part18

1077 Words
Bram tertawa senang, melihat gadis kecil yang dekat dengan Arki menangis di depan rumahnya yang terbakar. Tak sia-sia usahanya menyuruh orang untuk membuat perhitungan pada gadis yang membuat Arki menolak menikahi Amora. Beruntung Arki tak ada di Indonesia, ia bisa dengan mudah menghancurkan satu per satu duri dalam keinginannya menjadi pemilik satu-satunya Alexa Grup. Dipandanginya video yang dikirimkan orang suruhannya, dan ia merasa puas dengan hasil kerja mereka. Dengan mengandalkan uang dan kekuasaan yang ia miliki, ia bisa membayar rencana busuknya untuk menutup kasus kebakaran ini. Dia juga Membayar beberapa orang untuk menjadi saksi saat kebakaran itu terjadi, dan mereka meminta pihak polisi agar tak mengusut perkara dan mengatakan jika ini semua kesalahan pihak korban kebakaran. Lagi-lagi, ada petugas juga ia bayar untuk memuluskan rencana ini. Bukankah mudah? Menyingkirkan gadis miskin seperti Bella? Ella saja yang menjadi kekasih Arki bisa dengan mudah Bram singkirkan. Ella anak seorang pengusaha juga, sama seperti Arki. Mereka telah menjalin kasih selama dua tahun, dan dengan membuat ayah Ella bangkrut. Bram bisa membuat penawaran menarik agar membatalkan pertunangan Arki dengannya. Tentu saja, mau tak mau Ella menerima tawaran itu. Dia tak ingin ayahnya jatuh bangkrut dan dirinya menjadi wanita miskin. Walau dengan menikahi Arki ia bisa memiliki semua, tapi Bram mengancam akan membuat Arki dicoret dari daftar waris Alexa grup jika menikah dengan Ella. Tentu pilihan sulit bagi Ella, ia mencintai Arki dan juga mencintai keluarganya. Bram menelpon Ella untuk menyusul Arki ke Paris, agar mereka kembali dekat. Dan dia bisa sementara waktu bermain-main dengan gadis kecil yang malang ini. *** Rafael sampai di kantor polisi, ia melangkah masuk dengan percaya diri. "Selamat siang, Pak!" sapa Rafael saat duduk di depan petugas. "Selamat siang! Ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas. "Begini, Pak! Saya selaku keluarga terdekat korban kebakaran di jalan Kencana kemarin, atas nama Ibu Nita dan Pak Arya. Ingin menanyakan, apa penyebab kebakaran rumah itu terjadi?" tanya Rafael penasarn. "Oh, dengan Mas Siapa saya berbicara?" tanya petugas. "Saya Rafael Arka Handoyo." Petugas mencatat nama dan memeriksa ktp Rafael guna di masukan ke daftar tamu. Petugas memeriksa informasi terkait kebakaran kemarin di komputer kepolisian. "Begini, Pak! Menurut data yang kami peroleh, kebakaran yang terjadi ini diakibatkan oleh korsleting listrik. Dan memicu ledakan yang amat besar. Beberapa saksi juga mengatakan, jika mereka mendengar sendiri suara itu." Penjelasan petugas masih membuat Rafael belum puas. "Bapak yakin? Bukan karena ada yang sengaja membakar rumahnya?" tanya Rafael. "Kami yakin, dan kami sudah menyelidiki langsung ke TKP. Dan memang benar adanya, semua ini dikarenakan kesalahan dari pihak korban sendiri." Rafael hanya mendengarkan penjelasan petugas, ia tak mungkin mendesak mencari tahu jika dirinya tak ada disana waktu itu. Mereka juga sudah mendapatkan saksi kejadian, tak mungkin jika ini semua palsu. Setelah mengucapkan terimakasih, Rafael pergi ke rumah Bella. Ia ingin mengecek sendiri secara langsung tempat kejadian kebakaran. Mobil melesat menuju jalan Kencana, tempat di mana rumah Bella hangus terbakar. Ia turun setelah sampai di depan persis rumah Bella. Rafael menyusuri bekas puing-puing yang tersisa dari kebakaran kemarin. Dilihatnya bangunan yang telah rata dengan tanah ini. Ia mencium sebuah bau minyak tanah yang melekat pada sebuah kayu yang hangus ini. "Ini bukan human error! Ini pasti disengaja!" Batin Rafael. Seorang lelaki lewat di samping Rafael, dan dia memanggilnya. "Permisi, Pak! Apa Bapak tinggal di dekat sini?" tanya Rafael. "I_iya. Ada apa Tuan?" jawabnya gugup. "Jangan takut, Pak! Saya hanya mau bertanya. Apa Bapak melihat ada orang yang terlihat mencurigakan sebelum kejadian kebakaran ini?" tanya Rafael lembut. Lelaki itu menggeleng dan mengatakan jika dirinya tak melihat siapapun karena itu sudah malam katanya. "Bapak dengar ada ledakan dari dalam rumah ini tadi malam?" "Iya, Bapak dengar. Waktu itu Bapak lagi ronda, jadi tahu jika ada suara ledakan dari rumah Pak Arya. Kalau begitu, Bapak pamit dulu, mau kerja soalnya. Mari, Tuan!" Lelaki itu pergi meninggalkan Rafael dengan terburu-buru membuat ia sedikit curiga. Ia menelpon kakaknya untuk memberikan laporan bahwa ia sedang menyelidiki kasus kebakaran ini. "Hallo, assalamualaikum, Bang!" "Waalaikumsalam, bagaimana keadaan Bella A?" "Alhamdulillah, sekarang dia sedang tidur di rumah. AA habis dari kepolisian, menanyakan penyebab kebakaran rumah orangtua Bella. Tapi mereka mengatakan, jika ini semua karena konsleting listrik. Tapi, Bang! Saat AA memeriksa bekas kebakaran, tercium bau minyak tanah. Sepertinya ini bukan korsleting listrik, ada oknum yang sengaja membuat kebakaran terjadi. Namun, kepolisian sudah menutup kasus ini. Karena sudah banyak saksi mata yang mengatakan jika mereka mendengar ledakan dari dalam rumah, dan itu membuat kasus ini sudah selesai." Arki tampak diam dan berpikir, mungkinkah Om Bram yang melakukannya. "A, coba kamu ke kantor Om Bram. Tanyakan kejadian ini padanya. Abang curiga dia pelakunya, jika itu benar maka Abang tak akan tinggal diam." "Baik, Bang!" Rafael pergi mengendarai mobilnya dengan cepat menuju kantor Om Bram. Ia langsung berusaha masuk ke kantor walau satpam melarangnya masuk. "Kalian tak tahu saya? Saya Rafael Arka Handoyo. Saya mau ketemu Om Bram," geram Rafael saat kedua satpam itu tetap kekeh ingin bertemu Bram. Rafael menelpon Arki dan memintanya untuk mengizinkan ia masuk ke dalam. Setelah mendengar suara Arki, kedua satpam itu yakin jika dirinya adalah bagian dari Alexa Grup. Rafael masuk ke ruangan Bram tanpa mengetuknya, membuat wanita yang ada di samping Bram terkejut. "A? Bikin kaget saja!" ucap Amora yang tak percaya Rafael ada di kantor ayahnya. "Kenapa? Kalian kaget lihat saya ada di sini? Kalian memang licik semua, membakar rumah Bella dan menjauhkan kami dari Abang. Om lihat apa yang bisa saya lakukan?" ucap Rafael sengit. "Apa maksud AA, kita nggak tahu?" sangkal Amora. Bram tampak sedikit menarik sudut bibirnya dan menatap Rafael sengit. "Kamu anak kecil, datang tiba-tiba langsung marah-marah. Om tak tahu apa yang kamu bicarakan? Siapa Bella yang kamu maksud? Apa dia wanita yang sama dengan kekasih Arki? Wanita miskin yang hidupnya seperti parasit dan sampah bagi Arki. Seharusnya kamu berterima kasih pada Om, karena Abangmu ke Paris. Dan kamu, bisa mendekatinya. Wanita jelek begitu, tak sebanding buat Arki. Dia lebih cocok dengan Amora!" ucap Bram dengan sombongnya. Rafael menghajar wajah sombong Bram yang membuat Amora takut dan berlari ke luar untuk memanggil satpam. Kedua satpam masuk dan mencekal Rafael, hingga ia tak bisa lagi menjangkau Bram yang sudah mengeluarkan darah di hidungnya. "Kalian lihat saja, Abang dan saya tak akan tinggal diam," ancam Rafael. "Pak satpam, bawa dia langsung ke kantor polisi. Dia sudah berani menganiaya saya hingga babak belur begini. Dan sebaiknya, dia mendekam di balik jeruji besi!" Rahang Rafael mengeras, ingin sekali ia menghajar habis tua bangka itu hingga tak berani berlaku kejam lagi pada keluarganya. "Bre***sek! Tunggu pembalasan saya, cih!" Rafael meludahi Bram dan kedua satpam itu membawa Rafael pergi. Bram langsung memanggil polisi dan membuat laporan penganiayaan ini agar Rafael tak lagi berbuat nekat seperti ini. Dia harus tahu, siapa Om Bram sebenarnya. Tak ada yang berani melawan apalagi meludahi wajahnya, Bram murka dan ia tak memberikan ampun pada Rafael. "Bocah ingusan itu harus aku kasih pelajaran!" batin Bram. "Amora, kamu ke rumah tante Sesil. Ajak Bella keluar rumah. Baik-baikin tante dan Pancing wanita miskin itu agar tak berada di rumah Rafael. Kita harus hilangkan dia dari sana, sebelum Arki tahu dan Rafael bertambah murka. Pasti Arki tak akan tinggal diam, cepat!" Perintah Bram. Walau Rafael sedang di dalam penjara, tapi ia tak mau membuat kesalahan lagi dengan melewatkan kesempatan ini. Rafael pasti dengan mudahnya membebaskan diri jika Arki sudah bertindak. "Yah, jangan saya ya! Bagaimana kalau sahabat dia aja. Nanti, kalau Amora yang ajak sama aja bohong. Bisa ketahuan dong kalau kita yang bawa Bella keluar." Bram tampak berpikir dan ada betulnya juga perkataan Amora. "Coba kamu telepon tante Sesil, kamu bilang kamu teman dekatnya! Kamu tahu siapa teman dekat Bella?" "Iya, Dania namanya. Bagus itu ayah, kalau begitu Amora langsung laksanakan." . Amora tampak memanggil nomor tante Sesil dengan nomornya yang lain. Ia juga mengubah sedikit suaranya agar tak terkenali. "Assalamualaikum, Tante. Ini Dania, teman Bella. Apa Bella menginap di situ? Dania khawatir! Karena dari kemarin tidak ada kabar!" ucap Amora. "Waalaikumsalam, oh, ini temannya Bella ya? Iya, ini Bella ada di rumah tante. Rumah nya kebakaran, dan tadi pagi baru saja memakamkan kedua orang tuanya. Apa Dania mau berbicara dengan Bella, biar tante kasihkan ponselnya pada Bella." "Nggak usah tante, Dania cuma minta tolong agar Bella keluar sebentar untuk mengambil tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok pagi. Bilang, Dania tunggu di cafe Sarangheo. Dania nggak bisa ke rumah tante, karena ada acara keluarga di sini sebentar. Dan tak bisa lama-lama. Ini aja sekalian mengikuti acara, bisa nggak, Tan?" "Duh gimana ya? Kasihan Bella, dia sedang berkabung. Biar Tante aja ya, yang ke situ?" "Nggak bisa Tan, soalnya Dania juga mau ada hal penting sama Bella. Plis Tan, bantu Dania ya?" Tampak hening dan Amora merasa sudah kehabisan akal untuk berbohong. "Coba nanti Tante tanyakan langsung dengan Bella. Tante nggak bisa maksa," ucap Sesil. "Baik, terima kasih Tante. Saya tunggu jam tujuh malam di cafe Saranghae ya. Wassalamualaikum." "Waalaikumsalam." Amora menutup teleponnya, dan memberikan tangannya untuk 'tos' dengan ayahnya. "Selanjutnya, kita apakan wanita kerdil itu, Ayah?" tanya Amora. "Kita barter. Kita harus bikin kesepakatan jika mereka mengancam, sementara kita harus sembunyikan gadis itu di desa terpencil. Agar dia tak bisa kabur atau menghubungi Arki maupun Rafael." Amora manggut pertanda setuju dengan rencana licik ayahnya. Kebiasaan bersama ayah yang bersifat rakus, licik dan sombong, membuat Amora merasa dirinya tak jauh beda dengan sang Ayah. Sekarang dirinya tinggal menyuruh orang untuk menculik Bella dan membawanya jauh dari Arki dan Rafael. ? Kalau banyak yang komen, aku lanjutkan??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD