part16

1874 Words
Rafael mendapatkan chat berulang dari Abangnya, Arki. Ia sudah mengatakan jika ponsel Bella rusak, dan harus menunggu Bella memperbaikinya. Namun, Abangnya sangat khawatir membuat Rafael mau tak mau harus ke Bogor menemui Bella. Rafael melihat jam di dinding, menunjukan pukul sembilan pagi. Hari ini hari minggu, ia berencana mengajak mama ke makam ayah. "A, sudah bangun?" ucap mama Sesil saat baru masuk kamar Rafael. "Ma, AA mau ajak Mama ke makam ayah! Mumpung hari ini AA sedang di Jakarta. Mama mau nggak ikut AA?" ajak Rafael sambil memeluk mamanya. Rafael memang cowok yang terlihat cool dan selengekan jika di luar, tapi jika di rumah ia akan menjadi anak yang manja untuk mamanya. "Mama hampir setiap minggu ke makam ayahmu. Tapi kalau kamu mau ditemani Mama, ayo! Mama siap-siap dulu ya! AA juga mandi sana, bau asem!" ucap mama Sesil menutup hidungnya. Rafael tersenyum dan melepaskan pelukannya pada wanita yang sudah melahirkannya ini. Rafael beranjak ke kamar mandi, ia tak mendengar jika dari tadi ponselnya berdering. Dania menghubungi Rafael, ia mengabarkan jika Bella hari ini tak berada di kosnya. Rafael yang baru membacanya setelah selesai mandi, langsung keluar kamarnya. "Ma!" panggil Rafael. "Ya? Kenapa A?" sahut mama Sesil. "Ma, AA ke makamnya nanti sore aja ya! Rafael ada urusan penting!" ucap Rafael terburu-buru. "Loh, mau kemana, A? Buru-buru banget, cewek kamu minta ketemuan mendadak?" tanya mama Sesil ingin tahu. "Bukan, Ma! Ini penting, karena berhubungan dengan is_" Hampir saja Rafael keceplosan mengatakan rahasia Abangnya. Bisa habis mamanya tanya rumus nanti, panjang kali lebar kemana-mana. "Dengan siapa, A?" sambung mama Sesil. "Dengan jadwal istimewa Rafael yang hampir saja lupa! Mama nggak papa kan, Rafael tinggal? Nanti sore AA balik lagi ke Jakarta," ucap Rafael. "Nggak papa, lagian Mama juga hanya nemenin kamu kan, ke makam." "Baiklah, AA pergi dulu ya! Waasalamualaikum," pamit Rafael mencium tangan mamanya. Rafael mengendarai mobil Arki, karena mobil miliknya ia tinggal di rumah Seno. Kemarin Seno meminjam mobilnya untuk mengantar kekasihnya ke puncak, dan Rafael mengizinkan Seno membawanya. Rafael tipe lelaki yang loyal dan tidak pelit. Ia juga setia kawan dan suka menolong temannya yang kesusahan. Walaupun, kadang temannya sering memanfaatkan kebaikannya, bagi Rafael tak masalah. Asal mereka tak mengusik kehidupan pribadinya. Rafael telah sampai di kosan Bella. Dania yang menunggu kedatangan Rafael panik, ia takut Bella kemana-mana. Dia tahu jika Bella sedang hamil dari Rafael, karena kemarin ia sempat menitipkan Bella pada Dania. "Lo ke sini jam berapa?" tanya Rafael mencari tahu. "Jam sepuluh, tapi Bella tak menyahut ketukan pintu dariku. Gimana ini ya?" tanya Dania panik. "Pake acara ponsel Kusu rusak lagi, argh!" Rafael mengacak rambutnya kasar. Dania yang melihat kekhawatiran Rafael merasa iba dan ingin membantu mencari Bella. "Coba kita ke Cafe, mungkin dia ada di sana!" Rafael mengangguk dan menaiki mobilnya dengan Dania. Rafael memarkirkan mobilnya dan segera turun menemui Coki. "Woi, A! Tumben minggu ke sini, bareng