kata siapa mencintai gadis indigo itu menyebalkan karena sering diganggu oleh makhluk astral? kata siapa mencintai gadis yang mempunyai kelebih lebih itu rumit? nyatanya reynand malah sebaliknya. reynand bangga, dia bahagia bisa kenal dengan reynand-wanita yang mempunyai kemampuan lebih. berkat wanita itu banyak sekali petualangan yang membuat hidup reynand lebih berarti.
sembari memandang reyna yang tengah lelap tertidur, Reynand sesekali tersenyum. dia memikirkan banyak hal yang telah terjadi, betapa bersyukurnya dia karena telah memiliki jalan takdir yang seperti ini. Reyna, selalu mempunyai cara tersendiri untuk membuat hidupnya lebih berarti, wanita yang dikirimkan tuhan padanya itu mempunyai keistimewaan yang sangat luar biasa. bahkan, reynand bersumpah tak akan pernah mengkhianatinya.
sepertinya malam ini reynand tak tidur, mengingat jika sekarang sudah menunjukkan pukul tiga pagi tetapi tanda-tanda kantuk tak menyerang matanya sedikitpun. dia duduk sembari memainkan handphone milik reyna dan sesekali membuka pesan w******p perempuan itu. salah jika reynand adalah pria yang sangat menjaga privacy dengan Reyna, buktinya handphone dia pun sering reyna lihat. akan tetapi, reyna secara langsung tetapi dirinya tidak. dia lebih memilih memeriksa saat-saat seperti ini, mungkin reyna tak tahu itu.
"enghh.." lenguhan khas bangun tidur terdengar di telinga Reynand. pria itu segera menoleh ke asal suara, dan ternyata berasal dari Reyna.
Reyna nampak mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum benar-benar membuka matanya.
"kenapa bangun, sayang? ini masih kepagian, nanti jam lima lebih aku bangunin."
Reyna menggeleng pelan lantas bangun dari tidurnya untuk menghampiri Reynand. tak lama kemudian, reyna mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan reynand membuat pria itu mengernyit.
"kenapa, hmm?"
reyna menggeleng, dia menaikkan kedua kakinya dan tidur menyamping di pangkuan Reynand.
"ini nyaman."
"kalau mau seperti ini, aku cepat-cepat nikahin kamu."
Reyna terkekeh pelan, "gak mau. sesuai tanggal yang sudah di tentukan ya." jawab Reyna diakhiri dengar kekehan.
"kamu mau lanjut tidur begini ya?"
reyna mengangguk pelan, dia menelusup kan kepala di d**a bidang reynand dan tersenyum kecil, membuat Reynand juga tersenyum hangat sembari mengusap-usap kepala Reyna dengan lembut.
***
"Fell?"
Felli yang sedang melamun karena memikirkan sesuatu pun terlonjak kaget, dengan keberadaan Alvin yang datang secara tiba-tiba.
Felli semakin gugup, kala Alvin duduk di sampingnya. Ia takut Alvin menanyakan hal yang sensitif, ya! Rencana pernikahan.
"Kenapa Vin?" tanya Felli, perkataan itu akhirnya lolos juga dari bibir mungil Felli.
"Hum, aku mau bahas sesuatu."
Felli menghela nafas kasar, benar kan dugaannya jika Alvin akan membahas sesuatu yang nantinya bisa membuat dirinya down. Pernikahan, bukan untuk main-main, harus ada kesiapan batin dan mental. Ini bukanlah tentang materi, tetapi tentang bagaimana kehidupan nanti setelah menikah. Jujur saja, pernikahan adalah sesuatu yang Felli takutkan di umurnya yang sekarang. Sekali lagi, dirinya bukan menunda ibadah terpanjang, tetapi dirinya belum siap.
"Vin, beneran disini?" Felli menundukkan kepala, air mata nya sudah siap untuk meluncur melewati pipi chubby-Nya.
"Sayang, sampai kapan? Daddy kamu udah ngabarin aku,"
Felli kembali menghela nafas kasar, ia sangat tahu jika Daddy-Nya mengabari Alvin, menghubungi pria itu menanyakan apakah Alvin benar-benar serius atau hanya sekedar main-main saja pada dirinya. Sungguh Felli di buat bingung dengan daddy-nya.
"Vin, apa harus secepat ini ya? Aku harus merelakan semuanya secepat ini?"
Alvin duduk di samping Felli, menggenggam tangan wanita itu dengan lembut. "Sayang, gak harus buru-buru. Minimal kita tunangan dulu,"
Felli segera melirik ke arah Alvin, "Bukannya kita udah tunangan, Vin? Waktu di gunung itu?"
"Di gunung? Yanga mana sih sayang?"
"Mau nyanyi gak, kalian?" tanya Bimo selaku teman Fikri.
"Boleh gue aja sini." Bimo mengerahkan gitar kepada Alvin.
Alvin mulai memetik gitarnya dan bernyanyi dengan suara merdu.
Kadang ku kesal dengan sikapmu..
Yang slalu bertanya mana perhatianku..
Mungkin kau tak pernah merasakan..
Apa yang ku lakukan di setiap pengorbananku....
"Ga, majuu." Angga segera menoleh lalu menggeleng, dia tak ingin Siska tambah marah kepadanya. Tadi siang saja, Siska belum benar-benar memaafkan dirinya. Buktinya hanya beberapa kali saja Siska berbicara padanya.
Selalu jadi yang kau mau.. menjaga di setiap saat. Ta...tapi kau tak melihatnya... Doni menimpali nyanyian Alvin dengan suara merdunya, sampai-sampai Anna saja menoleh karena tak percaya kalau itu suara Doni.
"Kuy lah semuanya.."
Mana ada aku cuek
Apalagi gak mikirin kamu
Tiap pagi malam ku s'lalu
Memikirkan kamu
Bukalah pintu hatimu
Agar kau tahu isi hatiku
Semua perjuanganku
Tertuju padamu
Hu-uu-uu
Mungkin kau
Tak pernah merasakan
Apa yang kulakukan
Di setiap pengorbananku
S'lalu jadi yang kau mau
Menjaga di setiap saat
Tapi kau tak melihatnya
Mana ada aku cuek
Apalagi gak mikirin kamu
Tiap pagi malam kus'lalu
Memikirkan kamu
Bukalah pintu hatimu
Agar kau tahu isi hatiku
Semua perjuanganku
Tertuju padamu
Lagu Rizky Febian yang berjudul Cuek itu dinyanyikan oleh mereka semua ralat para lelaki khususnya. Reyna sampai terkekeh geli, lirik demi lirik itu begitu pas dengan apa yang terjadi di kehidupannya.
"Ini nyinyir banget." mereka semua tertawa mendengar celetukan Felli, yang diangguki oleh Alvin.
Alvin menyerahkan gitar kepada Fikri suasana kembali ramai. Bernyanyi sambil tertawa bersama ditengah perkemahan seperti ini memanglah sangat menyenangkan. Reyna jadi ingin terus seperti ini saja sampai pagi, entah kenapa dia menjadi takut untuk tidur di tenda.
"Felli.." suasana yang sedang hening karena selesainya lagu membuat Felli malu karena ditatap oleh mereka semua.
"Humm, kenapa?" tanya Felli.
"Aku punya cincin." suasana semakin hening memudahkan Alvin untuk berbicara sesuatu dihadapan Felli.
Hati Felli semakin tak karuan, apalagi dia ditatap dengan dalam oleh Alvin, menandakan jika pria itu tengah serius.
"Ya, terus?" tanya Felli.
Alvin mengeluarkan cincin berlian yang sangat indah dari saku jaketnya.
"Tapi cincinnya bau."
Mereka semua tertawa dengan ucapan Alvin. Bahkan Reynand saja sampai menggelengkan kepalanya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Alvin, awal suasana yang akan dikira romantis berubah menjadi lucu.
Felli mendelik, harusnya sedari awal dia tak boleh percaya diri kalau Alvin akan romantis. Sosok Alvin tak bisa romantis, dia akan terus membuat kelucuan-kelucuan lainnya.
Alvin mengambil tangan kiri Felli, lalu memasangkannya dijari manis.
"Kalau bau kenapa dipasangin ke aku?" suasana kembali hening, memperhatikan dua insan yang berbeda kelamin itu.
"Coba cium sama kamu, aku gak kuat sama baunya." Refleks Felli mencium cincin mahal yang sudah melekat dijari manisnya.
Felli menggeleng, dan merutuki kebodohan Alvin. Cincin semahal, sebagus dan tak ada baunya seperti ini dikira bau. Hidungnya terbuat dari apaan sih? Geram Felli dalam hatinya.
"Gak bau kok." jawab Felli.
Alvin nampak mengeryit, wajahnya terlihat bingung. "Ah masa sih?" kembali diangguki kepala oleh Felli.
"Sini coba tanganmu." Alvin membawa tangan Felli, tanpa diduga Alvin malah mengecup punggung tangan Felli, membuat semua orang membulatkan matanya lalu tersenyum.
"Gombalan yang gak ada duanya." batin Felli. Dia tak bisa berkata-kata lagi, apalagi saat dirinya mendengar cuitan dari teman-teman dan yang lainnya.
"Fell, aku gak tau harus mulai dari mana. Kamu tau kan, aku bukan pria romantis dan gak pernah serius." Alvin menjeda ucapannya. "Tapi kali ini, aku serius sama kamu." tuturnya.
Alvin menatap lekat-lekat mata Felli dibawah cahaya yang remang-remang.
"Will you marry me?"
Untuk sementara waktu, mereka semua hening lalu menatap ke arah keduanya. Tak ada yang percaya jika Alvin baru saja melamar Felli seperti ini. Bahkan Felli saja sempat tak percaya dengan apa yang Alvin lakukan. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah Alvin benar-benar melamarnya?
Felli terdiam beberapa saat kemudian kepalanya mengangguk. Mereka semua kembali ricuh memberikan selamat kepada kedua insan yang tengah berbahagia itu.
Alvin memeluk kepala Felli, ditenggelamkannya wajah Felli yang sudah menangis ke d**a bidangnya.
"Tolong! Mata Anna ternodai."
Semua mata tertuju pada Anna, beberapa detik kemudian tawa kembali terdengar. Ah sungguh perkemahan yang sangat berkesan.
Alvin terkikik geli, "Oh yang itu ya?"
"Iya Vin, yang mana lagi coba."
"Iya sayang, tapi setidaknya kita harus membuat lamaran resmi."
Felli menghela nafas nya kembali. "Baik, tapi lamaran aja dulu ya."
Alvin tersenyum. "Iya sayang, jangan cemberut lagi ya. Nanti nambah imut,"
"Alvin iihhh."
"Apa sayang."
"Gombal terus."
"Gak apa-apa, sama calon istri."
Kata-kata yang terlontar dari bibir Alvin itu membuat pipi Felli merona. Asing tetapi menenangkan.
**
Bersambung.