bc

Menikahi CEO Tanpa Cinta

book_age18+
53
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
blue collar
drama
city
like
intro-logo
Blurb

Gladys, adalah seorang gadis dari kalangan biasa. Ia mencari pekerjaan dan kebingungan karena tak satupun dari perusahaan yang ia masuki menerima lamaran darinya. Suatu ketika ia tak sengaja menabrak seseorang saat naik sepeda motor butut miliknya dan orang itu memakinya dengan seenaknya sehingga Gladys menangis. Ia tak bisa berkata-kata saat didapatinya ternyata mobilnya lecet. "Dasar gadis udik! Mobil mahal begini bisa kamu tabrak seenaknya!"

"Memangnya kamu lecet? Nggak, kan?"Pria itu menatapnya tajam dan menarik tangannya.

"Lihat baik-baik!" tunjuknya pada mobil yang dirasa tak lecet tapi ya ampun ada sebuah goresan sedikit dan pria itu mengatakan jika ia melukai cukup parah mobilnya.

Alhasil, ia diminta mengganti dan dalam beberapa waktu mereka terlibat sebuah kisah. Keduanya akan menikah tapi Gladys diminta menyetujui syarat yang diajukan dan akankah kehidupan keduanya bahagia atau diliputi sebuah permasalahan.

Kisah Gladys dan pria itu selalu mewarnai isi cerita ini dengan beberapa kejadian dan juga suasana yang berbeda.

Ikuti terus ceritanya dan bisa follow IG penulis di: KILAU.CANTIKA

chap-preview
Free preview
1. Menabrak
Setitik demi setitik air terlihat di setiap tetesan air hujan yang turun membasahi sudut kota ini. Seorang gadis bersungut-sungut karena tak mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Gladys Senjarani, adalah nama pemilik dari gadis yang sedang berkeluh kesah dengan air hujan. Ia membawa satu buah kantong plastik dan memasukkan map lamarannya ke dalam kantong plastik itu agar tidak kebasahan. Ia tengah menggerutu dan mengadu pada air hujan yang turun. “Udah nggak ada satu kantor pun yang mau menerima lulusan SMK, eh ini hujan nggak kasih aba-aba. Aku tuh cape tahu!” keluhnya. Gladys sangat mengharapkan dia bisa mendapatkan pekerjaan kemudian mendapatkan gaji setiap bulannya agar bisa membantu ibunya yang bekerja sendirian menghidupi dirinya. Siang ini seharusnya langit begitu cerah tetapi ketika ia keluar dari sebuah kantor, ternyata langit berubah menjadi sangat gelap. Hujan pun turun tanpa memberi aba-aba. Ia tak membawa mantel meskipun Ibunya sudah memberitahu dan mengingatkan dia untuk selalu membawa mantel hujan kemanapun ia pergi. “Aku lapar, pusing, kerjaan nggak dapet. Gini amat ya punya nasib,” keluhnya lagi. Hujan belum berhenti meskipun ia mengeluh sedari tadi. Hatinya kecewa bahkan sangat kesal karena cuaca dan juga keberuntungan tak berpihak padanya. Jalanan masih tampak ramai meskipun hujan deras melanda kota ini. Ia duduk sambil menatap air hujan yang turun membasahi bumi di tempatnya berpijak. Sungguh ia harus berteduh cukup lama jika hujan tak berhenti. Mantel pun tak ia bawa. Terpaksa ia duduk dan menunggu hujan berhenti. Gladys, dia merupakan murid lulusan SMK yang hanya mengandalkan ijazah miliknya saja untuk bisa masuk ke sebuah kantor. Harapannya tidak muluk-muluk kalaupun mendapatkan pekerjaan seperti cleaning service pun ia akan menerimanya. Namun kenyataannya impian tak seindah dengan apa yang ia harapkan. Tak ada satupun pekerjaan yang kosong dan ia selalu pulang dengan kecewa. Seperti hari ini ia pulang dalam keadaan bajunya basah karena terciprat air hujan. Setelah benar-benar berhenti, gerimis mulai melanda dan hujan pun sedikit mereda. Ia akhirnya nekat untuk melajukan sepeda listriknya ke arah jalan menuju ke rumahnya. Ia melajukan sepeda listriknya dengan sedikit cepat karena takut ibunya khawatir. Sejak dari pagi ia pergi dari rumah dan berniat untuk melamar pekerjaan. Tapi sampai siang ternyata ia tak pulang juga. Ponsel tak ia miliki sehingga ia kerap bingung untuk menghubungi ibunya. Gladys selalu berusaha untuk bisa mencari pekerjaan di kantor-kantor yang masih membutuhkan beberapa tenaga ringan seperti cleaning service. Meski nyatanya ia selalu tak mendapatkan hasil apapun. “Aduh, hujannya datang lagi,” gumamnya kesal. Sepeda listriknya melaju dengan cukup kencang. Angin dan air mulai menerpa wajahnya yang tak memakai helm. Rambutnya bahkan sudah mulai basah. Saat melaju dengan cepat itulah secara tak sengaja ia menabrak sebuah mobil. Awalnya karena ia panik ketika ada mobil yang mengerem secara mendadak di depannya, alhasil ia pun menabraknya. Baru saja akan pergi meninggalkan tempat itu karena ia masih buru-buru untuk pulang tapi nyatanya pemilik mobil itu kemudian keluar. Pemilik mobil langsung berteriak dan marah-marah padanya. Mengeluarkan kata makian dan umpatan karena mobilnya dicederai. Gladys sedikit gugup dan gemetar, ia bingung karena situasi ini sungguh di luar dugaannya. Pemilik mobil itu ternyata seorang pria yang cukup galak dan terlihat arogan. Ia sangat sinis ketika memandang Gladys. “Kamu bawa sepeda seperti ini ngebut dan tidak lihat-lihat! Bisa bawa nggak sih? Kalau nggak punya mata sebaiknya jangan naik kendaraan di waktu hujan begini!” umpatnya. “Ka-kamu yang salah! Tadi aku kaget,” ujar Gladys beralasan. Pria itu menatapnya, sangat tajam seperti menusuk ke dalam sanubarinya. Pria itu seperti melotot dan tak berkedip memandangnya. Tadinya Gladys akan takut karena ia yang menabraknya. Tapi ketika pria itu mulai memaki, nyalinya sedikit ia beranikan dan mulai mencari cara agar pria itu tak marah-marah padanya. “Punya mata tidak sih, kamu?!” umpatnya lagi. Gladys merasa marah, pria itu menyebut kata mata sekali lagi dan seolah-olah dia tak melihat mobil pria itu. “Kamu saja yang naik mobil tidak hati-hati! Lain kali jangan ngerem mendadak, dong!” ketusnya. Gladys begitu berani dan pria itu memicingkan matanya demi melihat keberaniannya. “Dasar gadis udik, mau apa kalau aku yang ngebut?! Seharusnya kamu yang mengaku salah bukan malah menuduhku yang ngebut karena kamu yang menubruk ku dari belakang!” Gladys sedikit takut juga dengan apa yang diucapkan oleh pria itu karena ia memang yang menubruk mobilnya dari belakang. “Jadi, apa maumu sekarang?” kata Gladys. Gladys melihat sisi body mobil pria itu dan memang penyok sedikit. Ia pun protes karena merasa tidak terlalu keras saat menabraknya. “Aku tadi ngerem mendadak, sepatutnya kamu memakluminya, bukan malah menyalahkanku!” ujar Gladys lagi. “Ini hanya penyok sedikit saja, kamu kan bisa memperbaikinya di bengkel,” imbuhnya dengan lirih, matanya menatap pria itu. Wajahnya lumayan tampan namun tatapannya sadis. Pria itu melotot padanya, Gladys jadi makin kesal karena tak suka dengan tatapan mata pria itu. “Jangan menatapku seperti itu seolah aku ini adalah penjahat yang harus dituntut sedemikian rupa sampai kamu terus melotot hingga bola matamu itu mau keluar,” Pria itu memegang tangannya dan menyuruhnya menyentuh bodi mobilnya. “Kamu bilang ini hanya penyok sedikit saja? Huh, dasar gila kamu! Lihat ini baik-baik!” Pria itu menggerutu karena kesal padanya sehingga terus menatapnya tajam dan membuatnya merasa bersalah karena telah menabraknya. Gladys tetap tidak mau mengakuinya. “Penyok begini kamu bilang tidak apa-apa, lalu kamu ngebut dengan cepat juga kamu bilang katanya pelan. Sebenarnya kamu itu gila atau gimana?” Gladys diam saja, membuat pria itu langsung memberinya sebuah ide. “Baiknya seperti ini saja ... aku bawa kamu ke kantor polisi dan mereka akan memaksamu untuk segera mengganti rugi apa yang telah kamu rusak!” Gladys langsung panik, wajahnya pucat pasi. Ia kebingungan dan terpaksa mengalah. “Ja-jangan. Ki-kita damai saja. Masa hanya penyok begini kamu melaporkanku ke polisi,” rintih Gladys. Pria itu tersenyum mengejek, seolah penuh kemenangan karena telah membuatnya takut. Gladys benar-benar ketakutan, ia memohon-mohon agar pria itu tidak membawanya ke kantor polisi tapi pria itu sudah terlanjur marah. “Tolong! Jangan bawa aku ke kantor polisi! Aku akan turuti segala permintaanmu termasuk meminta maaf. Tapi untuk mengganti rugi mobil itu, jujur aku tak bisa,” Gladys menunduk, ia merasa harus mengalah sekarang. Pria itu menepis tangannya. “Pantas, dari tadi sombong belagak nggak menubruk ternyata nggak bisa membayar ganti rugi,” ejeknya. “Sebaiknya kita jangan lanjutkan perdebatan ini, percuma juga kalau kamu memaksaku mengeluarkan uang,” keluh Gladys. “Hahaha ... dasar gadis bodoh. Kau pikir aku mau dikibuli olehmu!” “Baik, kalau memang begitu, kamu jangan lanjutkan lagi dan sudahi saja pertengkaran ini. Aku ehm aku ... aku tak punya uang,” ucap Gladys lirih. Pria itu tersenyum mengejek padanya dan menarik tangannya. “Mau apa kamu?” Gladys terkejut. Gladys mulai panik, tangan pria itu menggenggam erat tangannya dan menariknya paksa untuk masuk ke dalam mobil. “Lepaskan! Mau apa kamu?” “Diam saja dan ikuti saja kemana mobil ini pergi!” Gladys hampir akan berteriak tapi pria itu mendorongnya masuk ke dalam mobil. Gladys tak berdaya, ia memilih diam saja karena diancam akan dilaporkan ke polisi. Mereka sudah di dalam mobil dan meninggalkan sepeda listriknya begitu saja di sana. Gladys berteriak cukup keras sehingga membuat pria itu menghentikan laju mobilnya. “Apa lagi? Katamu kamu akan menuruti keinginanku!” “Itu, se-sepedaku, jangan di tinggal!” “Huh! Sepeda? Itu sepedamu? Barang rongsokan itu sepedamu? Ckckck ...” Gladys diam saja, pria itu selalu mengejeknya habis-habisan. Hampir saja ia menangis, membeli sepeda itu dengan hasil jerih payahnya selama ini. “Sepedaku, meski bekas dan usang tapi dia berharga bagiku!” teriaknya. Gladys hampir menangis karenanya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan kesialan lagi hari ini selain tak mendapatkan pekerjaan dan bajunya basah. Kini ia bahkan akan diseret ke kantor polisi. Pria itu ternyata tak main-main dengan ucapannya. “Sepedaku!” teriaknya lagi. “Diam! Ok, aku ambil sepeda listrik mu. Walaupun ternyata sudah butut tapi rupanya kamu masih membutuhkannya,” Pria itu membawa sepeda listriknya dan dimasukkan ke dalam bagasi mobilnya. Walaupun Gladys sudah merasakan tenang karena sepeda listriknya sudah dibawa namun ia masih takut ketika mendengar kata kantor polisi, nyalinya menjadi ciut. “Aku tidak memiliki uang sepeser pun, kalau kamu memaksaku untuk tetap mengganti rugi kerusakan mobil ini tentu saja aku tidak punya,” ucap Gladys saat mereka berada ditengah perjalanan. Tapi, pria itu hanya tersenyum sinis bahkan tak meliriknya sama sekali. Ia terus melajukan mobilnya dengan cepat dan Gladys sangat ketakutan karena ternyata ia tidak dibawa ke kantor polisi melainkan ke sebuah tempat yang cukup jauh dari tempatnya tadi berhenti. “Mau apa kamu? Kita kemana ini? Ja-jangan macam-macam, ya!” Ia melihat ke sekelilingnya, mobilnya berpacu dengan air hujan yang turun dengan deras. Kacanya sampai buram. Gladys sangat menyesal karena tadi menuruti keinginan pria itu dan akhirnya ia tidak bisa melakukan apa-apa walaupun untuk melarikan diri sekalipun. ** Hujan masih turun begitu deras. Gladys duduk dengan ketakutan. Di dalam mobil yang lajunya cukup kencang ini, ia sama sekali tidak bisa melarikan diri ataupun memaksakan untuk turun karena pastinya akan fatal nantinya. Ia hanya bisa berteriak minta tolong namun tak satupun ada yang mendengar karena hujan turun dengan deras. Gladys teringat akan ibunya, yang pastinya sedang mencemaskan dirinya karena tidak pulang bahkan saat ini sedang berada di mana ia pun tidak tahu. Gladys melirik ke arah pria itu, ia juga melihat ke sekeliling jalanan yang mereka lalui. “Mau dibawa kemana aku? Ka-kamu mau apa?” Gladys benar-benar sangat takut bahkan ia mulai berpikir yang tidak-tidak hingga akhirnya berhenti untuk berteriak. Di sekeliling mereka hanyalah ada hutan saja dan ia tidak tahu kalau pria itu tengah merencanakan sesuatu. “Masih bisa sombong?” tanyanya. Gladys terdiam, ia hampir menangis kini. Yang bisa ia lakukan hanya berdoa saja. Rupanya pria yang mobilnya ia tabrak ini seorang penjahat, pikirnya. Pria itu melihat ketakutan dalam dirinya saat ia menengok ke arah kanan dan kiri yang di mana-mana hanyalah hutan belantara saja. “Demi Tuhan, kamu mau membawaku ke mana ini? Tolong, Jangan hanya karena aku menabrak mobilmu lantas kamu akan melakukan sesuatu yang buruk padaku!” Pria itu tertawa, ia bahkan menggenggam tangannya. Gladys menepisnya dan berteriak. “Lepas!” “Cerewet sekali kamu!” ucapnya dengan tegas.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook