Kencan Buta

1016 Words
Pemandangan malam dari dalam sebuah gedung tinggi pencakar langit benar-benar sangat menakjubkan. Suara alunan biola di restoran mewah didalamnya membuat suasana kian romantis untuk sebuah kencan Makan malam. Hari ini Febiola kembali melakukan kencan buta dengan seorang pria konglomerat keturunan arab yang memiliki kekayaan fantastis dan banyak bisnis di berbagai bidang. Dan gedung ini adalah salah satu bukti betapa kayanya pria itu. Ini merupakan kencan yang entah sudah keberapa kali bagi Febiola, bahkan hampir tak terhitung jumlahnya. Lagi-lagi ini adalah kencan buta yang diatur oleh sepupu perempuannya yang sangat ingin melihatnya memiliki kekasih, ia takut bahwa Febiola sudah tidak lagi menyukai pria. Bagaimana tidak, untuk seorang wanita cantik dan sempurna seperti dirinya jomblo dalam waktu 7 tahun itu sangat tidak masuk akal. Mana ada wanita yang tahan tak menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Dan parahnya lagi semua kencan buta itu tak ada yang berhasil entah apa alasannya, nanti Febiola hanya akan berkata bahwa pria itu adalah sampah dan tak menyukainya. Padahal hampir semua pria yang dijodohkan dengannya adalah pria tampan dan mapan. "Kenapa tidak dimakan? Kau tidak suka?." Pria itu membuka suara ketika melihat Febiola yang terus melamun dan menatap keluar jendela. "Suka, tapi aku sedang diet." Febiola hanya menoleh sebentar kemudian kembali memalingkan wajah dengan acuh. "Bagaimana kalau wine?." Bujuk pria itu dengan mengulurkan gelas wine didepannya. "Kalau aku mabuk aku tak akan bisa pulang dari sini." "Hanya sedikit mana mungkin kau mabuk? Ayolah aku datang jauh-jauh hanya untuk bertemu denganmu, apa kau tega mengacuhkanku seperti ini?." Pria itu terus membujuknya agar mau meminum wine yang masih bertengger ditangannya. Febiola menatapnya cukup lama hingga pada akhirnya ia menyerah dan mengambil wine itu dengan sedikit kesal lalu diminumnya hingga tandas. "Puas?." Febiola mengusap pelan sudut bibirnya mengelap noda wine yang tertinggal disana. Namun tiba-tiba kepalanya berkunang-kunang dan berdenyut nyeri. Ia meremas kuat ujung meja dan menepuk-nepuk keningnya yang semakin pusing dan berputar-putar. "Sangat puas Febiola sayang." Pria itu menyeringai dan bangkit dari kursinya menghampiri Febiola yang tengah kelimpungan. Ia berhasil menangkap Febiola yang ambruk dan kini sudah pingsan. Ia membawanya pergi dan meninggalkan tempat itu tanpa rasa bersalah. Karena tadi jauh sebelum Febiola datang ia terlebih dulu menaruh obat tidur kedalam gelas wine yang akan diberikan pada Febiola. Ini adalah rencananya agar malam ini ia berhasil memiliki Febiola sepenuhnya. Pria itu membuka pintu kamar hotel dan membaringkan tubuh Febiola dengan hati-hati. Ia segera mengunci kamar dan kembali pada Febiola yang sudah tak berdaya. Dilihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala Febiola benar-benar sudah seperti mayat yang tak bernyawa, tidur dengan pulasnya dan benar-benar tak bisa melakukan apa-apa. Sebenarnya ini sangat tidak menantang baginya, karena ia lebih suka melakukannya ketika Febiola sadar sepenuhnya dan mau membalas perbuatannya. Namun wanita itu mungkin akan membunuhnya jika ia tahu apa yang akan dilakukannya. Ia terus menyeringai dan mulai membuka satu persatu kancing bajunya. Ia mengusap kening Febiola yang sedikit berkeringat, mengelusnya pelan hingga sampai pada bibirnya yang sedikit terbuka. "Ayo umpati aku Febiola, bibirmu benar-benar pandai mengumpati orang bukan?." Ia kembali menyeringai sambil mengusap bibirnya dengan lembut. "Aku ingin tahu, apa kata pertama yang keluar dari bibirmu ketika kau tahu aku berhasil memilikimu." Ia tertawa culas membayangkan bagaimana emosi Febiola akan meledak setelah malam ini berakhir. Mungkin Febiola akan membunuhnya, namun ia rasa hal itu tak akan terjadi. Karena jika Febiola hamil siapa yang akan menikahinya? Tentu ia akan mencarinya untuk meminta pertanggung jawaban. "Febiola, sudah berapa ribu pria yang bersaing untuk mendapatkan mu? Hari ini mereka akan mati lemas jika tahu aku yang berhasil menyentuh mu." Disaat ia hendak melepaskan sisa pakaian yang masih melekat ditubuh Febiola, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara dobrakan pintu yang berdentum sangat keras hingga memekakkan telinga. Kemudian beberapa orang masuk dan diantaranya adalah para polisi yang sudah siap menodongkan senjata kearahnya. "Pak tangkap b******n ini." Ucap salah seorang pria yang terlihat sangat murka. Ia segera melepaskan jasnya dan menutupkannya ke tubuh Febiola yang hampir polos. Ia segera membawa Febiola pergi dan mengantarkan nya pulang. Sesampainya dirumah iya segera menggedor pintu dan membuat kebisingan agar penghuni rumah segera membukakan pintu. "Fiko? Febiola kenapa?." Ucap wanita muda yang sepantaran dengan Febiola, ia terlihat terkejut mendapati sepupunya yang pingsan. "Jangan banyak bertanya, cepat bantu aku bawa dia kedalam." Mereka membawa Febiola kedalam kamar dan membaringkannya dengan hati-hati. Diselimutinya Febiola hingga leher dan lelaki yang dipanggil Fiko itu segera menarik sepupu Febiola keluar dengan paksa. "Kamu apa-apaan?." Balasnya dengan bingung, ia mengelus pergelangan tangannya yang terasa nyeri karena tarikan lelaki itu yang cukup kuat. "Kamu yang apa-apaan Lia! kamu gila sudah menjual Febiola kepada lelaki hidung belang?." Bentak nya dengan keras. Terlihat raut wajahnya yang memerah dan sorot matanya yang tajam terlihat sangat menakutkan ketika ia marah membuat ciut nyali siapa saja yang melawannya. "Aku nggak pernah menjual Febiola! aku hanya berusaha mencarikan dia pacar! apa itu salah?." "Tapi lelaki yang sudah kamu jodohkan dengan Febiola itu hampir menidurinya!." Seketika Lia membulatkan matanya sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia berpikir keras dan ia benar-benar tidak menyangka hal seperti itu hampir saja menimpa sepupu tersayang nya. Jika itu terjadi ia benar-benar tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri seumur hidupnya. "Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi menjodoh jodohkan Febiola dengan siapapun! kamu hampir membunuh masa depannya karena inisiatif gilamu itu!." Amarah Fiko berangsur mereda melihat wajah pucat Lia yang masih sangat syok dengan kejadian ini. Ia mulai menangis tertahan dan tak berani menatap wajah Fiko yang masih kaku. "Maaf.." Hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulut mungil nya. Kini ia benar-benar merasa bersalah dan tak tau harus berkata apa. Apalagi ia masih harus menghadapi amarah Febiola ketika ia bangun nanti. Sungguh, ia merasa lebih baik ia menghilang saja dari muka bumi ini saat itu juga. "Kalau begitu jaga dia, besok aku akan kembali dan menjelaskan semuanya padanya." Setelah mengatakan itu Fiko segera keluar dari rumah itu masih dengan perasaan kesalnya. Ia juga sangat khawatir dengan keadaan Febiola. Karena jika tadi ia terlambat sedikit saja entah apa yang akan menimpa mantan kekasihnya itu. Ia memukul setir melampiaskan amarahnya yang tak bisa sepenuhnya ia tunjukan didepan Lia. Ia sungguh tak sanggup membayangkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD