2. Di Sebuah Rumah

1366 Words
“Mau dibawa kemana aku? Apakah kamu penculik?” Gladys terus berbicara sehingga pria itu berdecak karena ia begitu cerewet dan tampak menyebalkan. “Basuh wajah dan rambutmu dengan handuk ini! Jangan banyak bicara lagi! Kita akan ke tempat yang seharusnya!” ucapnya. Pria itu seperti bukan orang yang baik-baik. Gladys makin tak tenang. Ia selalu saja was-was meski mereka berada dalam satu mobil dan tengah duduk bahkan terjebak dalam derasnya air hujan yang turun. “Katakan! Kemana kamu akan membawaku? Jika ke kantor polisi, itu tak mungkin karena kita baru saja melewatinya,” “Peduli apa kamu pada dirimu, kita akan kemana juga sebaiknya tetap diam dan tunggu saja apa yang akan aku lakukan pada gadis secerewet dirimu ini!” Gladys sangat takut kalau ia akan di ... Mobil berbelok menuju ke sebuah tempat. Sebuah rumah mewah yang terlihat sejuk karena banyak pepohonan yang ada di sekitarnya. Gladys begitu takjub meski ia kemudian melirik ketakutan karena pria itu turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Gladys akhirnya bisa melarikan diri tapi ternyata begitu ia keluar dari mobil, di sekelilingnya hanya ada pagar saja. Tak lama setelah ia keluar, pria itu berjalan mendekatinya dan menarik tangannya. “kamu mau kemana?” sorot matanya tajam dan tampak menakutkan. “Ma-mau apa?” Pria itu tersenyum tipis, lalu menyuruhnya berjalan mengikutinya. “Sebaiknya kamu menurut saja, jangan banyak bertanya!” Gladys ketakutan, “Menuruti apa? Aku harus tahu?” Ia melihat ke sekeliling. Rumah ini begitu sepi dan terlihat beberapa ruangan besar ada di dalam rumah ini. Mereka telah berada di dalam rumah dan tampak sunyi seperti tak ada kehidupan. Rupanya pria ini sangat kaya, terlihat dari model rumahnya. Beberapa pelayan datang dan membungkuk pada pria yang terlihat cukup tampan ini. Ia akui kalau pria yang membawanya kemari ini adalah pria tertampan yang pernah ia lihat. “Layani gadis ini di kamar yang paling ujung. Beri dia pakaian yang ada di dalam lemari itu dan bawa dia ke ruang makan!” “Baik, Tuan,” Gladys berteriak, “Tunggu! Aku tanya sekali lagi dan kamu harus menjawabnya!” Pria itu menyulut sebatang rokok dan membiarkan dia berbicara tanpa ada jawaban darinya. “Jawab aku!” teriak Gladys. Wanita-wanita pelayan di rumah ini memintanya untuk masuk ke sebuah kamar dan ia diminta untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi. Gladys mulanya tak mau melakukannya, namun akhirnya ia menuruti saja karena bajunya basah dan rambutnya pun tampak kumal kena air hujan. “Siapa dia sebenarnya?” Gladys bertanya pada seorang pelayan. Ia harus tahu siapa yang sedang bersamanya saat ini. Namun ternyata pelayan itu tak mau mengatakannya dan malah menyuruhnya untuk segera keluar. “Mau kemana kita?” “Nona, Anda sudah ditunggu keluarga Luwis, silakan bisa masuk ke ruangan disini,” “Siapa Luwis?” tanyanya lagi. Ia di tuntun keluar menuju ke suatu ruangan, tampak pria tampan itu berdiri sambil berdecak dan mencibirnya. “Ckckck, lama sekali kamu. Ayo kita masuk, ini sebagai ganti rugi mobil ku yang penyok,” ucapnya. “Apa?” “Ya, malam ini kamu harus menjadi kekasih rahasiaku dulu,” ucapnya. “A-apa? Tidak! Aku tak mau, lepas tanganmu!” Gladys menolak keras saat pria itu menggandeng lengannya dan minta dia menjadi kekasihnya untuk malam ini. “Tenang saja, kamu ku bayar dan ku bebaskan tuntutanku terhadap mobil yang kamu tubruk tadi. Impas, kan?” Gladys berpikir sejenak kemudian pria itu mengeluarkan uang dalam jumlah yang cukup besar. Gladys merasa ia seperti dalam sebuah mimpi. “Akan ku berikan ini asal kamu temani aku ke dalam. Hanya sebagai kekasih rahasiaku dan selesai dalam hitungan jam saja,” ucapnya. “Kamu menjebakku!” tuduh Gladys. Pria itu tertawa kecil dan hanya bisa berbicara lirih karena ternyata ada seseorang yang memanggil namanya. Gladys tahu dari jawaban pria itu saat seseorang memanggil namanya. “Mark, kesini Mark! Sedang apa kamu disana?” Suara seorang kakek dan juga nenek menyahut memanggil namanya. Rupanya ia ditunggu beberapa orang sebelum pergi tadi. Gladys ditarik tangannya padahal belum menyetujui permintaannya. ** “Bu, hujannya bahkan belum reda, kemana Gladys?” Husna bertanya pada Bu Saritem. Ia juga sudah berada di sini sekitar setengah jam. Sepeda listrik milik Gladys akan ia pinjam sebentar untuk pergi menjemput bapaknya dari terminal. Namun ternyata Gladys tak kunjung pulang. “Seharusnya dia pulang sekitar satu jam yang lalu, kenapa sekarang belum pulang juga, ya?” gumam Bu Saritem. Husna akhirnya berpamitan dan menghubungi bapaknya agar menunggu lagi di terminal karena ia tak ada kendaraan untuk menjemputnya. “Bu, sebaiknya Husna pergi saja. Kalau nanti kelamaan takutnya bapak Husna akan pergi dan kasihan kalau sampai bingung mencari kos Husna,” “Ya, Husna. Maaf, ya. Gladys nya belum datang juga ini,” “Nggak apa-apa, Bu. Husna pamit pulang, Bu Sari,” “Ya, Husna,” Bu Saritem sangat cemas bahkan tak bisa makan kalau belum melihat Gladys putrinya pulang. Ia tak tahu kemana harus mencarinya karena sama sekali tak ada ponsel yang bisa dihubungi. Mereka orang yang tak punya bahkan hanya memiliki hutang saja. Ponsel satu pun tidak ada dan setiap melamar kerja, yang di pakai sebagai nomor telepon adalah milik Husna. Husna dan Gladys saling berteman sudah cukup lama dan ia pun sebagai ibunya berharap agar Husna bisa membawa Gladys masuk ke kantornya untuk bekerja di sana sebagai cleaning service juga. Tapi, kata Husna ternyata sudah penuh dan tak bisa memasukkan orang lagi. Alhasil, Gladys sibuk mencari kesana kemari pekerjaan di tiap-tiap kantor. Saat Bu Saritem sedang menyapu lantai, Gladys pulang dan ia membawa banyak sekali bingkisan di tangannya. “Assalamualaikum, Bu,” “Waalaikum salam, Gladys, dari mana saja kamu?” tanya Bu Saritem. Ia melihat banyak sekali barang yang dibawa putrinya dan menyangka kalau Gladys mendapat pekerjaan hari ini. ** Pagi ini, Gladys bersiap untuk pergi. Dia sudah mandi dan berdandan rapi. Entah kenapa hari ini begitu menggembirakan karena ia memiliki uang dari hasil hanya menemani seorang pria yang ternyata tak ingin dijodohkan. Semalam ia bermimpi jika pria itu datang kembali dan meminta ia datang lagi ke rumahnya. Sebuah ponsel diberikan padanya dan ia menimang-nimangnya. Ibunya masuk dan bertanya padanya tentang ponsel yang ia miliki saat ini. "Dari mana kamu dapatkan itu?" tanya ibunya. "Aku dipinjami, Bu," ucap Gladys gugup. "Semalam kamu tidur lebih cepat. Ibu mau bilang kalau Husna mencarimu seharian," "Mau apa Husna mencari ku?" "Mau pinjam sepeda listrik mu, tapi kamu malah lama nggak pulang-pulang. Kasihan dia mau jemput bapaknya. Setengah jam dia disini," "Oh, Gladys kan pergi kerja, Bu. Jadi ..." Ibunya melangkah ke arah lemarinya dan melihat ada barang-barang yang belum pernah dilihatnya. "Dari mana kamu dapatkan semua barang ini, Dys?" tanya Ibunya. Gladys terdiam, ia lupa menutup pintu lemari dan ibunya akhirnya bisa melihatnya juga tanpa perlu ia memamerkannya. Kemarin, ia mampir membeli baju dan tas untuk dirinya sendiri. Sedangkan untuk ibunya ia belikan sekarung beras dan kebutuhan lain yang bisa membuat penuh isi dapur. Gladys lupa kalau ibunya pasti bertanya-tanya tentang dari mana ia mendapatkan uang untuk bisa membeli barang-barang itu. ** "Gadis itu yang dia pilih menjadi istrinya? Gila! Gadis semacam dia menjadi pesaingku dan membuatku merasa rendah kalau sampai kalah darinya," Seorang gadis menggerutu karena tengah memikirkan tentang gadis yang diperkenalkan pria yang ia incar selama ini. Ia melihat Garneta, Mama dari Mark tampak terlihat berjalan menuju ke taman dan ia segera berlari kecil untuk menyusulnya. "Tante!" panggilnya. Wanita yang berusia masih muda sekitar 45 tahun itu tampak tersenyum begitu tahu dirinya yang memanggil. "Arin, dari mana saja kamu. Semalam kamu pulang lebih dulu?" "Tante ... aku ehm ... merasakan pusing, jadi aku pulang," "Sayang sekali, padahal aku akan perkenalkan langsung gadis itu padamu," ucap Garneta serius. Arin, adalah teman Mark yang bersekolah di luar negeri sama seperti Mark dan selalu membersamainya setiap saat. Ia mulai dekat saat Mark dan dia berada dalam satu kota di negara Inggris sana. "Gadis itu, ehm apa benar dia calon istri Mark?" Garneta tersenyum, "Ya, seperti yang dia katakan. Bulan depan mereka akan menikah, kamu bantu-bantu kami, ya?" Arin diam saja, ia tak menyangka akan secepat ini Mark menikah, ia mengikuti langkah Mark untuk pulang ke Indonesia ini agar bisa dinikahi pria kaya sepertinya. Tapi, ternyata semuanya sirna saat semalam pria itu datang menggandeng seorang gadis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD