Stay alone!

1537 Words
Wajah Rebecca Zhang semakin merah padam mendengar kalimat pedas Yang Lee. Tangannya terangkat ke atas dan ia hendak menampar Yang Lee, tapi sebuah tangan tiba-tiba menahannya. "Aku tidak paham dengan perangaimu sama sekali!" Suara bariton seorang pemuda membuat Rebecca Zhang dan Yang Lee menoleh secara bersamaan. "Donny Gu?" Jantung Yang Lee berdebar begitu keras melihat pemuda yang ia suka berdiri di hadapannya. "Ap-apa maksudmu?" Rebecca Zhang ikut terpaku melihat Donny Gu seperti membela Yang Lee. Donny Gu melepaskan cekalannya di tangan Rebecca Zhang. "Ayo, Yang Lee, kelas sudah akan dimulai," ujar Donny Gu sambil menarik tangan Yang Lee masuk ke kelas. Rebecca Zhang membuka mulutnya melihat Donny Gu menggandeng tangan Yang Lee. Apa artinya itu? "Rebecca, apakah kau memikirkan apa yang kupikirkan?" tanya Vivian Chu, seorang teman dekat Rebecca Zhang sambil menatap ke arah Donny Gu dan Yang Lee. "Diamlah, Vivian Chu!" Rebecca Zhang terdengar sebal. Ia lalu berjalan masuk ke kelas diikuti oleh Vivian Chu dan gengnya yang lain. Sementara itu .... Yin Lee yang melihat Donny Gu membela adiknya di luar kelas tampak ikut senang. Apalagi ketika melihat Donny Gu menggandeng tangan Yang Lee. Berdua mereka masuk kelas, tapi posisi tangan Donny Gu sudah tidak lagi menggandeng tangan Yang Lee. Pemuda itu dengan tatapan acuh, langsung berjalan ke mejanya dan seperti tidak terjadi apapun antara dirinya dan Yang Lee. "Wah! Apa yang terjadi nih? Aku melihat dia begitu perhatian padamu!" bisik Yin Lee dengan sukacita. Yang Lee menoleh ke belakang, ke meja Donny Gu, tampak pria itu sibuk mengeluarkan bukunya dan tidak memperhatikan sekeliling apalagi melihat ke arahnya. "Hhh! Apakah menurutmu begitu?" tanya Yang Lee ke Yin Lee. "Iyalah, keliatannya dia menyukaimu. Aku sangat yakin itu!" ujar Yin Lee dengan semangat. Rebecca Zhang dan gengnya yang baru masuk kelas menatap sinis ke arah Yang Lee. Beberapa dari mereka mencibirkan bibirnya. Yin Lee menggenggam tangan adiknya, berusaha memberinya semangat. "Jangan hiraukan siapapun! Mereka hanya cemburu padamu," ujar Yin Lee. Yang Lee tersenyum kecut. Hidupnya sungguh tertekan baik di rumah maupun di sekolah. Seorang pengajar masuk ke dalam kelas. Suasana yang tadinya hiruk pikuk jadi tenang. "Siapkan kertas untuk test biologi!" *** Bel pulang sekolah berbunyi .... Semua murid langsung berhamburan keluar kelas, sementara Yang Lee masih sibuk mengatur bukunya. "Kau pergi ke rumah Rebecca dengan siapa nanti?" tanya Yin Lee ketika ia sudah merapikan semua bukunya. "Denganku, Yin Lee, kau tak perlu khawatir!" ucap Jacky Chan. "Oh!" Yang Lee menoleh ke belakang, ke meja Donny Gu. Namun, pemuda itu keliatannya sudah keluar terlebih dahulu. "Ayo!" ajak Jacky Chan melihat Yang Lee sudah bersiap. Yang Lee tanpa menjawab, ia berdiri dan keluar bersama dengan Yin Lee dan Jacky Chan. "Kau sendiri pulang dengan siapa Yin Lee?" tanya Jacky Chan. "Oh, aku belum pulang, aku hendak ke ruang baca terlebih dahulu," jawab Yin Lee. "Ha? Untuk apa kau ke ruang baca?" tanya Yang Lee. "Kita tidak mungkin pulang sendiri-sendiri, bukan? Jadi, sebaiknya nanti kau menelponku ketika kau sudah akan pulang. Karena aku sudah ijin ke mama kalau aku dan kau akan pulang terlambat, karena harus mengerjakan proyek ujian akhir semester," ujar Yin Lee. "Wah! Kau pandai berbohong sekarang, Yin Lee," ujar Yang Lee tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Itu kulakukan demi kau. Jadi, capailah prestasi dalam kompetisi ini," jawab Yin Lee Lee. "Wow? Kalian benar-benar saudara kembar sejati!" puji Jacky Chan. "Tentu saja!" jawab Yin Lee sambil tersenyum. "Ya sudah, ayo! Mobilku sudah datang," ajak Jacky Chan sambil menunjuk ke arah luar gerbang. "Yin Lee, kami pergi dulu, ya? Hati-hati sendirian di sekolah," ujar Yang Lee. "Dia akan baik-baik saja, Yang Lee, akan ada yang menjaganya nanti. Benar 'kan, Yin Lee?" ujar Jacky Chan sambil mengerlingkan matanya. Yin Lee mengerutkan keningnya melihat cara Jacky Chan menatapnya. "Apa maksudmu?" tanya Yin Lee dan Yang Lee bersamaan. "Hehe, aku pergi dulu! Ayo, Yang Lee! Nanti kita terlambat dan kau akan mendapat masalah dengan Rebecca Zhang," ujar Jacky Chan sambil berlari menuju mobilnya. Yang Lee dan Yin Lee saling berpandangan dengan tatapan tidak mengerti. "Sudah, sebaiknya kau pergi. Jangan sampai kau mendapat masalah dengan Rebecca Zhang," ujar Yin Lee. Yang Lee mengangguk dan ia pun berlari menyusul Jacky Chan. Yin Lee menatap kepergian adiknya sambil tersenyum. Dalam hati ia berdoa semoga Yang Lee memenangkan kompetisi kali ini. "Sudah siap?" Suara seorang pria mengagetkan Yin Lee. "Eh, kau, membuatku kaget saja! Ya, aku sudah siap, mari kita ke ruang baca," ajak Yin Lee. Ia berjalan lebih dulu sambil menunduk, sementara pemuda itu langsung mengikuti langkahnya dan berjalan di sisinya. "Oh ya, kau nanti pulang dengan siapa?" tanya pemuda itu. "Eh, aku nanti akan pulang bersama dengan Yang Lee," jawab Yin Lee gugup. "Yang Lee? Bukankah Yang Lee sedang latihan di rumah Rebecca Zhang?" tanya pemuda itu lagi. "Iya, tapi aku sudah memintanya untuk menemuiku lagi di sini," jawab Yin Lee. "Oh? Kenapa begitu? Bukankah dia bersama dengan Jacky Chan? Aku rasa Jacky Chan takkan keberatan jika dia mengantar Yang Lee pulang. Jadi, Yang Lee tak perlu kembali kemari. Dan, aku bisa mengantarmu pulang," ucap pemuda itu. "Ah, aku tidak ingin merepotkan siapapun, Donny Gu. Jadi--" "Oh, aku sama sekali tidak merasa direpotkan, Yin Lee. Justru aku senang bisa mengantarmu. Kemarin aku juga sudah mengantar Yang Lee ke rumah bibinya. Jadi, jangan merasa sungkan," potong Donny Gu. "Oh, aku tidak sungkan, Donny Gu. Hanya saja ... aku memang harus pulang dengan adikku jika tidak ingin mendapatkan masalah," jawab Yin Lee masih dengan wajah yang menunduk. "Oh, memangnya akan mendapatkan masalah seperti apa? Ayah dan ibumu terlihat seperti orang tua yang bijaksana," ujar Donny Gu. Yin Lee tidak lagi menjawab. Ia hanya tersenyum dan terus berjalan menuju ruang baca. "Yin Lee?" Seorang gadis dengan rambutnya yang bergelombang menyapa Yin Lee begitu gadis itu masuk ke ruang baca. "Hai, Cleo Tan," sapa Yin Lee begitu melihat temannya menunggu di sana. Donny Gu mengerutkan keningnya. Apakah Yin Lee ada janji dengan Cleo Tan? Kenapa gadis itu ada di sini padahal ini sudah jam pulang? "Hai, Donny Gu," sapa Cleo Tan kepada pemuda yang menemani Yin Lee. "Hai, juga. A-apa yang kau lakukan di sini? Bukankah ini sudah jam pulang?" tanya Donny Gu. "Oh, Yin Lee ada janjian denganku. Dia ingin aku mengajarinya melukis," jawab Cleo Tan sambil mengeluarkan alat lukisnya. "Oh?" Donny Gu jadi garuk-garuk kepala mendengarnya. "Eh, ayo kita duduk dan belajar bersama!" ajak Yin Lee sambil duduk di sisi Cleo Tan. Donny Gu tampak menarik nafas berat, tapi ia pun akhirnya duduk di hadapan kedua gadis itu. "Ayo, Donny Gu. Keluarkan buku bahasa inggrismu. Aku akan mengajarimu," ujar Yin Lee. *** Sementara itu .... Yang Lee yang berada satu mobil dengan Jackie Chan masih terlihat penasaran dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh pemuda itu. "Jackie." "Hm?" "Apa maksudmu dengan akan ada yang menjaga Yin Lee?" tanya Yang Lee. "Oh, itu. Haha! Ya, ada deh pokoknya. Yin Lee akan aman di sekolah dan takkan terjadi apapun," jawab Jackie Chan sambil tertawa sok misterius. Yang Lee mengerutkan keningnya. "Siapa?" tanya Yang Lee lagi. "Hehe, dengan berjalannya waktu, kau juga akan tau. Yang jelas, kau tak perlu mengkhawatirkan saudara kembarmu itu. Semuanya aman terkendali," jawab Jackie Chan. Yang Lee jadi makin penasaran dibuatnya. Mobil Jackie Chan tiba di rumah Rebecca Zhang. Semua orang sudah hampir lengkap berkumpul di sana. Malah ada tambahan beberapa orang yang merupakan geng dari Rebecca Zhang seperti, Vivian Chu, Hilda Lim, Jeanny Lau, Helen Mui dan Kristin Chou. "Kenapa ada orang di luar grup yang berada di sini, Rebecca?" tanya Jessica An ketika ia masuk ke dalam tempat latihan. "Kenapa? Besok di saat kompetisi, kita akan dilihat banyak orang, bukan? Jadi biasakanlah mulai dari sekarang!" sahut Rebecca Zhang. Semua anggota tim yang mendengar kalimat Rebecca Zhang hanya memutar bola matanya, berdebat dengan gadis arogan itu, hanya akan membuat mood mereka jadi rusak. Semua sudah berada di posisi masing-masing. Jackie Chan memberikan aba-aba menggunakan stik drumnya. Ia mengangkat kedua still drum tersebut lalu mengetuknya di udara dua kali. Musik pun mulai mengalun dan Rebecca Zhang mulai bernyanyi. Kehadiran kelima orang temannya berdampak besar terhadap kepercayaan diri Rebecca Zhang, jadi ia pun menyanyi dengan semangat! Rasa jengkelnya dengan Yang Lee untuk sementara terlupakan dengan kehadiran para teman gengnya. Latihan musik itu berjalan dengan sangat baik, sehingga semua orang menjadi puas. "Bagaimana? Apakah perlu diulang?" tanya Rebecca Zhang sambil menatap ke semua timnya. "Suaramu sangat bagus, Rebecca Zhang, aku rasa ini sudah sangat cukup, bukankah kau harus menyimpan energi dan suaramu untuk lusa?" ujar Yang Lee. "Huh?" Rebecca Zhang langsung mencibirkan bibirnya mendengar kalimat dukungan dari Yang Lee. "Bagaimana yang lain?" tanyanya lagi. "Yang diucapkan Yang Lee benar. Kita terutama kau, harus menyimpan energi untuk lusa, Rebecca. Jika sampai suaramu tiba-tiba hilang, maka latihan kita selama ini akan sia-sia," tambah Jessica An. Mendengar kalimat dari Jessica An, Rebecca Zhang mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kita akhiri di sini, saja. Sampai ketemu lusa di Paradise's hall!" ujarnya. Latihan pun bubar. Semua orang berhamburan keluar. Yang Lee melirik ke arah jam tangannya, masih pukul setengah dua. Yin Lee pasti masih di sekolah. Yah, sebaiknya ia kesana untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh saudara kembarnya itu di ruang baca. "Hei!! Mau kemana, kau?" Jeanny Lau menghadang langkah Yang Lee yang akan keluar dari ruang latihan. Yang Lee menoleh ke sekelilingnya dan tidak ada siapapun selain dirinya yang tertinggal di sini!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD