“Jadi, kamu siap kan kalau aku minta kita menikah?’ tanya Mark.
“Menikah? Yang benar saja?”
“Ya, ternyata semua menyetujuinya dan kakekku memintaku untuk segera menikahimu,”
“Kenapa harus sejauh ini?” tanya Gladys.
“Kakekku setuju saat melihatmu, lagipula kita nanti akan menikah secara kontrak saja, sekitar tiga sampai empat bulan saja,” ucap pria itu.
“Aku tak mau, itu namanya menistakan pernikahan yang sakral,” jawab Gladys.
“OK, kalau kamu menolak berarti siap ke kantor polisi?”
Gladys akhirnya menyerah dan menurutinya. Ia akan bertanggung jawab meski seperti ini akhirnya. Ia teringat wajah ibunya yang sendu, tak mungkin akan membuat ibunya sedih.
“Jadi ... kamu benar-benar bersedia dengan perjanjian ini?”
Gladys tak menjawabnya, ia diam sambil memejamkan mata.
“Aku bertanya padamu!” ketus pria itu.
Gladys mengangguk, mau tak mau ia terpaksa mengikuti kemauan pria ini. Entah kenapa pria itu memilihnya untuk menjadi istrinya. Dia bilang akan melaporkan pada polisi jika tak menurutinya dan diminta tak macam-macam. Gladys menghela napas dengan berat. Ia tak mengira akan begini jadinya.
“Kamu dengar kan tadi aku bilang apa?”
Gladys mengangguk, mau tak mau ia harus mau. Pria itu menyuruhnya pulang dan diminta bersiap besok saat mereka akan mengukur baju pengantin.
“Ini uang untuk membayar kebutuhanmu dan beberapa barang-barang yang kamu butuhkan. Penuhi kebutuhan rumahmu, aku mau kamu dan ibumu tak kesusahan,”
Meski mengancam, tapi pria itu begitu perhatian saat tahu kalau Gladys tinggal hanya bersama ibunya.
“Aku antar pulang dan harus tahu dimana kamu tinggal, jadi tak ada celah bagimu untuk pergi dan kabur dariku!”
“Iya, tenang saja!” ucap Gladys.
Pria itu tersenyum, sinis dan sekali lagi memintanya tak berbuat aneh menjelang pertemuan mereka selanjutnya.
Gladys hanya tertunduk lesu, ia diminta menjadi pengantinnya selang satu bulan lagi. Ia harus menerimanya dan dilarang menolak, karena besarnya nilai kerugian mobil yang penyok tak bisa dibayarkan oleh Gladys. Dan kata-kata kantor polisi membuatnya gemetaran.
**
Mark melangkah menuju ke kamarnya. Mamanya datang dan mendekatinya. “Sayang, Mama ingin kita bicara!”
Mark Filan, adalah seorang pria tampan putra dari keluarga terpandang dan sangat kaya raya. Mark ini anak tunggal dari keturunan Smith Filan. Smith adalah Pria keturunan Inggris yang menikah dengan Garneta dan saat ini sedang tinggal di Inggris. Smith dan Garneta telah berpisah beberapa tahun lamanya karena sebuah perselingkuhan yang dilakukan Garneta di belakang suaminya.
“Ada apa, Ma? Aku ngantuk, nanti saja,”
Hubungan keduanya begitu buruk. Mark tak akur dengan Mamanya, Garneta. Wanita itu berusia 45 tahun dan tinggal bersamanya baru-baru ini. Mark sendiri sedari kecil tinggal hanya bersama kakek dan nenek dari Mamanya. Karena perselingkuhan Garneta, Mark tidak diijinkan tinggal bersamanya. Garneta dilarang Smith untuk dekat dengan putranya. Dan ternyata orang tua Garneta mendukung Smith karena faktor balas budi.
Keluarga Smith telah membantu orang tua Garneta dalam mengembangkan usaha bisnisnya sehingga ketika bercerai dari Smith, keluarga orang tua Garneta diberikan perusahaan yang cukup besar dengan perjanjian Mark dirawat dan dibesarkan dengan baik tanpa campur tangan Garneta.
Sejak kecil, Mark selalu dirawat oleh kedua kakek neneknya. Mamanya tak ada di Indonesia karena mengikuti suaminya yang bekerja menjadi pebisnis handal di negara Singapura.
“Mark, Mama hanya minta waktu sebentar saja, tolonglah!”
Mark tak peduli, bahkan ia pun akhirnya memilih untuk pergi dari hadapan Mamanya dan masuk ke kamarnya. Garneta mendesah ngenes, merasakan apa yang selama ini ia inginkan tak tercapai.
“Mark, setidaknya hargai aku selayaknya yang telah melahirkanmu!” gumamnya lirih.
Sementara itu, di dalam kamar, Mark menekan tombol panggilan dan menyuruh seseorang untuk menemuinya di sebuah kafe.
Ia bersiap untuk pergi dan melirik ke arah jendela. Di luar sana ada Arin yang selalu menguntitnya kemanapun dia pergi.
Mark bukan tak menyukainya, ia hanya risih saja kalau dikejar-kejar seorang gadis, apalagi jika tahu kalau ia adalah pria kaya yang akan mewarisi kekayaan kakeknya. Mark adalah cucu laki-laki satu-satunya dan diandalkan dalam keluarga.
**
Siang ini, Gladys tengah duduk di kamarnya. Ia sedang bingung karena menghadapi situasi yang cukup sulit. Pria yang ia temui memintanya menikah dengan sebuah perjanjian.
Kemarin :
‘Sebagai ganti rugi kamu merusak mobilku. Kamu harus bersedia menikah denganku!”
Gladys sangat kaget. “Tidak! Jangan seperti itu! Kita belum saling mengenal, lagipula aku juga bukan gadis kaya yang biasa kamu kenal,” ucap Gladys merendah.
‘Baik! Ayo, ke kantor polisi!”
Gladys panik, “Tu-tunggu!”
Saat ini :
Karena itulah, ia jadi bingung. Bahkan tak bisa tidur. Meski untuk terpejam pun ia sama sekali tak bisa bahkan tak sanggup memejamkan mata.
“Ya Allah, aku harus bagaimana?” batinnya.
Lalu, saat keluar dari kamar, dilihatnya ibunya tengah duduk santai dan dia memandang sebentar sebelum akhirnya benar-benar keluar dan menyapa ibunya.
“Bu, lagi ngapain?”
“Lagi merajut, ibu mau buat sweater buat kamu,”
Gladys tersenyum, lalu ia memberanikan diri untuk berkata tentang apa yang sedang ia hadapi saat ini.
“Bu, Gladys mau cerita,”
Ibunya menoleh, “Ada apa, Dys? Kamu diterima kerja?” tanya ibunya.
“Bukan, Bu,”
“Lantas apa, Anakku Sayang?”
Gladys menceritakan semuanya pada ibunya. Mulai dari kenapa ia menabrak sebuah mobil dan diminta ganti rugi sampai ia akan menikah dengan seorang pria kenalannya.
Namun, satu hal yang tidak ia ceritakan pada ibunya, yaitu perjanjian antara dia dengan pria itu. “Bu, Gladys mau menikah,” ucapnya. Ibunya kaget luar biasa, ia tak menyangka sejauh ini Gladys melangkah.
“Menikah? Kapan kamu berpacaran, Dys? Jangan bikin Ibu bingung, Ibu mau kamu bekerja dulu,”
“Iya, Bu. Maafin Gladys, tapi ini sudah kami rencanakan,”
“Tapi, kok mendadak sekali. Kamu yakin akan menikah?” tanya ibunya ragu.
Gladys tersenyum, “Bu, ini bukti kalau Gladys akan menikah dalam waktu dekat,”
Ibunya terkejut karena melihat sebuah cincin yang terlihat sangat mahal tersemat di jari manisnya. “Siapa laki-laki yang akan kamu nikahi, Dys? Kenapa kalian buru-buru menikah. Pacaran juga belum pernah dengar dan sama sekali ibu belum melihat orangnya,”
Gladys bercerita kalau ia memang merahasiakannya dan baru akan memberitahu ibunya. “Bawa dia kesini, ibu mau berkenalan dengannya!”
Gladys diam saja, hingga akhirnya mengangguk dan berjanji akan membawanya ke rumah.
“Bawa dia kemari dan jangan sampai tidak! Ibu ingin tahu siapa dia dan sudah seharusnya kalian meminta restu pada ibumu ini,”
“Iya, Bu,”
Gladys mengangguk dan memeluk ibunya yang semakin tua dan selalu memperhatikannya. Ia merasa tak sendiri karena ibunya kerap memberinya perhatian kecil bahkan saat ini sedang dibuatkan sweater dan itu sangat membahagiakan dirinya.
**
Arin bertemu dengan Mark yang sedang duduk sambil merokok. “Mark, apa aku melewatkan sesuatu?” tanya Arin.
“Melewatkan apa?”
Arin menatap bola mata Mark yang tampak hitam dan tegas ketika menatap dirinya. Satu hal yang ia sukai dari pria di depannya ini adalah ketegasan dan kepribadiannya yang tenang.
“Gadis itu, dia calon istrimu?” tanya Arin.
Mark menoleh kemudian memalingkan wajahnya, memandang butiran pasir yang gugur karena dipermainkan seekor kucing. Pasir itu ada di dekat kolam yang baru saja didatangkan untuk merenovasi kolam ikannya mulai besok.
“Lalu?”
“Aku bertanya,”
Arin tak sabar, ingin ia mengguncang tubuh pria itu agar mengaku dan membatalkan rencana pernikahannya.
“Aku ingin tahu, dari mana kamu kenal gadis macam dia?”
“Kenapa memangnya? Dia cantik, kan?” tanya balik Mark.
Arin tersenyum tipis, kuku tangannya menancap pada sehelai daun yang ia sentuh. Rasa kesal karena mendengar kata pujian untuk gadis udik itu membuatnya ingin marah namun ditahannya. Mark terlihat santai namun ia ingin sekali tahu lebih dalam lagi bagaimana mereka berkenalan.
“Kenapa kamu baru mengenalkannya sekarang? Dari dulu aku tahu kamu belum ...”
“... aku hanya mau privasi tentang calon istriku tetap terjaga. Ia akan mendampingiku nantinya,” sambung Mark singkat.
Arin merasa kesal dan tak bisa ia sembunyikan lagi. “Baiklah, aku pulang dulu, Mark. Sampaikan pamit ku pada Tante Garneta, tadi aku mencarinya tapi kata pelayan di dalam Mamamu pergi,”
Mark mengangguk, ia juga berniat pergi dan menemui gadis yang ia minta untuk segera datang ke kafe yang ia berikan alamatnya.