Hari ini, Rafael hendak kembali ke Bogor. Niatnya ia akan ke rumah orangtua Bella, untuk mengajaknya kembali ke kosan. Setelah pamit pada mamanya, Rafael mengemudikan mobilnya cepat menuju rumah Bella.
Rafael terkejut, saat melihat pemandangan di depannya. Rumah Bella sudah hangus tak tersisa. Ia turun dan melihat dengan dekat rumah Bella yang begitu menyedihkan ini. Seorang wanita lewat di depannya, dan Rafael memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf, Bu! Mau tanya! Ini rumah Bella kebakaran kapan?" tanya Rafael.
"Kemarin malam, Mas. Kasihan si Bella, dia kehilangan orang tuanya. Niatnya hari ini mereka akan dimakamkan."
Rafael bertambah terkejut, mendengar kedua orangtua Bella meninggal.
"Lantas, sekarang mereka ada di mana?"
"Jenazah kedua orang tua Bella dan juga Bella ada di rumah sakit."
"Terimakasih, Bu. Atas informasinya!" Rafael bergegas menuju rumah sakit, ia ingin segera melihat kondisi Bella sekarang.
Rafael bingung jika pagi ini Arki telepon, bagaimana ia menjelaskannya pada Abangnya itu jika rumah Bella kebakaran dan orangtua Bella meninggal.
Rafael tiba di rumah sakit, ia langsung menanyakan ruangan Bella pada petugas dan berjalan cepat ke sana.
Dilihatnya, Bella yang sedang tertidur di atas ranjang rumah sakit dengan lemah. Pasti dia amat sangat terpukul.
Rafael mendekati Bella dan terlihat kedua matanya yang sembab. Bella kembali membuka matanya dan seketika ia meneteskan air matanya kembali. Ia beranjak dan memeluk Rafael sambil menangis tersedu-sedu.
"Raf, ayah, ibu, mereka udah ninggalin Bella." Bella masih mengingat semuanya. Dimana dirinya melihat dengan mata kepalanya, orangtuanya hangus terbakar.
"Sabar ya, lo harus kuat. Jika lo kayak gini, bagaimana orang tua lo bisa bahagia di sana."
"Gue mau ikut ke makam, Raf. Gue ingin melihat yang terakhir kalinya wajah orang tua gue." Rafael mengangguk. Rafael keluar ruangan dan memanggil dokter untuk meminta izin kepulangan Bella.
Bella pulang bersamaan dengan Rafael, sedangkan jenazahnya dibawa ambulan. Ia sengaja tak mengizinkan Bella ikut ambulan, karena tak ingin ia histeris di sana.
Mobil sampai di pemakaman. Banyak orang yang berkerumun di sana untuk mengikuti persemayaman terakhir Bu Nita dan suaminya. Mereka mengenal sosok orangtua Bella dengan sangat baik, bahkan mereka terkenal dengan keramah tamahannya.
Beberapa dari mereka menatap Bella kasihan, dan ada juga yang ikut meneteskan air matanya. Jenazah dimasukkan ke liang lahat. Suara adzan dan iqomah terakhir untuk orangtuanya membuat Bella kembali lemas karena tak kuat menahan kesedihannya. Rafael sampai tak tega melihatnya, ia hendak mengajak Bella menuju mobilnya setelah pemakaman selesai namun sepertinya Bella enggan beranjak dari makam.
"Yah, Bu, kenapa begitu cepat ninggalin Bella? Bahkan Ayah sama ibu belum lihat Bella sukses. Bella belum bahagiakan kalian, Bella minta maaf sudah mengecewakan kalian." Bella kembali menangis di atas nisan bertuliskan nama ke dua orang tuanya. Makam sengaja di tempatkan sejajar agar mudah bagi Bella jika berziarah.
"Sudah, Bel. Jangan beratkan kepergian orang tuamu. Doakan saja mereka, ayo kita pulang!" ajak Rafael menepuk bahu Bella agar ia bisa mengikhlaskan kepergian orangtuanya.
Bella yang masih lemah mencoba menahan dirinya agar tak kembali limbung saat Rafael mengajaknya pulang.
"kita pulang ke rumah gue aja, ya? Di sana lo nggak sendiri. Ada mertua lo juga, ya?" Bella tak berbicara sedikitpun, ia masih menatap lurus ke depan dengan pandangan kosongnya.
Mobil sampai di pelataran rumah. Rafael membantu Bella untuk turun dan membawanya masuk ke dalam.
"Assalamualaikum, Ma!" Salam Rafael. Sesil yang baru selesai memasak kaget melihat Bella yang datang ke rumahnya dengan mata yang sembab.
"Waalaikumsalam. Loh, A! Nggak jadi ke Bogor? Kamu apakan gadis cantik ini sampai menangis begini? Ayo, Nak! Masuk!" cecar sesil saat melihat Rafael membawa Bella dalam keadaan sembab.
Rafael mengajak Bella untuk duduk dahulu, ia membawa mamanya untuk berbicara hal ia tanyakan tadi.
"Sini, Ma! Sebentar!"
"Apa sih, A? Itu Bella kamu apakan?"
"Makannya AA mau ngomong, Mama merepet terus kaya gas bocor." Mama Sesil mendelik kesal pada anaknya ini. Lalu ia kembali fokus mendengar penjelasan anaknya.
"Gini, Ma! Bella itu sedang terkena musibah. Rumahnya kebakaran, dan semua hangus tak tersisa. Orang Tuanya juga meninggal akibat kebakaran itu. Makanya AA bawa ke sini. Dia terpukul sampai pingsan berulang-ulang, AA tak tega. Biarkan Bella menginap di sini ya, Ma! Pliss!"
Mama Sesil tak tega melihat kesedihan Bella, ia pun mengizinkan Bella untuk sementara waktu di rumahnya.
Mama Sesil mendekati Bella dan memeluknya erat, ia hendak menghibur sahabat Rafael yang malang ini. Ia tak tahu jika yang ia peluk adalah menantunya sendiri.
"Sabar ya, Bell. Mama turut berduka cita. Untuk sementara kamu tinggal di sini dulu sampai sedihmu berkurang, kamu juga panggil tante mama aja. Anggep tante ini, ibu kamu sendiri. Ya, Sayang?" Bella mengangguk dan membalas pelukan hangat mertuanya.
"A, ajak Bella masuk ke kamar tamu. Biarkan dia istirahat!" Rafael membawa Bella ke kamar tamu, ia membiarkan kakak iparnya ini sedikit tenang.
Rafael kembali duduk menatap mamanya yang sedang menata makanan.
"A, rumah Bella kebakaran kenapa katanya? Apa pemicu kebakaran yang terjadi?" tanya Sesil penasaran.
"AA nggak tahu, mungkin nanti AA akan tanya sama orang sekitar. Atau polisi yang menyelidikinya."
"Kamu nyuruh polisi buat menyelidiki kebakaran itu?" tanya Sesil.
"Belum, tapi akan."
"Perhatian sekali sama Bella, naksir?" goda Sesil.
"Ya nggak lah, dia udah punya pasangan!" jawab Rafael sambil mencomot pisang goreng yang masih panas.
"Udah punya pasangan kok, kamu yang bawa ke sini? Pacarnya nggak nemenin dia saat kayak gini? Jahat amat pacarnya. Kenapa bukan kamu aja yang jadi pacarnya? Mama suka loh sama Bella. Anaknya rajin, ramah, baik lagi," puji Sesil.
"Bukan jahat, Ma. Tapi jauh! Pacarnya jauh di negeri orang. Kerja soalnya!"
Mama Sesil hanya mengangguk dan kembali menata makanannya. Ponsel Rafael berdering, ia beranjak untuk mengangkatnya dan menjauhkan diri dari Mamanya.
"Kenapa, Bang?" tanya Rafael.
"Kamu di mana?" tanya Arki.
"Lagi di rumah sama Mama. Ada apa?"
"Perasaan Abang nggak enak dari semalam. Padahal tadi malam sudah telpon Bella, apa kamu sudah melihatnya di rumah orangtuanya?" ucapnya terlihat khawatir.
"Sudah, dan dia sekarang ada di rumah kita. AA bawa ke sini karena dia sedang terkena musibah. Rumahnya kebakaran dan orang tuanya meninggal semua. AA nggak tega jika melihatnya sedih, jadi AA bawa ke rumah."
Arki terkejut mendengar kabar duka dari istrinya. Pantas saja perasaannya tak enak sedari malam.
"Kasihkan ponselmu pada Bella, Abang mau ngomong!"
Rafael mengetuk pintu kamar Bella. Dibukanya perlahan pintu kamar dan terlihat ia sedang memandang lurus ke jendela kamarnya.
"Bell, Abang telepon. Mau ngomong katanya!" ucap Rafael memberikan ponselnya. Rafael memilih pergi agar tak mengganggu pembicaraan mereka berdua.
Panggilan telepon berganti dengan panggilan video.
"Assalamualaikum, Dek!"
"Waalaikumsalam," jawab Bella lirih diiringi isakan kecil dari bibirnya.
Mengetahui respon menyedihkan dari istrinya, ia lantas mencoba menghiburnya.
"Dek? Sabar ya! Maafkan Abang nggak bisa memelukmu saat sedih begini. Ingin rasanya ada di sana dan menemanimu di saat begini.
Melihatmu bersedih, hati Abang ikut terluka. Sabar dan ikhlaskan, Mungkin ada rencana Tuhan yang lebih indah untukmu. Sudah ya, jangan menangis terus. Adek mau, orangtua kita bersedih karena melihat anak satu-satunya ini menangis tanpa henti. Sedih boleh, meratap jangan. Semangatlah, mereka pasti akan bahagia di sana jika anaknya ini mau tersenyum."
Bella mengangkat kepalanya mencoba menatap sang suami. Bahkan ia tak dapat tersenyum di saat sedih begini. Ia kembali mengeluarkan air mata dan membuat Arki begitu iba melihatnya.
"Hey, jangan nangis! Semua orang akan mati, hanya tinggal bagaimana dan kapan giliran ajal menjemputnya. Mungkin cara orangtua Adik yang meninggal begitu cepat, tapi yakinlah. Mereka pasti bahagia dan tenang. Semangat , Sayang! Jangan buat Abang bertambah sedih di sini. Senyum, biar Abang semangat kerja biar cepat pulang."
Bella sedikit menarik bibirnya walau terasa berat, ia kini tak memiliki siapapun. Orang tua yang menjadikan ia alasan untuk semangat menggapai cita-citanya, kini telah meninggalkannya selamanya.
Suami? Kini tak mungkin ia menggantungkan hidupnya pada orang yang jauh di sana. Bella menghembuskan nafasnya berat, dan hanya mendengarkan perkataan Arki tanpa menjawabnya. Mulutnya tak bisa berbicara, walau hanya sepatah katapun. Rasa kehilangan orang yang dicintai membuat ia terpukul.
Setelah Arki menelpon, Bella meletakkan ponsel Rafael di atas laci. Ia membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Berharap ketika bangun nanti, ini semua hanyalah mimpi.
Rafael memasuki kamar Bella kembali untuk melihat ponselnya yang tadi dipakai Bella menelpon Abangnya. Dilihatnya tubuh yang meringkuk di atas ranjang dan Rafael melihatnya dengan iba. Di selimuti tubuh kecil kakak iparnya ini, dan mengambil ponselnya dengan pelan.
Rafael keluar kamar dengan pelan hingga mamanya mengagetkannya.
"Kenapa, A? Mindik-mindik kaya maling! Kamu jangan macam-macam sama pacar orang! Ngapain masuk kamar Bella?"
"Sst! Mama jangan berisik ih!" Rafael mengajak mamanya menjauh dari kamar Bella dan menuntunnya ke ruang tamu.
"Bella lagi tidur, Ma! Jadi tadi habis pinjam ponsel AA buat telpon. Rafael tengok, udah tidur pules."
"Nelpon siapa?"
"Mana AA tahu." Rafael membaringkan tubuhnya di sofa dan memikirkan hal terkait kebakaran itu.
"Ma, AA mau ke kepolisian. Menanyakan penyebab kebakaran di rumah Bella. Titip Bella ya, Mam!" ujar Rafael beranjak dari pembaringannya.
"Nitip kaya barang aja. Baiklah, kamu hati-hati jangan ngebut naik mobilnya."
"Iya, Ma!"
Rafael segera menyambar jaketnya dan pergi menaiki mobil pajero milik Abangnya. Rasa penasaran akan kebakaran di rumah Bella membuat ia harus tahu, apa penyebabnya.