sama Dania juga. Kalian jadian?" celetuk Coki menatap Rafael dan Dania bergantian. "Bang, Bella mana?" tanya Rafael dengan wajah dinginnya. "Bella? Hari ini dia nggak berangkat! Tadi pagi udah izin, katanya mau ke Jakarta menemui orang tuanya! Kenapa?" "Oh, nggak papa! Gue kira pergi ke mana. Dania khawatir soalnya," pungkas Rafael. Dania melirik Rafael yang mengatasnamakan dirinya, padahal dari tadi Rafael yang terlihat khawatir. Setelah mengetahui keberadaan Bella, Rafael mengajak Dania untuk keluar Cafe. "Saking paniknya, gue sampai nggak kepikiran telepon Bang Coki!" ucap Rafael saat masuk ke dalam mobil. "Maaf ya, Raf! Gue nggak teliti! Gue panik, sama kayak lo! Pengalaman saat masuk rumah sakit waktu itu, membuat kehilangan Bella menjadi ketakutan sendiri bagiku," papar Dania menunduk. "Nggak papa, nggak cuma lo aja! Nih, suaminya juga, sehari nelpon melebihi jadwal keliling satpam komplek." Rafael menunjukan panggilan tak terjawab Arki pada Dania, dan dia terkejut. "Lima puluh panggilan tak terjawab?" "Dari semalam kakakku begini. Tapi karena gue mau habisin waktu libur gue sama mama, jadi gue nggak ke Bogor. Begitu denger lo telpon Bella nggak di kamar kos, paniklah. Bisa habis gue nanti kalau benar Bella ilang!" pungkas Rafael. "Maaf, Raf! Gue salah!" "Hey, kok malah lo yang minta maaf. Ya udah, gue anter lo pulang. Gue mau langsung balik ke Jakarta, ada janji sama nyokap soalnya." "Ke kosan Bella ya, motorku di sana!" Rafael mengangguk dan melajukan mobilnya ke kosan Bella. *** Bella pandangi apartemen milik suaminya. Hari ini, ia memutuskan untuk singgah dahulu ke sini sebelum pulang ke rumah. Ia menaruh tasnya dan melihat ke seluruh ruangan apartemen yang diberikan suaminya sebagai mahar pernikahannya. Bella tertegun saat baru masuk ke apartrmen miliknya, ia melihat foto wajah lelaki yang ia rindukan ini tampak gagah walau dahulu ia takuti untuk bertemu. Wajah yang kini ia selalu mimpikan dalam tidurnya, dengan senyum yang terpancar dengan dua orang di sampingnya. Bella juga mengusap foto keluarga Arki, yang amat sangat terlihat bahagia. Bella tak dapat mengabari kepulangannya ke Jakarta, karena ponselnya masih rusak. Tetapi ia sudah mengirim pesan pada Bang Coki, kalau ia pulang ke Jakarta. Setelah puas memandangi foto Arki, Bella membuka lemari baju. Ia hendak mandi karena badannya sudah sangat lelah ingin istirahat. Di dalam lemari, hanya ada beberapa pakaian yang Arki punya. Tak ada satupun pakaian wanita, membuat Bella menghembuskan nafasnya berat. Bella memilih memasuki kamar mandi dahulu sebelum memakainya di dalam. Selesai mandi Bella mengambil kaos Arki dan celana pendek miliknya. Saat di pakai ternyata celana itu kebesaran, dan akhirnya ia tidur hanya memakai kaos saja. 'Nggak papa lah, nanti kalau ke rumah Ibu aku pakai baju yang kotor punyaku lagi. Yang penting aku bisa tidur dulu, capek!' gumam Bella dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Lima jam sudah Bella tertidur, dan ia mengucek matanya dan melihat jam di dinding pukul lima setengah enam sore. "Aku belum sholat ashar" Bella bergegas mengambil air wudhu dan melakukan ibadah ashar. Untung dia membawa mukena di tasnya, karena ibunya selalu memberinya nasihat agar tak lupa membawa mukena kemanapun dirinya pergi. Setelah sholat ashar yang memang di akhir waktu, membuat Bella harus menunggu sebentar lagi untuk sholat isya. Barulah setelah itu, ia akan ke rumah orangtuanya. Perut Bella benar-benar lapar, ia ingin sekali makan karena sedari siang ia sama sekali belum memasukkan makanan ke perutnya. Bella ingin keluar apartemen, tapi tanggung karena sebentar lagi ia juga akan pulang. Dengan menahan lapar, ia tunggu sampai sholat magrib masuk. Azan berkumandang, Bella segera melakukan sholat dan bergegas menaiki motornya untuk pulang. Diketuknya pintu rumah kedua orang tua Bella, dan tampak wajah tua Ibu terkejut dan memeluknya erat. "Bella!!" pekik ibu saat baru melihat anaknya pulang setelah hampir tiga bulan tak pulang. Ia begitu terkejut sekaligus bahagia melihat Bella datang ke rumah. "Assalamualaikum, Bu!" Peluk Bella dan menciumi ibunya rindu. "Waalaikumsalam, Bell! Ayo masuk! Bapak sedang di dalam." "Bagaimana kabar ayah Ibu? Sehat?" tanya Bella sembari berjalan masuk. "Alhamdulillah, kami sehat. Kamu gimana kuliahnya? Lancar?" tanya bu Nita. "Lancar, Bu! Cucu Ibu juga sehat, pintar. Mau diajak kerja sama buat berjuang keras menggapai harapan bersama ibunya ini!" ucap Bella mengelus perutnya yang sudah mulai membesar. Bu Nita tersenyum dan memanggil suaminya untuk keluar kamar. "Bella? Anak ayah pulang! Ayah rindu sekali," ucap Pak Arya yang baru keluar dari kamarnya. Bella memeluk anak perempuan satu-satunya ini dengan erat. "Bella juga rindu Ayah sama Ibu." Setelah melepas rindu dengan bercanda serta bercengkrama dan juga makan malam tentunya, kini ia telah berada di kamarnya. Malam ini ia akan tidur di sini, sebelum besok ia kembali ke Bogor. "Ini selimut buat kamu tidur, di sini sedang dingin. Di kota, tapi dingin. Tak biasanya!" ucap Bu Nita memberikan selimut tebal pada Bella. "Makasih Bu. Bu, Bella sayang ayah dan Ibu. Bella kangen sama Ibu, pengen peluk ibu." Bella memeluk Bu Nita erat membuat ia sedikit heran dengan anaknya ini. "Ya sudah, kamu istirahat! Pasti kamu capek perjalanan dari Bogor ke Jakarta." "Iya, Bu! Ibu juga, mimpi indah ya!" Bu Nita mengusap kepala Bella lalu menciumnya ketika hendak beranjak dari kamar Bella. "Bu!" "Apalagi?" tanya Bu Nita heran. "Boleh pinjam ponsel? Ponsel Bella rusak dan belum Bella perbaiki," ucap Bella sambil tersenyum penuh arti. Bu Nita merogoh sakunya dan memberikan ponsel miliknya pada Bella dan pergi ke kamarnya. Bella melihat chat yang masuk ke dalam nomor ibunya ini. 'Banyak chat masuk dari Arki?' batin Bella bertanya-tanya. Bella membaca seluruh pesan masuk dan ia terkejut. Ternyata selama ini, uang yang dikirimkan orang tuanya adalah milik suaminya yang ditransfer ke rekening ibunya. Bella memanggil nomor Arki hendak menyalurkan rindu yang dari kemarin tak terbalas. "Assalamualaikum, Bu!" suara Arki terdengar dari balik telepon. Bella diam dan sengaja tak buru-buru berbicara, agar bisa mengerjai suaminya. "Hallo, Bu? Ada apa telepon sore-sore? Hallo?" Arki berbicara seakan panik membuat Bella tak tega. "Wassalamualaikum, Abang!" sapa Bella. Arki langsung mengetahui jika yang sedang bicara dengannya adalah Bella. "Dek, ini beneran kamu? Ya Allah, Abang sampai jantungan mencari kabarmu hari ini. Rafael sampai Abang telpon berulang-ulang untuk mencarimu! Malah lagi di Jakarta ya?" ucap ya. "Iya, maaf ya Bang! Bella nggak ngasih tahu karena ponsel Bella rusak parah dan tak bisa diperbaiki!" ucap Bella. "Besok kamu beli ponsel baru ajah. Ya?" Imbuh Arki. "Mana bisa? Bella belum gajian, nggak punya uang!" Bella sengaja memancing perkataan ini agar Arki jujur dengan transferan uang yang ia kirim pada orangtuanya. "Nggak usah dipikirkan, besok Abang kasih kirim ke rekening ibumu!"sahut Arki. "Sejak kapan ibu punya rekening?" Arki tampak diam, dia merasa skak mat karena ibunya Bella memang tak memiliki rekening bank sebelumnya. "Em, itu rahasia Abang! Nanti Abang kirim buat kamu beli ponsel, yang bagus sekalian biar nggak cepet rusak!" ucap Arki. "Abang kirim uang tiap bulan ya sama ibu?" ucap Bella menyelidik. "Hehehe, iya! Abang hanya ingin memenuhi kewajiban Abang sebagai suamimu. Kenapa?" "Lain kali, kalau mau melakukan sesuatu bilang ya, Bang! Terimakasih sudah memberi begitu banyak sama Bella." "Siap, sama-sama, Sayang! Kamu udah makan?" "Sudah!" balas Bella singkat. "Aku mau tidur ya, Bang! Lelah rasanya, jalan dari Bogor ke Jakarta." "Baiklah, kamu jangan terlalu lelah, jaga anak kita dengan baik. Good night!" "Night! Dad!" Bella memejamkan matanya, setelah berbicara dengan suaminya lewat telepon. Saat sedang terlelap, ia merasa badannya sedikit panas. Ia membuka matanya, dan melihat api yang sudah mengelilingi kamarnya. Bella kaget dan langsung memanggil ibu dan Ayahnya. "Api?! Ibu?! Ayah?!" Teriak Bella. Bella berlari hendak menghindari kobaran Api yang sudah membesar di kamarnya. Ayah dan Ibu Bella yang masih di dalam kamar dengan api yang berkobar membuat Bella panik. Bella keluar rumah dan memanggil para tetangga untuk membantunya. Semua orang berkerumun, dan ada dari mereka yang memanggil pemadam kebakaran. Bella mencoba masuk kembali ke dalam rumahnya, tapi warga melarangnya karena api yang sudah membesar. "Lepaskan saya! Saya mau menolong ibu dan ayah di dalam!" Bella terus meraung dan berusaha masuk. Namun, api yang hampir melahap habis rumahnya membuat Warga terus mencegah Bella dan mereka berusaha membantu memadamkannya. Bella terduduk sambil menangis, melihat dengan mata kepalanya sendiri rumahnya yang terbakar. Warga yang hendak menolongnya juga tak berani masuk, karena bangunan sudah tak lagi berbentuk. "Ayah! Ibu!" Jerit Bella menangisi kemalangan yang terjadi padanya. Petugas kebakaran datang setengah jam kemudian. Dan bangunan yang memang hampir separuhnya terbuat dari kayu itu, membuat rumah itu habis terbakar dengan cepat. Bella histeris ketika melihat ayah dan ibunya berhasil dibawa keluar rumah oleh petugas damkar dalam keadaan hangus terbakar. "Ayah! Ibu!" Jerit Bella sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran dan dibawa warga ke rumah sakit. "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD