14. Rencana pulang liburan

1007 Words
matahari sudah mulai terlihat akan naik menyinari sebagian belahan bumi, tetapi beberapa orang masih tertidur. Revan mengerjap-ngerjapkan matanya dan segera melepaskan pelukan, dia mengernyit bingung, saat yang ia peluk bukanlah Reyna adiknya, melainkan Valen. senyum manis terpatri di wajahnya, dia mengusap wajah Valen yang putih bersih dengan tangannya. kalau semalaman dia yang memeluk Valen, lantas dimana adik nya itu? Revan mengedarkan matanya, mulai panik akan keberadaan adik satu-satunya. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Reyna. Tetapi beberapa saat kemudian, matanya tak sengaja melihat Reyna sedang tertidur di pangkuan Reynand dengan nyenyaknya, tak beda jauh dengan Reynand. Pria itu juga tertidur sangat pulas. Revan tersenyum kecil, lantas menggeleng-gelengkan kepala akan tingkah laku sahabat serta adiknya. Beberapa saat kemudian dia membangunkan semua teman-temannya untuk melaksanakan sholat subuh yang tertinggal namun masih bisa di laksanakan walaupun telat. *** "Gue mau ke air terjun, penasaran deh." ucap Siska. Angga segera berdehem, dan menatap Siska. "Jangan aneh-aneh deh sayang, udah tahu bahaya. Daripada terjadi hal-hal yang tidak dinginkan mendingan kita jangan kemana-mana aja." jelas Angga panjang lebar. Siska menghela nafas. "Liburan yang gagal lagi," "Gak gagal, buktinya kita masih bisa quality time sama-sama kan? Air terjun juga di tempat kita banyak, nanti kita kesana ya." Angga terus mencoba memberikan kepada kekasihnya, ia tak ingin sesuatu hal terjadi. Lagian Angga cukup ngeri dengan kejadian waktu dulu, dimana dia hampir kehilangan Siska, dan kejadiannya persis dibelakang air terjun. Mungkin karena kejadian itu, Angga jadi Farno dan tidak akan mengizinkan Siska pergi ke air terjun tanpa dirinya. Ah apakah kalian masih ingat dengan yang menimpa kejadian Siska dulu? Saat kasus bersama dengan Fakhri dan anak buahnya. "Yaudah deh, Ga. Aku nurut," Angga tersenyum manis pada Siska, bersyukur sekali kali ini wanita itu tak keras kepala. "Jadi masalah Riani gimana nih?" tanya Rio, dia masih penasaran dengan adiknya. "Ya seperti apa yang Reyna katakan, nanti kita bawa Riani ke kak Revan." "Tapi adek gue, gak akan indigo selamanya kan?" "Insyaallah enggak akan, semoga aja bisa di tutup. Soalnya belum tentu mental Riani kuat juga." jawab Reyna, yang di angguki oleh mereka semua. "Riani, kamu gak apa-apa kan kalau kamu gak bisa lagi ngeliat yang seharusnya tak bisa di lihat." Riani tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Riani juga pengen mondok kok kak," Rio menatap adiknya dengan pandangan tak percaya. "Apa mondok? Kamu serius dek? Lalu kuliah kamu?" "Kak, aku berprinsip bahwa akhirat lebih penting daripada dunia. Memang benar bukan? Agama kita juga mengajari hal seperti itu, jadi apa salahnya kalau Riani mempunyai keputusan sesuai syariat Islam dan peraturan agama kita?" jawab Riani panjang lebar, membuat Rio terharu. Rio memeluk adiknya cukup erat. "Alhamdulillah, itu keputusan yang sangat bagus. Kakak cuman bisa berdoa semoga adek baik-baik terus." "Aamiin, makasih ya kak support nya." Rio tersenyum, dan mengangguk melepaskan pelukan itu. Sungguh memang benar. Keputusan Riani sangat dewasa sekali, dia rela meninggalkan pendidikan dunia agar mengejar akhirat, dia sangat setuju dengan apa yang Riani inginkan barusan. Rio berdoa semoga Riani istiqomah dengan keputusannya. "Nanti kakak pilihkan ya, pondok pesantren yang akan menjadi tempat kamu mencari ilmu." Riani segera menggeleng. "Gak usah, kak. Riani udah nemu kok, kayaknya bakalan cocok banget buat Riani kak." Rio mengernyitkan kening, bertanya-tanya dalam hati. Apakah persiapan Riani sejauh itu? Atau emang Riani sangat antusias, sehingga dalam waktu semalam atau beberapa jam segera membuka situs internet agar bisa menemukan pondok pesantren dengan cepat? "Dimana emang nya dek?" "Tarim." "HAH TARIM?" Tarim adalah sebuah kota bersejarah yang terletak di Hadramaut, Yaman. Di Tarim terdapat banyak masjid, jumlahnya mencapai 360 buah, sesuai dengan jumlah hari dalam 1 tahun, selain itu Tarim juga dikenal dengan keilmuan dan ulama *** "jadi mau langsung balik, atau ke air terjun dulu nih?" tanya felli. mereka sudah berkumpul sembari memakan mie instan yang mereka masak tadi, membawa mie instan dan memakannya saat pagi hari dengan cuaca dingin seperti itu memang sangatlah enak. apalagi di tambah dengan beberapa orang yang mereka sayang, sekali-kali tak apa. mereka juga harus menikmati waktu seperti ini. "kayaknya kita langsung balik aja deh." "gilak, jauh-jauh air terjunnya gak dapet." protes siska. "sis, keadaan gak memungkinkan kemaren aja seperti itu, lo tau sendiri kan?" reyna mencoba memberi penjelasan kepada semuanya agar mengerti. siska mengangguk dan menghela nafas. "yaudah deh, padahal gue gak mau balik dulu." jawabnya lesu. "kok gitu?" reyna mengerutkan kening nya. "jangan lupain teror waktu itu." bukan siska yang menjawab melainkan felli. seakan teringat dengan teror yang menimpa siska mereka semua segera melihat ke arah siska dengan seksama. "gue.. hmm gue gak apa-apa sih sebenarnya, cuman masih penge liburan. tapi kalau disini gak aman ya gila kali harus lanjut disini, mending di rumah. lagian gue mau nginap di kost felli untuk beberapa waktu ke depan." felli yang tengah menyeruput mie itu sampai tersedak mendengar penuturan dari sahabatnya. "gilakkk.. gue kagak mau ikutan di teror." "nah itu dia fell, semoga di tempat lu aman. kan kost lu aman dari serangan seperti itu, kalau ada apa-apa di titipkan di satpam. sedangkan rumah gue? satpam cuman ada waktu malam aja." "heh gilak!" "ya boleh ya, boleh dong." felli menghela nafas lalu mengangguk. "boleh lah.. masa enggak" jawabnya membuat siska tersenyum kesenangan. "lo gak harus nginep di kost felli sis, malah gue semakin khawatir karena kalian kan berdua cewek." ujar doni. perkataan doni yang selanjutnya membuat yang lain mengangguk, tapi tidak dengan siska dan felli. "kalau lo takut di rumah sendirian, gue nginep aja kalau gitu sampai papah sama mamah balik lagi ke indo." "ya, lebih baik seperti itu." timpal angga. "tapi.. bosen lah di rumah sendirian." jawab siska lesu. "yaudahlah mau dimana juga, asal semuanya aman. lagian yak, semakin lo pindah-pindah tempat semakin kita bisa cari tau dalang nya siapa. karena kita akan mendapatkan kurir baru, semoga salah satu nya bisa kita ajak untuk bekerja sama." perkataan reyna ada benarnya, reynand menyunggingkan senyum. dia mengusap-usap kepala reyna dengan lembut sesekali tersenyum kecil. "jadi fix ya, nanti siang kita balik." jawab siska yang di angguki oleh mereka semua. *** Bersambung. Holla, cerita benar-benar di revisi dari bab awal. jadi yang belum baca cuss baca, takutnya keburu ke kunci ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD