part 20

1604 Words
*Maaf jika saya cut ceritanya sewaktu-waktu. Sekali lagi ane tegaskan, di aplikasi ini hanya untuk promo cerita karena di sini saya nggak bisa daily. Jadi, untuk yang berminta membaca kisah lanjutan cerita-cerita saya, bisa hubungi aku yang tertera. Atau follow IG Maey angel atau Youtubenya. Khusus untuk cerita Bella dan Arki ini, sudah dipinang penerbit jadi sudah di novelkan dan bisa dibeli di s****e atau marketer di nomer. 0859126470521 Ig : Maey Angel Ytube : Maey Angel Part 20 "Bella, bagaimana kondisimu? Sudah baikkan?" tanya Sesil pada Bella saat di di kamarnya. "Alhamdulillah, Tan." Bella sudah terlihat lebih baik setelah tertidur pulas sedari siang. "Panggil Mama aja, sekarang kamu sudah nggak ada orang tua. Mama harap, Bella mau anggap Tante sebagai Mama Bella juga. Ya?" kata Sesil. "Iya, Ma! Rafael kemana, Ma?" tanya Bella. "Rafael sedang ke kantor polisi menanyakan penyebab kebakaran rumahmu, Mama harap kamu jangan larut dalam kesedihan ya! Semua orang di keluarga ini menyayangimu, termasuk Mama!" ucap Sesil membelai lembut rambut Bella. Bella tersenyum dan memeluk Sesil dengan hangat, ia merindukan orangtuanya. Kini ia hanya hidup sebatang kara, jika bukan ditolong keluarga Arki pasti ia sudah tak tahu kemana akan pergi. Walau kenyataanya, Mama Sesil adalah mertuanya. "Bell, tadi temanmu telpon Mama. Katanya ada hal penting yang akan disampaikan, dia mau kasih tugas yang harus dikerjakan dan diberikan besok pagi ke kampus. Kalau nggak salah, Dania namanya. Dia meminta bertemu di kafe Sarangheo malam ini." "Dania?" tanya Bella bingung. "Iya, tadi bilang dia teman satu kampus dan satu kelas denganmu. Kamu mau bertemu dengannya atau tidak? Tadi Mama cuma bilang, tanya kamu dulu. Kalau kamu belum merasa baikan, istirahat saja. Biar nanti Mama telpon Dania buat mengatakan kalau kamu masih belum baik-baik saja!" ucap Sesil. "Nggak usah, Ma! Nanti Bella bakal nemuin dia di sana. Bella juga butuh udara segar," sanggah Bella. "Mama temani ya?" ucap Sesil. "Nggak usah, Ma! Cafe sarangheo kan di nggak jauh dari sini. Jalan kaki juga sampai, Mama tunggu rumah saja. Nanti Rafael pulang nggak ada orang, kan kasihan!" "Baiklah, kamu hati-hati ya! Kamu nggak bawa ponsel?" tanya Sesil. "Ponsel Bella rusak, mungkin besok Bella beli." "Pake ponsel Mama ya? Kalau nggak, kamu mampir ke toko hp. Beli buat ngabarin Mama atau temanmu nanti. Ya?" "Nggak usah, Ma! Bella nggak mau ngerepotin Mama!" tolak Bella halus. "Kamu anak Mama. Sekarang kalau bukan Mama, siapa lagi? Anak Mama juga pasti setuju dengan permintaan Mama ini," ucap Sesil menatap manik hitam Bella berharap ia mau menerima bantuan yang diberikannya. "Baiklah, jika Mama memaksa. Terimakasih Ma, sudah ada buat Bella. Bella janji akan jadi anak baik, sekolah yang bener biar bisa balas semua kebaikan Mama. Bella merasa tak sendiri, Mama sama baiknya dengan Ibuku." Sesil memeluk kembali Bella dan mencium kembali rambut lembutnya. Sesil tak mempunyai anak perempuan, melihat Bella ia merasa seperti punya anak perempuan yang bisa ia peluk dan dimanja. Walau kedua anaknya laki-laki dan sangat manja dengannya, tapi sangat berbeda jika anak perempuan yang ia manja dan ajak belanja serta pergi kemanapun, pasti tak akan keberatan. Jika mengajak Arki atau Rafael, mereka walau bersedia menemani pasti akan merasa jengkel jika terlalu lama menunggu dirinya yang asik memilih milih barang. "Bella, ini uang kamu pakai beli ponsel. Setelah kamu beli, kamu langsung hubungi Mama. Biar nomornya langsung Mama save, okey?" ucap Sesil. "Nggak kebanyakan Ma? Bella beli murah saja, asal bisa buat telpon dan kirim pesan!" tolak Bella saat Sesil memberinya uang lima juta kepadanya. "Nggak papa, beli yang ram nya besar. Biar bisa buat simpan foto dan tugas kampus. Besok kalau ada waktu, Mama suruh Rafael ajak kamu beli lepi!" Sesil tersenyum dan kembali memeluk Bella. "Makasih ya, Ma! Kalau begitu, Bella siap-siap dulu!" "Sama-sama. Nanti sebelum berangkat, makan dulu ya? Mama udah masakin buat kamu dan Rafael." "Ya, Ma!" Sesil keluar kamar Bella dan beranjak meninggalkannya untuk bersiap. Bella turun dari ranjang dan mengambil handuk untuk mandi. Setelah mandi dan sholat magrib Bella memakai pakaian yang sudah Mama Sesil siapkan. Dres navy dengan motif polos membuat Bella merasa ia sangatlah berbeda. Biasanya Bella akan pergi dengan baju kaos lebar atau kemeja agar tidak terlihat jika dirinya tengah hamil. "Ini terlalu menonjol. Baiknya aku pakai jaket saja!" Bella mengambil jaket dan menutupi perutnya agar tak terlihat hamil. Setelah bersiap, Bella segera menuju ruang makan untuk melahap makanan yang sudah disajikan Sesil. Ia merasa tak enak jika menolak permintaan mertuanya, padahal sebenarnya ia sangat tak berselera makan. Selesai makan, Bella pamit pada Sesil yang ada di kamarnya. "Ma, Bella pergi dulu ya!" pamit Bella. "Hati-hati ya, kamu pakai motor Arki saja. Kalau motor Rafael itu motor laki, kamu nggak bisa naiknya. Punya Arki matic, kamu pakai saja." "Nggak, Ma! Bella jalan kaki saja, deket kok!" "Tapi kamu kan mau ke gerai ponsel? Bawa aja, nggak usah sungkan!" Bella menatap ragu kunci pemberian mama Sesil, dengan sigap Sesil memindahkan kunci ke tangan Bella. "Udah pakai aja, biar cepet juga sampai sana. Hati-hati tapi, jangan ngebut!" ucap Sesil tersenyum. "Makasih ya, Ma! Bella pamit, Assalamualaikum!" Bella mencium punggung tangan Sesil dan menaiki motor matic putih yang tampak ketinggian menurut Bella. Tingginya yang hanya 145 cm hanya bisa menjangkau matic keluaran Yomehe, dan untuk yang Bella pakai ini, ia harus berjinjit. Nasib jadi anak kurang tinggi, tapi Bella bersyukur bisa memakainya walau dengan melajukan dengan pelan. Baru saja ia keluar persimpangan, sebuah mobil tampak mengikutinya. Dengan rasa was-was, Bella menambah kecepatan motornya. Namun, mobil itu justru menempel pada motor Bella hingga ia terjatuh. Bella hendak bangun, namun tiga orang dengan sigap membiusnya dan membawa Bella masuk ke mobilnya. Satu orang membawa motor Arki dan membawanya pergi. *** "Bos, gadis ini mau kita apakan? Kami sudah berhasil membawanya ke mobil," ucap para penjahat sewaan Bram dan Amora. "Kalian tidak meninggalkan jejak di sana kan? Tak ada yang melihat kalian?" tanya Bram. "Tidak, kami bawa sekalian motor yang di bawa gadis ini." "Bagus, lenyapkan motor itu. Dan bawa gadis itu keluar pulau. Jika perlu ke daerah terpencil, jangan biarkan dia bisa kembali. Ingat! Pastikan dia tak bisa kembali!" "Baik, Bos! Siap laksanakan!" Para penjahat membawa Bella menuju tempat yang jauh. Mereka hendak membawa Bella ke Sukabumi dan mengasingkannya di sana. Mereka tak membawa ke luar pulau seperti yang Bosnya katakan, karena mengurangi resiko. jika Bella bangun dan berteriak memberontak. Bella sempat sadar, namun para penjahat kembali membiusnya sehingga ia tetap pingsan sampai ia sampai di sebuah desa terpencil itu. Tak ada rumah yang berdiri di sini, hanya beberapa gubug yang terlihat usang dikelilingi pohon menjulang tinggi. Terlihat tak ada orang, kedua penjahat itu langsung membawa Bella masuk ke dalam gubug. Dengan sinar lampu mobil yang masih menyala, mereka mendapatkan penerangan untuk melihat keadaan Bella. Penjahat yang melihat Bella terkulai tak berdaya berniat buruk padanya. "Bro, masa gadis cantik ini kita biarkan tanpa dicicipi? Sayang kan?" ucap salah satu penjahat yang menatap Bella penuh nafsu. "Betul juga, Bos tidak akan tahu jika kita sedikit saja merasakan tubuhnya." Samar-samar Bella mendengar suara para penjahat, ia membuka matanya dan melihat kedua penjahat itu hendak melakukan hal buruk padanya. Bella terkejut dan berusaha melarikan diri. Namun sayang, badan kedua penjahat itu terlalu besar. Bella berteriak dan meminta tolong, tapi tak ada satu orang pun yang mendengar teriakannya. "Mau kemana? Mau lari? Mau teriak? Silahkan, paling kamu akan di makan harimau. Lagian di sini nggak ada orang yang bisa bantu kamu. Lebih baik, kamu layani kita dahulu. Dari pada kamu mati mengenaskan di sini," ucap penjahat itu. "Lebih baik aku mati, daripada melayani kalian. Lelaki setan!" Penjahat itu murka dan menarik jaket yang dikenakan Bella hingga terlepas dari badannya. Bella terhentak dan terpelanting ke tanah. "Bro, dia hamil!" ucap salah satu penjahat saat tahu perut Bella yang tampak membesar. "Ternyata! Gadis kecil ini sudah pernah disentuh lelaki, kalau begitu tak susah melakukannya lagi dengan kita!" ucap Penjahat mendekati Bella kembali. Bella melakukan perlawanan, dan mencoba meraih sesuatu yang ada di sampingnya. Ia hendak memukulkan pada kepala penjahat yang ingin menjarahnya namun dihadang penjahat yang satunya. Dua lawan satu, tak akan mungkin Bella dapat melawannya. Akhirnya, tangis Bella menggema saat kedua lelaki itu bergiliran menyentuhnya. Bella pingsan tak berdaya, dan kedua penjahat itu pergi meninggalkan Bella sendiri di dalam hutan. Penjahat pulang kembali ke Jakarta malam hari. Dalam keadaan tengah malam, mereka meninggalkan Bella di dalam gubuk dengan hanya cahaya bulan yang menyinari. Suara burung bersahutan, Bella membuka matanya yang terasa berat. Ia melihat bajunya yang koyak dan mengingat kembali kejadian semalam. Bella menangis dengan kencang seakan meninggalkan trauma dan tak ingin mengingat kejadian buruk itu. Bella tak ingat bagaimana wajah mereka, tapi yang Bella tahu, badan mereka begitu besar dan suara yang menyeramkan. Bella benci dirinya sendiri, bahkan ia tak bisa melawan mereka. Bella berulang kali memanggil nama Arki dan juga Rafael dalam tangis pecahnya. Bella berusaha bangkit dan berdiri menyusuri jalan yang entah kemana arah tujuan, asal dia bisa keluar dari tempat mengerikan ini. Bella berjalan sampai ia sudah tak sanggup lagi melangkah. Namun, tak juga ia menemukan orang untuk menolongnya dan membantunya pulang. Hingga tampak seorang pemuda sedang membawa golok di pinggangnya melihat Bella. Awalnya Bella ragu untuk memanggilnya. Namun, ia harus meminta tolong. "Maaf, Mas!" ucap Bella menghentikan langkah pemuda itu. Tampak ia heran melihat wanita di tengah hutan dengan pakaian yang sudah tak layak itu. "Anda manusia? Atau hantu?" ucapnya sedikit takut. Tampak komat-kamit dari mulut lelaki itu. "Saya_" Belum juga menjawab siapa Bella sebenarnya, ia sudah pingsan dan jatuh ke tanah membuat lelaki ini terkejut. Ia sekarang tahu, jika Bella bukanlah hantu. Melainkan seorang wanita yang sedang membutuhkan pertolongan. Ia membawa Bella menuju rumahnya di perkampungan yang sudah tak jauh dari hutan. ❤️❤️❤️❤️❤️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD