bc

Bahaya Berujung Nikmat

book_age18+
23
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
arrogant
badboy
mafia
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
office/work place
multiple personality
friends with benefits
villain
like
intro-logo
Blurb

**Area 21+**Setelah merelakan batalnya rencana pernikahan yang tak direstui, Haley Anderson, seorang perawat cantik malah terjebak dalam pekerjaan sampingan di luar dugaan yang terpaksa ia ambil karena desakan situasi. Momen ini juga mempertemukannya dengan pria tampan, dingin dan beraura powerfull bernama Axel Russo.Siapakah Axel sebenarnya? Bagaimana jika Haley jatuh cinta pada pria yang ternyata berbahaya, tapi terlanjur nikmat?

chap-preview
Free preview
Topeng Asli Keluarga Calon Suami
Haley sudah terlanjur datang dengan tekad yang kuat dan tidak bisa mundur lagi. Tanpa ragu dan berapi-api, Haley mulai menanggalkan seluruh helai benang yang dikenakannya. Sementara itu, pria bernama Axel Russo nyaris tak bekedip, tapi tetap menjaga ekspresinya. "F*ck! Look at that perfect sexy body!" **** Beberapa hari sebelumnya. "Kurasa tak apa kali ini aku tidak mengabari dulu jika datang sebagai kejutan," gumam gadis cantik bernama Haley sambil menyesuaikan tas selempang cokelatnya yang berisi kue brownies buatan sendiri. Camilan kesukaan calon suami sekaligus calon mertua yang selalu ia buat setiap kali mereka bertemu. Saat mobil taksi yang ditumpanginya berhenti di pelataran rumah megah bergaya minimalis modern itu, Haley merasakan debaran aneh di dad*. Bukan debaran bahagia seperti biasanya, melainkan sesuatu yang mengganjal. Pelataran yang biasanya sepi di jam-jam seperti ini justru dipenuhi beberapa mobil mewah. Bahkan ia melihat mobil keluarga Mahacara yang jarang digunakan ikut terparkir rapi. "Ada acara keluarga mungkin," pikir Haley sambil membayar sopir taksi. Ia mencoba menghilangkan kegelisahannya. Lagipula, sebentar lagi ia akan resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Tak ada alasan untuk merasa canggung. Dengan langkah mantap, Haley berjalan menuju pintu utama. Namun, saat kakinya hendak melangkah masuk ke teras, suara riuh rendah tawa dan percakapan terdengar dari balik dinding kaca yang memisahkan ruang keluarga dengan taman belakang. Haley menoleh, mencari asal suara dan sedetik kemudian seluruh dunia serasa berhenti berputar. Matanya tertumbuk pada sebuah podium kecil di taman belakang yang dihiasi balon-balon putih dan ungu—warna kesukaan Aurin Perez, wanita yang sangat ia kenal sebagai teman masa kecil Damian. Spanduk tipis bergantung di antara dua tiang bunga, bertuliskan kalimat yang membuat jantungnya seperti ditusuk ribuan jarum. Congratulations on the Engagement, Damian & Aurin! "What the ...." Tangan Haley mulai gemetar. Ia merasakan seluruh tubuhnya yang mendadak kaku, seolah darah yang mengalir di pembuluh darahnya membeku. Tidak. Pasti ada kesalahan. Mungkin ini acara pertunangan sepupu Damian? Atau mungkin Aurin bertunangan dengan pria lain? Ya, pasti itu. Karena ia tahu persis bahwa Haley lah calon istri Damian Mahacara. Bukan wanita lain. Namun, harapan palsu itu sirna seketika saat matanya menangkap sosok Damian berdiri gagah di samping Aurin. Damian yang selama tiga tahun menjadi kekasihnya, Damian yang setiap malam mengirim pesan manis sebelum tidur, kini berdiri dengan jas rapi berwarna krem, lengannya yang digandeng mesra Aurin. Haley melihat Damian tersenyum. Senyum yang biasa ia dapatkan setiap kali mereka bertemu. Senyum yang selama ini ia yakini hanya untuknya. Air mata Haley seketika luruh tanpa diperintah. Tas selempang cokelat berisi brownies pun jatuh ke tanah, tak terasa oleh jemarinya yang kini terkepal erat. "Dam—" Suaranya tersangkut di tenggorokan. Ia ingin berteriak, ingin berlari ke tengah-tengah acara itu dan menanyakan semua ini. Tak lama, secara tiba-tiba sebuah tangan meraih pergelangan tangannya dengan kuat dan menariknya ke samping. Haley tersentak, nyaris tersandung sebelum tubuhnya didorong masuk ke sebuah ruangan di sisi kiri rumah, berupa ruang janitor yang jarang digunakan. "Beca!?" serunya terbelalak begitu mengenali sosok di hadapannya. Beca, asisten rumah tangga senior keluarga Mahacara yang sudah bekerja lebih dari lima belas tahun. Wanita paruh baya yang biasa menyambutnya dengan senyum ramah, kini berdiri dengan raut wajah tegang dan penuh keraguan. "Beca! Ada apa ini? Kenapa di rumah Damian ramai? Aku tidak salah lihat, kan?" suara Haley meninggi, setengah histeris. Ia menggenggam erat lengan Beca, memohon penjelasan yang sebenarnya sudah sangat jelas di depan matanya. Beca hanya menunduk. Bibirnya bergetar seolah hendak bicara, tapi kemudian ia hanya menggeleng pelan. "Beca, jawab aku!" desak Haley, tapi Beca hanya diam. Ia menatap Haley dengan pandangan yang sulit diartikan. Seperti iba, tapi juga takut. Kemudian tanpa sepatah kata pun, Beca berbalik dan meninggalkan Haley sendirian di ruang sempit yang hanya diterangi satu lampu temaram. Haley terdiam. Kepalanya pusing, napasnya terasa sesak. Ia mencerna apa yang baru saja dilihatnya. "Tidak ... tidak, ini pasti salah," bisiknya gemetar. Ia meraih ponsel dari saku celananya, jemari gemetar membuka chat-nya dengan Damian. Semua pesan terakhir mereka adalah tentang undangan pernikahan yang akan dicetak minggu depan. Tentang warna kemeja yang akan dikenakan Damian. Tentang bulan madu ke Jepang yang sudah mereka rencanakan sejak setahun lalu. "I love you, Hal. Sampai ketemu nanti." Pesan itu dikirim Damian dua hari yang lalu. Lalu bagaimana dengan semua ini? Sebelum Haley sempat mengambil keputusan, pintu ruang cuci terbuka kembali. Namun kali ini, yang masuk bukan Beca, melainkan seorang wanita paruh baya dengan balutan dress sutra berwarna krem. Raut wajahnya tenang, elegan dan sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. "Tante Liana ...," lenguh Haley penuh harap. Ia masih mencoba mencari secercah penjelasan yang masuk akal. Mungkin Liana, calon ibu mertuanya yang selama ini bersikap baik padanya akan meluruskan semua kesalahpahaman ini. Liana Mahacara berdiri dengan sikap sempurna, kedua tangannya menggenggam sebuah dompet kecil di depan tubuhnya. Wanita itu tersenyum tipis, tapi senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya. Berbeda dengan sikap hangat yang biasanya ia tunjukkan selama tiga tahun menjalin asmara antara putranya dan Haley, hari ini ada jarak yang teramat jelas. "Haley, duduklah," ucap Liana datar, menunjuk kursi lipat kecil di sudut ruangan. "Tante, aku baru saja melihat—" "Aku tahu apa yang kau lihat," potong Liana dengan nada yang masih terdengar sopan, tapi dingin. "Itu yang ingin kubicarakan denganmu." Haley merasa dunianya kembali berputar tak karuan. "Apa maksud Tante? Bukankah pernikahan kami sudah persiapan enam puluh persen? Bukankah minggu depan kita akan mencoba katering untuk resepsi? Tante sendiri yang memilih tiga katering terbaik untuk kita uji coba!" Liana menghela napas panjang, seolah apa yang akan dikatakannya adalah hal yang sangat memberatkan. "Dengar, Haley. Kau gadis baik. Tante suka dengan caramu, dengan kesederhanaanmu, dengan caramu merawat Damian selama ini. Tapi pernikahan bukan hanya soal cinta." Haley menatap Liana tak mengerti. "Lalu apa lagi, Tante?" Liana berjalan mendekat, kemudian duduk di kursi di hadapan Haley. Tatapannya tajam, analitis seperti seorang pengacara yang sedang menyusun strategi di ruang sidang. "Kau memiliki adik, bukan? Hana?" Sebutan nama adik satu-satunya langsung membuat naluri Haley terpicu. "Ya, Hana. Tante sudah tahu itu sejak awal hubungan kami. Damian juga tahu. Apa hubungannya Hana denagn semua ini?" "Apakah kau sadar bahwa adikmu memiliki keterbatasan? Berkebutuhan khusus, dan dari informasi yang kudapat, kondisi mentalnya cukup parah." Haley terdiam. Jari-jarinya menggenggam erat ujung bajunya. Hana, adik perempuannya yang kini berusia tujuh belas tahun memang menyandang kondisi kebutuhan khusus sedang sejak lahir. "Tante, apa hubungannya Hana dengan pernikahan kami?" suara Haley mulai bergetar, tapi ia berusaha tegar. "Gen, Haley. Autisme bisa diturunkan secara genetik. Kau mungkin tidak menyandangnya, tapi kau bisa menjadi pembawa sifat itu. Dan jika kau memiliki anak nanti, bukankah sangat mungkin anak itu mewarisi kondisi serupa?" Haley terpaku. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu. Apalagi dari seorang wanita terpelajar seperti Liana Mahacara. "Tante ... apa yang Tante katakan sangat—" "Menyakitkan? Aku tahu," Liana memotong cepat. "Tapi ini masalah realita, Haley. Keluarga Mahacara adalah keluarga terpandang. Damian adalah satu-satunya anak laki-laki. Kami tidak bisa mengambil risiko memiliki cucu dengan kondisi seperti adikmu. Bukan hanya soal nama baik keluarga, tapi juga beban yang harus ditanggung seumur hidup." Haley merasa dad*nya seperti ditekan batu besar. Ingin rasanya ia marah, ingin rasanya ia membantah semua perkataan Liana. Tapi kata-katanya seolah tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap Liana dengan mata berkaca-kaca. "Tante tahu bagaimana perjuanganku merawat Hana," bisik Haley akhirnya. "Tante tahu aku bekerja siang malam untuk membiayai terapinya. Tante juga tahu aku tidak pernah ... tidak pernah sekali pun mengeluh padanya. Dan sekarang Tante mengatakan itu semua sebagai ... cacat gen yang akan merusak keturunan Mahacara?" Liana menghela napas lagi, kali ini terkesan sedikit tidak sabar. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet kecilnya, sebuah amplop cokelat yang terlihat cukup tebal. "Dengar, Haley. Aku tidak datang ke sini untuk berdebat tentang genetika atau moral. Aku datang untuk menyelesaikan masalah. Ini," Liana meletakkan amplop itu di pangkuan Haley. "Ganti rugi untuk semua biaya yang sudah kau keluarkan untuk persiapan pernikahan. Lebih dari cukup, kurasa. Aku juga sudah menambahkan sedikit lebih untuk ... kerelaanmu." Haley menatap amplop itu seolah benda asing. Perlahan, ia membuka amplop tersebut. Matanya menangkap setumpuk uang ratusan ribuan dengan bandrol bank yang masih menyatu. Jumlahnya pasti puluhan juta. Cukup untuk mengembalikan semua uang yang ia keluarkan dari tabungannya selama setahun terakhir—bahkan mungkin lebih. Tapi uang itu terasa seperti racun di tangannya. "Tante tidak perlu melakukan ini," kata Haley pelan. Suaranya terdengar datar, tapi dalam dad*nya sedang terjadi badai. "Damian dan aku sepakat untuk tidak membebani keluarga Mahacara dengan biaya pernikahan. Aku bekerja keras untuk mengumpulkan uang itu karena aku ingin menikah dengan Damian tanpa merasa berhutang budi pada siapapun. Tapi sekarang Tante membayarku kembali? Seolah aku ini ... kontrak kerja yang diputus sepihak?" Liana tersenyum tipis, tetap tak tergoyahkan. "Kau tahu, Haley, aku menghargai kemandirianmu. Tapi kadang dalam hidup, kita harus realistis. Damian adalah pria masa depan. Dia akan menjadi partner di firma hukumnya dalam dua tahun. Dia butuh istri yang bisa mendampinginya di berbagai acara sosial, yang tidak memiliki ... hambatan seperti yang kau miliki." "Hambatan? Adikku yang autis adalah hambatan?" suara Haley meninggi, bulir bening akhirnya jatuh. Bukan karena kesedihan semata, tapi karena kemarahan yang selama ini ia pendam. "Bagiku Hana adalah anugerah, Tante. Dia mungkin tidak bisa bicara seperti kita yang normal, tapi dia mengajarkanku arti kesabaran, ketulusan, dan cinta tanpa syarat. Dan Tante berani berdiri di sini, di rumah yang konon akan menjadi rumahku juga, menyebut adikku sebagai hambatan?" "Haley, kau terlalu emosional—" "Tentu aku emosional! Aku baru saja melihat kekasihku yang sudah tiga tahun bersamaku, yang katanya akan menikahiku dalam beberapa bulan, bertunangan dengan wanita lain! Dan sekarang Tante datang membawa amplop berisi uang untuk membungkamku!" Liana berdiri, raut wajahnya mulai berubah menjadi dingin dan angkuh. Seperti singa betina yang mulai menunjukkan taringnya. "Baik, jika kau mau bersikap seperti ini, biar aku bicara terus terang. Keluarga Perez adalah mitra bisnis suamiku. Aurin adalah satu-satunya anak perempuan mereka. Pernikahan Damian dan Aurin bukan sekadar perjodohan, tapi juga merger bisnis yang akan menguntungkan kedua keluarga. Sementara itu, apa yang bisa kau tawarkan, Haley? Kau perawat dengan gaji pas-pasan, merawat adik cacat mental yang butuh perhatian sepanjang waktu, dan tidak memiliki keluarga yang bisa membanggakan. Apa kau pikir cinta cukup untuk pernikahan?" Setiap kata Liana terasa seperti hantaman keras ke wajah Haley. Bukan karena ia merasa rendah. Tidak, Haley tidak pernah malu dengan kehidupannya. Hanya saja, kebencian dan keangkuhan yang begitu kentara dari wanita yang dulu ia anggap calon mama mertua kesayangan, cukup memukul tekadnya telak. "Kau mungkin mengira benar. Damian mencintaimu. Tapi cinta saja tidak cukup, Haley. Kau sendiri pasti tahu itu." Haley terdiam. Ia merasakan sesuatu yang perih di ulu hatinya. Kata-kata Liana memang kejam, tapi bukankah ada benarnya? "MAMA, CUKUP!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.3K
bc

Kali kedua

read
221.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook