Asha meneguk air putih yang tersaji di meja dengan terburu. Tenggorokannya terlalu tercekat setelah diantar pulang oleh Farras.
"Pasti dia cuma bercanda, kan?"
Kesimpulannya jelas berdasar. Sebab, sepanjang perjalanan pulang, mulut Farras tak pernah menyumbang satu kata pun untuk memecah kesunyian. Apalagi membahas lebih lanjut perihal lamaran itu.
***
"Sha."
Langkah kaki Asha yang semula santai, kini sedikit ngebut memasuki gedung kantor. Sebab, Surya mengikuti bahkan berlari demi menyusul dirinya.
"Kemarin kamu ke mana saja? Aku telepon dan chat tidak kamu respon sama sekali."
Surya berhasil mengejar Asha, mau kabur sampai lelah pun percuma. Mereka berdua bekerja di kantor yang sama, hanya saja beda departemen.
"Sha."
Tarikan napas Asha cukup kasar saat Surya meraih pundaknya. Tatapannya saling bertemu dengan Surya dan ya, Asha langsung memutus karena terlalu malas berlama-lama.
"Sibuk!" sahut Asha ketus.
Kalau bukan karena para karyawan yang turut memasuki lift juga, mungkin Surya bakal terus mencerca Asha dengan berbagai pertanyaan sampai puas.
Sudah cukup lama Surya menahan diri. Begitu lift terbuka dan Asha yang ingin segera ke departemen perencanaan, Surya menarik Asha hingga ke ujung lorong.
"Mau apa lagi, sih!" Nada bicara Asha ketus.
Sempat Surya diam, melihat kekasih yang masih marah dia memutuskan untuk mengendalikan diri.
"Aku merindukanmu, dari kemarin tidak ada kabar."
Sekalipun Surya cukup melembutkan suara, tetap tak bisa mengurangi kekesalan di hatinya.
"Kita putus saja deh."
Keputusan Asha yang nampak bulat ini membuat Surya mendengkus kesal. Merasa percuma jika terus bicara dengan hati yang sama-sama dongkol.
"Aku anggap tidak dengar apa pun hari ini, saat hati sudah tenang kita bicara lagi. Aku sangat serius dengan hubungan kita, Sha."
"Selama kamu belum ngontrak, berhenti biayain kehidupan seluruh keluarga kamu. Aku tidak akan melanjutkan hubungan ini," putus Asha.
Memang sudah seharusnya Asha tegas, biarpun ia harus menghadapi Surya yang melototkan mata dengan emosi padanya. Lebih baik bertengkar daripada terlambat, lantas membuat hidup pernikahannya menderita.
"Ngontrak? Kamu pikir pakai otak, Sha! Biayanya mahal!"
"Lalu, keluargaku. Kalau bukan aku yang tanggung, bagaimana nasib mereka, hah!"
"Ayah kamu masih sehat! Ada penghasilan juga, lalu abang kamu--"
Asha memilih berhenti karena pertengkaran mereka mengundang beberapa rekan kerja melongok. Sekali pun emosi sudah di ubun-ubun, Asha menelannya dan memutuskan untuk meninggalkan Surya.
"Bertengkar lagi?"
Itulah yang rekan kerjanya tanyakan, padahal Asha baru saja menghuni kubik kerja dan membenamkan kepala di atas meja. Belum sempat menata hatinya yang lagi berantakan.
"Ya begitulah," sahutnya malas.
Nindi mengusap pundaknya. "Kenapa tidak dilepas saja sih lelaki macam begitu?"
Perlahan Asha mengangkat kepalanya sedikit hanya untuk memandang rekan kerjanya selama 5 tahun ini.
"Rencananya gitu."
"Lelaki bergaji tapi split bill, emosian, keluarga sandwich." Kepala Nindi menggeleng. "Sangat tidak layak dipertahanin lagi."
Asha menarik napas. "Tapi, usiaku mendekati 30-an. Susah cari lelaki yang sesuai kriteria."
Tawa dari Nindi pun terdengar sembari menepuk pundaknya sedikit keras. "Kalau cuma mikirin sesuai kriteria, sama kayak kamu nikahin harapan, mustahil!"
"Terpenting sayang, menghormati dan terbuka. Udah deh, gitu saja cukup bikin hidup kamu bahagia."
Mendengar saran dari Nindi yang sudah menikah 3 tahun lalu membuat Asha membisu. Tentunya selama waktu itu, manis dan pahit sudah dirasakan oleh Nindi.
Mendadak Asha teringat sosok Farras yang mendekatinya dengan payung sewaktu hujan. Tapi, bibir Asha langsung manyun. Lelaki yang kelihatan lebih baik itu cuma memberi harapan palsu padanya.
"Sha, ikut ke ruanganku."
Ketua departemen yang baru datang langsung menyuruhnya mengikuti membuat matanya dan Nindi saling tatap. Sudah pasti Asha diceramahi sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Memangnya kalau bertengkar, tidak bisa diam-diam atau minimal bisik-bisik, deh," sindir ketua departemennya yang diikuti oleh Asha.
"Maaf, Bu Ira." Selalu ini yang Asha ucapkan.
Ira menarik napas kesal begitu menghuni kursi kerja, mata memandang Asha yang berdiri dengan ekspresi hati belum membaik.
Pertengkarannya dengan Surya bukan sekali dua kali terjadi, bahkan suara yang sama-sama lantang berhasil menciptakan perbincangan di antara karyawan lainnya.
"Kalian berdua sama-sama kompeten, tapi kalau begini terus caranya, dipastikan ada yang diPHK." Pembicaraan Ira kali ini serius.
"Dengan jabatan kamu sebagai manajer dan dia yang hanya karyawan senior. Menurut kamu siapa yang lebih unggul untuk dipertahankan?"
Pandangan Asha terangkat, tentu saja dirinya lebih dibutuhkan oleh kantor mengingat jabatan serta kinerja.
"Kalau sampai Surya kena PHK, apa hidup kamu bakal damai, Sha?"
Lelaki macam Surya, pasti bakal menyalahkan dirinya atas pemecatan paksa. Belum lagi keluarga yang sangat mengandalkan Surya itu. Seperti ucapan ketua departemennya, hidup Asha tidak akan ada kata damai.
***
Lama bergelut dengan pekerjaan, Asha yang berjalan di lobi dan bersiap pulang langsung menarik napas. Begitu menyadari keadaan di luar yang hujan deras.
"Harusnya aku lihat cuaca supaya bawa payung."
Dirasa percuma mengoceh sendiri, Asha memutuskan untuk menunggu hujan reda di lobi sembari mengabari ibunya. Namun, langkah kaki Asha malah makin mendekati pintu karena penasaran.
Mata Asha sama sekali tidak salah. Terlihat Farras yang turun dari mobil sembari membuka payung, dokter itu berjalan mendekat dengan langkah pasti.
"Kamu ada urusan di sekitar sini?" tanya Asha.
Tanpa sadar kakinya yang terus melangkah membuat mereka berdua berhadapan dan mulai saling berinteraksi. Farras menyerahkan payung yang langsung diterima oleh Asha.
"Bukan."
"Apa ada yang melahirkan secara mendadak?" tebak Asha asal sembari tersenyum.
Farras memandangnya sejenak. Asha tertegun dengan jaket yang dilepas oleh Farras baru saja membungkus tubuhnya.
"Pakaian kamu terlalu tipis untuk melawan angin dan hujan."
Farras berdehem lantas lanjut bicara, "aku tidak punya kontakmu, jadi langsung datang untuk menjemput."
"Sengaja jemput?" ulang Asha masih tak menyangka.
Raut wajah Farras terlihat gugup. "Tidak masalah, kan?"
Kepala Asha menggeleng, tanda tidak mempermasalahkannya. Tanpa sadar dirinya mengikuti Farras yang memegang kendali payung. Di dalam mobil, Asha memperhatikan Farras yang mematikan AC sebelum tancap gas.
"Aku baru pulang kerja, kebetulan searah juga jadi sekalian jemput kamu."
Dahi Asha mengerut. Bukannya rumah sakit dengan kantornya bekerja saling berlawanan. Mana bisa disebut searah, namun Asha tahu kalau Farras hanya mencari alasan sekalipun itu tidaklah logis.
Begitu tiba di depan rumah, Hanum yang sedang mengelap motor memandang Farras yang turun membantu buka pintu untuknya.
"Loh, Sha. Kenapa kamu bisa diantar sama Nak Farras?" Selagi menerima salim dari Farras, Hanum mempertanyakan.
"Ketemu di jalan tadi, Yah," sahut Asha tidak berbohong.
"Terus mobil kamu masih di kantor, Sha?"
Mata Asha memandang ke arah Farras yang seolah mempertanyakan kenapa mau diantar? Padahal bawa mobil sendiri.
"Mogok," sahut Asha dengan asal.