Bab 3. Keseriusan

1137 Words
"Aku pamit ya, Om," ujar Farras sembari salim. "Makasih ya sudah antar Asha sampai rumah." Baru saja Farras berbalik, hujan kembali datang dengan deras secara mendadak. Seolah memberi kesempatan bagi Farras dan Asha untuk bersama lebih lama. "Mau masuk dulu, Nak? Minum dulu sembari nunggu hujan reda." Hanum menawarkan. Kepala Asha menggeleng, meminta Farras untuk segera pulang saja. Toh, lelaki ini mengendarai mobil. Hanya perlu berjalan dengan payung berapa langkah saja. "Tentu, Om." Namun, jawaban itu membuat Asha melongo. Hanum segera masuk ke rumah diikuti oleh Farras yang tersenyum ke arahnya. Sepertinya lelaki ini sengaja, padahal barusan mata menangkap sinyal larangan dari Asha. "Sha, bikin minuman." Amat terpaksa Asha menuruti permintaan Hanum untuk membuatkan minuman. Anggap saja tanda terima kasih karena Farras telah mengantar. Sementara itu, terlihat Arum melipat payung dan begitu memasuki rumah mulut langsung mengomel. "Cuaca sekarang tidak bisa dikompromi, dikit-dikit hujan, dikit-dikit ...." Arum membeku sejenak saat mendapati Farras yang berdiri untuk salim. Lantas, bibir mengulas senyum karena mengenali. Apalagi kepala Hanum yang mengangguk, mengkonfirmasi bahwa Farras adalah anak sang kenalan. "Farras antar Asha pulang, kebetulan hujan jadinya mampir sebentar," ujar Hanum bercerita. Arum terkekeh. "Lama juga tidak apa." Begitu melihat Asha yang mendekat sembari membawa dua cangkir kopi, Arum segera menyeret suami untuk meninggalkan mereka berdua. Hanum yang paham tentu saja menuruti. "Bu," sebut Asha mengkode tak ingin ditinggal. "Kalian bicara dulu saja, ibu mau ganti baju," ujar Arum dengan ekspresi sangat ceria. Tarikan napas Asha yang cukup berat diperhatikan serius oleh Farras. "Kalau keberatan dengan keberadaanku, bagaimana kalau aku pulang saja?" "Eh, tidak perlu. Aku sama sekali tidak keberatan, kok." Asha terpaksa duduk bersama Farras, sekali pun kursi yang berbeda menjadi jarak di antara mereka berdua. "Aku serius, sama sekali tidak ada niat memberi harapan palsu." Kepala Asha menoleh, mata memandang pada Farras yang mulai melakukan hal sama dengannya. "Pembicaraan kemarin, perihal lamaran," ujar Farras lancar. Asha tersenyum canggung. "Bukankah ini terlalu cepat?" Bagi Asha, cinta itu pondasi utama sebuah pernikahan. Farras diam sejenak, lantas meraih secangkir kopi bikinan Asha dan sempat menyeruputnya. "Lusa yang aku bicarakan ada banyak, Asha." Pandangan Asha kembali tertuju pada Farras yang kali ini terlihat lebih santai. Teringat lelaki ini yang akan melamar pada lusa setelah kencan kemarin. Tapi, sekarang seolah memberi waktu bagi Asha untuk berpikir. *** "Mitos atau fakta, sih?" Nindi lagi mengaduk secangkir teh melirik pada Asha yang kelihatan penasaran. "Menolak lamaran?" tanya Nindi setelah mendengar keluh kesah dari Asha. "Iya. Aku merasa seperti disumpahi ibuku karena masalah ini." Katanya, kalau menolak lamaran bakal lama menikah bahkan bisa-bisa jadi perawan tua. Asha kan bukannya tidak mau menikah, hanya belum nemu yang sesuai kriteria saja. "Menurutku, coba jalani saja dulu. Toh, dia juga tidak ada niatan untuk memaksa, kan?" Kepala Asha mengangguk. "Benar." "Eh, ngomong-ngomong. Dia ngasih alasan tidak, kenapa ngebet banget ingin menikah? Apalagi cuma maunya sama kamu, Sha." "Dia orang sibuk, tidak ada waktu pacaran, umur sudah tuir dan lelah didesak oleh keluarga." Dari semua yang Asha sebutkan membuat Nindi menepuk pundaknya. "Pantas saja kamu ragu. Dia tidak ada niat menikah untuk hidup bersama, tapi membungkam mulut keluarga." Perkataan dari Nindi semakin memberi Asha benteng untuk menolak lamaran itu. Namun, hampir setiap hari ada kurir dadakan yang mengantar makan siang untuk Asha. "Makanan dari dokter Farras." Asha menarik napas saat menemui kurir dadakan yang diperintah oleh Farras. "Mohon diterima dan dimakan ya," pinta lelaki ini. "Iya. Kalau aku menolak nilai kamu dikurangi, kan?" Asha menyahut dan mengambil bekal dengan malas. Dokter koas yang sering antar makanan sampai Asha hapal wajahnya menunjukkan senyuman. "Sebenarnya imbalan kali ini libur sehari menemani ibu operasi." Bukan hanya itu saja. Setiap kali hujan disore hari, selalu datang dokter koas lain di lobi menunggu hanya untuk menyerahkan payung padanya. "Payung ke-19," ujar Asha sembari menerima dengan sedikit malas. Asha menarik napas, dirinya merasa seperti pengoleksi payung. Gara-gara Farras, benda ini hampir memenuhi tiap sudut rumahnya. "Kenapa sih dia tidak mau datang sendiri?" tanya Asha sedikit kesal. "Dokter Farras hanya takut mengganggu dan buat tak nyaman." "Justru aku yang tidak nyaman jika terus begini!" keluhnya dengan kesal. *** "Farras itu anak baik-baik, mau cari lelaki seperti apalagi, Sha?" Bibir Asha cemberut mendengar nasihat dari ibunya. Apalagi Arum yang sedang membongkar buah-buahan dari Farras, hampir tiap hari juga lelaki itu mengirim makanan ke rumah, seolah mereka kekurangan saja. "Ya, tapi aku tidak cinta, Bu." "Memangnya dulu ibu sama Ayahmu saling cinta?" tanya Arum. Mata Asha pun melirik pada Hanum yang sedang sibuk mengobrol dengan rekan kerja di telepon. Lelaki tersebut datang dan menawarkan pernikahan di saat Asha butuh sosok ayah di usia kecil. "Cinta itu nomor berapa, Sha. Farras berbeda dengan Surya, dia lelaki yang tahu siapa prioritasnya." Asha cemberut karena ibunya menyamakan Farras dengan Surya yang jelas dua orang berbeda, karakter juga tentunya beda. "Coba kenalan lebih dalam, Sha. Ibu begini bukan karena Farras dari keluarga berada saja, tapi ibu memikirkan masa depan kamu juga." "Keluarga Farras sangat berbeda dengan Surya. Feeling seorang ibu tidak pernah salah, Sha." Mulut Asha hanya mengunci, pemikirannya masih tidak setuju dengan Arum. Asha belum punya cukup bukti bahwa Farras lebih baik dari Surya, lalu Farras pantas untuk menikahi dirinya. *** Gara-gara masalah lelaki, Asha jadi tak fokus bekerja. Bahkan hampir tak menyadari kalau sudah waktunya jam pulang. Asha nampak berjalan di lobi, namun Surya dari kejauhan berlari hanya untuk mencapai dirinya dan menarik paksa tangan Asha. Memberontak pun percuma karena tenaga lelaki ini lebih besar. "Apa yang kamu lakukan, sih? Lepaskan tanganku!" Surya berhenti melangkah dan mendorong Asha kasar ke dinding. Asha memandang tangan Surya yang menyudutkan dirinya tanpa ada niat apa pun. "Justru aku yang harusnya tanya padamu, Sha. Apa yang kamu lakukan dengan beberapa pria di lobi akhir-akhir ini, hah!" Oh, rupanya Surya melihat beberapa dokter koas yang datang atas permintaan Farras. "Kamu selingkuh, ya? Makanya minta putus!" "Ya," sahut Asha bangga, sebab memang sejak hari itu ia ingin putus. Surya tersenyum kesal. "Memang murahan, lelaki mana pun bisa memasuki tubuhmu, ya." Tuduhan itu membuat Asha kesal hingga berakhir menepuk mulut Surya kasar. "Kalau bicara dijaga, ya!" "Loh! Memang begitu kenyataannya, kan? Berlagak tidak mau aku cium, padahal yang bawah diobral." Asha tak terima dan memandang sengit. Namun, ia terkejut saat Surya mendadak menyeretnya ke kamar mandi laki-laki. Menyudutkan seperti berniat tak senonoh dengannya. "Kalau kamu macam-macam aku bakal teriak!" ancam Asha. Surya tersenyum sinis. "Coba! Teriak saja!" "Toh, kamu murah. Paling kamu nanti mengajak mereka yang datang untuk ikut." Asha mendorong Surya dengan tenaga penuh, lelaki ini tidak ada niatan untuk benar-benar berbuat hal b***t padanya. Surya tersenyum menang dan mengikuti Asha yang berlari. Namun, Surya terkejut setengah mati saat keluar dari toilet wajah mendapat bogem dari seseorang tak dikenal hingga terhuyung. Sementara Asha malah bersembunyi di balik badan lelaki tersebut. "Sial! Kamu siapa berani sekali memukul orang!" "Aku calon suami Asha." Dan pelindung yang menggenggam tangan gemetar Asha adalah Farras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD