5. Dia sibuk, Bu

1294 Words
“Ini, sudah aku tanda tangani,” ucap Gladys. Mark menerimanya dan minta Gladys duduk. “Duduk dulu disini, aku mau ke atas!” Gladys mengangguk, ia duduk dan mengamati keadaan sekitarnya. Suasana disini lebih menyeramkan dibanding sebuah pemakaman. Ia terpaksa menyalakan ponselnya dan bermain game. Cukup lama ia di tinggal dan karena bingung takut ada apa-apa, Gladys terpaksa naik ke atas dan menaiki tangga satu persatu. ‘Sedang apa dia di atas?’ batinnya. “Aku disini,” ucap Mark dengan lemah. Gladys membalikkan badannya dan terkejut, “Apa yang terjadi?” tanyanya. Pria itu tergeletak di lantai dan terlihat lemah. Gladys memekik pelan karena melihat darah mengucur dari tangannya. “A-apa yang terjadi denganmu?” Pria itu tak menjawabnya, ia pingsan dan tergeletak di atas lantai. Gladys menjerit karena hidung Mark berdarah. Segera ia menghubungi rumah sakit. Namun, saat ia ditanya alamatnya kini, Gladys kebingungan. Ia tak tahu diaman mereka kini. Akhirnya, ia mengobati sendiri luka itu dan pria itu masih saja tak sadarkan diri. Tubuh pria itu cukup berat dan tak bisa mengangkatnya sehingga membuat Gladys terpaksa meletakkan kembali ke atas lantai dan dia masuk ke salah satu kamar untuk mengambil sebuah bantal. Karena takut terjadi sesuatu, ia membaringkan tubuh Mark dengan kepala beralaskan bantal saja di kepalanya. Ia mengoleskan minyak angin ke hidung dan bagian lainnya. Tak berapa lama, Mark terbangun. Wajahnya yang pucat membuat Gladys takut kalau Mark memiliki suatu penyakit. “Terima kasih, kamu mau membantuku,” ucapnya. “Sebenarnya apa yang terjadi?” Pria itu hanya diam saja dan memegangi hidungnya yang masih berdarah. “Hidungku panas,” keluhnya. “Biar aku usap pakai tisu, setidaknya ini bisa membantu menghentikannya,” ucap Gladys. Pria itu menatapnya, bola matanya yang hitam tak berkedip saat menatap dirinya. “Ini! Pegang tisu ini!” ucap Maya. Jengah ia merasakan tatapan aneh pada diri Mark. Jantungnya berdegup kencang saat mereka beradu pandang. “Akan aku antar kamu pulang, ayo!” “Tapi, kamu masih sakit. Aku tak mau naik mobil di supiri orang yang sedang sakit,” protes Gladys. “Cerewetnya kamu!” ketusnya. Pria itu bergegas berdiri dan berjalan dengan cepat menuju ke bawah. Mungkinkah pria ini menjadi salah tingkah, saat ia menatap balik karena pria itu terus memandanginya. Gladys pun mengikuti langkah Mark dan mereka pun pulang. ** “Dia tak mau kesini, ya Dys?” “Belum bisa kesini, Bu,” jawabnya. “Ckck ... kenapa tak mau kesini, aneh,” “Sibuk barangkali, Gladys sudah mulai pesan beberapa hal menjelang pernikahan. Tolong, Bu jangan buat Gladys makin pusing,” “Kamu juga mau menikah tapi kok nggak ada persiapan yang matang. Kalian menikah resmi, kan?” “Iya, Alhamdulillah resmi Bu,” jawab Gladys. “Sekali lagi ibu tegaskan, agar membawanya kesini dan jangan ada alasan karena kalian akan menikah besok,” “Satu minggu lagi, Bu,” ucap Gladys. “Ibu harus tahu sebelum kamu menikah, ibu harus tahu siapa pria itu dan apa tujuan dia menikahimu. Ibu akan sendiri nantinya jadi harus tahu segalanya tentang kalian,” Gladys tengah mencuci piring. Sama sekali ia lupa untuk minta Mark datang ke rumahnya. Ternyata ibunya malah menanyainya dan minta ia memikirkan lagi tentang pernikahannya. “Bu, maaf tapi kita nanti disuruh pindah ke tempat mereka,” ucap Gladys. “Untuk apa? Ibu tak akan meninggalkan rumah ini. Ayahmu membelikan ini untuk ibu dan tak akan ibu tinggalkan bagaimanapun juga,” “Dia sibuk, Bu. Gladys saja sulit untuk menemuinya,” “Kalau begitu jangan menikahinya. Biarkan dia dengan kesibukannya,” Gladys terpaksa mengalah, ia tak membantah ucapan ibunya. “Akan aku usahakan, Bu. Besok kami bertemu dan ...” “... alangkah baiknya dia datang mendekat dan tahu keadaan rumah ini,” “Ya, Bu. Gladys akan mengusahakannya,” ** Pagi ini meski cerah ternyata turun gerimis sedikit dan udara menjadi dingin. Gladys sedang berada di sebuah butik, ia diminta mengukur gaun pengantin. Hanya seorang pelayan saja yang menemaninya dan Gladys bingung hendak mengutarakan maksud hati ibunya agar bisa bertemu dengan pria yang menjadi calon menantunya. “Kemana Tuan pergi? Apa dia akan menyusul kesini?” tanya Gladys. “Ya, Tuan nanti akan kesini. Sebenarnya tadi akan pergi ke kantor tapi oleh Nyonya Besar diminta untuk menemani Nona,” Gladys agak tersanjung lantaran orang tua pria itu seolah setuju dengan pernikahan mereka. Ia hanya sekali bertemu dan sudah tahu kalau Mama dari pria yang bernama Mark sangat ramah. Ia berharap semoga tidak mendapatkan halangan apapun. “Ehem ...” Sebuah deheman yang seperti sengaja di tujukan padanya terdengar dari arah belakang. Gladys melihat Mark sudah berdiri dengan memegang sebuah kemeja. Ia sudah memilih kemeja rupanya dan minta ia untuk memilih lagi gaun yang lain. “Aku sudah memilih, ini semua bahkan sudah aku coba,” ucap Gladys. “Sebaiknya jangan asal pilih karena aku tak mau nanti kita sampai kalah menawan di antara para tamu yang datang,” ucapnya. “Ya, aku sudah memilih dua gaun itu. Kamu bisa memberinya penilaian,” Mark menatap matanya, membuat Gladys gugup dan langsung berpura-pura mengambil lagi sebuah gaun dan ternyata Mark menyukainya. “Ya, itu satu lagi. Pokoknya jangan sampai buat aku malu, nanti akan ada banyak tamu yang datang,” ucap pria itu. Gladys mengajaknya bicara tentang keinginan ibunya. “Tuan, aku ingin Tuan datang ke rumah,” “Mau apa? Aku sibuk,” ujarnya. “Ibu tak akan mengijinkanku menikah kalau Tuan tak mau datang dan memperkenalkan diri,” ucap Gladys akhirnya. Pria itu menoleh dan menatapnya tajam. “Cari cara agar kamu tidak membuat ibumu cemas! Aku sibuk dan bukan pengangguran, paham!” Gladys membalas tatapannya yang benar-benar tajam sambil melihat ke bawah sampai ke atas tubuhnya. Pria itu memalingkan wajahnya. Gladys terpaksa memikirkan cara lain agar bisa membujuk pria kaya ini untuk datang menemui ibunya. “Tuan, setelah ini bisakah kamu ikut aku? Tolong Tuan, aku mohon, agar ibuku lebih tenang dan percaya kalau aku benar-benar akan menikah,” Mark, pria kaya itu tengah berpikir, ia diam tapi sambil memandang ke arah lain. Ia memalingkan wajahnya dari pandangan Gladys. Lama mereka saling terdiam, hingga Mark menyuruh beberapa pelayan butik untuk segera memberikan harga atas pesanan yang ia miliki. “Ini kartuku, segera kirimkan jika sudah siap dan ukurannya sesuai, pastikan gadis ini dilayani dengan baik sampai ia mendapatkan gaunnya yang terbaik!” “Baik, Tuan,” Setelah itu, Mark menoleh pada Gladys dan mengajaknya pulang bersama. “Ayo pulang!” katanya. Gladys mengangguk, ia tak mau lagi meminta pria itu untuk datang ke rumah. Tak mungkin baginya mendapat tempat spesial di hati pria yang mengajaknya menikah dengan sebuah perjanjian. Tak lama setelah keduanya keluar, Gladys diminta masuk ke dalam mobilnya dan sepeda listriknya di masukkan ke dalam bagasi mobilnya. “Kita mau kemana?” tanya Gladys. Pria itu tak menjawabnya, bahkan sekedar meliriknya pun tidak. Ia kemudian memilih diam karena pertanyaannya tak dijawab atau di perhatikan oleh Mark. Gladys memilih untuk mengecek ponselnya. Ia mengira akan ada yang mengiriminya pesan atau ada panggilan yang masuk. “Jangan sebarkan pada siapapun nomor yang aku berikan untukmu. Ponsel itu kau pegang juga hanya untuk bisa ku hubungi,” ujar Mark. Pria itu dengan tegas berkata kalau ia tak boleh berhubungan dengan siapapun selama pernikahan. Sungguh Gladys harus bersiap-siap untuk menjadi seorang pengantin rahasia nantinya. Mobil ini berjalan menuju ke arah jalan dimana rumahnya berada. Gladys tersenyum, ia melirik ke arah Mark. Tak ada waktu baginya untuk bertanya karena mobil yang membawa keduanya kini sudah masuk dan bahkan berhenti di depan rumahnya. Pintu rumah terbuka dan ternyata ada tamu yang datang. Ada Haris yang sedang mengobrol dengan ibunya. Gladys kaget karena Haris tahu-tahu sudah berada di rumahnya. “Dys, ibumu pingsan tadi. Jadi, aku kesini,” ucap Haris padahal ia belum bertanya padanya. “Ibu pingsan?” tanya Gladys panik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD