Bab 1. Keluarga Sandwich

1018 Words
"Surya masih punya satu adik yang sekolah dan keponakan dari kakaknya yang janda." Telinga Asha tak salah dengar, ibu dari Surya memulai pembicaraan lebih dalam dengannya. "Menikah nanti, jangan mengharapkan gaji Surya." Mata Asha tertuju pada ayah Surya yang masih bugar, dari jendela jelas lelaki tersebut sibuk mengisi paru-paru dengan rokok yang disulut untuk ketiga kalinya. "Sampai hari ini pun, anak sulung membantu perekonomian rumah ini." Amat bangga Surya mengangguk, namun hal yang lebih memuakkan kembali terucap dari mulut ibu kekasihnya ini. "Rumah ini sempit, menikah nanti kamu sama Surya tidur di ruang tengah saja." Asha tersenyum kesal, kelak berhubungan pun bakal seperti maling, tergesa dan begitu terpergok malu setengah mati. "Minggu depan rencananya keluarga Surya mau ke rumah untuk melamar," Ibu Surya kembali bicara melihat kebisuan Asha. "Tidak perlu," sahut Asha cepat mengundang seluruh pasang mata tertuju padanya. "Kami berubah pikiran, menikah terburu bukan keinginan kami." Keputusan yang mengatasnamakan 'kami' membuat Surya memarkirkan motor di pinggir jalan ketika mengantar Asha pulang. Napas yang terburu memperlihatkan Surya tidak dalam kondisi tenang. "Aku sama sekali tidak berubah pikiran, Sha. Menikahi kamu adalah impianku sejak tahun kemarin." "Bukan kamu, tapi aku, Sur," sahut Asha penuh keyakinan. "Kenapa?" "Bukannya sudah jelas. Alasan abang kamu belum menikah, mba kamu jadi janda. Semua itu karena keegoisan orang tua." Dahi Surya mengerut dengan sorot mata tak senang mendengar penuturan Asha. "Maksud kamu apa, Sha?" Asha menarik napas berusaha untuk tetap tenang. "Punya orang tua seperti itu, mustahil kalian bisa berumah tangga dengan tenang. Manusia mana yang sanggup dibikin sengsara." "Menghina orang tuaku, berarti kamu menghina aku juga, Sha! Keterlaluan!" Surya benar-benar tersulut emosi, sampai menaiki motor dan memilih meninggalkan Asha yang masih berdiri di pinggir jalan. Kejadian seperti ini bukan hal baru lagi, Asha yang kesal melepas helm dan membantingnya ke tanah. Semua itu disaksikan oleh Surya dari spion. Surya mendengkus. "Kalau bukan aku, siapa lagi yang mau menikahi kamu!" *** "Sha." Selagi memanggil, Arum, ibu Asha. Menggeser sejumlah foto anak dari kenalan lama di hadapan Asha yang tengah cemberut. "Coba lihat dulu, barangkali cocok bisa ngobrol-ngobrol. Syukur-syukur kalau sampai pelaminan," bujuk Arum dengan nada makin pelan diakhir. Pandangan Asha tertuju pada lima lembar foto dengan wajah berbeda. Jemarinya yang bergerak memilah ditatap serius oleh Arum. "Ini saja." Tunjuk Asha mengasal. "Eh." Asha tatap wajah ibunya yang bingung sekaligus tidak percaya ini. "Katanya cuma ngobrol." "Oh iya!" Arum kelihatan begitu gembira dengan perkembangan Asha. Biasanya Asha bakal mengomel sepanjang jalur kereta karena dicarikan jodoh. Apalagi disuruh putus dari Surya, ngambeknya bisa seharian. Sedari dulu, Arum begitu menentang hubungan sang anak. Arum meninggalkan kursi hanya untuk menghampiri suami dengan raut wajah gembira. Begitu tiba, Arum sempatnya memukul lengan ayah Asha dengan gemas. "Akhirnya mau," bisik Arum penuh kegembiraan. Hanum nampak mengulas senyum, meski sebentar. Lelaki yang hampir 55 tahun tersebut memperhatikan gerak-gerik Asha yang tak biasa. Jangankan untuk kencan, memilah foto lelaki yang ditawarkan Arum saja ogah-ogahan. "Kamu lagi tidak ada masalah, kan, Sha?" Mulut Hanum mempertanyakan. "Tidak ada, Yah." Senyuman penuh kepalsuan yang Asha tunjukkan dapat dilihat oleh Hanum, namun ayah sambung tersebut memilih untuk tak mencari tahu lebih dalam. *** "Cuma kamu yang mau menikahi aku? Pret!" Sore itu, Asha menggerutu sembari memeriksa lima telepon dari Surya yang masuk, tanpa ia angkat seluruhnya. "Lihat saja, Sur! Aku bakal sebar undangan dengan lelaki lain." Tarikan napas Asha cukup panjang, namun tak berhasil menyamai suara pergulatan alat makan di restoran yang dirinya huni. "Asha Dilnawas?" Selagi menyeruput secangkir es jeruk peras, kepala Asha mendongak. Matanya menemukan lelaki jangkung tengah berdiri dengan ekspresi memastikan. "Benar," sahut Asha mengkonfirmasi. "Rupanya tidak salah." Asha tatap lelaki bernama Farras Aditya, menurut informasi dari ibunya lelaki yang mulai menarik kursi untuk duduk di hadapannya ini seorang dokter Obgyn di rumah sakit Jakarta. "Namaku Farras, pekerjaanku sebut saja dokter kandungan. Jam kerja tidak menentu, tengah malam dipanggil sudah bukan hal baru." "Tapi, prioritasku tetaplah pasangan, itupun selagi bukan kondisi darurat." Bibir Asha mengulas senyum, biasanya kencan hanya berisi obrolan baku yang diakhiri dengan kecanggungan. Namun, mendengarkan Farras tidak membuat Asha muak juga. "Jadi, Asha. Pekerjaan sebagai manajer apakah lebih banyak waktu luang?" Kepala Asha mengangguk. "Tentu saja. Jam kerja efisien, terkadang diharuskan lembur jika target kurang." "Berarti bisa menyambut sewaktu pulang," ujar Farras pelan. "Ya?" Asha tidaklah tuli, ia mendengar hanya saja sedikit tak mengerti ucapan Farras. "Apakah kita bisa pesan makanan?" Farras memilih berpindah topik. Asha tersenyum tak enak, memesan minuman dengan dalih kehausan dari perjalanan. Sekaligus ia tidak tahu selera Farras, jadi tak ingin asal memesan. "Tentu saja." Selama makan berlangsung, hampir tidak ada mulut yang menyumbang suara di tengah keramaian restoran. "Menunggu hujan reda atau langsung pulang?" Farras baru bertanya setelah Asha meletakkan sendok tanda menyudahi kegiatannya. Mata Asha melirik rintikan hujan yang bersuara konsisten sedari kemunculan Farras. "Aku bawa mobil," ujar Farras lagi. Asha diam sejenak, mencoba menelaah pemikiran Farras. Tidak mungkin lelaki yang hanya selisih 6 tahun darinya menawarkan tumpangan. "Berhubung hujan, aku akan mengantarmu," ujar Farras lebih terus terang. Bibir Asha mengulas senyum canggung. Pantas saja sebelum pergi ibunya menyembunyikan kunci mobil, rupanya demi mempersatukan Asha dengan Farras selama perjalanan pulang. "Tidak perlu," tolaknya. Baru juga ketemu, sudah satu mobil. Teriak susah kalau Farras berniat buruk, turun paksa dari mobil pun bakal berakhir luka-luka. "Aku lelaki baik-baik, terlebih ayah kita berdua saling kenal." Seolah Farras bisa menebak isi pikiran Asha, tentu membuatnya sedikit tidak enak. Alhasil Asha keluar bersama Farras dari restoran, lelaki tersebut meminta dirinya menunggu selagi memarkirkan mobil. Mulanya Asha pikir, Farras hanya mengambil mobil. Sampai ia telah siap untuk berlari dengan sepatu heels yang mengurung kakinya, yah palingan kotor dikit ketimbang riasan rusak. Namun, langkah yang belum sempat menyapa hujan. Asha menyaksikan Farras berlari dengan payung ke arahnya, catat! Hanya untuk menjemput Asha. "Aku bisa berlari ke sana, kok," ujarnya tak enak. "Hal seperti ini memang bagian pria." Farras menyinggung soal payung. Kepala Asha hanya mengangguk, ia terang-terangan menyetujui pendapat dari Farras. "Kamu masih lajang, berarti belum menikah, kan?" Asha sedikit tertawa. "Kamu menanyakannya, memangnya mau menikahi aku?" Langkah kaki Farras mematung, otomatis Asha melakukan hal yang sama. Kata 'bercanda' yang siap Asha lontarkan, rupanya kalah cepat. "Lusa, aku akan datang melamar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD