Keesokan harinya sesuai janjinya pagi-pagi buta Fiko sudah tiba dirumah Febiola dengan membawa beberapa makanan hangat yang ia masak sendiri.
"Pagi sekali kamu kemari."
Lia membukakan pintu dengan keadaan yang masih berantakan. Ia beberapa kali menguap dan meregangkan ototnya didepan Fiko tanpa malu.
"Mandi dan gosok gigi mu!."
Ia segera masuk tanpa mempedulikan Lia yang sedikit kesal dengan ucapannya barusan. Sesampainya dikamar ia melihat Febiola yang masih tertidur lelap, sepertinya efek obat tidur semalam memiliki dosis yang cukup tinggi. Ia meletakkan makanan yang ia bawa dimeja samping ranjang dan keluar mencari handuk dan air hangat.
Ia kembali masuk kamar dengan membawa wadah yang tak terlalu besar yang berisikan handuk kecil dan air hangat yang baru direbusnya. Ia duduk di samping ranjang dan mulai menyeka wajah Febiola secara perlahan.
Febiola tampak terganggu dengan aktifitas yang tengah Fiko lakukan. Perlahan ia membuka matanya dan memegangi kepalanya yang nampak masih sedikit pusing. Ia terkejut melihat Fiko ada disampingnya saat itu.
"Ngapain kamu disini?."
Febiola merasa bingung karena terakhir kali ia ingat bahwa ia bersama Leo pria yang melakukan kencan buta dengannya, namun setelah itu ia tak lagi mengingat apapun.
"Kenapa aku bisa ada dirumah? bukannya semalam.."
"Semalem kamu pingsan dikamar hotel." Potongnya tiba-tiba.
"Apa?! Hotel?."
Febiola melotot tak percaya, bagaimana bisa ia berakhir dikamar hotel sedangkan ia ingat jelas bahwa ia tengah makan malam dengan pria arab itu.
Fiko menjelaskan semuanya tanpa ada sedikitpun yang ditutup-tutupi dari mantan kekasihnya itu. Karena ia paham benar bahwa Febiola sangat benci dengan penjelasan yang bertele-tele.
"Dasar b******k! b******n gila!."
Febiola tak sanggup menyembunyikan amarahnya yang makin meluap luap setelah mendengarkan seluruh kejadian semalam. Ia bergegas bangkit dan hendak keluar.
"Kamu mau kemana?." Fiko mencegahnya dengan kuat, karena Febiola sekarang sudah seperti macan liar yang kelaparan dan ingin mencari mangsa.
"Tentu saja aku harus buat perhitungan dengannya, memang apalagi!."
"Dia sudah dikantor polisi, jadi kamu nggak perlu khawatir."
Fiko menarik lembut lengan Febiola agar kembali duduk di ranjang.
"Tapi tetap saja aku harus membalasnya Fiko, kamu juga nggak tahu kan apa yang sudah dia lakukan padaku sebelum kamu datang?."
Febiola sangat kesal dan amarah benar-benar sudah di pucuk kepalanya saat ini.
"Aku sudah menghajarnya untukmu, semalam jika polisi tidak mencegahku aku bahkan bisa saja membunuhnya."
"Aku masih belum puas jika belum menampar dan mencakar wajah b******n itu dengan tanganku sendiri!."
Fiko terkekeh pelan melihat mantan kekasihnya yang penuh amarah yang membara. Karena sudah cukup lama baginya tidak melihat Febiola semarah ini. Terakhir kali Febiola marah ketika mereka putus semasa SMA karena ia ketahuan memukuli orang yang sangat penting dalam hidup Febiola.
"Aku bisa pastikan, dia belum melakukan apa-apa padamu."
"Nanti antarkan aku ke penjara, aku ingin mengejek wajah binalnya yang saat ini pasti sangat ketakutan."
"Baiklah, tapi untuk sekarang kamu makan dulu, aku bawakan bubur kesukaan mu." Fiko menunjuk plastik hitam dimeja samping ranjang.
Mereka makan bersama dan melanjutkan percakapan mereka yang tiada akhir. Febiola terus bertanya setiap detail yang terjadi dan kembali memastikan jawabannya. Hingga makanan mereka habis Febiola baru ingat sesuatu.
"Ngomong-ngomong soal perhitungan, aku juga harus membuat satu perhitungan lagi dengan seseorang, dimana dia?."
Fiko tampak bingung dengan seseorang yang ia maksud. Namun beberapa saat kemudian ia paham siapa yang sedang Febiola cari.
"Aku sudah memarahi nya semalam, dia sangat ketakutan dan merasa bersalah. Dia bahkan menangis karena sangat mengkhawatirkan mu."
Fiko mencoba meredakan amarah Febiola yang mungkin akan kembali meledak jika tak ia dinginkan terlebih dulu.
"Anak bodoh itu.."
Febiola memijat keningnya berusaha berpikir jernih, mau bagaimanapun Lia melakukan itu karena ia sangat menyayangi Febiola dan tak mau ia jadi perawan tua.
"Dia pasti sedang ketakutan sekarang, makanya dia belum kemari menemui mu. Jangan terlalu keras padanya."
Belum semenit Fiko menutup mulutnya terdengar suara isakan tangis dari seseorang dibalik pintu. Mereka sama-sama menoleh dan mendapati Lia yang masuk kamar perlahan dengan mata yang sudah memerah dan penuh dengan air mata.
Lia dengan takut mendatangi Febiola yang masih tak bereaksi apa-apa, namun beberapa saat kemudian ia melihat Febiola merentangkan tangannya menunggu Lia datang ke pelukan nya.
Ia segera menghambur kedalam pelukan Febiola dan menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar takut sepupunya itu akan membencinya dan tak mau lagi bicara dengannya. Ia merasakan tangan Febiola yang naik turun mengelus punggung nya mencoba meredakan tangisan nya yang masih pecah.
"Ola aku minta maaf.. aku minta maaf.. aku.."
"Sudah, aku nggak apa-apa, kamu nggak perlu merasa bersalah. Lagian kamu juga nggak tahu pria b******k itu akan melakukan hal ini padaku."
Febiola masih setia mengelus punggung sepupunya yang masih sesenggukan dalam pelukannya.
"Aku janji nggak akan menjodohkan kamu dengan siapapun lagi, aku janji.."
Suaranya terdengar terputus-putus dan tidak jelas. Itu terdengar aneh, dan kalau dipikir-pikir hal ini memang sangat aneh karena ia belum pernah menangisi apapun selama hidupnya.
"Jika kamu ingkar aku akan mengusirmu dari rumahku."
Lia mendongak dan menatap wajah Febiola yang tampak serius, kali ini Febiola terlihat tidak main-main dengan ucapannya. Ia menyadari Febiola memang sudah benar-benar berubah, tak lagi seperti dulu yang lemah lembut dan banyak bicara. Dahulu Febiola sedikit nakal dan keras kepala, memiliki pendirian teguh dengan apa yang ia ucapkan dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain, pemberani dan suka bercanda.
Beberapa sifatnya memang masih ada hingga kini, namun sekarang banyak yang berubah dalam dirinya dan tampak menyeramkan jika ia sudah bicara dengan nada yang serius. Dari luar ia terlihat tangguh dan elegan, selalu berpikir dahulu sebelum bertindak dalam melakukan sesuatu yang penting, ia penuh dengan perhitungan, dan pekerja keras. Dia memang sempurna dari luar, namun Lia sangat paham betul apa yang sebenarnya Febiola butuhkan didalam hatinya.
Alasan ia sangat gencar menjodoh jodohkan Febiola adalah supaya Febiola dapat melupakan cinta masa lalunya yang ia yakini begitu mendalam. Febiola seakan masih terkurung dalam penjara hati seseorang yang kini sudah hilang entah kemana. Kepergiannya membuat Febiola begitu patah hati dan hancur.
Hampir setiap malam ia mendengar Febiola menangis dalam mimpinya yang selama ini sering mengganggu tidurnya dan sering menghantuinya. Mereka sampai pergi ke psikiater untuk bisa menangani hal ini, namun mimpi itu seakan tak bisa lepas dari kehidupannya. Saat ini dalam pikiran Lia hanya ada dua cara agar Febiola bisa hidup damai, yakni dengan mencari hati yang lain, atau menemukan orang itu kembali.