Bab 02
***
Lembaran buku yang terbuka secara perlahan membuat Sena semakin merasa bosan dengan kegiatannya di dalam perpustakaan. Ya, Sena dan Yujin sedang mengerjakan tugas bahasa Indonesia, mereka harus menyelesaikan tugas yang akan di kumpulkan pada jam terakhir nanti mengenai kerangka novel. Dari mulai menulis judul cerita, sinopsis hingga ke pesan moral yang bisa di ambil dalam cerita novel tersebut. Beberapa kali Sena menghela nafasnya dengan gusar membuat Yujin merasa jengkel dan memukul kepala Sena dengan novel yang sedang ia genggam di tangan kanannya.
"Berhentilah menghela nafas berkali-kali. Sudah kerjakan saja tugasnya agar kita bisa keluar dari perpustakaan," titah Yujin dan untuk yang terakhirnya Sena kembali menghela nafas.
"Ah!" Seru Sena membuat Yujin menoleh dan menatap tajam gadis yang ada di sampingnya.
"Kau tidak menyangka pasti, kemarin aku di antar oleh Chenle ketika pulang sekolah," Sena memberitahu. Yuji mengerutkan dahinya menatap Sena tak percaya.
"Chenle? Maksudmu Zhong Chenle teman Renjun?" tanya Yujin memastikan dan Sena mengangguk dengan pasti.
"Ya habis siapa lagi orang yang bernama Chenle selain dia, secara tidak sengaja kami bertemu. Aku hanya memberitahunya karena resleting tasnya terbuka dan tiba-tiba saja dia mengajakku pulang bersamanya."
"Satu langkah lebih dekat untuk mendekati Renjun. Kau sudah mengenal Chenle, bukankah lebih mudah untuk mendekati Renjun?"
Sena menggeleng. "Ntahlah aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk itu. Kau tahu? Cinta itu tidak harus memiliki. Lagi pula aku sudah merasa senang menghabiskan waktu dengan menatap Renjun secara diam-diam."
"Aish kau ini, berhentilah mengingat perkataan itu. Apa salahnya mencoba untuk mendekati Renjun? Dan menyatakan perasaanmu padanya?" Sena menjitak kepala Yujin.
"Kau ini memangnya menyatakan perasaan itu seperti membalik sebuah donat? Mudah sekali bicaranya. Tidak ah aku tidak akan menyatakan perasaanku, cukup di pendam saja. Biar aku, kau dan Tuhan yang tahu jika aku mencintai Renjun." Mendengar hal itu membuat Yujin memutar bola matanya malas.
Ketika mereka berdua kembali mengerjakan tugas dengan fokus, Yujin lagi-lagi menyikut lengan Sena. "Arah jam 12 lihat ada pujaan hatimu," bisik Yujin membuat Sena buru-buru menoleh ke arah yang Yujin katakan. Dan benar saja Sena melihat Renjun tengah mencari-cari sebuah buku di rak bagian bahasa.
"Sana, kau lewat saja di dekatnya," bisik Yujin memberi saran. Sena menggeleng dengan cepat.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau! Jantungku seperti ingin melompat keluar hanya dengan melihatnya dari jauh, apalagi jika melihatnya dari dekat?"
"Aish kau ini, aku jadi gemas sendiri denganmu. Kau harus berusaha Sena."
"Tidak, aku cukup senang menatapnya dari jauh," balas Sena. Yujin tiba-tiba tersenyum. Dengan segera Yujin beranjak dan menarik lengan Sena membuat gadis itu terkejut setengah mati karena kelakuan Yujin.
"Ah! Sena kita harus mencari kamus bahasa jepang yang di perintahkan Nara Sensei," Yujin sengaja menarik Sena menuju rak buku bagian bahasa, tepat di mana Renjun sedang berada di sana. Renjun sempat menoleh ketika mendengar ucapan Yujin yang terdengar sedikit keras.
"Sena, kau cari kamusnya ya. Aku kebelet ingin ke kamar mandi," kata Yujin mengedipkan sebelah matanya dan pergi begitu saja meninggalkan Sena yang sudah tidak mampu berkata-kata lagi.
Sena semakin gugup karena di lorong ini hanya ada dirinya dan Renjun, walau mereka berdiri cukup jauh. Rasanya Sena ingin menghilang, ia tidak sanggup berdekatan dengan Renjun seperti ini. Langkah Renjun semakin mendekat pada Sena, tetapi pemuda itu sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Sena dan tetap fokus untuk mencari-cari sebuah buku incarannya.
Sampai akhirnya tubuh Sena tiba-tiba saja terdorong dengan keras dan menghantam tubuh Renjun membuat Sena terjatuh karena dirinya mendorong Renjun. Alhasil, bruk-Sena terjatuh dengan menindih tubuh seorang Huang Renjun yang sepertinya begitu terkejut karena hal ini.
Sena mengangkat tubuhnya dan ketika ia mendongak. Sena begitj terkejut rasanya seluruh jantungnya seperti berhenti berdetak ketika sepasang iris matanya bertemu dengan iris kehitaman milik Renjun. Sena benar-benar tenggelam pada pada sorot mata pemuda bersurai cokelat itu. Renjun pun hanya terdiam, ia bisa mencium aroma bubble gum yang menyeruak memasuki indra penciumannya.
"Ma-maafkan aku, aku sedang terburu-buru jadi tidak sengaja menabrakmu," kata salah seorang murid laki-laki yang suaranya terdengar dari belakang Renjun dan Sena. Mendengar hal itu membuat Sena tersadar dan ia segera bangkit dari jatuhnya, merapikan seragamnya dann menatap murid laki-laki itu.
"A-ah tidak apa," ujar Sena. Murid laki-laki itu pun segera pergi. Menyisakan Sena dengan Renjun kembali.
"Ak-ak-aku mi-min-minta ma-ma-maaf," ujar Sena dengan kepala yang tertunduk karena Sena sama sekali tidak berani menatap wajah Renjun. Renjun hanya mengangguk yang bahkan tidak Sena lihat. Dan Renjun pun pergi begitu saja keluar dari perpustakaan setelah ia berhasil mengambil buku yang akan ia pinjam.
"Aish! Bodoh, bisa-bisanya aku terjatuh menimpanya. Tapi kenapa? Kenapa Renjun begitu tampan? Hah! Bisa gila aku," Sena menjitak kepalanya sendiri.
"Kak sudah nih," murid laki-laki itu pun berjalan menghampiri Yujin. "Nih sesuai yang sudah aku janjikan," Yujin memberikan selembar uang pecahan 1000 won pada murid laki-laki itu. Ya, Yujin pelaku yang telah membuat Sena terjatuh, ia menyuruh salah satu adik kelas yang ia kenal untuk mendorong Sena dan sebagai imbalannya Yujin memberikan uang pada murid laki-laki itu dan ternyata rencananya berhasil.
***
Kelas 2 IPA B sedang berolahraga bersama kelas 2 IPS A karena salah satu guru sedang tidak masuk jadi olahraga mereka digabungkan bersama. Chenle dan Renjun kini tengah bermain basket bersama teman sekelas mereka, dan kebetulan sekali Sena dan Yujin sedang mendapatkan jam kosong karena guru sejarah mereka sedang pergi ke rumah sakit karena ada keperluan mendadak.
"Sen, sini deh," Yujin menarik lengan Sena dan membawanya menuju luar kelas. Kelas mereka berada di lantai 2, jadi murid yang sedang berolahraga di lapang bawah bisa terlihat.
"Tuh kesukaan kamu," kata Yujin menunjuk Renjun yang sedang mendribble bola basket.
"Tampan sekali," ujar Sena reflek ketika melihat Renjun.
"Mengapa Renjun begitu sempurna?" gumam Sena. Sena memopang dagunya pada pagar balkon sekolahnya, memandangi Renjun dari jauh adalag hal yang menjadi favorit Sena selama di sekolah.
Yujin memberikan kedipan mata pada salah satu pemuda bersurai blonde yang tengah menatapnya, pemuda itu tersenyum dan mengangguk. "Ren, lihat di atas ada seekor burung memakai bando bewarna merah," kata Chenle dan bodohnya Renjun malah menatap ke arah atas hingga pandangannya tertuju pada seorang gadis yang tengah menatapnya.
"Kenapa gue harus nganggepin ucapan lo," sesal Renjun. Lagi-lagi Sena terkejut, ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali karena untuk yang kedua kalinya Sena dan Renjun saling bertatapan, dan untuk kedua kalinya juga Sena ketahuan karena dirinya telah menatap Renjun.
"Cantik bukan? Burungnya? Haha," kekeh Chenle. Renjun merotasikan bola matanya dengan malas. Bisa-bisanya ia terjebak ucapan Chenle.
"Yu-yujin! Renjun melihat ke arahku tadi huaaa... Bagaimana ini? Aku ketahuan sedang memperhatikannya sedari tadi," Sena berbalik membelakangi balkon. Ia memegang kedua wajahnya dengan telapak tangannya, kedua pipinya terasa menghangat ketika melihat Renjun yang terlihat begitu tampan, dengan rambut yang sedikit basah karena keringat, Renjun memang benar-benar pemuda yang sangat tampan.
"Rasanya aku ingin menghilang saja huaa."
"Kau ini baru saja di tatap sudah seperti ini bagaimana jika nanti kau di cium olehnya haha," tawa Yujin dengan senang karena rencananya telah berhasil.
Tunggu... Bagaimana munkin Yujin bisa dekat dengan Chenle? Perlu kalian ketahui, tanpa sepengetahuan Sena. Yujin memang sudah mengenal Chenle karena mereka sama-sama anggota osis. Yujin tentu saja tahu jika Chenle sangat dekat dengan Renjun.
Flashback
Pagi-pagi sekali ketika Yujin sedang berada di ruang osis, ia melupakan buku catatan maatematika yang tertinggal di atas meja saat pertemuan kemarin. Dan Yujin tidak sengaja bertemu dengan Chenle yang ternyata baru saja masuk ke dalam ruang osis. Keduanya memang cukup dekat karena mereka sama-sama anggota osis. Chenle tersenyum dan menyapa Yujin yang dibalas oleh Yujin. “Kau kenapa pagi-pagi ada di sini?” tanya Chenle menatap Yujin.
“Ah, buku catatan matematika ku tertinggal kemarin, kau sendiri?”
Chenle merogoh saku celananya dan mengeluarkan charger ponsel miliknya. “Aku ingin mengisi baterai power bank ku. Oh ya kau temannya Sena bukan? Kurasa kita bisa bekerja sama bagaimana?” Awalnya Yujin menatap Chenle dengan bingung.
“Apa ini ada hubungannya dengan Renjun juga?” tanya Yujin dan Chenle mengangguk. “Aku sering memergokki temanmu memperhatikan Renjun secara diam-diam, aku pikir dia menyukai Renjun, benar bukan?”
“Kau jangan mengatakannya kembali pada Renjun. Ya Sena memang sudah cukup lama menyukai Renjun namun dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mendekati atau sekedar menyapa si ketua osis kita. Kau tahu kan? di osis saja Renjun tidak pernah berbicara dengan gadis-gadis lain kecuali jika penting dan menyangkut paut organisasi atau pelajaran,” ujar Yujin. Chenle
sedikit terkekeh, memang sepupunya begitu tertutup pada seorang gadis, hatinya terdapat sebuah benteng yang menjulang.
Menyulitkan siapapun gadis yang mencoba untuk masuk ke dalam hatinya.
“Ya dia memang seperti itu, tapi aku mempunyai feeling jika Sena adalah gadis yang bisa merobohkan benteng di hati Renjun,” kata Chenle. Yujin mengangguk setuju, niat ia pun lagi pula baik. Yujin hanya ingin setidaknya Sena tidak menyia-nyiakkan kesempatan untuk dekat dengan Renjun, mengingat jika mereka berada di kelas 2 dan tidak lama lagi kelas 3 dan kelulusan, jadi Yujin tidak ingin membuat Sena menyesal karena harus memendam perasaanya selama 3 tahun lamanya.
“Jadi mulai sekarang kita team?” tanya Yujin yang dibalas anggukkan oleh Chenle. Mereka berdua saling tos dan tersenyum. Mereka adalah team untuk membuat Sena dan Renjun saling dekat satu sama lain.
Flashback END
***