12. Malam berdua

1003 Words
"Reynand!" Pekik Reyna membuat Revan yang tengah tertidur nyenyak sedikit terusik dengan suara pekikan Reyna. Tetapi, pria itu tak sampai terbangun dan memilih menarik selimut lantas tertidur kembali. "Kok gak ada Reynand disini sih? Kemana ya? Apa jangan-jangan mimpi itu nyata." Reyna menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, "Enggak! Reynand gak akan senekat itu." Reyna mencoba untuk tenang, walau memang kenyataannya adalah Reynand pria yang nekad, pemikir tetapi sangat ambisius memecahkan suatu kasus. Dia akan merasa sangat tertantang. Pasalnya Reyna terbangun karena bermimpi jika Reynand pergi ke air terjun seorang diri, dibawa oleh arwah mahasiswi yang tadi mereka temui saat perjalanan ke air terjun. Itu berarti Reynand dalam keadaan tidak sadar. Ya Allah lindungi Reynand. "Gue harus cari Reynand nih," akhirnya Reyna memutuskan untuk mencari keberadaan kekasihnya. Dengan modal nekad, Reyna segera mengambil sebuah handphone yang dibutuhkan dan membuka pintu yang tak terkunci, jujur saja dia takut jika Reynand memang nekat kesana untuk mencari tahu semuanya. Padahal jika mereka tidak mengganggu maka bangsa mereka juga tak akan jahil. Saat Reyna sudah sampai di depan kamar Villa, cuaca segar menyerbuk ke badan Reyna. Wangi tanah basah sehabis hujan dan jangkrik berkicau. Reyna menghirup udara seger dan segera mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang yang sangat spesial di hidupnya. Reynand ya! Pria itu sangat spesial di hidup Reyna, bagaimana tidak spesial? Jika Reyna menyentuh Reynand maka makhluk halus akan menghilang dan itu sungguh aneh tapi nyata, ajaib seperti magic. Tetapi Reyna selalu meyakinkan kalau ini semua dari Allah SWT. Tak ada yang bisa membuat dirinya dan Reynand seperti ini jika bukan Allah yang menggerakkan. "Reynand." Lirih Reyna saat tak jauh dari tempatnya berdiri, melihat ada Reynand yang sedang duduk di sebuah gazebo sembari memandang ke arah depan. Reyna melangkahkan kaki jenjangnya, berjalan terburu-buru untuk sampai ke arah Reynand. "Rey." Panggil Reyna, saat dirinya sudah ada di samping Reynand. Reynand di buat gelagapan karena cukup terkejut dengan kedatangan kekasihnya. "Kenapa bangun, hmm?" Reynand menetralkan kembali pernapasannya saat tahu jika Reyna yang datang. "Aku nyariin kamu tau, kenapa gak di dalam aja sih. Gimana kalau kamu kesambet terus malah jalan sendirian ke air terjun, huh! Menyebalkan bikin orang khawatir aja." Reynand sedikit terkekeh, dia merangkul pundak Reyna dan membawa kepala kekasihnya untuk ia sandarkan di pundaknya. "Aku habis sholat dulu sayang, kamu mau sholat sekarang apa nanti subuh aja?" "Hmm sebenarnya aku lagi gak shalat sih Rey." Reynand menganggukkan kepala, mengerti dengan apa yang Reyna ucapkan kalau dia sedang datang bulan. "Yaudah, sana masuk lagi." "Gak ah, temenin kamu aja." Jawab Reyna membuat Reynand terkekeh. "Kamu gak pake jaket sayang, ambil dulu sana apa mau aku ambilkan?" "Kirain kamu mau sumbang jaket kamu buat aku" jawab Reyna dengan sedikit kekehan di akhir katanya. Reynand tertawa pelan lantas mengangguk. "Aku masuk angin nih, mau berobat jauh ke klinik." Reyna segera membulatkan mata, dan menatap Reynand dengan tajam membuat sang empu semakin terkekeh dan ingin gencar menjahili kekasihnya. "Ampun bu dokter, aku bercanda aja." "Kamu sih! Kayak gak anggap aku aja. Dulu pas sakit gak mau di obati dokter lain malah nekad nungguin aku selesai praktik, sekarang malah pengen cari dokter lain yak!" Reynand menyunggingkan senyumnya lantas menatap wajah Reyna yang sudah cemberut. "Gak ada alasan buat aku nyari cewek lain, Rey. Sedikitpun aku gak pernah berpikiran seperti itu." Reynand menjela terlebih dahulu ucapannya. "Walaupun kamu bukan dokter, aku akan tetap cinta dan suka sama kamu. Profesi bukan segalanya buat aku, yang penting aku bahagia sama kamu." Wajah Reyna merona mendengar perkataan manis yang terlontar dari tunangannya. "Kamu lagi ngapain disini? Mikirin apa, hmm?" Tanya Reyna mengalihkan pembicaraan. Reyna nampak termenung mendengar pertanyaan yang tak ingin dia jawab sedikitpun dari Reyna. Bohong sekali, jika Reynand tak memikirkan hal apapun. "Aku cuman gak mau pisah sama kamu aja, Sayang." Reyna mengerutkan kening bingung, Reynand berbicara seperti itu pasti ada sebabnya. Tak mungkin hanya sekedar mengucapkan saja tanpa ada alasan yang pasti. "Ada masalah?" Reynand menganggukkan kepala. "Kamu cantik, wanita karir. Siapa sih yang gak mau sama kamu, hmm?" "Jadi, aku harus berhenti berkarir gitu?" Reynand menyentil hidung mancung Reyna, melepaskan rangkulan di pundaknya dan membuka jaket kulit tebal yang melekat di badannya. "Nakal" Reynand memasangkan jaket itu pada tubuh Reyna. Sangat lucu, karena tubuh Reyna yang kecil dipadukan dengan jaket Reynand yang kedodoran. "Aku kan udah bilang, bawa jaket." "Aku lebih suka jaket kamu, wangi." Reynand terkekeh pelan, merangkul kembali wanitanya itu. Sebelum mengatakan sesuatu Reynand menghela nafas lantas menghembuskan nya secara perlahan. "Arman.. aku gak tau kenapa, terasa ada yang ganjil dan hmm, mungkin itu hanya perasaanku saja sih." Reyna segera mendongak dan menatap wajah tampan Reynand yang hanya tersinari cahaya remang-remang. "Jadi, kamu cemburu sama dia. Ya Allah." Reynand mengerutkan kening. "Kenapa?" "Aku tuh gak tertarik sama dia, orang aku sudah ada pawangnya. Mana galak lagi," mengucapkan hal itu membuat Reyna tertawa sendiri. "Rey, meskipun kamu bukan seorang polisi, aku tetap suka sama kamu." Reynand terkekeh, lebih memeluk kekasihnya erat. "Pintar gombal ya sekarang." "Siapa dulu dong, pacar komandan Reynand gitu loh." Reyna dan Reynand tertawa kecil, di balik malam yang dingin mereka banyak bercengkrama. Sampai jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, baru mereka kembali ke dalam kamar dan melanjutkan tidur. Jadi walaupun kamu saat ini dalam kabahagiaan kamu harus bersyukur dan begitupun sebaliknya yang saat ini kamu merasa sedih kamu tetap bersabar karena sungguh sikap yang kamu tunjukkan pada saat ini menjadi bukti bahwa kamu memiliki cinta abadi. Karena cinta itu unik seunik laki-laki yang rupawannya jelek mencintai perempuan yang rupawannya cantik. Cinta itu fantastic sefantastik laki-laki yang miskin mencintai perempuan yang kaya. Tetapi, Reyna dan Reynand sama-sama beruntung karena saling mencintai. Meskipun benar, fisik bukan penentu segalanya tetapi apa yang di lihat kebanyakan orang kepada mereka berdua adalah. FISIK SEBAGAI PENENTU. padahal kenyataannya bukan. Reyna membutuhkan Reynand sedangkan Reynand sendiri sangat ingin melindungi Reyna, kebetulan Allah kasih bonus kepada mereka, fisik, wajah dan pekerjaan yang sangat baik. Semoga di akhirat kelak, mereka juga berada dalam sisi terbaik. Selain itu, akhlak juga jadi penentu. Fisik bisa berubah. Pekerjaan bisa hilang. Tetapi, akhlak adalah segalanya. Attitude mengiringi juga. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD