasih, tapi sepertinya saya belum minta dibuatkan kopi." "Aku yang memesan kopi untuk kamu." Dari arah pintu terdengar suara seorang laki-laki yang sangat familiar ditelinganya. "Fiko, pantas saja tiba-tiba kopinya datang sendiri tanpa diminta." Fiko tersenyum dan menghampiri Febiola yang mengajaknya berpindah tempat duduk ke sofa ruangan itu. Febiola memberi isyarat pada pegawainya untuk pergi dan memberi mereka waktu pribadi. "Tumben kamu kesini, biasanya langsung kerumah. Ada apa?." Febiola mulai menyeruput kopinya yang masih panas. "Kamu sudah dapat undangan nya? sekolah kita mengadakan reuni akbar untuk alumni angkatan kita. Mungkin para alumni diatas dan dibawah angkatan kita juga akan datang. Kamu ikut?." "Tidak, aku tidak tertarik. Datanglah jika kamu mau." "Takut diteror pernyataan cinta seperti tahun lalu?." Fiko tertawa mengingat acara reuni tahun lalu yang sangat mengerikan untuk Febiola. Bagaimana tidak, para alumni pria banyak yang datang hanya untuk bertemu dengannya. Belum lagi banyak juga yang meminta nomor pribadinya, bertanya apa statusnya, kapan menikah, berapa penghasilannya, kekayaan bersih dan lain-lain. Febiola benar-benar pusing dan kepalanya serasa ingin meledak mendengar berbagai pertanyaan yang di ancarkan padanya secara bertubi-tubi. Ia memilih pura-pura memiliki kepentingan dan kabur dari sana daripada harus meladeni para pria m***m yang hanya ingin memanfaatkannya. Belum lagi para wanita yang mendekati nya hanya untuk mengambil keuntungan dan mengajaknya bergosip berbagai hal diluar pemikirannya. Sungguh, ia tak mau lagi hal itu terjadi untuk kali ini. "Kalau kamu sudah tahu kenapa bertanya?." "Tapi kali ini aku akan ikut, jadi aku bisa menjagamu, bagaimana?." "Sudahlah, lupakan saja, aku benar-benar tidak ingin datang." "Tapi aku dengar dia akan datang." ucap Fiko tiba-tiba. Seketika Febiola menoleh dan menatapnya cukup lama. Terlihat seperti berpikir namun entah apa yang ada di otak nya saat ini. "Sungguh?." Fiko mengangguk meyakinkan jawabannya. "Baiklah, aku akan datang denganmu kalau begitu." Fiko terbelalak kaget melihat Febiola yang langsung berubah 180 derajat hanya dengan menyebut orang itu. Padahal ia belum menyebutkan namanya namun Febiola seakan mengerti siapa yang ia maksud. "Oke.." Beberapa hari kemudian mereka berdua berangkat bersama ke acara reuni akbar yang digelar disekolah mereka dulu. Disana sangat ramai dan begitu banyak alumni dari berbagai angkatan yang datang, dan kali ini lebih meriah dari tahun lalu. Fiko memarkirkan mobilnya dan segera turun untuk membukakan pintu untuk mantan kekasihnya itu. "Aku bisa keluar sendiri, mereka bisa salah paham nanti." Febiola nampak tak nyaman setelah Fiko membuka pintu mobil untuknya. "Memang kenapa? kita tinggal jawab apa adanya jika mereka bertanya." "Sudahlah, ayo masuk." Febiola segera berjalan mendahului Fiko menuju tempat acara dilangsungkan. Setibanya di pintu utama mereka disambut oleh teriakan para pria dan wanita yang memekakkan telinga. Sungguh sangat mengganggu dan membuat tidak nyaman. Tapi apa boleh buat, Febiola tetap masuk demi bisa bertemu dengan orang yang sudah lama ia tunggu. Banyak pria yang berebut duduk disamping Febiola hanya untuk mencari perhatiannya. Fiko yang menyadari itu langsung menyingkirkan mereka dan langsung duduk tepat disebelah Febiola. "Aku datang bersamanya, jangan ganggu dia." Fiko mengarahkan ucapannya pada para pria yang masih tak berkedip menatap Febiola yang semakin risih dibuatnya. "Bukanya kalian adalah mantan? atau jangan-jangan kalian kembali bersama sekarang?." ucap salah satu pria diujung. "Sekarang aku adalah pengawal pribadinya, memang kalian pikir mantan tidak bisa kembali berteman?." Balas Fiko dengan tegas. "Lalu bagaimana dengan Fabian?." Seketika semua orang menoleh kearah Febiola untuk menunggu jawaban. Febiola tampak canggung mendengar nama itu disebutkan secara tiba-tiba. Melihat Febiola yang tampak gelisah Fiko langsung menengahi pembicaraan mereka yang mulai Tak nyaman. "Tentu saja mereka masih bersama, hanya saja Fabian sedang pergi untuk melanjutkan studinya." Fiko benar-benar berbicara asal agar mereka tak lagi mengincar Febiola sebagai topik utama. "Apakah dia datang kali ini?." Tanya salah seorang perempuan yang duduk tepat didepan Febiola. "Entahlah, jika kabar itu benar maka harusnya dia datang, karena aku juga belum pernah melihatnya setelah dia mengalami kecelakaan." Tambah yang lainya. "Dia benar-benar menghilang seperti ditelan bumi, padahal tahun ketiga semester akhir adalah masa kejayaan nya disekolah kita. Dia terkenal setelah menjuarai festival pentas seni dan berubah menjadi pangeran tampan. Sayang sekali setelah itu dia mengalami kecelakaan dan ibunya juga meninggal." Febiola benar-benar sudah tampak pucat dan sangat tak nyaman berada dilingkaran pembicaraan itu. Ia terus meremas-remas jemarinya sendiri yang sudah berkeringat dingin. Topik ini begitu sensitif baginya dan membawanya terbang bernostalgia ke masa lalu. Perasaan bersalah itu kembali muncul dan begitu menyesakkan dadanya. "Kamu nggak apa-apa?." Fiko tampak cemas melihat wajah Febiola yang pucat dan dahinya sedikit berkeringat. "Ya, aku tidak apa-apa." Febiola harus bertahan sedikit lagi, karena tujuannya datang ketempat terkutuk ini adalah hanya untuk bertemu dengan Fabian. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk bertemu dengannya. Maka dari itu walaupun sangat menyesakkan ia harus bertahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD