Panggilan Interview
"Ayah, belum dapet panggilan nih" keluh Nareza pada sang ayah yang kini tengah mengaji di ruang tengah.
Ayah menutup Al-Qur'an ditangannya, melepaskan kacamatanya dan memijat pelipisnya sejenak. Ayah menghela nafas panjang lalu menatap putrinya dengan senyum kecil.
"Tidak apa-apa, nanti cari tempat lain ya?" Ucap ayah dengan suara pelan, nyaris berbisik "Kalau pun masih belum dapet panggilan, doakan ayah biar panjang umur dan biar ayah yang nafkahi kamu sampai kamu menikah nanti"
"Ayah ngomong apa sih? Nareza ga mau jadi beban ayah" keluh Nareza dengan kesal.
Ayah hanya tertawa pelan tanpa menjawab, sebelum adzan isya' berkumandang dan ayah segera bangkit dari duduknya. Nareza juga menyusul ayahnya menuju kamar mandi, Nareza menunggu diluar, bersandar pada dinding anyaman bambu yang sudah lapuk.
Ayah keluar dalam kondisi sudah wudhu, ayah menoleh ke arah Nareza "Sudah, jangan ngelamun, cepat wudhu, habis itu kita sholat berjamaah"
Nareza mengangguk dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu. Nareza lalu menyusul ayah diruang tengah, ayah sudah menyiapkan mukenah Nareza dan menggelar sajadah untuk mereka.
Nareza memakai mukenanya dengan cepat, "Siap ayah"
Ayah menggelengkan kepalanya pelan "Rambutnya diperbaiki dulu, nak. Udah besar, kalo sholat rambutnya jangan sampai keliatan"
Nareza tersenyum malu-malu "Hehe, Oke ayah"
Ayah mulai mengimami sholat, Nareza menjadi makmum ayahnya dibelakang. Setelah sholat isya', Nareza mencium punggung tangan ayahnya.
"Nareza ke kamar dulu ya, ayah" pamit Nareza sambil mengikat rambutnya.
Ayah mengangguk pelan sambil memegang tasbih ditangannya. Nareza memasuki kamar, didalam sana Nareza mulai membuka ponsel.
Nareza mengirimkan CV ke beberapa perusahaan, hingga ada satu perusahaan yang langsung meminta Nareza datang besok untuk interview.
"Ayah!" pekik Nareza berlari keluar kamar.
"Ada apa, Na?" tanya ayah dengan penasaran.
Nareza mendekat dan menunjukkan layar ponselnya, "Besok Nareza diminta datang interview, Yah. Doain semoga keterima ya"
"Amin, ayah selalu doain kamu" Ucap ayah tersenyum bangga pada Nareza.
"Aku tidur duluan ya ayah" ucap Nareza, ia mengecup pipi sang ayah sebelum kembali masuk ke kamar.
Nareza membuka lemarinya, mencari pakaian yang cocok untuk interview besok. Namun kemeja putih Nareza kotor terkena serbuk kayu yang menempel sampai ke serat kain.
Nareza membuka ponselnya, mencari outfit yang sesuai untuk interview selain pakaian hitam dan putih. Ada banyak sekali pakaian yang direkomendasikan, namun Nareza tak memilikinya. Nareza akhirnya membedah lemarinya, mencari kemeja yang masih layak dipakai.
hingga akhirnya ketemu 1 kemeja berwarna cream yang Nareza pikir masih bersih dan layak, Nareza mengambil gantungan baju dan menggantung kemeja itu di dinding beserta dengan celana hitamnya.
Nareza langsung berbaring di ranjang, bibirnya tak henti-henti menampilkan senyuman. "Ya Allah, semoga besok keterima, tolong ya Allah, hamba mau membahagiakan ayah" Gumam Nareza didalam hatinya.
Fajar baru saja menyingsing ketika suara ayam berkokok bersahutan dari belakang rumah. Nareza membuka matanya perlahan. Ia menoleh ke arah jam di HPnya. Pukul enam pagi. Nareza sadar ia ketiduran dengan memakai mukenah usai sholat subuh tadi.
Ia segera bangun, merapikan sajadah dan mukenah, lalu keluar kamar. Di dapur, ayah sudah lebih dulu menjerang air.
"Sudah bangun, Nak?" sapa ayah sambil tersenyum.
"Iya, Yah." Jawab Nareza sambil nyengir, sembari merapikan rambutnya yang berantakan.
Ayah menuangkan segelas teh hangat untuk putrinya. "Mandi sana. Nanti berangkat jangan sampai telat."
Nareza mengangguk. Ia mandi dengan cepat, lalu mengenakan kemeja cream yang semalam sudah ia siapkan. Setelah menyisir rambut dan mengenakan jilbab sederhana berwarna hitam, ia keluar kamar.
Ayah menatap putrinya beberapa saat. "MasyaAllah... cantik."
Nareza tersenyum malu. "Masa sih? jadi malu"
"Iya. Semoga hari ini Allah mudahkan." Ucap ayah pelan.
"Amin" sahut Nareza penuh harap.
"Ayan ke rumah Ce Yavine dulu ya" ucap Ayah yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nareza.
Ayah berjalan menuju rumah tetangga yang hanya berjarak beberapa langkah. Rumah dengan 2 mobil dan 3 motor di garasi, satu-satunya rumah yang bertingkat di desa ini.
"Ce... Ce Yavine..." panggil Ayah melihat sekeliling.
Seorang perempuan paruh baya keluar sambil membawa sapu. "Iya Pak Sahvan?"
Ayah menggosokkan telapak tangannya di baju sambil tersenyum canggung, "Motor yang kemarin... boleh saya pinjam sebentar? Anak saya ada interview." tanya ayah penuh harap.
Ce Yavine tersenyum dan mengangguk. "Oh iya, silakan saja Pak." Ce Yavine masuk sebentar lalu keluar membawa kunci motornya. "Kuncinya ini, pak. Tapi... bensinnya habis."
"Nggak apa-apa, Ce. Terima kasih banyak." Ucap ayah menerima kunci motornya.
"Sukses ya buat Nareza." Ucap Ce Yavine.
"Aamiin." balas ayah mengaminkan, "Mari Ce"
"Iya, pak" sahut Ce Yavine lalu kembali menutup pintu rumah.
Ayah menuntun motor itu pelan menuju rumah. Nareza yang sedang berdiri di depan rumah tampak bingung.
"Lho Yah... kok didorong?" tanya Nareza dengan alis mengkerut.
Ayah tersenyum kecil. "Bensinnya habis."
"Oh..." Nareza mengangguk mengerti.
Ayah memarkir motor di halaman. "Tunggu sebentar ya, Na."
"Mau ke mana?" Tanya Nareza penasaran.
"Ayah pinjam uang dulu ke Bu Zara. Buat beli bensin." ucap Ayah tanpa menoleh ke arah Nareza.
Beberapa menit kemudian ayah kembali. Di tangannya tergenggam uang sepuluh ribu rupiah.
"Nih." ucap Ayah memberikan uangnya pada Nareza.
Nareza menerimanya.
"Ayah bantu dorong sampai warung Pak Vero ya." ucap ayah bersiap mendorong.
Nareza menggeleng pelan. "Di sana bensinnya eceran, Yah. Seliter harganya tiga belas ribu. Uang kita kurang."
Ayah terdiam beberapa detik. Ia masuk ke rumah tanpa sepatah kata. Tak lama kemudian ayah keluar sambil membawa sebutir kelapa tua.
Nareza mengernyit. "Itu buat apa?"
"Pak Vero biasanya juga beli kelapa." ucap ayah tersenyum.
"Mau ditukar?" tebak Nareza.
"Iya. Biar ada tambahan uang buat beli bensin." sahut ayah meletakkan kelapa itu di motor lalu bersiap mendorong.
Hati Nareza langsung terasa sesak. "Jangan, Yah." ucapnya pelan "Kita beli di pom mini aja. Lagian motornya bukan punya kita. Isi sedikit juga cukup."
Ayah tersenyum lembut. "Pom mini jauh, Nak. Nanti kamu capek dorong motornya. Kalau telat interview gimana?"
Nareza duduk di ruang tunggu sambil meremas map berisi berkas lamaran. Tak lama kemudian seorang HRD memanggil namanya. Ruangan itu sederhana. Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan mempersilahkannya duduk.
"Perkenalkan diri dulu." Ucap HRD menatap Nareza.
Nareza menarik napas. "Nama saya Nareza Elvara, saya lulusan dari SMA Negeri Garuda Bangsa, lulus 7 bulan lalu"
Nareza menjawab satu per satu pertanyaan dengan tenang, tatapannya lurus ke mata HRD dengan harapan HRD melihat keseriusannya.
"Oke, kak Nareza ya? Boleh ga kakak cerita apa kelebihan kamu?" tanya HRD.
"Untuk kelebihan saya, saya cepat belajar dan mau menerima masukan." jawab Nareza penuh keyakinan.
"Sebelumnya kak Nareza pernah bekerja sebagai waiters atau di bidang pelayanan lainnya?" tanya HRD lagi.
"Kalau untuk pengalaman bekerja, saya belum punya pengalaman kerja dikarenakan saya masih fresh graduate. Namun untuk organisasi sekolah, saya memiliki beberapa pengalaman berorganisasi dan cukup aktif di organisasi." jawab Nareza.
HRD mengangguk sambil mencatat sesuatu. Beberapa pertanyaan dasar lain terus mengalir. Mengapa melamar di perusahaan ini, bagaimana menghadapi pelanggan, hingga bagaimana jika melakukan kesalahan saat bekerja. Nareza menjawab sejujur-jujurnya.
Di akhir interview, HRD menutup map miliknya. "Jujur saja, saya merasa kamu cocok. Tapi kami masih harus berdiskusi dengan tim. Nanti akan kami hubungi lagi."
Nareza mengangguk mengerti, "Baik, Bu. Terima kasih banyak."
Keluar dari ruangan itu, wajah Nareza dipenuhi senyum. Meski belum dinyatakan diterima, harapan di dalam hatinya kembali tumbuh.
"Ayah..."