Don't blame other people, Rebecca

1526 Words
"Tidak, Rebecca Zhang!" Jacky Chan yang mendengar hal itu langsung berteriak dan ia bergegas menghampiri meja Yang Lee. "Oh! Kau membelanya?" Wajah Rebecca Zhang terlihat sinis menatap Jacky Chan yang dianggap seperti pahlawan kesiangan. "Kompetisi ini tanpa Yang Lee tidak akan bisa kita menangkan," jawab Jacky Chan. "Huh! Jangan berlebihan, Jack!" sahut Rebecca Zhang. "Kau tau latihan kita kemarin sangat berantakan sepeninggal Yang Lee. Kau pun tidak bisa bernyanyi dengan baik, bukan?" ucap Jackie Chan. "Justru itu aku mengeluarkannya dari Tim! Kehadirannya membuat moodku naik turun!" ujar Rebecca Zhang. "Itu artinya kau tidak professional!" sahut Jackie Chan lagi. Rebecca terlihat geram mendengar hinaan dari Jackie Chan. Ia merasa sangat dipermalukan di depan semuanya. Dengan langkah lebar, ia pun keluar kelas. Yin Lee menatap sang adik kembar yang terlihat shock. "Tak usah kau hiraukan dia, Yang Lee. Kau harus tetap latihan," ujar Jackie Chan berusaha menyemangati. "Aku latihan dimana? Kita hanya bisa latihan secara kelompok di rumah Rebecca Zhang. Jika dia menolakku, lalu aku bisa apa?" tanya Yang Lee pasrah. Jackie Chan dan Yin Lee terdiam. Kompetisi ini bukan kompetisi solo. Lagipula, pendaftaran sudah ditutup, tidak mungkin memdaftarkan grup baru sekalipun ada. "Biar aku yang berbicara dengan Rebecca Zhang," ujar Yin Lee sambil bangkit berdiri. Namun, tangannya dicegah dengan kuat oleh Yang Lee. "Tidak usah, aku tidak ingin terjadi perkelahian," ujarnya pasrah. "Tidak akan ada perkelahian. Tenanglah dan jangan khawatir, okay?" Yin Lee menggenggam tangan adiknya sebelum ia bergegas pergi. Yang Lee hanya bisa menatap punggung sang kakak yang menghilang di balik pintu kelas. Jackie Chan duduk di sisi Yang Lee. "Aku masih tidak paham dengan cara pikir Rebecca Zhang. Kenapa dia sangat percaya diri bahwa dia bisa melakukannya tanpamu?" ujar Jackie Chan dengan ekspresi bingung. Yang Lee hanya mengangkat bahu. "Jika memungkinkan, sejujurnya aku lebih ingin kita membuat grup baru saja," ujar Jackie Chan. "Kau tau itu tidak mungkin. Lagipula jika itu mungkin pun, Rebecca Zhang tak mungkin mengijinkan kau keluar" sahut Yang Lee. "Aku tidak butuh ijinnya," jawab Jackie Chan. Bel pelajaran berbunyi. Semua murid langsung masuk ke dalam kelas. Termasuk Rebecca Zhang dan juga Yin Lee. Rebecca Zhang tampak sebal ketika ia melewati meja Yang Lee.. Melihat Yin Lee sudah datang, Jackie Chan langsung kembali ke bangkunya semula. Yang Lee seketika menatap kakaknya yang baru duduk. "Bagaimana?" tanya Yang Lee harap-harap cemas. Yin Lee membentuk tanda oke dengan jarinya sambil tersenyum. "Kau boleh latihan," jawab Yin Lee. "Hah? Bagaimana bisa?" tanya Yang Lee terkejut. "Yeah, tentu saja bisa. Aku hanya tinggal berjanji untuk memberinya contekan ketika kami ujian nanti," sahut Yin Lee enteng. Yang Lee menggelengkan kepalanya. Yin Lee benar-benar super, ia bisa menyelesaikan semua masalah dengan sangat mudah. *** Jam istirahat pertama, Yang Lee memutuskan untuk tidak ke kantin. Ia tau Rebecca Zhang pasti ada di sana. Jadi, untuk menghindari konflik berkepanjangan, ia pun untuk pertama kalinya memilih menghabiskan waktu di perpustakaan. Tempat paling horor yang ada di sekolah. Dijuluki tempat paling horor karena sepi pengunjung. Yeah, untuk orang yang tertolak seperti dirinya, tempat yang sepi adalah sebuah pelarian yang pas. Yang Lee masuk ke dalam perpustakaan dan ia melihat, memang hampir tidak ada orang yang ada di sana. Yang Lee menyusuri lorong perpustakaan untuk mencari buku yang bisa ia baca. Namun, sebuah suara seperti bisik-bisik di lorong sebelah membuat Yang Lee menajamkan telinganya. "Hmm, siapa itu?" batinnya. Ia menempelkan telinganya ke rak buku, tapi karena ia masih tidak bisa mendengar dengan jelas, maka ia pun memutuskan untuk memutari lorong tersebut. Ia terkejut ketika melihat Donny Gu berdiri di lorong membelakanginya. Sementara di depan pria itu seperti ada seseorang yang sedang ia ajak bicara. "Bagaimana jika siang ini, sepulang sekolah? Ujian akan mulai sebentar lagi, bukan?" Yang Lee mendengar suara pria itu berkata sangat lirih. Tidak terdengar jawaban, membuat Yang Lee makin penasaran. Pemuda itu berbicara dengan siapa? Yang Lee sangat yakin bahwa tidak mungkin yang Donny Gu ajak bicara adalah seorang pria. "Ok, aku senang mendengarnya. Aku yakin dengan bàntuanmu, nilaiku akan sangat bagus. Terima kasih, ya?" Donny Gu hendak membalikkan badan. Melihat hal itu, Yang Lee dengan cepat menuju lorong sebelah. Ia kembali berpura-pura mencari buku lagi. Pemuda itu melewati lorong tempatnya dan sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Yang Lee yang hanya berpura-pura mencari buku, segera menghentikan aksinya lalu pergi menuju lorong sebelah untuk melihat siapa yang telah diajak bicara oleh Donny Gu. Namun, ketika ia sampai di sana, lorong itu kosong. Tidak ada seorang pun! Astagaa! Cepat sekali orang itu pergi. Hh! Niat Yang Lee untuk mencari buku akhirnya ia urungkan, kini pikirannya hanya dipenuhi oleh bayangan Donny Gu. Sekalipun ia tau bahwa Donny Gu mungkin tidak menyukainya, tapi Yang Lee tidak bisa semudah itu menghilangkan perasaan sukanya terhadap pemuda bertubuh jangkung tersebut. Akhirnya, Yang Lee dengan sembarangan mengambil buku dan ia pun pergi menuju ruang baca yang disediakan. Ruangan itu cukup lega dengan bangku-bangku yang saling berhadapan ditutupi oleh papan berwarna putih di setiap mejanya, sehingga pembaca yang satu tidak merasa terganggu semisal ada orang lain yang duduk di hadapan atau sampingnya. Yang Lee akhirnya duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Kebetulan sekali, buku yang ia ambil adalah buku tentang percintaan dewasa. Yang Lee langsung membuka daftar isi dan mencari judul bab yang menurutnya menarik untuk dibaca. Maklum, ia bukan seorang yang memiliki hobby membaca, jadi yah begitulah, melompati bab untuk mencari sesuatu yang menarik adalah kebiasaan buruk orang-orang seperti Yang Lee. *Hayo! Jangan bilang kalo kalian juga, ya? "Hm, ok ...." Jari telunjuk Yang Lee mengurut nama bab dari atas ke bawah, mencari judul bab yang ia suka. "First kiss ... halaman 70," gumamnya. Yang Lee hendak membuka halaman tersebut ketika wajah seseorang yang ia kenal tiba-tiba muncul di balik papan bangku yang ia duduki. "Kau sedang membaca apa, Meí?" sapa Yin Lee dari balik bangku. "Astagaa!" Yang Lee langsung memegangi jantungnya yang mau lepas. Ia sungguh kaget melihat Yin Lee tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Yin Lee langsung cekikikan melihat wajah pucat adiknya. Ia pun segera berjalan memutar menemui Yang Lee. "Hayo, kau sedang belajar berciuman ya?" tebaknya sambil berusaha melihat judul buku yang dibaca oleh Yang Lee. "Eh, apa?" Yang Lee dengan cepat menutup bukunya lalu mendekapnya, takut kalau Yin Lee mengetahui menu bacaannya. "Ssst!!" Suara penjaga perpustakaan membuat Yang Lee dan Yin Lee menoleh bersamaan. "Tidak boleh ada suara di sini!" Wanita paruh baya itu berkata tanpa suara, ia lalu memperagakan dengan tangannya, menunjukkan mulut yang dikunci rapat lalu membuang kuncinya. Yin Lee mengangguk paham, sementara Yang Lee malah mencibir. Hanya berbicara sedikit saja kenapa begitu dipermasalahkan? Toh, tidak ada siapa-siapa di perpustakaan ini kecuali dirinya dan juga Yang Lee. Jadi, suara mereka akan mengganggu siapa? Aneh! "Apa judul bukumu? Aku bisa merekomendasikan buku yang lebih baik," saran Yin Lee. "Tidak mau! Aku suka buku ini," jawab Yang Lee sambil menyembunyikan buku itu dibalik punggungnya. Yin Lee tersenyum geli. "Baiklah, aku tau kau akan praktek dengan siapa," goda Yin Lee dengan suara cekikikan yang tertahan. "Huh! Jangan sok tau, Yin Lee." Wajah Yang Lee jadi bersemu merah. "Hihi, aku tidak sok tau, tapi aku memang tau," jawab Yin Lee sambil melangkah keluar dan terua cekikikan. Ia menuju penunggu perpustakaan yang tadi dan menyerahkan sebuah buku padanya. "Aku mau pinjam ini," ujarnya. Wanita itu lalu mencatatnya di sebuah buku dan juga kartu perpustakaan yang diserahkan oleh Yin Lee padanya. Yin Lee diminta untuk menandatangani buku tulis yang disodorkan. Setelah selesai, barulah kartu perpustakaan dan buku yang dipinjam diserahkan kembali kepada Yin Lee. "Terima kasih," jawab Yin Lee sambil menerima semuanya. Ia lalu mengerling ke arah Yang Lee dan sambil cekikikan, ia pun keluar dari sana. "Oh, jadi kalian kembar?" Petugas itu menatap Yang Lee sambil mengaitkan bibirnya. Ia baru pertama kalinya melihat kembaran Yin Lee. Selama ini, hanya Yin Lee lah yang selalu datang ke perpustakaan di jam istirahat. Gadis itu hampir setiap hari, selalu saja menghabiskan waktunya di sini. Yang Lee mengangguk sambil menyerahkan buku bacaannya dan juga kartu perpustakaan. "Wow! Buku pilihanmu berani juga. Ini seharusnya tidak diperuntukkan bagi pembaca di bawah usia 17 tahun," jawab petugas itu. Yang Lee tidak berkomentar. "Apakah kau tidak ingin menggantinya dengan judul yang lain?" tanya petugas itu lagi. Yang Lee menggeleng dengan yakin. "Tidak! Itu saja!" jawabnya. Wanita itu terlihat menarik nafas lalu menulisnya di sebuah buku tulis dan kartu perpustakaan seperti tadi. Sesudah Yang Lee membutuhkan tanda tangan di buku catatannya, ia pun menyerahkan kartu perpustakaan dan juga buku bacaan dewasa itu ke Yang Lee. "Terima kasih," jawab Yang Lee sambil tersenyum dan berlalu. "Hh! Bagaimana bisa buku semacam itu bisa lolos dan masuk ke perpustakaan ini?" keluhnya. "Baiklah, aku akan memindahkannya setelah buku itu kembali," gumam petugas perpustakaan itu pada dirinya sendiri. Yang Lee menuju kelasnya setelah bel sekolah berbunyi. Ia hendak masuk kelas ketika Rebecca Zhang menghadang langkahnya. "Jika sampai dalam kompetisi ini kita tidak menang! Maka ini adalah salahmu!" ucap Rebecca Zhang dengan nada geram. Yang Lee membalas tatapan Rebecca Zhang yang penuh intimidasi padanya. "Jangan bodoh, Rebecca! Kompetisi ini adalah kompetisi grup! Mana bisa kau bebankan semuanya padaku? Ingat! Aku hanya mengiringi musikmu! Kaulah bintangnya. Jika suaramu bagus, maka kita mungkin bisa menang! Jangan melimpahkan kesalahanmu kepada orang lain!" balas Yang Lee tidak mau kalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD