Sugar Baby Exclusive

1071 Words
"Mama tidak berhak melakukan ini! Mama tidak punya hak bicara seperti itu pada Haley!" bentak Damian terpaksa pada ibu kandungnya. Liana lantas menatap putranya dengan alis terangkat. "Damian, ini bukan tempatmu—" "Haley adalah tunanganku! Seharusnya akulah yang menikah dengannya, bukan dengan Aurin! Kau tahu aku tidak pernah setuju dengan semua ini!" "Kau setuju atau tidak, ini sudah keputusan keluarga!" bentak Liana, meninggalkan semua kepura-puraan. "Ayahmu sudah membuat kesepakatan dengan keluarga Perez. Kontrak kerjasama sudah ditandatangani. Jika pernikahan ini batal, kerugiannya bukan hanya finansial tapi juga reputasi keluarga!" "Aku tidak peduli dengan reputasi! Aku tidak peduli dengan kerjasama bisnis!" Damian membalas dengan suara yang tak kalah keras. Tangan pria itu meraih tangan Haley, menggenggamnya erat. "Haley, maafkan aku. Aku tidak tahu Mama akan melakukan ini hari ini. Aku dipaksa—" Haley menatap Damian. Melihat air mata di sudut mata pria yang sangat dicintainya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Damian yang berbeda. Bukan Damian yang tegas dan berwibawa di ruang sidang, bukan Damian yang lembut dan penuh perhatian saat bersamanya, tapi Damian yang lemah—yang tak mampu melawan keputusan keluarganya. "Damian ...." Suara Haley lirih. "Apakah kemarin ... saat kau mengirim pesan bahwa kau mencintaiku, saat itu juga kau tahu bahwa hari ini kau akan bertunangan dengan Aurin?" Damian malah membeku. Tapi, di saat bersamaan diamnya adalah jawaban. Haley menarik napas panjang, berusaha menahan agar tidak pecah di depan mereka. Ia melepaskan genggaman Damian dengan lembut. "Aku mengerti sekarang," katanya perlahan. "Aku tahu ini bukan sepenuhnya salahmu, Damian. Tapi aku juga tahu bahwa kau memilih untuk diam. Kau membiarkan semua ini terjadi tanpa pernah memberitahuku. Bahkan hingga hari ini, saat aku datang dengan brownies buatanku, kau biarkan aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri." "Haley, aku tidak punya pilihan—" "Kita selalu punya pilihan, Damian. Kau memilih untuk ini. Kau memilih untuk tidak memperjuangkanku. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban." Liana yang sedari tadi diam, kembali angkat bicara. "Bagus, kau mulai mengerti, Haley. Jadi kau akan menerima uang itu?" Haley menoleh pada Liana. Matanya sembab, tapi senyum tipis terukir di bibirnya. Bukan senyum bahagia, tapi senyum pasrah yang teramat perih. "Tante, simpan saja uangmu. Aku tidak butuh bayaran untuk harga diriku." Damian meraih tangannya lagi. "Haley, jangan lakukan ini. Aku akan bicara lagi pada papa, hmm? Aku akan—" "Tidak, Damian!" Haley menatap mata kekasihnya, atau mantan kekasihnya dalam-dalam. "Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Dan aku tidak ingin kau merasakannya juga. Tante Liana adalah ibumu. Bagaimanapun caranya, beliau melakukan ini karena menurutnya itu yang terbaik untukmu." "Tapi—" "Aku juga tidak ingin pernikahan yang seumur hidup diwarnai permusuhan antara aku dengan ibumu. Aku bisa membayangkannya, Damian. Setiap kali kita bertemu, akan ada ketegangan. Setiap kali kita mengunjungi rumah ini, aku akan merasa tidak diterima. Dan pada akhirnya, itu hanya akan menyakitimu, menyakitiku dan menyakiti hubunganmu dengan keluargamu." Haley menahan isak yang mengganjal di tenggorokannya. Ia ingin menjerit, ingin marah, ingin membanting semua yang ada di depannya. Tapi, ia terlalu lelah. Terlalu lelah untuk melawan. "Aku mencintaimu, Damian. Tapi ternyata cinta saja tidak cukup." Haley tersenyum getir. "Kita ... berakhir sampai di sini." Damian membeku. Tangannya perlahan melepas bahu Haley, seolah baru sadar bahwa kekasihnya telah memutuskan segalanya. "Aku pamit, Tante," ujar Haley pada Liana yang masih berdiri dengan sikap sempurna, tanpa menunjukkan setitik pun rasa bersalah. "Tante tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membuat masalah atau menyebarkan aib keluarga. Aku hanya ... aku hanya ingin pergi dari sini." Ia berjalan cepat menuju pintu, mengambil tas cokelat yang berisi brownies hancur di meja. Saat hendak melangkah keluar, Damian berteriak memanggil namanya dan berlari mengejar. Namun Liana dengan cepat meraih lengan putranya. Sedetik kemudian, Liana memegangi dad*nya dengan ekspresi kesakitan. "Damian ... mama ... dad* mama sakit ..." rintih Liana disertai tubuh yang mulai lemas. "Ma! Kau kenapa?" Damian panik. lalu refleks menangkap tubuh Liana yang hampir jatuh. Mata Liana terbuka sedikit, tapi di balik ekspresi kesakitan yang dibuat-buat itu, ia menyunggingkan senyum kemenangan tipis. Ya, Liana nyatanya hanya berpura-pura. Dan Damian terlalu panik untuk menyadarinya. Tiga jam kemudian. Haley sudah duduk di bar kecil yang tak terlalu ramai di pusat kota. Di depannya sudah berjejer tiga gelas kosong dan gelas keempat hampir habis ia teguk. Tubuhnya sudah terasa melayang, pusing dan pandangannya mulai buram. Tapi, rasa sakit di dad*nya masih terlalu nyata. Ia bukanlah seorang peminum. Namun, karena hari ini terlalu menyakitkan, Haley merasa alkohol satu-satunya solusi. "Sial ... sial ... sial ...," gumamnya antara isak dan tawa getir. Tiba-tiba sesosok tubuh duduk di kursi sebelahnya. Tangan mungil meraih gelas di tangan Haley dan meletakkannya kembali ke meja. "Hal, cukup!" Haley menoleh, matanya berusaha fokus pada sosok yang datang. "Janet ... kau datang," isak Haley, langsung memeluk teman seprofesinya itu erat-erat. "Janet, Dami ... dia ...." Bibir Haley gemetar. "Damian ... dia ... semuanya sudah berakhir. Aku sudah melepaskannya." "Apa?" Janet terkejut. "Kau melepaskannya? Kau hanya pergi begitu saja tanpa perlawanan?" protes Janet yang sebelumnya sudah mendengar curahan hati singkat Haley di telepon sebelum datang ke Bar. "Apa gunanya melawan, Jan? Ibunya akan selalu ada di antara kami. Dan Damian ... dia memilih diam. Dia membiarkan semua ini terjadi. Mungkin memang sudah takdirku hidup begini." Janet menghela napas panjang. Ia memanggil pelayan dan memesan segelas air putih untuk Haley, lalu segelas wine untuk dirinya sendiri. "Ceritakan semuanya padaku, Hal. Mulai dari awal." Haley lantas menceritakan semuanya. Dan, setelah selesai, Janet menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Campuran antara iba, marah dan sesuatu yang lain. "Kau tahu, Hal. Kau orang yang terlalu baik untuk dunia ini," ucap Janet akhirnya. "Kau memilih pergi karena tidak ingin Damian kehilangan ibunya. Padahal kau sendiri yang kehilangan segalanya." Haley meneguk air putih yang dipesan Janet, berusaha menenangkan pusing di kepalanya. "Aku tidak kehilangan segalanya, Jan. Aku masih punya Hana. Masih ada sahabat baik sepertimu yang setia mendengarku." "Hana." Janet menghela napas. "Bagaimana kabarnya? Aku jadi kangen menemani dia main." "Kondisi kesehatan Hana baik. Hanya saja ..." Haley menggigit bibirnya. "Sebenarnya aku sedang mencari tempat perawatan yang lebih baik untuk Hana. Tempat yang punya terapis khusus untuk anak dengan kondisinya. Tapi biayanya ...." Haley tertawa pahit. "Biayanya bisa membuatku bekerja tiga shift sehari selama sepuluh tahun dan itu ada di luar negeri." Janet terdiam. Ia memutar-mutar gelas wine di tangan, matanya menerawang jauh. "Hal, aku tahu ini mungkin terdengar gila. Tapi ... apa kau pernah mendengar tentang sugar baby kalangan eksklusif?" "What?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD