"Han, bagaimana kabarmu?" tanya Ella. Honey, adalah panggilan kesayangan Ella pada Arki. Arki terkejut tatkala tahu jika mantan tunangannya ada di Paris. Ia memicingkan matanya heran, bagaimana bisa wanita ini ada di Paris dan tahu jika dirinya ada di sini.
"Kamu? Kenapa ada di Paris?" tanya Arki. Biasanya Arki akan memanggil dia Sayang, atau Cinta. Sekarang Arki sudah ilfeel dengan Ella akibat keputusan membatalkan pertunangannya sepihak sehingga akhirnya hidupnya sekacau ini.
Arki tetap melanjutkan kerjanya, memeriksa beberapa file dan mengabaikan Ella. Membuat ia mendengkus kesal dan duduk di pangkuan Arki seperti biasa. Namun, Arki menatapnya tajam dan menyingkirkan Ella dari hadapannya.
"Honey. Kenapa mengabaikanku? Sudah tidak cintakah padaku?" Arki mengalihkan pandangannya pada Ella dan menghentikan aktivitasnya.
"Cinta? Cintaku sudah hilang saat kamu sudah membuangku. Kamu masih ingat? Malam dimana kamu memutuskan meninggalkanku dan membiarkanku mabuk di sana seorang diri? Seharusnya kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan. Dan aku, tidak akan memungut kembali sampah yang sudah aku buang!" jawab Arki penuh penekanan.
"Han, aku khilaf waktu itu. Om mu sendiri yang menyuruhku untuk membatalkan pertunangan ini. Dia menghancurkan bisnis papaku dan dia mengancamku akan menyakiti kedua orang tuaku," elaknya.
"Kenapa kamu tak bilang saja waktu itu padaku? Kamu terlalu naif dan hanya karena harta kamu sangat mudah berpaling. Beruntung aku tak jadi menikahimu, minggir! Kamu mengganggu kerjaku!" Arki mengusir Ella dan kembali mengerjakan pekerjaan yang tertunda akibat Ella.
CHUNEl, perusahan yang kini sedang Arki tangani berangsur membaik. Perusahaan ekspedisi yang kini ia sulap menjadi perusahaan pembuatan barang bermerk yang sudah mulai familiar di kalangan warga Paris. Produksi berbagai bag dan clutch serta aksesoris wanita ia pelajari saat masih di bangku kuliah. Walau di mengambil jurusan management, namun kreativitasnya tak bisa dianggap enteng. Arki menggandeng brand ternama untuk bekerja sama dan juga menyewa beberapa model untuk menjadi brand ambassadornya.
Dua bulan ia di Paris, sudah banyak yang terjadi bahkan bisa dikatakan naik signifikan. Walau belum sempurna seutuhnya, tapi Arki puas dengan kerjanya sendiri. Ia tak perlu lama-lama di Paris dan bisa segera pulang ke Indonesia. Ia merindukan istri kecilnya, dan keluarganya.
Setelah kepergian Ella, ia mengambil gawainya dan mencoba menelpon Bella. Ia rindu dan ingin membuang lelahnya dengan mendengar suaranya.
Ponselnya tak tersambung, membuat Arki khawatir dengan Bella. Ia lalu menghubungi Rafael dan memintanya mencari tahu keadaan Bella. Rafael yang sedang di Jakarta membuat ia harus menunggu esok hari. Namun, ia tak sabar dan berulang kali menghubungi adiknya ini. Rafael sempat kesal saat dirinya memanggilnya berulang-ulang dan akhirnya mengatakan jika ponsel Bella rusak.
Arki akhirnya hanya dapat memendam rindu nya yang tak terbalas. Ia kadang heran dengan hatinya ini, kenapa ia bisa sesayang ini pada gadis kecil yang sama sekali baru ia kenal. Pancaran matanya, senyum teduhnya, membuat Arki merasa jika gadis itu baik baginya. Bahkan dia sama sekali tak mau menerima uang yang diberikan padanya. Kerja keras yang dilakukan Bella membuat Arki semangat untuk membangun keluarga bahagia bersamanya.
Arki pulang ke apartemen miliknya, ia membaringkan tubuhnya setelah seharian lelah bekerja. Jika di sini pukul lima, berarti di sana pukul sepuluh malam. Dan ini pasti sudah malam, Arki kembali rindu. Perasan ini sungguh menyiksanya. Ponselnya berdering, Arki melihat nomor Bu Nita, orang tua Bella memanggilnya.
"Hallo assalamualaikum," salam Arki. Ia tak tahu jika Bella yang menelponnya. Bella sengaja mengerjai Arki agar membuatnya kesal. Namun, setelah mendengar suara Bella yang menelponnya, ia begitu senang. Dan mereka kembali berbincang manis. Arki menyuruh Bella buat membeli ponsel baru karena ia tak ingin kesusahan dalam komunikasi. Namun, justru malah diri ya ketahuan jika selama ini mengirimkan uang pada orangtua Bella.
Setelah panggilan terputus, ia merasa feelingnya agak membaik. Dia bergegas mandi dan juga makan malam di apartemen. Ia memasak sop dan juga sambal, karena Arki tak suka membeli makanan di luar yang belum tentu berlabel halal baginya.
Setelah selesai makan ia pun tidur. Malam hari ia terbangun, seakan telah terjadi mimpi buruk yang membuatnya gelisah. Ia duduk di tepi ranjang dan memilih mengambil air wudhu untuk melakukan sholat tahajud.
Pagi hari, Arki menelpon Rafael dan dia mengabarkan hal buruk tentang Bella. Pantas saja semalam ia gelisah, ternyata istrinya sedang berkabung karena musibah kebakaran dan kehilangan orang tuanya. Saat Arki mengalihkan panggilan telepon video pada Bella, istrinya ini sangatlah menyedihkan. Dengan wajah yang teramat terpukul, Bella sama sekali tak mau berbicara. Bella begitu kehilangan, ingin rasanya Arki kembali dan memeluk istrinya.
Arki meminta Rafael untuk menyelidiki penyebab kebakaran itu. Setelah menunggu, Rafael mengabarkan jika kasus kebakaran ditutup karena mereka mengatakan jika ini semua kesalahan korsleting listrik.
Setelah Rafael mengabari Arki, dia tak dapat lagi berkabar. Malamnya, ia telepon juga tak diangkat. Arki menelpon Mamanya untuk menanyakan Rafael dan juga Bella.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam, Bang. Ada apa telpon Mama? Tumben, malam-malam telpon?"
"Disini masih sore, Mam," sahut Arki.
"Oh iya, ya. Kan selisih lima jam lebih cepat Paris. Ada apa Bang?"
"Ma, AA ada nggak? Abang mau bicara, ponselnya nggak bisa dihubungi."
"AA belum pulang dari sore. Tadi katanya mau ke kantor polisi, tapi belum juga pulang."
"Bella ada, Ma?" tanya Arki.
"Bella? Kamu tahu dari siapa Bella ada di sini?" Arki lupa, jika Mamanya belum tahu hubungannya dengan Bella. Ia pun berusaha agar tak terlihat aneh.
"Eh, itu, kan AA tadi bareng sama Bella. Siapa tahu dia mengetahui, AA ada di mana."
"Bella baru saja keluar. Tadi sore temannya telpon, katanya mau ketemuan buat ngasih tugas untuk dikumpulkan besok pagi ke kampus."
"Teman? Siapa temannya?" tanya Arki curiga. Setahunya, Bella tak ada teman di Jakarta selain Nayla dan Radit. Itu yang dikatakan Rafael dan Bella waktu itu.
"Kalau nggak salah, Dania. Kenapa Bang? Kok tanya-tanya Bella? Abang naksir sama gadis manis itu?" goda Mama.
"Ma, Arki bisa minta tolong?" timpal.Arki tanpa menjawab pertanyaan Mamanya.
"Apa?"
"Nanti jika mereka semua sudah kembali, kabari Arki secepatnya. Ini penting!"
"Penting banget?"
"Iya, Ma. Jangan lupa, harus kabari nanti sampai jam sepuluh. Kalau mereka belum pulang, Mama harus waspada."
"Kok begitu?" tanya Mama sudah agak khawatir.
"Waspada aja, Rafael sedang menyelidiki kasus kebakaran Bella. Arki takut, dia menjadi sasaran kemarahan pelaku."
"Gimana dong, Bang?" ucap Mama panik.
"Mama berdoa saja, semoga baik-baik saja."
Setelah panggilan terputus, ia kembali memikirkan kemana Rafael pergi.
Arki menelpon Bram, ia sedikit khawatir semua ini akibat ulahnya.
"Hello, Ki. Bagaimana kabarmu?" ucap Bram saat baru mengangkat telpon Arki.
"Om, Rafael mana?" tanya Arki dingin.
"Rafael? Kenapa kamu tanya Rafael sama Om?"
"Tadi Rafael ke kantor Om kan? Dia bahkan tadi meminta Arki untuk mengizinkan masuk ke kantor Om," tanya Arki.
"Tidak, buat apa datang ke kantor Om? Apa kau menyuruhnya datang? Tapi Om tak bertemu," dustanya.
"Jangan bohong, Arki bisa saja bertanya pada satpam di sana. Jika Om berbohong, Arki tak akan tinggal diam."
Arki memutus sambungan teleponnya, dan langsung menghubungi satpam di kantor Om Bram. Namun, Arki kecewa karena mereka mengatakan jika Rafael tak jadi masuk karena tak bertemu Om Bram.
Ternyata Om Bram sudah mengatur sedemikian rupa agar Arki tak curiga dengan semuanya.
"Baiklah, jika begitu. Mari kita bermain, Om. Cukup sudah kesabaran dan rasa hormat ini," batin Arki.
Arki membaringkan tubuhnya kembali dan berpikir keras, langkah apa yang harus ia ambil.
Ponsel Arki berdering, Mamanya menghubunginya kembali.
"Hallo, Ma. Gimana Ma? Semua sudah pulang?"
"Belum, Bang. Mama khawatir sama Aa. Bella juga belum kembali dari tadi," ucap Sesil terisak.
"Oke, Mama tenang ya. Jangan panik, sekarang Mama istirahat saja. Kalau besok mereka belum pulang juga. Mama ke kantor polisi ya! Arki akan segera pulang, setelah mengurus hal penting di sini."
"Iya, kamu jaga diri ya. Mama tunggu kepulanganmu. Jangan lama-lama, Bang."
"Iya, pokoknya Mama harus tenang. Karena jika Mama panik, justru tak akan banyak membantu. Tolong, kali ini Mama harus mendengarkan saran Arki. Besok, setelah dari kantor polisi, hubungi Arki lagi."
Setelah perbincangan serius ini, Arki sudah mempunyai ide untuk membalas Om nya. Ia akan mengalihkan perusahaan yang sedang ia tangani ini menjadi atas namanya. Ia harus berjaga-jaga, jika Omnya mengancamnya lagi. Walaupun tak sebesar Alexa grup, setidaknya usahanya selama di Paris tak sia-sia.
Pintu apartemen di ketuk, Arki beranjak dan hendak membukanya. Dia mengintip dari layar monitor apartemennya, siapa tamu yang datang malam-malam begini.
"Ella?" Terlihat wajah Ella yang berdiri di depan pintu apartemen miliknya dan menunggu membuka untuknya. Terlihat wajah lebam dengan air mata yang turun deras di wajahnya. Bingung, antara hendak membukanya atau tidak. Melihat wajah Ella, ia kasihan. Tapi ia tak mungkin mengizinkan Ella masuk ke apartemennya.
Arki membuka pintu, dan ia keluar apartemennya. Ella tanpa malu langsung memeluk Arki, membuatnya berusaha melepaskannya.
"Han, tolong aku. Izinkan aku menginap di apartemen milikmu malam ini. Ayahku menyuruhku pulang jika sudah berhasil membawamu. Tapi kamu menolak kedatanganku, aku tak ingin bodyguard ayahku kembali memukulku karena aku tak bisa membawamu pulang." Arki tak percaya begitu saja, ia hendak masuk ke dalam apartemennya kembali namun Ella meluruh ke lantai membuat Arki terkejut.
Arki bingung dan akhirnya membawanya masuk ke dalam apartemen miliknya. Arki mengambil kayu putih dan mengoleskannya pada hidung Ella, berharap ia akan segera bangun. Setelah beberapa menit, Ella membuka matanya dan melihat Arki yang berhasil membawanya ke dalam apartemennya.
Ella memeluk Arki dan dia menangis tersedu-sedu di atas ranjang.
"Han, kembalilah padaku. Aku janji kali ini tak mengecewakanmu. Aku akan memilihmu, aku akan menuruti semua ucapanmu. Tolong, jadilah suamiku." Ella mengeratkan pelukannya hingga Arki merasa geram di buatnya.
"Maaf, aku tak bisa. Aku sudah beristri. Cari laki-laki lain yang bisa kamu perdaya, bukan aku! Sekarang, kamu keluar. Sudahi sandiwara palsumu itu. Aku muak! Jangan berharap aku bisa kasihan padamu. Aku membawamu masuk karena aku tak ingin orang lain mengira aku membunuhmu!" sentak Arki.
Ella kembali mengeluarkan air matanya, biasanya Arki tak bisa melihatnya menangis.
"Kamu bohong kan? Kamu hanya mencari alasan agar aku tak lagi mengganggumu. Jika kamu sudah beristri, mana? Mana istrimu? Bulshit dengan omong kosongmu. Bilang saja kalau kamu tak bisa move on dari aku, dan membuat alibi jika kamu sudah beristri."
"Sebaik apa dirimu? Hingga kamu terlalu percaya diri mengatakan itu. Bahkan aku tak perlu mengenalkan istriku padamu. keluar! Atau aku yang akan menyeretmu dari kamarku!" bentak Arki.
Ella menatap tajam Arki, usahanya hari ini untuk membuat Arki kembali mencintainya gagal sudah. Pasti Om Bram akan marah jika ia tak berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Dengan nafas yang memburu, Ella keluar dari apartemen Arki dan menutup pintunya dengan keras.
*Maaf gaes nggak bisa update sampai tamat karena ini Gadis Kecil itu Istriku telah dipinang penerbit❤️ Versi novel, tentu sudah di edit sebaik mungkin. Yang berminat bisa waiting list dari sekarang ... Wa. 0859126470521 masih tahap revisi, jadi harga belum keluar. Kita chat aja biar saling kenal di. Thank papay?