BAB 11: INGIN SEGERA MENIKAH

1232 Words
SELAMAT MEMBACA *** Kama turun dari mobil dan membawa oleh-oleh yang lumayan banyak. Di rumahnya, ada ibunya dan satu orang tetangga sebelah rumah yang kebetulan sedang ngobrol santai. Biasanya jika tidak ke sawah, ibunya itu akan punya banyak tetangga yang datang dan ngobrol di rumah. Namun, jika musim menanam atau panen semua orang di desa akan berkumpul di sawah sehingga rumah-rumah menjadi sepi. Ibunya Kama yang memang tidak menggerap sawah, tentunya akan merasa kesepian di rumah. "Assalamu'alaikum," salam Kama. "Waalaikumsalam," jawab Sri. Dia tersenyum melihat putranya sudah pulang lagi. "Eeee, Mas Kama sudah pulang?" Sapa Parni tetangga Kama. Rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Kama. Kama yang mendengar sapaan Parni, lalu tersenyum. "Nggih Bulik. Tumben tidak kesawah?" Tanya Kama berbasa basi. "Lahhh, belum panen Mas. Mau ngapain ke sawah," jawab Parni. "Yasudah Bulik, saya masuk dulu." Pamit Kama pada tetangganya itu. "Iya Mas, silahkan." Setelahnya, Kama pun masuk kedalam rumah dan meninggalkan ibunya bersama tetangganya itu di teras. Setelah kepergian Kama, Parni langsung bertanya tentang kabar yang beredar beberapa hari ini. Yang cukup membuat dia penasaran. "Mbakyu, aku tak takon awakmu ojo tersinggung yo." (Mbak, aku mau tanya kamu jangan tersinggung ya) ucap Parni dengan lirih pada Sri. Sri yang penasaran hanya mengangguk. Kira-kira pertanyaan apa yang bisa membuatnya tersinggung. "Iku Mas Kama, pacaran to karo Mbak Sarah?" (Itu Mas Kama, apa pacaran sama Mbak Sarah) "Jare sopo?" (Kata siapa) jawab Sri dengan santai. "Lahhh, beritane wes nyebar Yu. Wong-wong do cerito." (Beritanya sudah nyebar. Semua orang cerita) ucap Parni lagi. "Sopo sing omong kawitan?" (Siapa yang bilang pertama) "Dek kapan kae jare, Andre eruh Mas Kama karo Mbak Sarah enek bendungan wong loro mangan es campur. Terus enek sing penasaran gek nakokke nyang mbokde Wati, jarene iyo to." (Hari apa itu katanya, Andre lihat Mas Kama sama Mbak Sarah di bendungan berdua makan es campur. Terus ada yang penasaran tanya sama Bude Wati, katanya iya) Sri hanya terkekeh pelan mendengar ucapan tetangganya itu. Jadi hanya karena itu, beritanya sudah menyebar. Banyak sekali ternyata intel didesanya itu. Dan hebatnya lagi, berita seperti itu bisa menyebar dengan sangat cepat. Sri benar-benar kagum dengan kehebatan tetangga-tetangganya. "Oalah Par, mangan es campur wong loro lak ora kudu pacaran to. Kekancan kan isoh." (Oalah Par, makan es campur berdua kan tidak harus pacaran. Berteman kan bisa) Sri masih mengelak dari pertanyaan Parni. Belum berani jujur dan mengatakan yang sebenarnya. "Ahh mbok yo jujur wae Yu. Ora sah di tutupi, nek tenan ki yo malah meneri." (Jujur saja Mbak. Tidak usah di tutupi, kalau betulan itu malah syukur) Parni masih penasaran dan mulai mendesak Sri. Sri yang sudah terpojok pun akhirnya memilih mengangguk pelan. Di tutupi juga nanti lama-lama akan tau semua orang. Juga berita sudah terlanjur tersebar. "Dongakno wae mugo-mugo jodoh e yo." (Doakan saja semoga jodoh ya) Ucap Sri pada Akhirnya. "Ehhhh, yo meneri Yu nek tenan ki. Wes mugo-mugo jodoh. Wong Mas Kama ki yo wes wancine Yu omah-omah. Barakane kae lo anak e wes gede-gede." (Syukurlah kalau betulan Mbak. Semoga saja berjodoh. Orang Mas Kama itu ya sudah waktunya berumah tangga. Teman-teman sebayanya itu anaknya sudah besar-besar) Sri hanya tersenyum menanggapinya. Terlalu bingung harus bereaksi bagaimana. "Aminnnnn, doakan saja." Ucap Sri lagi. *** Setelah ngobrol dengan Parni, Sri masuk kedalam rumah. Ingin melihat apa yang sedang di lakukan putranya kenapa tidak keluar-keluar. "Leee..." panggil Sri pada Kama. "Dalem Bu," jawab Kama. Dia muncul dari balik pintu kamarnya yang terbuka. "Sudah makan? Ayo makan dulu," ajak Sri. "Ibu tadi masak sambel ikan sama kangkung. Ayo makan sama-sama," Lanjutnya lagi. Kama pun mengangguk, dan mengikuti ibunya kedapur untuk makan. "Le, masa orang-orang disini sudah tau kalau kamu punya hubungan sama Sarah." Kama yang mendengar itu langsung menoleh. "Siapa yang bilang Bu?" "Halah orang-orang disini, semua kan intel." Jawab Sri dengan terkekeh, Kama pun ikut terkekeh mendengar jawaban ibunya. "Sudah biarkan saja Bu, banyak yang tau banyak yang mendoakan." Ucap Kama lagi. Sri pun mengangguk Faham *** Kama mencari keberadaan Sarah, sore hari setelah mengajar Kama dan Sarah bertemu di tempat dan waktu yang mereka sepakati. Tidak lupa Kama membawa oleh-oleh yang dia siapkan untuk Sarah. Melihat Sarah yang melambaikan tangannya, Kama langsung menghampiri gadis itu. "Sudah lama?" Tanya Kama saat duduk di hadapan Sarah. "Belum Mas, baru juga sampai." Ucap Sarah. "Oleh-oleh yang saya janjikan." Kama menyerahkan oleh-oleh yang dia bawakan untuk Sarah. Sarah pun menerimanya dengan senang hati. Sambil mengucapkan terimakasih. "Mas Kama, kok lama di Jogja nya?" Tanya Sarah membuka pembicaraan. "Ahh, tidak sampai sebulan kok lama." Jawab Kama. "Urusannya sudah selesai Mas?" "Alhamdulillah sudah. Kamu sudah pesan makan?" Tanya Kama lagi. Karena melihat meja mereka masih kosong. "Sudah, Mas Kama juga sudah saya pesankan sekalian." Kama pun mengangguk, tak lama kemudian pesanan mereka datang. Baik Kama maupun Sarah, keduanya sama-sama fokus dengan makanan masing-masing sambil sesekali berbincang ringan. Kama menanyakan kegiatan sehari-hari Sarah, begitupun gadis itu. Dia menanyakan banyak hal terkait pekerjaan dan kegiatan Kama setelah berhenti bekerja ini hingga rencana Kama kedepannya. Sampai makanan mereka habis, Kama masih menunggu apa yang ingin di katakan oleh Sarah. Namun, gadis itu tidak juga mengatakan apapun. Bukan, bukan berarti sejak tadi Sarah diam. Tapi gadis itu hanya bertanya hal-hal sepele, sedangkan menurut Kama ada hal lain yang lebih penting yang ingin di sampaikan Sarah. Apa jangan-jangan hal yang ingin di katakan kemarin adalah bertanya perihal kesehariannya. Apa itu penting. "Katanya Sarah mau bicara penting? Apa?" Tanya Kama dengan seriusnya. Di sudah menahan sejak tadi, untuk bertanya. Menunggu, gadis itu yang memulai. Namun, sepertinya Sarah tidak berniat bicara akhirnya Kama lah yang memutuskan untuk bertanya. Sarah yang awalnya duduk dengan santai, dia lalu menegakkan posisi duduknya. Bersiap untuk bicara pada Kama. Sarah menatap Kama dengan serius. "Mas Kama," panggil Sarah pelan. "Ya?" "Menurut Mas Kama saya ini bagaimana?" "Bagaimana apa nya? Maksud Sarah ini apa?" Tanya Kama dengan bingungnya. Kemana arah pembicaraan mereka ini. "Emmm, maksud saya. Menurut Mas Kama saya ini orangnya seperti apa?" "Saya belum bisa menentukan Sarah, kita baru mulai mengenal. Saya belum berani mengatakan kamu seperti apa," jawab Kama jujur. "Rencana Mas Kama, hubungan yang baru kita mulai ini mau di bawa kemana?" Kama langsung menatap Sarah, dia melihat gurat keraguan dan kebingungan dari gadis itu. "Apa Mas Kama yakin sama saya? Menurut Mas Kama apa saya calon istri seperti yang Mas Kama inginkan?" Ucap Sarah lagi. Kama masih diam, dia sedang menyusun kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan beruntun dari Sarah. "Memangnya istri seperti apa yang saya inginkan menurut Sarah?" Kama justru balik bertanya. Namun, Sarah hanya menggeleng. "Kalau di tanya mau di bawa kemana, tentu saja saya mau serius Sarah. Saya ingin membawa hubungan kita ke jenjang serius. Apa menurut kamu saya hanya main-main. Kamu tidak percaya dengan ucapan saya. Tapi menuju serius, tidak bisa saya tiba-tiba datang membawa penghulukan." Ucap Kama tak kalah seriusnya. Dia mulai menebak, apa tujuan dan maksud dari ucapan Sarah ini. Apa gadis itu ingin segera menikah, atau justru ingin mengakhiri hubungan yang baru mereka mulai. Mendengar jawaban Kama, Sarah terdiam cukup lama. Mencerna dan memahami semuanya. Lalu dia menghela nafasnya dengan pelan. Semua yang di lakukan Sarah, tak luput sedikitpun dari pandangan Kama. Laki-laki itu menatap gadis di hadapannya dengan tatapan serius. Ingin tau apa lagi yang ingin dia katakan. "Kalau Mas Kama serius sama saya. Bisa menerima semua kondisi saya. Dan saya ini calon istri yang di harapkan oleh Mas Kama. Apa bisa kalau kita segera menikah?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD