Buka Semua Yang Kau Kenakan!

1027 Words
Oh my God. He looks so fu*king hot. Kata-kata itu meledak begitu saja di kepala Haley tanpa izin. Ia bahkan tidak sempat menyaring pikirannya sendiri. Tubuh Haley tergagap. Bukan karena takut, bukan karena canggung melainkan karena sesuatu yang lebih alamiah. Sebuah getaran yang merambat dari tulang ekornya hingga ke ujung rambutnya. Bibir bawahnya bahkan berubah lembab karena ter*ngsang. "Sh*t! Tenangkan dirimu, Hormon!" Haley kembali membatin. Pria beraura eksklusif lalu melangkah masuk dengan gravitasi yang tak bisa dipalsukan. Tinggi, setidaknya 185 sentimeter dengan bahu bidang yang membuat kemeja putihnya terasa seperti ditempa khusus untuk tubuhnya. Tapi yang paling menggoyahkan adalah rambatan tato akar rumit berwarna hitam pekat yang menyembul dari balik kerah, menjalar ke leher seolah berbisik tentang rahasia-rahasia kelam yang tersembunyi di balik kesempurnaan itu. Wajahnya tajam. Rahang terdefinisi sempurna, hidung mancung dan mata gelap yang terasa seperti bisa menembus pakaian Haley seketika. Seumur-umur, selama dua puluh tiga tahun hidup di dunia yang keras dan penuh kepalsuan, Haley tak pernah melihat secara langsung pria beraura bahaya dan kuat sekaligus seperti pria di hadapannya. Bukan sekadar kaya. Bukan juga sekadar tampan. Tapi, sesuatu yang lebih berbahaya, pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan malam ini, ia ada di sini untuk menjadi salah satu dari barang-barang yang bisa dipilih. "Sudah pasti, Tuan Seksi itu akan memilihku," sombong salah satu kandidat sugar baby. Lima wanita di samping Haley tak kalah terpukau seperti dirinya. Haley bisa mendengar helaan napas tertahan dari si rambut pirang di sebelah kirinya. Wanita bergaun mini berwarna merah di ujung sofa bahkan sampai menjilat bibirnya, tidak peduli siapa yang melihat. Suhu ruangan terasa naik sepuluh derajat. Atau mungkin itu hanya detak jantung Haley yang berdegup kencang hingga kepalanya terasa berdenyut. Mereka semua menginginkan pria itu. Bukan karena uang meskipun itu pasti bonus besar. Tapi, karena keinginan murni, kehausan yang tak masuk akal. Pria itu lalu berhenti tepat di tengah ruangan. Asisten pribadinya, seorang pria kekar berjas hitam dengan ekspresi batu, berdiri dua langkah di belakangnya. Tanpa berkata apa-apa, sang pria bertato itu mengamati mereka satu per satu. Matanya bergerak lambat, seperti predator yang sedang memilih mangsa terbaik. Ketika tatapan itu mendarat pada Haley, dunianya seakan berhenti. Bukan karena ia merasa spesial. Tapi, karena matanya terasa berbeda. Bukan sekadar melihat melainkan membedah. Seolah pria itu bisa membaca semua keputusasaan yang coba Haley sembunyikan di balik senyum sopannya. Kebutuhan akan uang untuk terapi adiknya. Lelahnya menjadi tulang punggung keluarga sejak kedua orang tuanya tiada. Keinginan untuk satu kali saja—satu kali saja tidak menjadi yang kuat. Dan kemudian, dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Haley merinding pria itu berkata, "Dia." Satu kata. Satu jari yang terulur malas ke arahnya bagaikan perintah dan Asisten prianya langsung bergerak. "Tuan telah memilih. Yang lain dipersilakan keluar." "Apa? Tidak!" Wanita pirang di samping Haley tersentak tak terima. Wajahnya yang sempurna itu berubah merah padam. "Ini tidak adil, Tuan Sexy! Lihatlah yang kau pilih! Gadis yang bahkan berdandan biasa! Tidak seperti kami yang sangat effort! Aku butuh tiga jam untuk riasan ini!" Perkataan "Tuan Sexy" terdengar absurd, tapi pria itu sama sekali tidak bereaksi. Matanya tetap pada Haley, acuh tak acuh pada ledakan amarah di sekitarnya. Wanita ber-outfit maroon ikut angkat suara. "Dia bahkan tidak memakai high heels! Lihat sepatunya hanya sepatu pantofel murahan!" "Kami datang dengan ekspektasi bahwa Tuan akan memilih yang terbaik dari yang terbaik," tambah wanita lain dengan poni panjang. "Ini penghinaan." Tapi pria itu tetap diam. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembelaan. Hanya asisten pribadinya yang melangkah maju, suara dingin dan tegas pun mengingatkan. "Di awal perjanjian sudah jelas bahwa dilarang protes. Selamat malam." Setelah diingatkan, satu per satu mereka pergi dengan langkah terpaksa dan tatapan kebencian yang dilemparkan ke arah Haley. Pintu ruangan tertutup dengan bunyi klik yang terasa sangat keras di telinga Haley. Dan kini hanya menyisakan mereka berdua. Keheningan itu mencekik. Haley bisa mendengar detak jam dinding. Bisa mendengar napasnya sendiri yang mulai tak beraturan. Pria itu masih berdiri di tempatnya, menatapnya tanpa berkedip, tanpa senyum dan tanpa apapun yang bisa Haley baca. "Tuan ...." suara Haley pecah. Ia menelan ludah. "Kurasa aku belum siap." Kata-kata itu keluar sebelum ia bisa menahannya. Gugup mengalir deras di pembuluh darahnya. Padahal ia sudah bertekad sekeras baja. Haley sudah meyakinkan diri ribuan kali di apartmen sewaan yang sempit, di depan cermin retak, bahwa ia akan melakukan apapun demi biaya terapi Hana yang berkebutuhan khusus. Tapi, pada kenyataannya pria di hadapan Haley alias calon suga daddy eksklusif-nya terasa seperti badai yang siap menyapu tekad. Haley pun berbalik. Tumit pantofelnya yang murah berdecit pelan di lantai marmer mahal. Kakinya mulai melangkah ke arah pintu. Namun, baru dua langkah, suara pria itu menghentikannya. "Kukira kau tak lemah." Kalimat itu melayang di udara, dingin dan menusuk. Haley pun membeku. "Apa maksudmu?" "Aku tidak bermaksud apapun." Pria itu akhirnya bergerak, berjalan santai ke arah meja kayu jati di tengah ruangan. Ia mengambil selembar dokumen tebal dan meletakkannya di atas meja. "Hanya mengingatkan jika kau menginginkan sesuatu yang besar, pengorbananmu pun harus sepadan." Kata-kata ambigu itu menusuk sesuatu di da*a Haley. Sesuatu yang besar. Bukan sekadar uang. Tapi cukup banyak untuk mengubah hidup Hana. Untuk terapinya yang biayanya selangit. Untuk satu kesempatan agar adiknya bisa merasakan apa artinya hidup mandiri dan normal seperti layaknya anak-anak lain. Haley menggigit bibir bawahnya. Tangannya mengepal di samping tubuh. Sedangkan, pria itu masih berdiri di belakang meja, menatapnya dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Senyum yang seolah berkata, Aku tahu kau akan berbalik. Dan Haley benci bahwa pria itu benar. Merasa tersulut oleh keadaan, tubuh langsingnya pun berbalik. Melangkah kembali ke tengah ruangan. Tangannya yang masih sedikit gemetar lantas meraih pulpen di atas meja. Tanpa membaca satu halaman pun karena pria itu berjanji asistennya akan mengantarkan salinan kontrak nanti—Haley membubuhkan tanda tangannya di garis terakhir. Tulisan tangannya bergetar, tapi tidak putus. Pria itu pun tersenyum. Bukan senyum hangat melainkan lebih mirip senyum menyeringai yang licik yang membuat darah Haley mendidih dan membeku secara bersamaan. "Sekarang ... buka semua yang kau kenakan, Haley," katanya pelan, terdengar mengintimidasi dan seksi di saat bersamaan. "Mulai malam ini, kau milikku." Haley tersentak hebat disertai otak yang bertanya-tanya: kontrak macam apa yang baru saja ia tandatangani?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD